Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Hari ini Kanza sengaja gak mau di jemput Hanif, dia pulang menggunakan taksi di jam makan siang, tadi saat pergi kulia dia sudah pesan sama bibik, minta di buatin makan siang untuk di bawa kekantor Hanif.
Menjelang makan siang Kanza pulang kerumah mengambil nasi yang sudah di siapin bibik, kemudian pergi kekantor menemui Hanif.
Dengan perasaan gembira Kanza memasuki kantor, beberapa orang yang mengenalnya mengangguk hormat, Kanza hanya membalas dengan senyuman.
Langkah Kanza terhenti saat hampir sampai di meja suaminya, matanya menatap tak suka pada pegawai wanita yang berdiri begitu dekat, dan bicara dengan nada begitu manja. Dasar ...
Kanza meneruskan langkahnya sampai di samping Hanif.
"Sayang...!" seru Hanif sedikit kaget, tak menyanka Kanza akan datang.
Kanza tak menyahut, matanya melirik wanita di sebelah Hanif dengan wajah cemberut, sadar akan tatapan tak suka dari Kanza pegawai itupun pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa, wajahmu cemberut begitu, pasti ada yang salah, benar begitu sayang?" tanya Hanif dengan lembut.
"Mas pikir saja sendiri!" sentak Kanza.
Hanif terkekeh pelan, Kanza terlihat begitu menggemaskan bila sedang marah, andai ini bukanlah kantor ingin rasanya dia mencium Kanza, sebagai hukuman menghadiahi suaminya wajah cemberut begitu.
"Bukannya minta maaf malah ketawa." cebik Kanza kesal.
"Mas gak tau sayang salah mas dimana?, makanya bilang." sahut Hanif menatap hangan wajah cemberut Kanza.
"Itu tadi, ngapain prempuan itu bicara dengan mas dengan sok manja gitu, udah gitu nempel kayak perangko aja." omel Kanza.
"Ooo dia, Amira teman satu tim ku sayang, kalau kamu gak suka, besok mas jaga jarak dari dia, gimana udah senang?"
"Gak dia aja, tapi semua pegawai wanita di kantor ini, dengar itu." tegas Kanza masih dengan wajah cemberut.
"Baiklah,baiklah apa mau nyonya aja, bila perlu aku minta ruang kusus sama kak Daffa agar tak bisa melihat wanita lalu lalang di depanku, bagaimana?"
"Mas melek ku." sungut Kanza.
"Hmmm sayang, aku serius, biar tak kulihat lagi wajah masam ini, hanya karena wanita yang gak penting itu" sahut Hanif seraya menyentuh ujung hidung Kanza dengan jarinya.
"Oh ya sayang bawa apa ini?"
"Oh ya aku bawa bekal makan siang buat mas sama aku."
"Oh ya, kebetulan aku udah laper banget nih sayang, ayo kita makan."
Kanza menyiapkan makan siang buat dia dan suaminya.
"Gimana kuliahmu sayang?" tanya Hanif di sambil mengunyah makan siangnya.
"Lumayan sulit, ada yang menawarkan diri jadi dosen pembimbing mas, menurut mas gimana?"
"Kalau menurut sayang baik, mas dukung aja asal dosennya jangan laki-laki."
"Mas cemburu?"
"Ya iya lah sayang, bukan sayang aja yang bisa cemburu."
"Aku juga gak mau mas kalau laki-laki."
"Mas."
"Apa sayang?"
"Mas Daffa udah dua bulan ini kirim uang bulanan buat aku, katanya sih jatah bulanan aku mas, boleh gak aku pake buat keperluan aku mas?"
Hanif menatap wajah ayu istrinya, lalu mengangguk setuju.
"Mas gak marahkan?"
"Awalnya mas maunya sayang hanya memakai jerih payah mas aja, tapi jujur saja mas sekarang berpikir lain, sayang berhak dapat itu, dan mas juga gak boleh egois memaksa sayang menerima keterbatasan mas. Pakailah uang pemberian kak Daffa untuk keperluan sayang ya."
Kanza mengangguk, ada rasa bahagia Hanif tak salah paham. Dia akui dia memang butuh uang pemberian Daffa buat memenuhi kebutuhan kuliahnya.
"Mas, aku mau ke tempat kak Daffa dulu ya."
"Iya pergilah sayang, mas juga mau lanjutin kerja nih."
Kanza sudah hampir sebulan gak ketemu Kakaknya, Daffa, Kangen juga dia lihat wajah gantengnya.
"Asalamualaikum kak."
"Wa'alaikumsalam, Kanza masuk dek."
"Sehat kak?"
"Alhamdulillah, kamu gimana?"
