NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat

Menusuk benar hawa dingin pagi itu di kulit Yang Chan. Sebelum ayam jantan di kandang belakang sempat membuka paruh, remaja itu sudah berdiri tegak di halaman samping rumah mereka.

Lututnya gemetar hebat. Ia sedang mencoba menahan posisi setengah berjongkok dengan kedua tangan lurus ke depan.

'Satu menit lagi,' batinnya, mencoba menyemangati diri sendiri. 'Hanya satu menit.'

Kejadian kemarin malam masih membekas jelas di kepalanya. Ancaman dari Klan Li bukan main-main, dan ia tahu betul bahwa kedamaian keluarganya sedang berada di ujung tanduk. Ia tidak butuh menjadi pahlawan yang gemar bertarung, ia hanya ingin melindungi rumah kecil ini.

Namun, kenyataan memang sering kali tidak sejalan dengan keinginan. Jangankan mengalirkan tenaga spiritual, merasakan kehangatan energi di sekitarnya saja ia tidak bisa. Tubuhnya terasa bebal, seolah ada dinding tebal yang menghalangi segala jenis energi luar masuk ke dalam nadinya.

Brak!

Sebuah bilah bambu mendarat telak di punggung bawahnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat pertahanan posisi berjongkoknya runtuh seketika.

Tersungkur ia ke atas tanah yang dingin, memeluk lututnya yang kaku.

"Pinggulmu terlalu tinggi, Chan er. Kau sedang berlatih kuda-kuda atau sedang bersiap melompat ke parit?"

Suara itu terdengar datar namun tegas. Bing Chan berdiri di sampingnya, masih mengenakan celemek masak yang biasa ia pakai di dapur. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan kelembutan seorang ibu rumah tangga biasa saat ini.

"Ibu, ini sudah hitungan ke lima puluh," keluh Yang Chan sambil mengusap pantatnya yang terasa panas. "Kakiku rasanya seperti mau lepas dari sendinya."

"Kalau baru lima puluh hitungan saja kau sudah mengeluh, sebaiknya kembali saja ke kamar dan tidur," balas Bing Chan dingin. Ia mengetuk-ngetuk bilah bambu ke telapak tangannya sendiri.

"Cepat berdiri. Luruskan punggungmu, kunci kekuatanmu di perut bawah."

Meskipun tubuhnya berteriak minta ampun, Yang Chan memaksakan diri untuk kembali tegak. Ia menarik napas panjang, menuruti setiap instruksi tanpa bantahan lagi. Bing Chan memperhatikan dengan saksama, sesekali mengoreksi sudut lengan putranya dengan ketukan bambu yang presisi.

Berkali-kali Yang Chan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, setiap kali melihat wajah ibunya yang tanpa kompromi, rasa ingin menyerah itu langsung menguap begitu saja. Ada ketegasan yang anehnya justru memberinya kekuatan untuk terus bertahan.

"Sudah, sudah. Kasihan anak kita, biarkan ia bernapas dulu," sebuah suara lembut menyela dari arah teras kayu.

Yang Wei berjalan santai sambil memanggul sebuah cangkul tua di pundaknya. Pria paruh baya itu tersenyum hangat, menatap putranya yang kini langsung terduduk lemas di atas tanah gembur.

"Ayah," panggil Yang Chan dengan napas memburu. "Kenapa sulit sekali merasakan energi itu? Aku bahkan tidak bisa merasakan apa pun selain angin dingin."

Yang Wei meletakkan cangkulnya di dekat tiang penyangga rumah, lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok di hadapan putranya, membersihkan sisa tanah yang menempel di dahi Yang Chan dengan ujung jarinya yang kasar.

"Chan er, lihat ladang kita di sana," kata Yang Wei, menunjuk ke arah petak tanah yang gersang di kejauhan. "Tanah yang keras tidak akan bisa menerima air dengan baik. Ia harus digemburkan dulu, dibalik perlahan, baru kemudian bisa menyerap air hujan."

Yang Chan terdiam, mendengarkan dengan saksama.

"Begitu juga dengan tubuhmu," lanjut Yang Wei lembut. "Napasmu terlalu terburu-buru karena kepalamu dipenuhi rasa takut dan amarah. Tenangkan pikiranmu. Selaraskan napasmu dengan detak jantungmu sendiri, bukan dengan ambisimu."

Nasihat itu terasa seperti air dingin yang menyiram kepala Yang Chan yang panas. Rasa frustrasi yang sejak tadi menyumbat dadanya perlahan-lahan mulai mencair. Ia menutup matanya, membuang semua bayangan tentang keserakahan Klan Li dan fokus pada detak dadanya yang mulai melambat.

Bing Chan yang berdiri di samping suaminya hanya menghela napas pelan, menyimpan bilah bambunya di balik punggung. Ia tidak berkata apa-apa lagi, namun tatapannya melunak.

Setelah merasa pikirannya cukup jernih, Yang Chan kembali mengambil posisi bersila di tengah halaman. Kali ini, ia tidak lagi memikirkan tentang bagaimana cara menjadi kuat dalam sekejap. Ia hanya ingin merapikan aliran napasnya, memadukan ketegasan latihan fisik dari ibunya dengan ketenangan batin yang diajarkan ayahnya.

Ia mulai mencoba menembus batas pertama, memasuki Ranah Penempaan Tubuh. Sasarannya sederhana: memaksimalkan potensi otot dan tulang, serta membuang segala kotoran fana yang menyumbat fisiknya selama belasan tahun ini.

Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.

Awalnya semua terasa begitu tenang dan damai. Namun, saat ia mencoba mendorong energi murni dari dalam perutnya menuju ke ujung-ujung jari, segalanya berubah menjadi kekacauan.

Sebuah sensasi panas tiba-tiba meledak dari pusat tubuhnya. Rasa panas itu menyebar cepat melalui aliran darah, seolah-olah ada minyak mendidih yang dituangkan paksa ke dalam pembuluh nadinya.

"Akh...!" jerit Yang Chan tertahan.

Kedua tangannya mencengkeram tanah dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya memerah padam dalam sekejap, dan butiran keringat dingin mulai bercucuran deras dari pelipisnya.

Ia merasa tubuhnya sedang direbus hidup-hidup dari dalam. Otot-ototnya menegang ekstrem, dan tulang-tulangnya terasa seperti sedang dipatahkan lalu disambung kembali secara paksa. Rasa sakit yang menyiksa ini begitu nyata hingga pandangannya mulai kabur karena air mata yang mendesak keluar.

'Sakit sekali... Sial, ini benar-benar menyiksa!' batinnya berteriak di tengah rasa sakit yang mendera.

Namun, di tengah siksaan yang luar biasa itu, Yang Chan menolak untuk tumbang. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga mengeluarkan darah segar, mencoba bertahan di ambang batas kesadarannya yang mulai menipis.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!