NovelToon NovelToon
Alisha

Alisha

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:62.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: Yuliana Farida

Ini hanyalah kisah romansa remaja yang dialami Alisha, remaja SMA ketika ia dekat dengan seorang anak laki laki yang berbeda dengan dirinya. Keseharian berjualan kaki lima tak surut untuk Alisha dalam mendekati Dika yang diam diam menyimpan kesempurnaan dalam hidupnya.


"Aku menyukainya.. tidak mau menahu akan pandangan orang orang disekitar akan dirinya, karena hanya aku yang mengetahui segalanya mengenai dia, Dika Arya."

Alisha Puteri,



"Sejak kapan kamu menjadi sosok puitis?"


Dika Arya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Bersama

Senin pagi yang cerah, aku berangkat sekolah di antar oleh ayahku. Sepulangnya ayah dari Borneo dan ayah memilih melanjutkan bekerja disini, sudah menjadi rutinitasku setiap pagi di antar oleh ayah ke sekolah.

Aku kembali membaca buku sekilas saat dalam perjalanan ke sekolah untuk memastikan apakah aku benar benar hapal atau tidak.

Lima menit kemudian, aku sampai di sekolah, aku pamit kepada ayah yang sebelumnya berpesan agar aku serius mengerjakan soalnya.

Aku berjalan menuju ruangan ujianku setelah melihat denah ruangan di mading depan yang ternyata terletak di lantai tiga kelas paling ujung. Aku berjalan sambil memegang buku yang belum sempat ku simpan ke dalam tas dan melihat nomor yang tertera di kartu peserta ujianku.

Sesampainya disana, aku menengok ke dalam ruangan yang ternyata sudah ada Kina dan Dina yang sedang duduk berhadapan sedang membicarakan sesuatu.

Aku menghampiri mereka setelah mencari bangku tempatku duduk yang ternyata bangku paling depan, lalu menyimpan tas dan buku ku disana, kemudian mengambil kursi dari bangku sebelah Kina dan ikut bergabung.

"Ngomongin apa?" Tanyaku untuk ikut obrolan.

"Si Alex." Jawab Dina tentang objek yang sedang dibicarakannya bersama Kina.

"Kenapa emang?"

"Kamu tahu rumah besar dekat alun alun?" Tanya Dina antusias, aku pun mengangguk pelan mengetahui rumah yang luasnya hampir seluas alun alun kota karena lokasinya yang tepat di sebelah timur alun alun.

"Itu ternyata rumah Alex!" Jelas Dina menggebu gebu, berbeda dengan Kina yang terlihat heran melihat tingkah Dian yang terlalu antusias mengetahui tentang pacarnya.

"Ah masa sih?" Tanyaku pura pura tidak tahu, padahal aku sudah tahu saat bermain ke rumah Dika dulu. Alex yang tiba tiba menghadangku dan bertanya yang aneh aneh menjadikanku berpandangan buruk terhadap Alex. Sombong, Ucapku dalam hati, yang mana mungkin aku membicarakan hal itu di depan Kina yang jelas jelas pacarnya.

"Eh, kamu kenal Alex dimana? Kok bisa deket?" Tanyaku mengalihkan pikiranku. Aku juga penasaran kenapa Kina mau berpacaran dengan laki laki aneh seperti Alex.

Kali ini Kina mulai bercerita awal mulanya ia bertemu dengan Alex, ternyata mereka bertemu di sekolah Alex saat Kina ikut ayahnya sore itu yang merupakan kepala sekolah disana untuk membawa berkas yang tertinggal di sekolah. Kina berpapasan dengan Alex yang akan membawa bola basket di dekat Kina yang sedang berjalan mengikuti ayahnya.

"Pantesan Alex sekolah disana, sekolah orang kaya doang." Ucap Dina setelah mendengar cerita Kina, dan Kina pun mengangguk.

"Eh, terus kenapa kamu gak sekolah disana aja, kan ada ayah kamu." Setelah hampir dua tahun berteman dengan Kina, dan mengetahui ayahnya kepala sekolah di sekolah internasional, aku baru terpikirkan untuk bertanya hal itu.

