Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Manis
Keheningan yang pekat dan dingin langsung menyelimuti kabin mobil limosin mewah berlogo Sterling begitu kendaraan panjang itu bergerak meninggalkan pelataran Hotel Splendide. Di dalam kabin belakang yang luas dan kedap suara, atmosfer terasa begitu mencekat, sangat kontras dengan kemeriahan gala amal yang baru saja mereka tinggalkan.
Asher duduk bersandar di kursi kulitnya yang empuk, kaki panjangnya menyilang dengan anggun. Sepasang mata kelabunya berfokus sepenuhnya pada layar tablet lipat di genggamannya, meninjau beberapa dokumen logistik dan laporan pergerakan pasokan di pelabuhan barat yang sempat tertunda. Wajah tampannya datar, kaku, dan tanpa ekspresi, seolah-olah wanita yang duduk di sebelahnya hanyalah seonggok benda mati yang tidak menarik perhatiannya.
Di sampingnya, Chloe duduk dengan punggung tegak yang kaku. Gaun malam merah marun gelapnya terasa sedikit membatasi gerakannya, namun yang lebih membatasi jiwanya adalah rasa cemas yang terus berkecamuk di dalam dada. Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota yang sepi, Asher tidak mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan pria itu terasa seperti ketenangan sebelum badai besar datang menerjang.
Chloe meremas tas tangan kecilnya dengan jemari yang gemetar. Dia tahu, berdiam diri hanya akan membuat rasa takutnya semakin menggerogoti akal sehatnya. Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang paling dalam, Chloe akhirnya memberani diri untuk memulai pembicaraan, memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka.
"Asher..." panggil Chloe dengan suara yang sangat lirih, nyaris berbisik di tengah desing halus mesin mobil. "Mengenai kehadiranku di acara malam ini... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melanggar peringatanmu kemarin pagi. Kak Eleanor tiba-tiba datang ke mansion dan dia... dia sangat memaksa agar aku ikut dengannya untuk mewakilimu. Aku tidak bisa menolaknya."
Chloe menjeda kalimatnya, menatap profil samping wajah Asher dengan pandangan penuh harap, menantikan respons atau setidaknya sekilas tatapan dari suaminya. Namun, Asher tetap bergeming. Jemari panjang pria itu terus menggulung layar tabletnya dengan ritme yang konstan, mengabaikan untaian kata maaf dari Chloe seolah suara gadis itu hanyalah angin lalu yang tidak berarti. Penolakan verbal secara tidak langsung itu membuat Chloe kembali bungkam, menundukkan kepalanya dengan rasa pasrah yang mendalam hingga mobil akhirnya berbelok memasuki gerbang besi mansion Sterling yang megah.
Begitu mobil berhenti sempurna di lobi utama mansion, pintu kabin langsung dibukakan dari luar. Asher melangkah keluar terlebih dahulu dengan langkah-langkah tegap yang penuh wibawa, diikuti oleh Chloe yang berjalan di belakangnya dengan langkah yang sedikit terburu-buru akibat ekor gaunnya yang panjang.
Kenzo berjalan beberapa langkah di belakang mereka, membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang di tangannya—kotak yang berisi satu set perhiasan langka The Royal Crimson Rose senilai dua puluh juta dolar yang baru saja dibeli Asher di acara lelang.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar utama yang luas di lantai dua. Kenzo meletakkan kotak perhiasan mewah tersebut di atas meja nakas dekat ranjang dengan sangat hati-hati. Setelah memastikan tugasnya selesai, pria tangan kanan itu membungkuk hormat sekilas ke arah Asher dan Chloe, lalu segera membalikkan tubuhnya untuk pergi keluar kamar, menutup pintu kayu ek besar itu hingga bunyi klik kunci otomatis menggema nyaring.
Sekarang, mereka hanya tinggal berdua di dalam kamar pengantin yang sunyi itu.
