Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengulur Waktu
Pagi ini Laila merasa tidak semangat, ia bahkan belum bangkit dari kasurnya padahal Ayahnya sudah memanggil sedari tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, seharusnya ia sudah bersiap sedari tadi untuk pergi mengurusi berkas pernikahan bersama Arjuna.
Tok... Tok... Tok
"La, ini sudah jam delapan," ujar Dirga yang sedari tadi mencoba membangunkan putrinya.
Pintu terbuka dan terdengar langkah kaki mendekati kasur.
"Ya ampun Lala, masih molor aja udah jam segini. Bangun ndok, itu Arjuna sudah menunggu." Dirga mengguncang pelan tubuh putrinya.
Terganggu dengan guncangan yang diakibatkan oleh Ayahnya, Laila terpaksa membuka mata.
"Apa sih Pi, masih pagi gini udah ngomel aja," cetus Laila.
Ia mengucek matanya beberapa kali dan memposisikan tubuhnya duduk bersender di kasur.
"Itu Nak Arjuna sudah menunggu kamu, lah kamu siap-siap saja belum. Cepat persiapkan diri kamu ndok," perintah Dirga.
"Ngumpul nyawa dulu Pi," balas Laila.
"Kamu itu ada saja alasannya," oceh Dirga, yang kemudian keluar kamar putrinya.
"Ck, males banget ih. Tapi ini jalan yang udah gue pilih, mau gak mau harus gue jalani," gumam Laila.
Laila turun dari kasurnya dan berjalan menuju jendela kamarnya yang masih tertutup rapat dan gorden yang masih menghalangi cahaya matahari masuk. Saat ia membuka gorden kamar, dari sana bisa Laila lihat sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Hemm, gak afdol kalo gak gue kerjain tu orang," gumam Laila. Ia tersenyum jahil dan memikirkan cara untuk mengerjai Arjuna.
Hanya satu cara ini yang terpikir oleh Laila, sengaja Laila berlama-lama menyiapkan dirinya. Laila memulai misinya dengan melangkah ke kamar mandi di dalam kamarnya. Biasanya, ritual mandinya hanya memakan waktu lima belas menit. Pagi ini? Ia memperlakukannya seperti perawatan spa bintang lima.
Ia menyalakan air hangat, membiarkan uapnya memenuhi ruangan terlebih dahulu sambil merenung. Ia menggunakan sabun aromaterapi dengan gerakan seringan awan, lalu memakai hair mask yang instruksinya jelas-jelas tertulis: diamkan selama lima menit. Laila mendiamkannya selama tiga puluh menit sambil duduk di tepi bak mandi, menatap langit-langit.
Setelah membilas diri dan mengeringkan rambut dengan handuk secara super lambat, ia duduk di meja rias. Aplikasi serum, pelembap, dan tabir surya yang biasanya selesai dalam tiga menit, kini berubah menjadi ritual pijat wajah tak berujung. Setiap ketukan jarinya di pipi sengaja dijeda, seolah sedang memainkan simfoni klasik.
Dari balik pintu, Laila samar-samar mendengar suara denting cangkir. Ah, Ayahnya pasti sudah menyuguhkan teh untuk Arjuna. Baguslah, setidaknya Arjuna punya asupan cairan untuk bertahan hidup.
Laila membuka lemari pakaiannya lebar-lebar. Misi kali ini adalah menguji setiap kombinasi pakaian yang mustahil.
Ia mencoba gaun bermotif bunga. "Terlalu heboh," gumamnya, lalu menggantungnya kembali dengan sangat rapi.
Ia mencoba celana jins dan kaus putih biasa. "Terlalu santai."
Ia mencoba rok plisket panjang. "Kelihatan mau kondangan."
Setiap kali mengganti pakaian, Laila akan berdiri di depan cermin penuh selama lima menit, memandangi dirinya dari berbagai sudut, lalu sengaja melipat kembali baju yang tidak jadi dipakai dengan presisi tingkat tinggi, segaris demi segaris, seolah kerapian lipatan baju adalah kunci kedamaian dunia.
Di ruang tamu, Arjuna pasti sudah selesai membaca tiga artikel berita panjang atau menghabiskan baterai ponselnya setengah. Laila tersenyum tipis dan mulai membuka tas kosmetiknya.
Ia memutuskan untuk menggambar alis. Ini adalah bagian paling krusial dalam taktik mengulur waktu. Ia menggambar alis kanan dengan sempurna, lalu sengaja membuat alis kiri sedikit lebih tebal dan tinggi.
"Waduh, gak simetris nih," bisiknya dengan nada yang sama sekali tidak panik.