"Gak ah, nanti takut gak bisa kontrol diri. Lihat gayanya yang tinggi aku udah gak minat masuk sana." Terang Kina yang memperoleh anggukkan dariku. Kemudian aku bertanya tentang kelanjutannya. Kina berkata bahwa malamnya Alex mengirim pesan di Instagramnya dan mulai memfollownya, tak lupa juga Alex menyukai semua postingannya membuat Kina terus tersenyum ketika berbicara mengingat masa itu.

"Ih, kok bisa gitu sih." Rengek Dina yang sepertinya iri dengan cerita Kina.

"Ya, gitu." Ucap Kina sambil tertawa.

"Terus ketemunya lagi kapan?" Tanyaku masih penasaran karena aku merasa jawabannya belun tuntas ke akar.

"Kamu inget gak pas bulan lalu ada pertandingan basket sekolah? Aku malam itu ikut nonton sama ayah karena tandingnya sama sekolah ini. Terus pas tandingnya udah selesai Alex nyamperin aku yang lagi duduk sama ayah dan ngasih air minum ke arahku dan ikut duduk di sampingku." Jelas Kina dengan mata berbinar.

"Terus?" Tanyaku ingin Kina melanjutkannya lagi sambil menopang dagu melihat ke arah Kina

"Mau tau banget sama Alex." Sahut seseorang di belakangku membuatku terkejut dan segera berbalik melihat siapa yang berbicara tadi.

"Dika!?" Seru ku saat melihat Dika yang sedang duduk di atas meja tepat di belakangku sambil melipat tangannya di dada.

Aku tersenyum tak enak ke arah Dika yang memasang tampang datar pagi ini.

"Jangan gosip! belajar sana." Ucap Dika entah untuk siapa sebelum beranjak dari meja dan berjalan ke luar ruangan. Aku mengikutinya yang kini sedang melihat suasana di bawah yang mulai ramai oleh siswa. Aku menghampirinya dan ikut menyimpan tangan di pagar pembatas dan melihat ke bawah.

"Dibilangin belajar, malah kesini." Gerutu Dika tanpa melihat kearahku. Aku mencebik kesal dan menghadap ke arahnya dan seketika teringat sesuatu.

"Kamu belum cerita loh tentang Alex." Beritahuku untuk Dika segera menceritakannya kepadaku.

"Yaudah habis ujian nanti." Putus Dika menyerah.

"Nanti?" Tanyaku senang.

"Minggi depan." Jelas Dika membuatku cemberut.

"Ayo masuk." Ajak Dika kemudian dengan menarik tanganku masuk ke dalam kelas. Kemudian aku duduk di bangku ku dan Dika duduk disebelahku setelah menyeret kursi di belakang bangku ku.

"Kamh duduk dimana Dik?" Tanyaku sambil melihat lihat keberadaan tas Dika.

"Tuh." Tunjuk Dika menggunakan dagunya ke arah bangku yang bersebelahan dengan bangku yang Dika ambil kursinya. Aku tersenyum senang karena bangku Dika dekat dengan tempatku duduk.

Dika duduk dan menyuruhku membacakan materi untuk ia dengarkan dengan seksama. Hingga pukul delapan tepat, bel masuk berbunyi dan para pengawas berdatangan ke dalam kelas untuk memulai ujian pertama.

Aku membantu Bu Eka selaku pengawas yang sedang membagikan soal beserta kertas jawaban, kemudian Dika juga ikut membantu sehingga pembagian kertas bisa dilakukan dengan cepat.

Jumlah siswa di ruanganku berjumlah 30 siswa yang terdiri dari kelas sepuluh dan kelas sebelas dengan posisi duduk yang disilang antar kelas.

Aku membaca soal dengan cermat, dan untungnya semua materi kemarin yang aku hapal bersama Dika hampir ada semua. Dengan senang hati aku membulati lingkaran alfabet memilih jawaban yang benar.

Satu jam setengah telah terlewati, kini semua murid tengah mengumpulkan lembaran soal disertai jawabannya sesuai kelas masing masing. Kemudian semua yang ada di kelas pergi keluar untuk istirahat dan pergi ke kantin. Kina dan Dina mengajakku ke kantin. Namun aku enggan pergi dan kebetulan aku membawa bekal dua potong sandwich buatan mama tadi pagi.

Aku menghampiri bangku Dika yang tidak pergi keluar dan sedang asik membaca buku.