Chloe menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang kembali berpacu kencang. Dia melangkah perlahan menuju meja riasnya yang raksasa. Dengan jemari yang sedikit kaku, Chloe mulai melepas sepasang anting-anting berlian dan rubi yang menghiasi daun telinganya, meletakkannya dengan pelan di atas meja marmer putih. Setelah itu, dia mengambil selembar kapas dan cairan pembersih, mulai menghapus riasan wajah (make-up) di wajah cantiknya dengan gerakan yang sangat perlahan, menatap pantulan matanya sendiri yang tampak kuyu di dalam cermin.
Di sudut ruangan yang lain, Asher berdiri tegak membelakangi ranjang. Pria itu mulai membuka kancing manset di kedua belahan lengan kemeja tuksedo hitamnya secara metodis. Sembari melakukan gerakan tersebut, sepasang mata kelabu Asher bergerak lambat, mengunci pandangannya pada sosok Chloe melalui pantulan cermin rias. Tatapan itu begitu pekat, tajam, dan sarat akan kilatan gairah berbahaya yang bercampur dengan amarah yang tertahan sejak siang hari.
Selesai membersihkan wajahnya, Chloe bangkit berdiri dari kursi beludrunya. Dia membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk melangkah menuju ruang pakaian untuk membuka gaun malam merah marunnya yang mulai terasa menyesakkan dada.
Namun, baru saja Chloe mengambil satu langkah maju melewati tubuh Asher, sebuah gerakan secepat kilat memotong jalurnya. Tangan kekar Asher bergerak maju, mencengkeram pergelangan tangan mungil Chloe dengan tarikan yang sangat kuat dan tiba-tiba.
"Ah!" Chloe terpekik kecil saat tubuh mungilnya terseret ke depan, terhempas tanpa jarak hingga membentur dada bidang Asher yang kokoh bagai dinding batu.
Asher tidak melepaskan cengkeramannya. Dia merapatkan tubuh mereka seutuhnya, membiarkan aroma parfum maskulinnya mengurung seluruh indra penciuman Chloe. Pria itu menundukkan wajah tampannya, berbisik tepat di depan wajah Chloe dengan suara bariton yang teramat rendah, berat, dan sedingin es yang sanggup membekukan aliran darah di dalam tubuh istrinya.
"Jangan pernah mengira aku akan diam saja dan melupakan kelancanganmu hari ini, Chloe," bisik Asher, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti dekret mutlak yang mengerikan. "Kau telah keluar dari rumah ini tanpa izin tertulis dariku. Aku tidak peduli meskipun itu adalah ajakan atau paksaan dari kakak kandungku sekalipun. Di dalam wilayah ini, hukumku adalah yang mutlak, dan kau telah melanggarnya."
Sebelum Chloe sempat membuka mulut untuk membela diri, jari-jari panjang tangan kanan Asher bergerak naik, mencengkeram rahang mungil Chloe dengan penekanan yang pas. Jari ibu jari Asher menarik pipi lembut Chloe ke bawah dengan sedikit penekanan kasar, memaksa bibir ranum gadis itu terbelah sedikit, menampilkan kilau kebasahan yang membuat bibir ranumnya terlihat semakin ranum dan menggoda di bawah temaramnya lampu kamar.
Asher menatap bibir itu dengan sepasang mata kelabu yang mendadak menggelap seutuhnya, dipenuhi oleh kabut gairah dan kepemilikan yang liar. Tanpa memberikan waktu bagi Chloe untuk bernapas, Asher menundukkan kepalanya dan langsung melumat bibir ranum istrinya dengan gerakan yang sangat liar, kasar, dan tanpa ampun.
"Mmph?!" Chloe terbelalak sempurna, tangannya refleks memukul dada bidang Asher untuk memberontak.
Namun, alih-alih melepaskannya, pelukan lengan kekar Asher di pinggang dan punggung Chloe justru semakin mengerat dengan kekuatan yang luar biasa, mengunci tubuh mungil gadis itu begitu rapat hingga Chloe sama sekali tidak dapat bergerak atau menciptakan jarak satu milimeter pun. Asher menghisap, menggigit kecil, dan mendominasi setiap jengkal rongga mulut Chloe dengan intensitas yang teramat tinggi, meluapkan seluruh rasa jengkel, amarah, dan rasa posesif yang sempat ia tahan selama berada di ballroom hotel tadi.
