Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.Sukacita di Rumah Kontrakan Sempit
Di atas tikar plastik yang sudah usang dan robek di bagian sudutnya, Bu Sulis menyajikan menu makan malam yang sedikit berbeda dan jauh lebih mewah dari biasanya.
Ada dua ekor ikan mas goreng kering yang harum, ditemani oleh sambal terasi segar buatan tangan ibunya sendiri, serta sepiring penuh lalapan daun singkong rebus yang masih hangat.
Ini adalah bentuk perayaan paling maksimal dan mewah yang bisa disajikan oleh ibunya dengan menggunakan sisa uang belanja minggu ini yang dikumpulkan dari upah laundry pakaian pekerja pabrik.
"Mari kita berdoa bersama-sama dulu, Pak, memohon berkah dan mengucap syukur yang sebesar-besarnya atas mukjizat dan jalan yang sudah Tuhan berikan pada anak kita," ucap Bu Sulis dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan rasa haru dan bahagia yang teramat sangat, sambil merapikan letak piring nasi di atas tikar.
Pak Hasyim mengangguk perlahan, lalu memimpin doa malam itu dengan suara yang berat, dalam, dan sedikit bergetar penuh penjiwaan spiritual.
Di dalam untaian doanya, pria paruh baya yang wajahnya dipenuhi garis-garis tegas cobaan hidup itu berulang kali menitikkan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta karena telah membukakan jalan yang terhormat bagi Lentera di kota besar yang kejam ini.
Tuhan telah membalas semua air mata, keringat, dan penghinaan kejam yang mereka terima di lobi Rumah Sakit Medika Utama beberapa hari lalu dengan cara yang paling indah dan tidak terduga melalui rekrutmen ini.
"Amin," ucap mereka bertiga secara serentak menyudahi doa malam dengan khusyuk.
"Ayo dimakan ikan mas gorengnya, Tera," Pak Hasyim dengan penuh kasih sayang menggunakan sendoknya untuk mengambil seekor ikan yang paling besar dan berdaging tebal, lalu meletakkannya ke atas piring nasi hangat milik anak gadis tunggalnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa bangga yang tak terbatas sebagai seorang ayah.
"Hari ini Bapak merasa sangat bangga dan bahagia di pasar induk, Nduk. Waktu Bapak menceritakan pada juragan sayur tempat Bapak bekerja kalau anak gadis Bapak sudah mulai bekerja secara resmi pakai jas dokter putih di rumah sakit terbesar dan paling megah di pusat kota, juragan sayur itu sampai ikut terkejut dan langsung memberikan bonus ikan mas segar ini secara gratis untuk dibawa pulang sebagai perayaan."
Tera tersenyum lebar, merasakan matanya ikut berkaca-kaca melihat binar kebahagiaan sejati yang sudah sangat lama hilang dari wajah ayahnya sejak kejadian pengkhianatan kejam Paman Cakra di kampung halaman mereka dulu.
"Terima kasih banyak ya, Bapak, Ibu. Ini semua bisa terjadi bukan karena kehebatan otak Tera semata, melainkan karena doa-doa tahajud, doa sahur, dan puasa Senin-Kamis yang Bapak dan Ibu lakukan tanpa pernah putus demi Tera. Tanpa restu dan tetesan keringat kalian berdua, Tera tidak akan pernah bisa melangkah sejauh ini menembus gerbang rumah sakit internasional itu."
Bu Sulis menyeka air mata kebahagiaan yang akhirnya lolos membasahi pipinya yang mulai keriput dimakan usia dan kerasnya deterjen laundry pakaian.
"Ibu sampai detik ini masih merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong, Nduk. Kemarin kita diusir secara paksa oleh petugas keamanan dan dihina seperti gembel jalanan oleh pemilik kaya di lobi rumah sakit itu, tapi sekarang_, anak gadis Ibu satu-satunya justru diterima bekerja dengan terhormat di tempat yang jauh lebih megah, besar, dan dihormati oleh seluruh pejabat kota. Tuhan itu benar-benar tidak pernah tidur, Tera. Dia tahu mana hambanya yang benar-benar berjuang dengan jujur dan tulus di jalan-Nya."