Ia mengambil kapas, menghapusnya dengan sangat perlahan, lalu mengulangnya lagi. Kali ini, ia sengaja membiarkan maskaranya sedikit mengenai kelopak mata, memberikan alasan logis lainnya untuk menghapus dan memulai ulang proses makeup dari awal. Bedak tabur ditepuk-tepuk ke wajahnya dengan ritme lambat, seolah setiap butirannya harus dihitung.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh menit, Laila sebenarnya sudah siap seutuhnya. Penampilannya anggun, riasannya segar, dan rambutnya terurai indah. Tapi keluar sekarang berarti ia kalah dari targetnya.
Arjuna yang sudah menunggu begitu lama beberapa kali ia menatap arloji di pergelangan tangannya, sembari mengobrol dengan Om Dirga.
Dirga yang menyadari tingkah Arjuna, ada sedikit rasa malu karena putrinya membuat seseorang menunggu begitu lama
"Maaf Nak Juna, biasalah kalau wanita berdandannya lama," ujar Dirga.
"Iya Om saya mengerti."
Sementara Laila yang belum mau keluar kamar memulai drama pencarian barang. Ia membongkar isi tas jinjingnya ke atas tempat tidur. Ia pura-pura kehilangan ikat rambut hitam kecilnya yang sebenarnya ada di dalam laci meja rias. Ia memeriksa kolong tempat tidur, membuka-buka laci nakas, dan menyusun kembali botol-botol parfumnya berdasarkan tinggi botol.
Ketika jarum jam panjang dan pendek tepat bertemu tegak lurus di angka sebelas, Laila menarik napas dalam-dalam. Empat jam penuh perjuangan di dalam kamar telah usai.
Cklek...
Pintu kamar terbuka. Laila melangkah keluar dengan wajah paling polos dan penuh rasa bersalah yang bisa ia pasang.
Di ruang tamu, Arjuna mendongak dari ponselnya. Wajah cowok itu tampak antara takjub, pasrah, dan sedikit linglung setelah menunggu selama empat jam penuh.
"Ya ampun, Arjuna! Maaf banget ya, aku baru selesai siap-siap. Tadi ada sedikit... kendala teknis di dalam," ujar Laila dengan nada manis tanpa dosa, sambil melangkah mendekat seolah-olah waktu empat jam itu hanyalah kedipan mata.
"Ndok panggilnya Mas," sela Dirga saat mendengar Laila memanggil Arjuna seolah mereka seumuran.
Laila hanya memutar bola mata singkat saat mendengar nasihat Ayahnya.
Suara debum pintu mobil yang tertutup seolah memotong seluruh keriuhan dunia di luar. Begitu Laila duduk di kursi penumpang depan dan menarik sabuk pengamannya, keheningan instan langsung menyergap kabin mercedes benz hitam milik Arjuna.
Ini adalah pertama kalinya mereka berada di dalam satu ruang yang sama, begitu dekat, dan hanya berdua. Namun, jika Arjuna berharap atmosfer akan mencair setelah Laila selesai bersiap-siap selama empat jam, ia salah besar. Laila duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap lurus ke kaca depan dengan ekspresi sedatar papan gilasan.
Arjuna berdeham pelan, memecah kesunyian yang mendadak terasa setebal dinding beton. "Em... mau langsung jalan atau ada yang tertinggal, Dek?" tanyanya, sembari menggenggam setir dengan kedua tangan, pertanyaan itu terdengar sangat formal, tipikal Arjuna yang kaku jika sedang gugup.
"Nggak ada," jawab Laila singkat.
Tok... Tok....
Laila terkejut saat pintu mobil sebelah kiri tempat ia duduk diketuk seseorang tiba-tiba. Saat ia menoleh ternyata itu Ayahnya, dengan cepat Laila membuka kaca mobil.
"Ada apa Pi?" tanya Laila.
"Ini Ndok, kamu hampir melupakan berkas penting ini." Dirga menyodorkan map berkas kepada Laila.
"Ini-"
Belum sempat Laila berkomentar Dirga memotong ucapan Putrinya itu. "Iya, ini Papi yang siapin malem kemarin, buat jaga-jaga kalo kamu gak tau apa aja yang dibutuhin," jelas Dirga.
"Waduh si Papi persiapannya mateng banget, padahal gue udah ngide buat pura-pura ketinggalan berkas ini," ucap Laila dalam hati.
Setelah mengambil berkas itu Laila kembali menutup kaca mobil, sementara Arjuna terdiam sejenak.
"Nunggu apa lagi? Ayok jalan, lo kan udah lumayan lumutan di rumah gue dari jam tujuh pagi," jawab Laila. Suaranya terdengar dingin, ketus, dan tanpa basa-basi.
Arjuna meringis pelan, menelan ludah. "Oke, galak e rek," gumamnya.
"Apa lo bilang?" tanya Laila ketus.
"Ndak, ndak ada apa-apa Dek," balas Arjuna cepat.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah Laila. Selama sepuluh menit pertama, satu-satunya suara yang terdengar adalah deru halus mesin mobil dan klik pelan lampu sen ketika Arjuna berbelok di pertigaan. Atmosfer di dalam mobil itu begitu canggung, diperparah oleh aura defensif yang dipancarkan Laila dari kursi sebelah.