"Kamu gak bawa bekal?" Tanyaku saat aku duduk di depan bangkunya. Dika menggeleng sesaat dan kembali membaca bukunya.

Aku membuka kotak makan dan menyerahkan hand sanitizer ke arah Dika untuk ia gunakan.

Dika menatap heran tidak mengambil hand sanitizer. Aku pun berinisiatif mengambil tangan kanannya dan menuangkan setetes hand sanitizer tersebut dan mengusap ngusapnya. Kemudian aku mengambil sepotong sandwich tadi dan menyerahkannya kepada Dika untuk dimakan.

"Makan." Pintaku yang kemudian Dika anggukki dan mulai melahap sandwich hingga setengahnya membuat pipi Dika kembung disebelah kiri. Aku tertawa melihatnya, sangat lucu seperti anak kecil.

Aku merapikan kotak makanan setelah selesai makan dan menyimpannya ke dalam tas, kemudian kembali lagi duduk di depan Dika dan mulai memperhatikannya yang masih membaca buku.

"Kenapa?" Tanya Dika yang merasa risih aku perhatikan terus. Aku terkekeh dan menggelengkan kepala membuat Dika kembali fokus ke bacaannya. Aku mengalihkan pandanganku kepada Dina dan Kina yang telah datang dari kantin.

"Eh Pak Raka udah di lorong tadi." Beritahu Dina kepadaku bahwa pengawas ruangan kami saat ini telah dalam perjalanan. Aku pun kembali ke bangku semula sembari menunggu detik detik guru muda itu masuk ruangan.

Pukul setengah dua belas, ujian hari pertama sudah usai, semua siswa sekolah berbondong bondong keluar sekolah agar segera tiba di rumah untuk istirahat setelah waktu di sekolah memikirkan jawaban yang sulit dari soal soal tadi.

Aku biasa pulang di antar Dika dengan sepedanya. Kali ini Dika mengajakku untuk jalan jalan keliling kota dengan sepedanya.

"Tapi kan kita masih pakai seragam." Sahutku lesu. Kemudian Dika membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah jaket yang salah satunya adalah milikku.

"Terus kalau ada satpol pp?"

"Kita lari." Jawab Dika enteng membuatku mencebik kesal.

"Kalau kamu mau, gak usah." Jelas Dika saat melihat wajahku yang seolah tak senang saat ia ajak jalan jalan.

"Mau kok!" Sahutku cepat. Aku hanya memikirkan risiko yang terjadi saat nanti kita berdua ketahuan dan tertangkap pihak keamanan daerah.

"Yaudah, pakai jaketnya." Perintah Dika yang kini sudah memakai jaket. Aku mengangguk dan memakai jaket sebelum menaiki sepeda. Aku menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan saat kami akan menyebrang jalan. Dika sedikit kesulitan menyebrang karena masih banyak murid yang hilir mudik di depan sekolah, ditambah kendaraan yang lalu lalang banyak sekali dan seolah tak berujung.

Dika menunggu aba aba satpam sekolah yang ikut membantu para siswa menyebrang jalan. Sebelum sepeda Dika melaju, aku melihat ke sisi kananku yang tak terlalu jauh, di sebuah mobil aku seperti melihat Alex yang sedang menatap ke arah kami berdua yang diiringi senyuman sinis saat Dika mulai mengayuh sepedanya.

Aku pun mengalihkan pandanganku dan berbicara kepada Dika.

"Dik, kayaknya tadi ak lihat Evan deh."

"Mungkin jemput Kina." Kira Dika sembari menolehkan kepala ke belakang melihatku.

"Gak marah lagi?" Tanyaku memastikan. Karena biasanya Dika selalu marah tak jelas jika aku berbicara tentang Alex.

"Gak." Jawab Dika singkat. Aku tahu dia diam diam marah dan tidak mau menunjukkannya kepadaku.

"Eh, kok putar balik sih?" Aku panik ketika Dika memutar balikkan sepedanya bertolak ke arah alun alun.

"Pulang." Dika menjawabnya dengan sangat dingin.

"Ih, kok pulang sih? Katanya mau jalan jalan." Rengekku tak suka. Dika benar benar sedang kesal. Huh, aku kan cuma nanya! Salah sendiri tidak mau cerita yang sebenarnya. Kalau aku tahu, pasti aku tidak akan asal bicara jika itu akan membuat Dika kesal.

"Ih marah beneran ya?" Aku meringis melihat wajah Dika yang tegang dengan mata yang tetap luruh kedepan. Aku tidak tahu apakah Dika sedang fokus atau tidak sehingga aku memukul bahunya kuat. Dia memberhentikan sepedanya.

"Kamu kenapa?" Tanya Dika dengan wajah tidak tenang.

"Kamu yang kenapa!?" Tanyaku kembali dengan sangat kesal. Aku turun dari sepedanya dan Dika menahan tanganku yang ingin menjauh darinya.

"Kamu pulang aja dari pada marah marah gak jelas!" Teriakku dengan wajah memerah membuat mataku berkaca kaca, cengeng! Aku memaki dalam hati. Salahkan saja Dika yang selalu tiba tiba marah tanpa mau menjelaskan penyebab rasa marahnya padaku. Aku tahu dia selalu enggan menyuarakan isi hatinya kepada siapapun, termasuk aku. Dia selalu memendamnya sendiri hingga kekesalannya itu menghilang dengan sendirinya dan dilupakannya. Tapi setidaknya Dika mengatakannya sedikit saja agar aku bisa memaklumi dan menenangkannya agar tak selalu emosi.

Aku melepaskan cekalan tangannya dan berjalan ke depan yang kebetulan ada halte bus. Namun Dika sepertinya mengikutiku dan mengambil tanganku untuk dia cekal bersamaan dengan berhentinya sepeda. Aku enggan menatapnya dan menepis tangannya dariku.

"Ayo pulang." Ajaknya meminta. Aku pikir dia sudah tak marah lagi. Tapi kali ini aku yang marah! Biar saja Dika merasakan apa yang aku rasakan saat dia tiba tiba marah kepadaku.

"Pulang aja sana! Aku naik bis." Sahutku ketus membuat Dika menghela nafas kasar. Kemudian Dika melepaskan cekalan tangannya membuatku mendengus kesal. Masa langsung nyerah? Aku melipat tanganku di dada, namun setelah itu aku terkejut saat Dika menarik pinggangku dan memaksaku duduk di besi sepeda depannya membuatku melototkan mata kepadanya.

"Apaan sih!" Aku berusaha turun, namun Dika mengurungku dan mulai menjalankan sepedanya kembali.

"Dika! Jangan ngebut ngebut!" Teriakku tak suka. Namun dia malah tertawa dan menambah kecepatan mengayuh pedalnya membuatku berpegangan erat tangan kananku pada stang sepeda sementara tangan kiriku mencengkram jaket Dika.

Lama kelamaan sepeda melaju dengan normal kembali membuatku menghela nafas tenang dan mencubit pinggangnya menggunakan tangan kiriku yang sedari tadi mencengkram jaketnya.

"Sakit Lish." Protes Dika dengan senyuman membuatku mendengus. Apa apaan! Aku memalingkan pandangan ke depan dan melepaskan tangan dari jaket Dika dan berpindah tangan ke depan.

Aku merasakan dagu Dika bertumpu di kepalaku. Aku mendongak melihat ke arahnya yang seketika melihatku juga dan memberikan senyuman manisnya masih dengan dagu tetap di kepalaku. Aku kembali memalingkan kepala ke depan mencoba mengacuhkannya. Namun setelah itu, Dika mengambil tangan kiriku dari besi stang dan memindahkan tanganku ke ujung stang tempat dia berpegangan dan menelungkupkannya bersama tangan Dika. Aku kembali mendongakkan kepala yang kembali di balas senyuman lagi oleh Dika.

Aku mencoba mengabaikan Dika yang sesekali menggesekkan dagunya ke rambutku sampai kami tiba di rumahku.

Aku hendak turun dari sepeda, namun aku meringis sakit saat rambutku tersangkut di kancing seragam Dika karena Dika tidak meresleting jaketnya penuh.

Dika mencoba membantuku melepaskan helaian rambuku dari kancingnya dengan pelan yang membutuhkan waktu sedikit lama karena banyaknya rambutku yang tersangkut.

"Lain kali bawa ikat rambut." Ucap Dika mengingatkanku.

"Makasih." Kataku, kemudian berbalik menasuki rumah membiarkan Dika yang masih diam disana. Aku baru saja ingat masih marah padanya!