"Iya, Ibu. Di tempat kerja baru Tera sekarang, semua rekan sejawat dokter muda dan perawat seniornya sangat ramah dan baik pada Tera. Sistem kerjanya sangat profesional dan tidak ada kubu-kubuan yang membedakan latar belakang keluarga," cerita Tera dengan antusias sambil menyuap nasinya dengan lahap menggunakan tangan.
Rasa ikan mas goreng sederhana itu terasa seribu kali lebih nikmat daripada makanan paling mahal di restoran mewah mana pun karena dibumbui oleh rasa sukacita dan ketulusan keluarganya.
"Tera berjanji pada Bapak dan Ibu, dari gaji pertama dan uang insentif tambahan jaga malam yang akan Tera ambil bulan depan, Tera akan mengumpulkan uang itu sedikit demi sedikit di tabungan baru. Kita akan segera pindah dari kontrakan sempit dan pengap ini secepatnya, Bu. Kita akan sewa sebuah apartemen kecil sederhana yang ada liftnya, bersih, dan tidak bocor lagi kalau hujan deras datang melanda malam-malam," lanjut Tera dengan binar mata penuh tekad masa depan.
Pak Hasyim menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman lembut yang sarat akan kebijaksanaan hidup seorang tetua. Beliau menatap anak tunggalnya dengan tatapan penuh kedalaman makna.
"Urusan pindah rumah atau apartemen itu urusan nomor dua, Tera. Jangan dijadikan beban pikiran utamamu sekarang. Yang paling penting dan utama bagi Bapak adalah kamu harus benar-benar menjaga amanah profesi doktermu dengan baik di sana. Jangan pernah sekalipun menjadi dokter yang sombong, dokter yang angkuh, atau dokter yang membeda-bedakan pelayanan pasien berdasarkan pakaian, penampilan, atau jumlah uang yang mereka miliki seperti dokter kejam yang menghina kita di rumah sakit sebelumnya. Selalu ingat dari mana asalmu, Nduk. Sawah dan kebun kita di kampung boleh saja hilang dirampas orang, tapi iman, kerendahan hati, dan kebaikan jiwamu harus tetap tertanam kuat di dalam dadamu di mana pun kamu berada."
"Tera akan selalu ingat dan pegang teguh nasihat Bapak di dalam setiap langkah tugas Tera," jawab Tera dengan anggukan mantap dan penuh keseriusan.
"Tera akan memperlakukan setiap pasien yang datang ke meja pemeriksaan Tera dengan hati yang tulus dan penuh empati. Karena Tera tahu betul, di balik baju pasien yang lusuh atau robek, mungkin ada seorang ayah yang sedang berjuang mati-matian menahan sakit demi masa depan anak-anaknya, sama seperti Bapak selalu memperjuangkan masa depan Tera selama ini."
Malam itu, di dalam ruangan rumah kontrakan yang sangat kecil dan sempit itu, di mana dinding-dinding papannya mulai rapuh dan lapuk dimakan waktu, suara tawa ceria dan sukacita keluarga kembali bergaung dengan sangat hangat mengalahkan dinginnya angin malam kota besar.
Kemiskinan materi yang mengepung mereka dari segala penjuru tidak lagi terasa menakutkan atau intimidatif, karena mereka memiliki kekayaan jiwa yang jauh lebih berharga dan tak tertandingi—sebuah ikatan keluarga yang harmonis, ketegaran luar biasa menghadapi badai kehidupan, dan sebuah cahaya harapan bernama Lentera yang kini mulai bersinar terang menembus kegelapan malam.
Yuk jangan lupa komennya.
sean anaknya siapa ini?
jd kangen dgn opa dan oma 🤭🤭