"Alhamdulillah sehat juga kak."
"Kamu besok pulang kuliah ada acara gak?"
"Enggak kak, emamg kenapa?"
"Besok aja kakak kasih tau."
"Iiiss pakek rahasia-rahasiaan segala."
Daffa cuma senyum aja, dia tak ingin di introgasi macem-macem sama si bawel ini, lebih besok saja dia kasih tau.
"Kak, apa gak bisa tim mas hanif, laki-laki semua, jangan ada perempuannya." ujar Kanza.
Daffa menatap Kanza dengan kening berkerut, yang di tatap cuma nyengir.
"Kamu cemburu?" selidik Daffa. Kanza menatap Daffa dengan senyum malu dia mengiyakan pertanyaan Daffa.
"Iya, sebel aku liat temen kerjanya nempel kayak perangko, bicara sama mas aja ihhh manjanya minta ampun, kan sebel aku." omel Kanza.
Daffa terkekeh mendengar omelan Kanza, tebayang olehnya kesabaran Hanif menghadapai adik semata wayangnya ini.
"Itu bukan wewenang kakak Kanza, tim Hanif sudah sangat solid, sudah tau peran masing-masing, kalau harus di pisah dan ganti orang, mereka pasti mengalami kesulitan."
"Gitu ya kak."
"Iya, Kanza ..., Hanif bukan laki-laki yang mudah tertarik dengan lawan jenis, Hanya kamu satu-satunya yang mampu membuatnya tertarik di awal jumpa."
"Apa benar begitu?"
"Tentu saja, kakak tak kan sembarangan memberi izin lelaki menikahi adik semata wayang ini, tanpa tau latar belakang, dan kepribadian lelaki itu, dan Hanif sudah lolos semua itu."
"Tapi tetap saja, melihat ada wanita yang bisa dekat-dekat suamiku aku gak rela." sungut Kanza.
Daffa menghela nafas dalam, salahnya mengizinkan Kanza menikah muda, pribadi orang tak sama, begitu juga tingkat kedewasaan. Menurut papa mamanya dulu sangat dewasa di usia yang sangat muda, tapi Kanza sangat berbeda.
"Baiklah nanti kakak pindahkan ke devisi yang tidak ada wanitanya." ujar Daffa seraya menatap wajah Kanza yang berubah sumringah.
"Bener ya kak."
"He-em."
"Makasih kak, aku pulang ya."
"Iya hati-hati."
Daffa menatap Kanza yang sudah beranjak pergi, setelah memastikan Kanza sudah pulang Daffa memanggil Hanif kerungannya.
"Asalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, masuk nif."
"Udah pulang kanza nif"
"Udah kak."
"Bagaimana rumah tangga kalian, apa ada kendala?" tanya Daffa.
"Alhamdulillah sejauh ini gak ada sih kak."
"Tadi Kanza memintaku memindahkan mu kedivisi lain yang tak ada wanitanya, dan mengiyakan permintaannya.
Hanif menatap Daffa, tapi tidak memberi komentarnya dia menunggu Daffa menyelesaikan penjelasannya.
"Maaf bila Kanza menyusahkan mu, dia memang sedikit kekanak-kanaan dalam bersikap." ucap Daffa, dia merasa tak enak dengan sikap adiknya itu.
"Kanza tak pernah menyusahkan, walau kadang dia sedikit bawel, tapi selebihnya dia istri yang sempurna." ucap Hanif dengan senyum.
"Begitu ya, sukurlah, aku sudah cemas dengan sikap kekanakan Kanza."
"Oh ya Hanif , menyambung cerita ku tadi, aku akan memindahkan mu ke devisi lain, bukan karena permintaan Kanza, tapi karena kau memang mumpuni, dan separuh perusahaan ini milik kalian, jadi sudah waktunya kamu belajar mengenai seluk-beluk prusahaan."
"Apa tidak mengundang bisik-bisik kalau aku naik jabatan kak."
"Abaikan saja, dengan menikahi Kanza tanggung jawab separuh perusahaan otomatis ada di pundakmu,mau tidak mau suka tidak suka harus tanggung jawab itu harus di pikul" sahut Daffa.
Hanif cuma diam, dan cuma anggukan kepala saja sebagai jawaban ucapan Daffa.
"Bersiaplah minggu depan aku sudah mengumumkan kepindahan mu Nif."
"Apa tidak terlalu cepat kak?"
"Tentu saja tidak mau nunggu sampai kapan, lebih cepat lebih baik."
Mungkin akan jadi pemikiran panjang bagi Hanif, dia tak pernah menyangka harus memikul tanggung jawab sebesar ini.
Happy reading.
sukses sll 😇😇😇