Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Saat mereka baru saja hendak melangkah ke ruang makan, tiba-tiba suara sirine alarm tanda bahaya berbunyi dengan nyaring dan memekakkan telinga ke seluruh penjuru mansion.
Lampu aula yang tadinya temaram seketika berubah berkedip warna merah tanda siaga satu. Ada musuh yang menyerang markas.
Willy dan Mario langsung berlari menghampiri dengan wajah tegang.
"Bos, ayo! Musuh dari geng sebelah mencoba menerobos gerbang daerah kita,"
Kenzo tidak tampak panik sedikit pun, raut wajahnya justru berubah menjadi sangat dingin dan mematikan.
Ia langsung menoleh ke arah Liana, mencengkeram lembut kedua bahu wanita itu.
"Sayang, masuk ke kamar sekarang. Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar sampai aku pulang. Aku keluar dulu," perintah Kenzo dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
Sebelum melangkah pergi, Kenzo melirik Kania yang masih berdiri mematung di dekat lobi dengan tatapan tajam.
"Kania, pulang sekarang. Ini bukan urusanmu," ketus Kenzo dingin.
Tanpa menunggu jawaban, Kenzo, Willy, Mario, dan anggota Black Cobra lainnya langsung bergegas keluar menuju halaman depan.
Pintu baja tebal di aula utama ditutup dan dikunci rapat dari luar oleh Kenzo, menyisakan Liana sendirian di dalam bangunan megah tersebut.
Suara raungan motor dan baku hantam di luar terdengar samar-samar.
Liana yang ditinggal sendirian mengembuskan napas panjang.
Alih-alih ketakutan karena serangan musuh, atensinya justru teralih saat mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan bawah mansion tersebut.
Di bawah terangnya lampu darurat, ia baru menyadari betapa berantakannya tempat ini.
Karena mansion ini dihuni oleh sekumpulan anggota geng motor pria dan tidak ada pelayan mansion sama sekali, kondisinya benar-benar mengenaskan.
"Hm..." Liana bergumam, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat genangan bekas tumpahan minuman, puntung rokok yang berserakan di sudut marmer, dan debu tebal yang menempel di furnitur mahal.
Rasa risih sebagai seorang wanita mengalahkan rasa takutnya.
Liana berjalan mencari alat kebersihan, menemukan sebuah sapu dan kain pel di dekat dapur kosong, lalu mulai membersihkan semuanya sendirian.
Ia menyapu setiap sudut ruangan, memunguti botol-botol kosong, dan mengelap meja-meja yang kotor.
"Geng motor Cobra apa geng kandang sapi sih? Kotornya minta ampun," gumam Liana kesal sambil mengikat kantong plastik besar berisi tumpukan sampah yang baru saja ia bersihkan.
Pikirannya sejenak teralih dari nasib malangnya, sibuk mengomeli kebiasaan jorok sang pimpinan Black Cobra beserta anak buahnya.
Selesai membersihkan ruangan yang mirip kandang sapi itu, perut Liana kembali berbunyi dengan nyaring.
Mengingat ia belum makan sejak pagi, Liana melangkah menuju meja makan panjang di aula.
Di sana sudah tersaji beberapa piring makanan yang tampaknya disiapkan oleh anak buah Kenzo sebelum penyerangan terjadi.
Liana mengambil sendok, lalu mencicipi sedikit masakan yang ada di atas meja.
Baru satu suapan kecil masuk ke mulutnya, wajah Liana langsung berkerut masam. Ia spontan menutup mulutnya.
"Uh... asin sekali!" keluh Liana sambil buru-buru meneguk air putih.
"Apa mereka semua sudah kebelet mau menikah? Masakan seasin ini mana bisa dimakan!"
Tanpa ragu, Liana membawa semua piring masakan gagal itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Tidak sudi membiarkan perutnya dan janin di dalamnya menderita, Liana melangkah masuk ke dapur mansion yang luas namun berantakan.