Gerakan bibir Asher semakin lama tidak melunak, melainkan menjadi semakin liar dan menuntut kepatuhan mutlak dari sang istri. Ciuman panas yang membakar itu perlahan-lahan mulai merenggut seluruh sisa pasokan oksigen di dalam paru-paru Chloe, membuat kepalanya mendadak terasa pening dan melayang.
Anehnya, di tengah kepungan rasa takut dan dominasi yang begitu pekat, tubuh Chloe mulai memberikan reaksi yang tidak sinkron dengan logikanya. Rasa hangat yang menjalar akibat lumatan liar Asher secara alami menggerakkan tangan mungil Chloe yang tadinya memukul, perlahan merayap naik dan merangkul leher kokoh suaminya, mencari pegangan agar tubuhnya tidak jatuh limbung karena lemas.
Menyadari sambutan pasrah dan rangkulan dari istrinya, seringai kepuasan yang samar muncul di sela-sela ciuman Asher. Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Asher menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah paha dan punggung Chloe, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendangannya dengan sangat mudah, seolah bobot tubuh Chloe tidak lebih berat dari sehelai bulu. Asher terus menciuminya dengan intensitas yang semakin dalam sembari melangkah tegap menuju arah ranjang raksasa mereka.
Lama-kelamaan, di bawah bimbingan gerakan bibir Asher yang begitu berpengalaman dan menuntut, Chloe yang polos mulai belajar. Dipicu oleh insting murni yang bangkit di dalam dirinya, dia mulai menggerakkan bibir mungilnya secara perlahan, membalas setiap lumatan dan hisapan liar dari Asher dengan ritme yang masih canggung namun sarat akan kepasrahan yang manis. Balasan kecil dari Chloe itu seketika memicu letupan gairah yang lebih besar di dalam dada sang bos mafia.
Bruk.
Dengan satu gerakan yang cepat namun terkendali, Asher melempar tubuh mungil Chloe di atas hamparan kasur empuk berlapis sprei sutra putih. Tautan bibir mereka terputus dengan bunyi basah yang sensual.
Chloe jatuh terlentang dengan posisi gaun merah marunnya yang sedikit tersingkap di bagian bawah. Napasnya memburu pendek-pendek, tersengal-sengal dengan dada yang naik turun dengan sangat cepat demi meraup kembali pasokan oksigen yang sempat hilang. Wajah cantiknya memerah sempurna, dan sepasang mata rusanya tampak sayu dan berkabut oleh sisa gairah yang belum sepenuhnya mereda.
Asher berdiri di tepi ranjang, menatap ke bawah ke arah sosok Chloe yang tampak berantakan namun sangat memikat di atas kasurnya. Napas pria itu sendiri juga tampak terengah-engah samar, dengan jaket tuksedonya yang kini sudah terlempar entah ke mana.
Asher merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan ke belakang menggunakan jemarinya, lalu menatap Chloe dengan senyuman dingin yang penuh dengan kemenangan yang absolut.
"Ingat ini baik-baik, Chloe," ucap Asher dengan suara baritonnya yang kembali datar namun serak karena gairah yang tertahan. "Ini baru hukuman kecil atas ketidakpatuhanmu hari ini. Jangan pernah menguji batas kesabaranku lagi di masa depan jika kau tidak ingin merasakan hukuman yang jauh lebih kejam dari ini."
Selesai menjatuhkan peringatan yang menusuk tersebut, Asher tidak melanjutkan aksinya. Dia berbalik dengan gerakan dingin, membuka kancing kemeja putihnya satu demi satu hingga mengekspos dada bidangnya yang dipenuhi oleh sisa luka sayatan semalam, lalu melempar kemeja itu ke lantai. Dengan langkah yang tegap, Asher berjalan melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama dan menutup pintunya, meninggalkan Chloe sendirian di atas ranjang raksasa dengan tubuh yang masih gemetar dan napas yang masih terengah-engah dalam kebingungan emosi yang luar biasa hebat.