Arjuna, yang merasa keheningan ini bisa membunuh mereka berdua secara perlahan, berinisiatif menyalakan audio mobil. "Biar ndak sepi ya," ujarnya pendek, mencoba bersikap ramah.
Ia menekan tombol play pada layar head unit. Sedetik kemudian, petikan gitar akustik yang mendayu-dayu memenuhi kabin, disusul suara penyanyi pria yang meratap tentang cinta yang tak berbalas. Lagu melankolis yang terlalu dalam untuk ukuran hari Senin yang terik.
Laila langsung mendengus pelan, memutar bola matanya. "Bisa diganti enggak? Lagu lo bikin makin gerah."
Arjuna terperanjat. Dengan gerakan panik yang kikuk, ia buru-buru menekan tombol next. Lagu berikutnya berputar sebuah lagu metal dengan ketukan drum secepat senapan mesin.
"Eh, sori, ini playlist acak," potong Arjuna cepat-cepat, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia bersiap menekan tombol ganti lagi, tapi tangan Laila bergerak lebih cepat, langsung mematikan total tombol power audio tersebut.
Klik.
Kabin kembali sunyi senyap.
"Enggak usah pakai musik. Berisik," ketus Laila, lalu kembali membuang muka ke arah jendela samping, memperhatikan deretan ruko yang mereka lewati seolah itu adalah hal paling menarik di dunia.
Arjuna hanya bisa menghela napas pasrah. "Kamu... kalau AC-nya kurang dingin, bilang ya. Bisa aku besarkan."
"Enggak usah. Ini sudah cukup." Laila menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Padahal, telapak tangannya sebenarnya agak dingin karena gugup, tapi sifat gengsi dan juteknya jauh lebih tinggi daripada rasa canggung itu sendiri.
Untuk mengalihkan perhatian, Laila memutuskan untuk sibuk dengan ponselnya. Namun, karena ruang kabin mobil yang sempit, ia merasa setiap gerakannya terlalu disorot. Ia membuka aplikasi pesan dengan ketukan layar yang sengaja dikencangkan tek, tek, tek seolah ingin menegaskan bahwa ia sedang sangat sibuk dan tidak ingin diganggu.
Sementara itu, Arjuna berada dalam dilema terbesar seorang pengemudi, ke mana harus meletakkan tangan kirinya. Jika ditaruh di atas tuas transmisi, jaraknya terlalu dekat dengan lutut Laila yang terbalut rok. Jika ditaruh di paha sendiri, rasanya pegal. Akhirnya, ia terus-menerus memindahkan posisi tangan kirinya dari setir ke sandaran tangan pintu dengan kikuk.
"Arjuna," panggil Laila tiba-tiba. Suaranya tajam.
"Ya?!" Arjuna menyahut terlalu cepat dan terlalu keras, membuat Laila sedikit tersentak.
Laila mengernyitkan alisnya, menatap Arjuna dengan pandangan menghakimi. "Itu... lampu merah di depan. Lo mau nerobos?"
Arjuna yang kaget langsung menginjak rem sedikit lebih keras dari seharusnya. Tubuh mereka berdua agak terdorong ke depan sebelum tertahan sabuk pengaman dengan sentakan yang lumayan terasa.
"Sori, sori! Mas agak kurang konsentrasi," kata Arjuna panik, buru-buru merapikan kausnya yang sebenarnya tidak berantakan. Ia melirik Laila dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. "Kamu ndak apa-apa, Dek?"
Laila memperbaiki posisi duduknya, mendengus remeh sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ngerem mendadak tadi. "Makanya, kalau menyetir itu matanya fokus ke depan. Bukan mikirin yang lain. Untung jalanan lagi sepi."
Arjuna menatap kemudi dengan pasrah, tangannya meremas setir lebih erat. "Jujur ya, Dek. Empat jam menunggu di ruang tamu kamu tadi rasanya masih kalah mendebarkan dibanding lima belas menit pertama kita di dalam mobil ini. Kamu... galak banget sih Dek hari ini."
Laila tertegun sejenak mendengar kejujuran Arjuna yang terdengar agak menyedihkan itu. Detak jantungnya sebenarnya sempat berdegup agak kencang, dan ada secuil rasa bersalah yang menyelinap di hatinya.
"Lagian siapa suruh datang jam tujuh pagi. Rasain," gumam Laila pelan, tetap dengan nada jutek andalannya, meski kali ini volumenya jauh lebih mengecil.
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju membelah jalanan kota, membawa dua orang yang terjebak dalam kecanggungan luar biasa, yang satu sibuk menyetir dengan keringat dingin, dan yang satu lagi sibuk mempertahankan benteng kejutekannya agar tidak runtuh.
...Bersambung... ...