Ia membuka lemari es besar di sana dan menemukan beberapa bahan segar yang belum disentuh.
Liana menyingsingkan lengan bajunya. Dengan cekatan, ia mengambil potongan daging ayam, sayur-sayuran, dan beberapa botol bumbu.
Ia memutuskan untuk memasak menu yang jauh lebih layak: ayam saus inggris yang gurih manis dan sekeranjang capcay hangat yang kaya akan nutrisi untuk kehamilannya.
Sreeet... oseng... oseng...
Suara desisan wajan dan aroma harum tumisan bawang langsung menyerbak, memenuhi sudut dapur mansion yang dingin.
Hampir satu jam penuh Liana berkutat di depan kompor, memotong sayur, mengolah saus, dan memastikan rasanya benar-benar pas di lidah.
Setelah semua masakan matang, Liana menatanya dengan rapi di atas meja makan.
Namun, rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang tubuhnya.
Tenaganya benar-benar terkuras habis setelah seharian diculik, menangis, membersihkan mansion, dan memasak.
Liana mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan.
Kedua matanya terasa sangat berat, berulang kali berkedip menahan kantuk.
Hanya dalam hitungan menit, kepalanya perlahan terkulai di atas lipatan tangannya di meja makan.
Liana ketiduran dengan sangat lelap di samping kebulan asap masakan hangatnya, sama sekali melupakan dentuman konflik yang mungkin masih terjadi di luar sana.
Suasana perang antar-geng yang mencekam di luar akhirnya mereda setelah faksi musuh berhasil dipukul mundur.
Raungan mesin motor terdengar memasuki halaman mansion, disusul langkah kaki yang kelelahan dari para anggota Black Cobra.
Kenzo melangkah masuk dengan noda darah dan luka robek di keningnya.
Di belakangnya, Willy meringis menahan sakit akibat luka sayat di tangan, sementara wajah Mario lebam-lebam setelah baku hantam yang sengit.
Namun, begitu melangkah melewati pintu utama, Kenzo langsung menghentikan langkahnya.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling aula. Ruangan yang tadinya sekotor kandang sapi, kini tampak bersih berkilau, rapi, dan bebas dari sampah.
Kenzo tidak terlalu memedulikan hal itu. Fokus utamanya hanya satu.
Ia segera berlari menuju kamarnya dan menendang pintu hingga terbuka.
"Sial!! Dia kabur lagi!" umpat Kenzo dengan rahang mengeras.
Amarahnya langsung tersulut ke ubun-ubun. Ia berbalik dan berteriak ke arah koridor, "Willy! Mario! Ayo ikut aku mencari Liana sekarang!"
"BOS!! RATUMU DI SINI, BOS!!" teriak Willy tiba-tiba dari arah ruang makan, memotong kepanikan Kenzo.
Kenzo langsung berbalik dan berlari kencang menuju ruang makan.
Langkahnya mendadak melambat saat matanya menangkap siluet Liana yang sedang tertidur pulas dengan posisi kepala bertumpu di atas lipatan tangannya di meja makan.
Di dekatnya, tersaji hidangan ayam saus inggris dan capcay yang masih menyisakan kebulan asap tipis—sangat berbeda dari masakan asin yang disiapkan anak buahnya tadi.
Rasa lega yang teramat sangat menyelimuti dada Kenzo, meluluhkan semua amarahnya dalam sekejap.
Ia berjalan mendekat dengan sangat pelan agar tidak mengejutkan wanita itu.
Dengan gerakan yang teramat lembut, Kenzo menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Liana, membopong tubuh mungil itu ke dalam pelukannya untuk dibawa kembali ke tempat tidur.
Melihat pemandangan itu, perut para anak buah Kenzo yang kelaparan langsung berbunyi. Mario berbisik pelan, "Bos... kita makan duluan ya? Aromanya enak sekali."
"Iya, makan saja. Tapi sisakan untukku," jawab Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah lelap Liana.
