Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Owhh
Selang 15menit ada mobil mewah datang dari arah berlawanan arah mobilku, lampunya yang terang membuat mataku silau, ingin tahu siapa yang berhenti dengan kurang ajarnya di depanku dan tak mau mematikan lampunya. Tiba-tiba ada seseorang disebelah pintu kemudiku, membuka pintu mobil yang lupa untuk ku kunci.
“Geser sana sweet mama” suara itu menginterupsi ku untuk pindah dari kursi kemudi kekursi penumpang
“Ayo buruan geser” suara itu mengagetkan aku, suara yang sudah beberapa saat lalu mulai aku lupakan
“Ha? Ngapain?” Kataku bingung
“Udah buruan geser” katanya, masih menggunakan masker dan topi, aku tak dapat melihat wajahnya, tapi tatapan matanya aku seperti mengenalinya
“Gak usah kelamaan lihatin aku dong, buruan geser, atau mau aku pangku aja?” katanya mengagetkan aku, dan segera aku menggeser dudukku
“Kok bisa disini sih? Mau ngapain?” Tanyaku penasaran
“Ketemu kamu, minta anterin pulang sekalian hehehe” jawabnya asal
“Ha? Jangan ngaco deh, buruan sana turun aku lagi sibuk ini”
“Sibuk nguntit suami ya hahaha” katanya sambil tertawa
“Kok tau?” Kataku lirih tetapi berhasil dia dengar
“Tau dong apa sih yang gak aku tau” katanya sombong
“Mau aku bantuin gak?” Dia menawarkan bantuannya
“Gak usah, gak perlu aku bisa sendiri” jawabku menolak dengan sombong
“Yakin? Pakai mobil ini? Bisa ketinggalan jejaknya ntar, atau kalau apes malah ketauan klo lagi di mata-matai” kata-katanya membuatku berpikir ‘iya juga ya’, nampak aku berpikir beberapa saat.
“Yuk pindah ke mobil belakang biar gak ketahuan” ajaknya sambil menarik tanganku,
“Iya iya, lepasin tanganku dong, masak aku disuruh loncat lewat sana” kataku dengan nada jutek, dan dijawab dengan tawanya yang menggelegar
Aku berjalan ke arah mobil yang ada di belakangku, yang tadi ku kira driver online ternyata adalah anak buah dari orang gak jelas ini hahahaha
“Bawa mobil itu balik kerumahnya” dia menyuruh anak buahnya untuk membawa mobilku pulang
“Siap pak” kata orang yang berbadan lebih seperti bodyguard itu, mengambil kunci yang diserahkan ke arahnya
“Eh jangan di apa-apain ya mobilku” teriakku pada orang itu
“Baik non” jawabnya sopan dan berjalan menuju mobilku kemudian membawanya pergi
“Ayo masuk, ngapain bengong disitu” katanya mengejutkanku
“Di gondol satpam baru tau hahaha” lanjutnya yang membuat aku mendengus sebel, kemudian membuka pintu mobil dan mendudukan pantat ku di kursi empuk itu, mobilnya lebih bagus dari pada mobilku yang sederhana dan keluaran lama.
Aku yang masih cemberut di kagetkan suaranya,
“Itu mobil suamimu kan?” Entah dari mana dia tau mobil suamiku
“Eh iya itu mobilnya, ayo cepet kejar” kataku sambil menepuk-nepuk lengan tangannya tanpa sengaja,
“Iya duduk yang bener dulu dong” sudah seperti orang tua yang membujuk anaknya dia menyuruhku duduk. Aku membenarkan posisi dudukku dan pandanganku tetap terfokus ke arah mobil Bagas, tiba-tiba dia mendekati ku tepat di depan wajahku dia menoleh ke arahku, membuat aku terkejut dan degub jantungku berdetak sangat cepat, dan ‘klik’ dia memasangkan sabuk pengan untukku. Bisa-bisanya aku berpikir dia akan menciumku, pipiku langsung terasa memanas.
Saat aku tersadar mobil yang aku tumpangi sudah berada dekat dengan mobil Bagas.
“Eh kenapa deket banget gini?” Aku langsung menunduk takut ketahuan Bagas
“Itulah kenapa aku ajak ganti mobil ini, ini nih fungsinya hehehe, biar gak ketahuan” jawabnya enteng
“Tapi sama aja kalau deket begini ya bisa keliatan ada aku disini” jawabku masih dengan menunduk
“Hahaha kaca ini gak bisa dilihat dari luar, gak bakal ketauan ada siapa didalam sini”
“Bilang dong dari tadi, kan aku gak perlu nunduk-nunduk sembunyi” aku langsung membenarkan posisi dudukku tegak kembali
Mobil Bagas memasuki sebuah Mall yang biasa untuk nongkrong orang-orang elite berduit, aku saja masuk kesana hanya untuk melihat-lihat dulu ketika masih pacaran dengan Bagas.
Bagas memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tidak terlalu ramai mobil, dan mobil yang membawaku ini ikut memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Bagas.
Hatiku kembali hancur ketika aku melihat seorang wanita keluar dari pintu penumpang samping kemudi, kemudian di susul Bagas yang keluar dari pintu kemudi, tanpa terasa air mataku keluar perlahan. Aku menggapai handle pintu mobil tetapi segera di cegah,
“Jangan sekarang, kita tunggu dia kembali ya” bujuknya
Tanganku melepaskan handle pintu yang aku pegang, menutup wajahku dengan kedua tanganku, menangis tersedu memikirkan betapa banyak cobaan yang aku terima, belum lagi mengering makam Vano dan sekarang aku menyaksikan perselingkuhan suamiku.
Ada tangan membelai rambutku dan punggungku,
“Menangislah, habiskan air matamu untuk saat ini saja, jangan sisakan air mata untuknya nanti” kata-kata itu membuat aku membuka tanganku dan menatap dia yang menutupi wajahnya dengan masker seperti oppa-oppa Korea.
“Dengarkan kata-kataku, sampaikan semua rasa kecewa dan lukamu tanpa air mata, buat dia menyesal telah mensia-siakan kalian” dia mengucapkan dengan menggenggam tanganku, memberiku kekuatan dan meyakinkan aku.
Dia menarik tanganku, membuat wajahku menempel didadanya,
“Menangislah di sini, jangan perlihatkan lemahmu pada dia yang tak tahu betapa berartinya kamu” dia terus memberikanku kekuatan, membelai rambutku dan punggungku, yang tanpa aku sadari sebenarnya dia memelukku.
30 menit berlalu, aku mulai tenang dan tak lagi menangis di pelukannya. Aku duduk dan mengusap air mataku menggunakan tissue yang dia berikan tadi.
“Maaf ya bajumu jadi basah kena air mata dan ingusku” sambil memilin tissue dan menunduk
“Hehehe gak pa pa asal gak nempel lipstik aja masih aman lah” katanya cengengesan
“Itu dia sudah kembali, kamu mau turun sekarang atau nanti di depan rumah wanita itu?” Dia memberi tahu bahwa Bagas sudah berjalan ke arah mobilnya dengan wanita itu, wanita yang bergelayut manja di lengan Bagas, nampak perut wanita itu sedikit besar. Mereka berjalan dengan menenteng beberapa tas belanja dengan logo MC yang aku tahu biasa jualan perlengkapan bayi.
“Di rumahnya aja ya” kataku
“Eh tapi kita gak bakal bisa masuk, aku tadi aja gak dibolehin masuk sama satpam perumahannya” kataku menjelaskan
“Bisa di atur itu” katanya seolah itu hal yang mudah
Mobil Bagas berlalu meninggalkan tempat parkir, dan kami menyusul di belakangnya. Perjalanan kami hanya di isi dengan keheningan, aku sedang memikirkan bagaimana masa depanku.
Mendekati kawasan perumahan yang tadi, Bagas masuk lagi ke sana. Tak berapa lama mobil yang aku tumpangi pun di ijinkan masuk dengan menunjukkan kartu pas,
“Kok kamu punya kartu pas nya?” Tanyaku heran
“Perumaha ini kan punyaku” jawabnya enteng
Belum sempat aku bertanya kembali, mobil ini sudah berhenti tepat di belakang mobil Bagas yang sudah terparkir di depan rumah bergaya modern yang tak memiliki pagar ini. Bagas dan wnaita itu sudah terlebih dulu turun, Bagas membuka bagasi mobil dan mengambil semua tas belanjanya. Saat Bagas berjalan ke arah rumah,
“Hai Bagas” sapaku padanya yang langsung membuatnya menoleh ke arah belakang dan terkejut, wanita itu yang sedang membuka pintu rumah menatapku lekat-lekat
“Mah, kok bisa disini?” Pertanyaan yang menampilkan kegugupan dan ketakutannya
“Bisa dong kan aku punya kaki” jawabku santai
“Siapa ini sayang?” Wanita itu datang menghampiri kami
“Hai kenalkan aku istri Bagas, eh maksudnya calon mantan istri Bagas hehehe” kataku sambil menatap Bagas, wanita itu nampak terkejut
“Putri masuklah dulu kerumah” kata Bagas menyuruh wanita itu
“Owh ini yang namanya Putri ya gas? Yang dulu saat aku hamil kamu ketahuan selingkuh sama dia itu ya? Owh ternyata masih berlanjut hehehe” kataku dengan sangat santai
“Gak seperti yang kamu pikir mah semua ini” Putri hanya berdiri di belakang Bagas sambil menunduk
“Emang apa sih yang aku pikir?” Tanyaku seolah-olah tak mengerti
“Sudah berapa bulan kandungannya?” Tanyaku
“Lima mbak” jawab Putri
“Owh okay, selamat ya Bagas punya pengganti Vano ya, jangan di sia-siakan lagi ya gas, semoga kalian berbahagia ya termasuk kamu Putri semoga berbahagia dengan merebut milik orang lain, aku pamit” aku membalikkan badanku hendak perlalu pergi
“Rhey tolong dengarkan aku dulu” kata Bagas berusaha menarik tanganku
“Mari kita selesaikan di pengadilan gas” kataku menepis tangan Bagas dan berlalu pergi masuk mobil. Membawaku pergi dari tempat itu.
Bersambung…….