Malam harinya aku sedang berusaha fokus menghapal. Tetapi sejak sepulang sekolah tadi, sangat sulit untuk menerapkan apa yang sudah berkali kali ku baca membuatku frustasi. Saat aku sedang mengacak ngacak lembaran buku, pintuk kamar terbuka dan mama menghampiriku yang sedang berbaring di kasur dengan sebuah buku.

"Lish, belajarnya udah?" Tanya mama tiba tiba.

"Kenapa ma?" Aku tahu mama akan memintaku sesuatu.

"Mama mau gorengan buatan Dika, Lish." Ucap mama membuatku terkejut.

"Ma, kan udah malam. Alish buatin aja ya?" Aku mencoba menawarkan, karena jika sekarang pergi, aku takut Dika sudah tidur karena sekarang sudah jam sepuluh malam. Ah ya, aku juga masih marah kepada Dika.

"Maunya Dika yang bikin, ayah juga udah siap nganter Lish, ya?" Rengek mama ke arahku.

"Yaudah, aku WA dulu Dika, takut udah tidur." Ucapku membuat mama mengangguk senang. Apa orang yang sedang hamil begitu? Tanyaku dalam hati melihat tingkah mama yang sekarang seperti anak kecil.

Aku pun mengambil jaket tanpa mengganti baju dulu setelah Dika menyanggupi untuk membuatkan gorengan.

Aku menghampiri ayah yang sudah siap di dalam mobil, sementara mama menunggu di rumah setelah beberapa bujukan dari ayah karena tadi memaksa ingin ikut.

"Ayah tunggu disini?" Tanyaku saat kami telah tiba di depan gang rumah Dika.

"Ikut, takut nanti ada apa apa di jalan." Ucap ayah sembari keluar dari mobil. Aku pun mengikutinya dan berjalan ke rumah Dika.

Aku mengetuk pintu rumah Dika yang langsung dibuka oleh pemiliknya.

"Dik, maaf ya. Ngerepotin." Ucap Ayah tak enak hati. Tapi demi istri tercinta? Ayah akan melakukan apapun apalagi isterinya itu sedang mengandung.

"Masuk dulu Om, Lish." Ajak Dika dan mempersilahkan duduk. Karena Dika masih menggoreng gorengannya.

"Yah, aku bantu Dika ya, biar cepat." Usulku dan aku langsung menuju ke arah dapur.

"Lish, udah selesai kok." Ucap Dika melihatku dan mengangkat gorengan dari wajan dan meniriskannya.

"Dik." Aku memanggilnya agar ia menoleh ke arahku.

"Iya?" Sahut Dika sambil memasukkan gorengan ke dalam keresek.

"Jangan marah marah lagi." Ucapku setengah merajuk. Aku tidak mau merasa canggung dengan Dika gara gara saling marah dan kesal yang tak berujung.

"Siapa tadi yang marah?" Dika balik bertanya.

"Kamu!" Jawabku tak mau mengaku aku juga marah kepadanya.

"Terus kenapa ikut ikutan marah?" Tanyanya penasaran dan menyerahkan keresek berisi gorengan ke arahku.

"Ih, Dika!" Protesku mendengar ucapan Dika.

"Jangan marah marah gak jelas lagi." Pintaku selanjutnya. Dika mengangguk dan meng-iya kan.

"Kamu juga jangan ikut ikutan marah." Ucapnya sambil tertawa dan mengucap rambutku.

"Cerita kalau lagi kesal." Pintaku manja dan Dika mengangguk. Kemudian mengajakku kembali menghampiri ayah yang kini duduk ditemani ayah Dika.

"Sudah Lish?" Tanya ayah kepadaku. Kemudian ayah mengambil uang dari dompetnya untuk membayar gorengan yang kubawa.

"Gak usah Om."Tolak Dika ketika ayah menyerahkan uangnya.

"Terima Dik, terima kasih sudah mau buat malam malam begini." Paksa ayah agar Dika mau menerima uangnya dan mengucapkan terima kasih.

Setelah itu aku dan ayah berpamitan kepada Dika dan ayahnya di depan rumah. Namun sebelum aku melangkah, Dika memegang tanganku dan berkata,

"Baikan?"

Aku tersenyum manis mendengarnya dan berbalik menyusul langkah ayah setelah melambaikan tangan kepada Dika.

1
lee_you
haaiii... masih ada yang Dateng ke lapak ini?? semoga aja ada yak😆.. meskipun cerita ini udah tamat.. aku kangen banget sama Dika dan mampir kesini lagi setelah sekian lama😭😭😭 kepikir buat revisi semua bab karena aku akui novel ini masih banyak kekurangan.. mulai dari alur yang berantakan, bahasa kepenulisan yang masih banyak salah.. dan banyak lagi😭😭 aku pikir mau rombak cerita ini sepenuhnya agar lebih baik lagi dan layak baca🥰🥰 thanks banget buat yang udah baca cerita ini sampai habis.. apalagi sama komentar" yang inovatif, suportif, dan kocak".. semoga cerita ini begitu berkesan yaa:)
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Baca ulang deh, kangen banget sama Dika
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Wah MaasyaaAllah.. Kembali berjumpa kita ya. Semangat terus dalam berkarya ya Yul
total 2 replies
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Ehh baru sempat buka cerita ini lagi, dulu aku baca pakai akun yang satunya, btw update selanjutnya pindah lapak ya yul..?
Aduh gak bisa ikutan aku😭
Doaku, semoga dikau sukses di lapak sebelah ya..!

Ini aku admin gc mu, aku udh gak menerima member karna gc sekarang pada sepi, takut cuma nampung doang sedang kita disana sering bertukar poin. Member disana asli sudah terpercaya dan memanfaatkan gc sebijak mungkin.
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Akhir² ini aku jarang on, aplikasi error terus. Gc pada hilang.
total 2 replies
Joko Jokoo
evan n dina jg seru kyk ny. buat crita evan yg ditinggl kekasih ny. trus nmuin cewk bru gitu.
Joko Jokoo: oche 👍
total 2 replies
Joko Jokoo
crita alex n kina, mau buat di mna thor??
lee_you: di dreame juga.. nunggu rampung dika sama alish dulu haha
total 1 replies
Nenk Fadila
inovel ada ga thor ?
lee_you: ada kak
total 1 replies
Joko Jokoo
kangen dika n alish
lee_you: sabaaarr😭😆
total 1 replies
Joko Jokoo
kpan lnjut lgi??
lee_you: tunggu beberapa hari lagi yaa
total 1 replies
Kiki•Put(ভ_ ভ)
haahhh... 🙀
begitu berat... tapi gak apa lahh,
Semangat terus kak Yul😁😆😆
lee_you: siapp😆❤
total 1 replies
RO_che
semaangat thor.. edisi jilid 2 yaa thorr... 🥰🥰🥰🥰🥰 pindah t4 kah thor??
lee_you: iyaa.. terima kasihh😁
total 1 replies
Flamboyan Dari Timur
suka bnget nget
Flamboyan Dari Timur
suka bnget..... jgn cpat tmat donk
lee_you: nantikan Dr.D ya☺💕
total 1 replies
Joko Jokoo
dika dri naik sepeda, smpe naik mobil. saling setia dn saling mendukung dlm meniti karir masing2.
lee_you: uwuu banget kak😁
total 1 replies
Joko Jokoo
ini lnjut di nt atw dream thor.

jangn buat konflik yg berat2 dong. msa crita ny di pisah kn melulu. 😣😣

ap lgi klw ad smpe ad konflik lupa ingatn dn gk ingt dgn pasangn ny.
Joko Jokoo: 👍👍👍👍👍👍👍
total 4 replies
Akifa
sukaaaa
lee_you: makasihh❤
total 1 replies
melfida
suka bangetttttt.....
lee_you: bener?? uuhh makasihh😘
total 1 replies
RO_che
masih puanjangg kan thoor ceritaanya..🥰🥰
RO_che: okeh siap thorr.. 🥰🥰
total 2 replies
RO_che
jgn buru2 dunk thor..
RO_che: ceritanyaa.. jgn c4 ending thor
total 4 replies
Joko Jokoo
dika, nyebeliiiiinnnn

tpi kmu suka kn liiiiisssshhh
lee_you: sukaaa😝
total 1 replies
icha.sunflower
yang novelnya welcome to wania disana ta thor. Dr. D nya belum ada
lee_you: iya.. Dr. D belum bikin, nanti nyusul☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!