Saat Kenzo berjalan membawa Liana ke dalam kamar dan hendak merebahkannya di atas tempat tidur yang empuk, Liana tiba-tiba menggeliat.
Dalam tidurnya yang setengah sadar, Liana justru melingkarkan kedua lengannya ke leher Kenzo, memeluk pria itu dengan sangat erat seolah mencari kehangatan.
Kenzo tertegun, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia mengecup kening Liana sekilas, lalu berbisik lirih di dekat telinganya, "Sayang, aku lapar sekali, belum makan dari tadi pagi karena mengkhawatirkanmu."
"Hmmm..." hanya igauan pelan yang keluar dari bibir Liana sebagai jawaban, sebelum wanita itu perlahan melepaskan pelukan tangannya dan kembali tenggelam dalam tidur yang nyenyak.
Setelah menyelimuti Liana dengan hati-hati, Kenzo berbalik dan melangkah menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Di ruang makan, suasana tampak sangat kontras. Para anggota inti Black Cobra makan dengan lahap seperti orang yang tidak makan setahun.
"Bos, demi apa pun... ini masakan paling enak yang pernah kumakan di markas ini!" puji Mario dengan mulut penuh makanan.
Bunga yang baru saja selesai menata piring segera mengambilkan bagian khusus untuk sang ketua.
Ia menyodorkannya dengan senyum kagum. "Ini milikmu, Bos. Ratumu benar-benar tahu cara memasak makanan yang luar biasa."
Sementara itu, di dalam kamar apartemen mewahnya yang megah, Kania sedang mengamuk sejadi-jadinya.
Suara pecahan kaca dan barang-barang bermerek yang menghantam dinding terdengar bersahutan.
Ia melempar vas bunga, menghempaskan lampu tidur, dan mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya hingga berserakan di lantai.
"Dasar wanita sialan!! Sialan!!!" jerit Kania dengan napas terengah-engah, wajah cantiknya memerah padam karena murka.
"Kenzo itu milikku! Hanya milikku!!! Kenapa Kenzo malah memilih wanita rendahan sepertinya?!"
Kania mencengkeram rambutnya sendiri, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini sudah retak.
"Apa kurangnya aku? Aku cantik, aku kaya, aku selalu ada di sampingnya!"
Dengan tangan gemetar karena emosi, Kania menyambar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
Ia menghubungi salah satu informannya di dalam lingkaran Black Cobra untuk mencari tahu latar belakang Liana yang sebenarnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk berisi laporan kilat.
Begitu membaca baris demi baris informasi tersebut, mata Kania seketika membelalak horor. Ponsel di genggamannya nyaris terjatuh saat matanya terpaku pada satu fakta medis: Liana sedang hamil anak Kenzo.
"Hamil?!" gumam Kania dengan suara tercekat.
Otaknya langsung berputar cepat, merangkai benang merah dari peristiwa beberapa bulan lalu.
"Jangan-jangan... obat perangsang yang aku rencanakan malam itu... Kenzo lampiaskan ke wanita sialan itu?!"
Kania memukul dadanya sendiri dengan frustrasi. Kenyataan pahit itu menghantamnya dengan keras.
"Padahal aku yang menjebaknya! Aku yang meminta orang untuk menaruh obat itu di minumannya dan aku yang menunggunya di kamar hotel!! Kenapa bisa jadi wanita itu?!"
"AARGHHHH!! Kamu bodoh, Kania!! Bodoh!!" teriak Kania histeris, merutuki kesialan nasibnya sendiri.
Kania mendadak berhenti berteriak. Keheningan kamar itu berganti dengan suara tawa yang mengerikan.
Kania tertawa terbahak-bahak, terdengar sangat melengking dan hancur seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Jadi... karena rencanaku sendiri, mereka malah bersetubuh di semak-semak?!"
Kania tertawa lagi di sela tangis kemarahannya. "Aku yang merencanakan semuanya, tapi wanita miskin itu yang memanen hasilnya! Aku tidak akan membiarkan bayi itu lahir! Tidak akan pernah!!"
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak