NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Tombak energi hitam di antara telapak tangan pria berjubah hitam itu terus memadat dan menghitam, memancarkan aura kematian yang semakin pekat. Udara di sekitar mereka bergetar hebat, sementara rerumputan di dekatnya langsung mengering dan tanah mulai retak sedikit demi sedikit akibat tekanan energi yang luar biasa.

Guru Tian berbicara dengan nada yang sangat serius di dalam benak Arga. "Itu adalah teknik bela diri tingkat Bumi. Jika tubuhmu sampai terkena hantaman langsung dari tombak itu, kau akan hancur menjadi abu dalam sekejap."

Arga mempererat genggamannya pada gagang Pedang Penjaga Langit. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah keluar meninggalkan puing-puing Kota Awan Biru, ia benar-benar merasakan dirinya berada tepat di ambang kematian yang nyata.

Pria berjubah hitam itu menyeringai kejam, menatap Arga dengan pandangan menghina. "Segalanya berakhir di sini, Bocah!"

Wusss!

Pria itu menyentakkan tangannya, melemparkan tombak hitam tersebut. Senjata energi itu melesat membelah malam layaknya kilatan petir. Gerakannya terlalu cepat, bahkan indra penglihatan Arga tidak mampu mengejarnya, membuatnya sama sekali tidak sempat untuk sekadar mengangkat pedang demi bertahan.

Namun, tepat di saat genting tersebut...

Wus!

Sebuah siulan tajam terdengar dari arah samping, disusul sebilah anak panah yang meluncur dengan kecepatan tinggi.

Clang!

Anak panah itu menghantam bagian samping ujung tombak hitam dengan tepat. Meskipun panah tersebut langsung hancur berkeping-keping, benturan keras itu berhasil mengubah arah lintasan tombak maut tersebut sejauh beberapa jengkal.

Tombak hitam itu tetap melesat maju, namun kini gerakannya melenceng dan hanya menyerempet ujung bahu kiri Arga, sebelum akhirnya menghantam bukit kecil di belakangnya.

Brak!

Bukit kecil itu seketika meledak dahsyat hingga hancur berantakan, menyemburkan puing-puing batu dan kepulan debu tebal ke udara.

Arga tersentak lalu segera menoleh ke arah datangnya anak panah tadi. Di sana, Nara masih berdiri tegak dengan busur yang teracung ke depan. Kedua belah tangannya tampak gemetar hebat akibat memaksakan seluruh tenaganya, namun sorot matanya tetap memancarkan keteguhan yang tidak goyah sedikit pun.

"Sudah kubilang, kan..." Nara terengah-engah, namun ia memaksakan sebuah senyuman kecil. "...aku juga ikut bertarung dalam perjalanan ini."

Pria berjubah hitam itu mendengus gusar, merasa terganggu. "Semut yang satu belum sempat kuinjak sampai mati... sekarang semut yang lain malah sengaja datang mengantarkan nyawa."

Ia mengarahkan tangan kanannya yang diselimuti Qi hitam, bersiap untuk menghabisi Nara terlebih dahulu. Namun, Nara bergerak jauh lebih cepat. Gadis itu sudah kembali menarik tali busurnya dengan gerakan yang luar biasa lincah.

Satu, dua, hingga tiga anak panah sekaligus langsung dipasang pada busurnya.

Guru Tian yang menyaksikan hal itu dari dalam liontin sedikit terkejut. "Gadis itu... bakat dan teknik memanahnya ternyata cukup mengagumkan."

Nara menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia tahu dengan sangat baik bahwa anak panah biasa tidak akan pernah bisa menembus pertahanan ataupun melukai tubuh seorang kultivator Alam Fondasi. Karena alasan itulah, sejak awal fokusnya sama sekali bukan membidik bagian tubuh yang terlindung Qi.

Ia membidik sepasang mata musuhnya.

Wus! Wus! Wus!

Ketiga anak panah itu melesat bersamaan, membelah udara dari tiga sudut yang berbeda.

Pria berjubah hitam itu mendengus remeh dan mengibaskan tangannya, dengan mudah menepis dua anak panah pertama. Namun, panah ketiga ternyata meluncur dari sudut buta yang sama sekali tidak ia duga.

Sret!

Ujung tajam anak panah ketiga berhasil menggores pelipis pria berjubah hitam itu, meninggalkan garis luka tipis yang langsung meneteskan setitik darah segar di wajah pucatnya.

Luka itu sebenarnya sangat kecil, bahkan hampir tidak berarti sama sekali bagi seorang kultivator tingkat tinggi. Namun, bagi pria berjubah hitam tersebut, kenyataan bahwa dirinya berhasil dilukai oleh seorang manusia biasa yang tidak memiliki Qi adalah sebuah penghinaan yang tak tertahankan.

Amarahnya seketika meledak tak terkendali. "CUKUP KAU, SEMUT SIALAN!!"

Buumm!

Ledakan gelombang Qi hitam yang sangat masif menyapu ke segala arah bagaikan badai. Sapuan energi itu menghantam tubuh Nara dengan telak, membuatnya terpental beberapa meter ke belakang hingga busurnya terlepas dari genggaman.

Melihat hal itu, Arga langsung melesat secepat kilat. Ia berhasil menangkap tubuh Nara tepat waktu sebelum gadis itu menghantam batuan tajam di dekat pagar desa.

"Nara! Kau tidak apa-apa?!" tanya Arga dengan nada penuh kekhawatiran.

Nara meringis menahan sakit di punggungnya, namun ia masih berusaha berseloroh. "Selama tulang-tulangku... dirasa belum ada yang patah, artinya aku masih hidup."

Arga mengembuskan napas lega, senyuman tipis kembali terukir di wajahnya.

Di dalam liontin, Guru Tian menghela napas panjang dengan nada yang dipenuhi rasa kagum. "Muridku... perhatikan dan ingatlah momen ini baik-baik. Teman seperjalanan yang sejati bukanlah mereka yang menemanimu saat keadaan aman, tapi mereka yang tetap memilih berdiri tegak di sampingmu bahkan ketika mereka tahu persis bahwa nyawa mereka berada di ujung tanduk."

Arga terdiam, menatap Nara yang berada di pelukannya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Saya mengerti, Senior."

Arga perlahan membantu Nara untuk kembali berdiri tegak. Pemuda itu kemudian melangkah maju beberapa tindak, memosisikan dirinya di depan untuk menghadapi pria berjubah hitam yang kini diselimuti aura membunuh yang pekat.

Namun, kali ini Arga tidak lagi merasa melangkah sendirian. Di sebelah kirinya, Nara telah kembali berdiri dengan busur panah yang digenggamnya erat-erat, siap melepaskan tembakan berikutnya kapan saja.

Dua orang pemuda yang bahkan belum menyentuh gerbang Alam Fondasi, kini bersiap dengan tekad baja untuk menghadapi seorang kultivator yang jauh lebih kuat dari mereka. Dan di mata Guru Tian yang mengawasi dari balik alam kesadaran, baru pada detik itulah... mereka berdua benar-benar tampak seperti sepasang kultivator sejati yang siap mengukir legenda mereka sendiri.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!