"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3 -Kepulangan dan Rahasia Lama
Keesokan paginya, dapur kediaman Narendra sudah sibuk sejak subuh. Maya dan Alyssa bekerja sama menyiapkan masakan spesial untuk menyambut Arden. Kata Maya, putra bungsunya itu mengambil penerbangan malam dari Korea dan sedang dalam perjalanan dari bandara.
Saat Adrian turun dari lantai dua, Alyssa langsung menyadari kehadiran suaminya. Dengan cekatan, ia menyodorkan secangkir kopi hangat. "Kopinya, Mas."
Tanpa sepatah kata pun, bahkan tanpa memandang wajah istrinya, Adrian melewati Alyssa begitu saja. Pria itu melangkah ketus menuju meja makan tempat ayah dan tantenya sudah duduk menunggu. Alyssa terdiam di tempatnya, menelan sudut kecewa yang kian membukit, lalu kembali membantu sang mertua.
Di meja makan, Adrian mengabaikan hidangan mewah yang telah dimasak dengan susah payah oleh Alyssa. Ia justru meraih sepotong roti tawar kering.
“Adrian,” sapa Indah yang baru menyadari kehadiran keponakannya. Adrian hanya menanggapi dengan senyuman singkat. Sementara itu, Bagas hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada koran paginya.
“Kamu tahu, Adrian? Adikmu pulang hari ini. Ibu dan istrimu effort banget masak semua ini,” celetuk Indah memecah keheningan.
“Alyssa?” sahut Adrian datar.
“Ya, memangnya siapa lagi? Apa kamu punya istri yang lain? Kalau iya, bawa ke sini,” canda Indah dengan tawa renyah yang dibuat-buat.
Prang!
Gelas di tangan Alyssa mendadak tergelincir dan hancur berantakan di lantai dapur.
“Maaf… maaf, semuanya,” ucap Alyssa gugup, buru-buru berlutut untuk memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar. Kalimat Tante Indah barusan terasa menghantam ulu hatinya. Mereka tidak ada yang tahu bahwa di luar sana, Adrian memang memiliki wanita lain.
“Indah, jaga bicaramu!” tegur Bagas tegas. Tatapannya menajam pada adik perempuannya itu. “Jangan sembarangan bicara. Keluarga Narendra dilarang keras memiliki lebih dari satu istri.”
“Ya, aku tahu, Mas. Kan, aku hanya bercanda,” balas Indah acuh tak acuh sambil mengedikkan bahu.
“Tapi itu tidak lucu, Indah. Kamu sama sekali tidak menjaga perasaan Alyssa,” potong Bagas menusuk.
Tepat saat atmosfer di meja makan kian menegang, suara bel rumah berbunyi nyaring. Maya yang baru keluar dari dapur langsung tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sempat terjadi.
“Arden!” seru Maya penuh sukacita. Wanita paruh baya itu langsung berlari ke pintu depan, memeluk putra bungsunya dengan sangat erat. “Ya Tuhan, Nak. Mama kangen sekali sama kamu.”
Arden terkekeh hangat, membalas pelukan ibunya tak kalah erat. “Sudah, Ma. Papa juga mau peluk, tuh,” sahut Bagas yang mendadak muncul di belakang Maya, lalu menepuk bahu putranya bangga.
“Mas, kamu tidak kangen denganku?” tanya Arden, menjabat tangan kakaknya yang masih asyik mengunyah roti di meja makan.
“Tidak,” balas Adrian dingin, tanpa beban.
“Masih saja sama,” gumam Arden menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia kemudian beralih memeluk Tante Indah yang menyambutnya heboh.
Setelah semua kembali duduk, Maya dengan telaten menyajikan teh hangat untuk Arden. Di sela-sela obrolan keluarga, sepasang mata Arden diam-diam bergerak gelisah, menatap ke sekeliling ruangan. Ia berharap sosok yang selama ini dirindukannya muncul. Namun, wanita itu tak kunjung terlihat.
“Kamu sedang mencari siapa, Ar?” selidik Indah yang menyadari gelagat keponakannya. Adrian ikut melirik sekilas sebelum kembali abai.
“Tidak ada, Tante. Hanya memperhatikan sekeliling. Aku pergi beberapa tahun, ternyata rumah ini tidak banyak berubah, ya,” dalih Arden mencoba tertawa kecil.
Usai sarapan dan melepas rindu, Arden memutuskan untuk membersihkan diri ke kamarnya. Sementara Bagas dan Adrian langsung berangkat menuju kantor perusahaan.
Setelah merebahkan diri di ranjangnya yang empuk, rasa kantuk yang Arden harapkan tak kunjung datang. Pikirannya telanjur terjaga. Akhirnya, ia memilih turun ke lantai bawah untuk mencari minuman segar.
Begitu melewati area dapur, aroma manis cokelat yang dipanggang langsung menusuk indra penciumannya. Arden tahu persis siapa yang sedang membuat kue itu. Alyssa. Kakak iparnya.
Namun, jauh di lubuk hati Arden, Alyssa tidak pernah sekadar menjadi seorang kakak ipar.
Flashback
Dua tahun lalu, tepat sebelum Arden berangkat menempuh pendidikan ke Korea Selatan untuk mengejar impiannya membangun agensi musik sendiri. Langkah riangnya terhenti tepat di depan ruang kerja sang ayah saat mendengar perdebatan sengit.
“Aku tidak mau, Pa! Aku sudah punya kekasih!” tolak Adrian dengan nada lantang dan penuh amarah.
“Kalau kamu menolak, silakan keluar dari rumah ini! Dan jangan harap Papa akan memberikan sepeser pun aset Narendra untukmu!” balas Bagas tak kalah menggelegar.
Di tengah kekacauan itu, Maya hanya bisa terdiam pasrah di sudut ruangan. Namun, perhatian Arden justru tersita sepenuhnya pada sosok gadis yang berdiri di hadapan kedua orang tuanya. Gadis dengan rambut terurai sederhana, mengenakan dress selutut berwarna lembut yang membuatnya tampak sangat anggun.
Alyssa. Nama yang baru hari itu Arden dengar dari bibir ayahnya.
“Ini Alyssa, anak sahabat Papa. Dia yang akan menjadi pendamping hidupmu, Adrian.”
Saat Adrian terus memprotes dengan emosi meluap-luap, Alyssa hanya bisa menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri dengan gugup. Namun, di detik ketika mata mereka sempat beradu sejenak, Arden merasakan sebuah getaran hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Adrian mungkin menolak mati-matian pernikahan itu, tetapi di tempatnya berdiri, Arden justru menyadari satu kenyataan pahit: hatinya telah memilih Alyssa, sejak detik pertama wanita itu menginjakkan kaki di rumah ini.
******
Arden tersentak dari lamunannya saat Bi Sri tiba-tiba menegurnya. “Mas Arden, perlu sesuatu?”
Arden menoleh sekilas, matanya sempat menangkap sosok Alyssa yang tengah sibuk memotong kue brownies di meja konter dapur. “Tolong buatkan es jeruk ya, Bi. Antar ke gazebo belakang,” ucap Arden menenangkan debar jantungnya, lalu melangkah pergi.
Di dapur, Alyssa akhirnya bisa mengembuskan napas lega setelah punggung Arden menghilang. Tatapan adik iparnya itu selalu terasa terlalu intens dan berbeda.
“Non Alyssa,” panggil Bi Sri sambil memegangi perutnya yang tampak meringis kesakitan. “Bisa tolong antarkan es jeruk ini ke Mas Arden di gazebo? Duh… perut saya mulas sekali, sudah tidak kuat menahan.”
Alyssa tercekat. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. “Tapi, Bi…”
“Tolong ya, Non. Saya benar-benar ke belakang dulu!” pamit Bi Sri panik, langsung berlari kencang meninggalkan dapur.
Alyssa berdiri kaku. Mau tidak mau, ia merapikan beberapa potong kue hangat ke atas piring kecil untuk menemani es jeruk tersebut. “Tenang, Alyssa. Cuma mengantar minuman,” bisiknya menyemangati diri sendiri, meski tangannya sedikit gemetar saat mengangkat nampan.
Ia melangkah membelah taman samping menuju gazebo. Namun, belum sempat kakinya menginjak anak tangga gazebo, sebuah bayangan menghadangnya. Tante Indah sudah berdiri di sana dengan senyum sinis yang menusuk.
“Awas ya, jangan sampai kamu menggoda keponakanku,” bisik Indah tajam, tepat di hadapan wajah Alyssa.
Alyssa tersentak hebat, hampir saja menumpahkan jus di nampannya.
“Tante, aku tidak berniat begitu,” belanya dengan suara bergetar, mencoba tetap sopan.
“Cih, tidak berniat bagaimana?” Indah menyilangkan dada, menatapnya penuh selidik. “Sejak Arden datang tadi, matamu jelas sekali tidak bisa lepas dari dia.”
Pipi Alyssa seketika memanas karena malu dan tertekan. Namun, sebelum ia sempat menyanggah tuduhan kejam itu, dari arah gazebo, Arden rupanya telah berbalik. Sepasang mata tajam pria itu kini mengunci posisi Alyssa yang berdiri kikuk di bawah intimidasi Tante Indah.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