NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Tidak Sesuai Kenyataan

Meng Lin berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, merapikan rambut yang dikepang sederhana. Setelah itu, ia mengambil sebuah tas kain yang tergantung di samping tempat tidur.

Sepuluh yuan sebenarnya bukan jumlah yang sedikit bagi orang di zaman itu. Meng Lin memasukkan uang dan kupon tersebut ke dalam tas. “Mulai sekarang, uangku akan menjadi milikku.”

Setelah memastikan pintu kamar terkunci, Meng Lin keluar dari rumah. Hari itu ia memutuskan untuk membeli sarapan sendiri.

Bukan karena tidak ada makanan di rumah. Dia tidak ingin menunggu sisa makanan dari orang lain, seperti yang dilakukan pemilik tubuh.

Meng Lin berjalan kaki menuju sebuah restoran negara yang tidak terlalu jauh dari kompleks tempat tinggal mereka.

Begitu keluar dari kawasan perumahan, langkahnya perlahan melambat. Pemandangan di sekelilingnya terasa aneh. Namun di saat yang sama, begitu familiar.

Bangunan-bangunan tua berjajar di sepanjang jalan. Sepeda melintas sesekali. Beberapa orang berjalan membawa tas kain, sementara suara percakapan dari toko-toko kecil bercampur dengan suara kendaraan yang lewat.

Meng Lin memperhatikan semuanya dengan saksama. Ia pernah membaca gambaran tentang kehidupan masyarakat pada masa ini.

Tetapi membaca dan melihatnya secara langsung adalah dua hal yang sama sekali berbeda. “Jadi... ini benar-benar tahun 1974.”

Tatapannya bergerak ke sebuah toko kecil di pinggir jalan. Rak-raknya tidak penuh seperti toko modern yang pernah ia lihat di kehidupan sebelumnya. Barang-barang ditata sederhana dan beberapa pembeli harus menggunakan kupon untuk mendapatkan kebutuhan tertentu.

Meng Lin menyentuh tas kainnya. Untungnya, ia sudah mengetahui aturan dasar kehidupan di zaman ini dari novel yang pernah dibacanya.

Kupon bukan sekadar kertas biasa bagi semua orang, kupon berarti kesempatan untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan.

Ia kembali berjalan. Semakin jauh dari rumah, rasa asing itu perlahan berkurang. Beberapa sudut jalan bahkan membuat ingatan dari tubuh ini muncul samar-samar.

Belokan itu...

Toko di sebelah sana...

Jalan kecil menuju pasar...

Semuanya seperti pernah dilihat sebelumnya.

Meng Lin berhenti sejenak. Ia memandang jalan di depannya dengan perasaan aneh.

“Tubuh ini benar-benar tinggal di sini selama sembilan belas tahun.”

Ingatan pemilik tubuh asli memang tidak sepenuhnya hilang. Ada beberapa potongan kecil yang muncul tanpa ia sadari, seperti bayangan yang melintas di kepalanya.

Meng Lin menarik napas panjang. Tidak lama kemudian, ia melihat papan nama sebuah Restoran Negara.

Bangunannya sederhana. Di depan pintu sudah ada beberapa orang yang datang untuk membeli makanan.

Meng Lin berdiri beberapa saat sebelum akhirnya melangkah masuk. Meng Lin duduk di salah satu meja di sudut ruangan.

Seorang pelayan datang menghampirinya. "Kamerad mau pesan apa?” tanya pelayan itu.

Meng Lin melihat daftar makanan yang tersedia. “Bubur daging satu.”

“Baik. Satu mangkuk bubur daging.”

Pelayan itu hendak pergi, tetapi Meng Lin kembali bertanya. “Berapa harganya?”

”200 wen ditambah kupon!"

Meng Lin mengangguk, lalu mengambil uang dari tas kainnya. “Baik.”

Tak lama kemudian, semangkuk bubur daging hangat diletakkan di hadapannya. Meng Lin mulai makan dengan tenang.

Beberapa orang yang berada di restoran sesekali melirik ke arahnya.

“ Siapa rekan itu cantik sekali.”

“Sepertinya bukan orang biasa dari sini.”

“Dia kelihatannya masih muda. Tapi tubuhnya sangat kurus!”

“Jangan terus melihat. Nanti ketahuan.”

“Memangnya kenapa? Aku cuma melihat.”

Bisikan-bisikan kecil itu terdengar samar. Meng Lin mendengarnya, tetapi tidak peduli. Ia menyelesaikan sarapannya tanpa menoleh sedikit pun.

Setelah membayar, ia langsung meninggalkan restoran. Dia tidak punya tujuan lagi, dia belum bisa bertindak, sebelum menyusun rencana.

...

Ketika Meng Lin sampai di rumah, suara percakapan terdengar dari ruang tengah.

Ia membuka pintu. Meng Wan sedang duduk bersama beberapa teman sekolahnya. Mereka semua mengenal Meng Lin karena pernah bersekolah di tempat yang sama.

Begitu melihatnya, salah seorang gadis menyapa. “Eh, Meng Lin sudah pulang.”

Meng Lin mengangguk singkat. Dulu, dia akan tersenyum dan menyapa mereka untuk mencari perhatian. Tapi sekarang, dia bersikap cuek.

Meng Wan langsung menatapnya dengan senyum lembut. “Kak, dari mana?”

“Keluar.” balasnya singkat.

“Keluar ke mana?” tanya Meng yang belum menyadari ada yang aneh.

“Makan.”

Beberapa gadis langsung saling berpandangan.

“Makan?” salah satu dari mereka mengulang dengan nada heran. Mereka semua tau, Meng Ling tidak pernah mau keluar uang sedikitpun untuk beli makanan.

Meng Wan juga tampak sedikit terkejut. “Kakak makan di luar?” nada suaranya terdengar ragu.

Meng Lin menatapnya sekilas. “Iya. Apa ada masalah?" tanyanya dengan bingung. Keluar makan saja, apa perlu seheboh itu?

“Oh... Tidak ada” Meng Wan mengangguk perlahan. Senyumnya masih ada, tetapi wajahnya tiba-tiba tampak sedikit murung.

“Padahal Ibu sudah menyisikan sarapan utuk Kakak!"

Ia menundukkan pandangan. “Aku kira Kakak akan makan di rumah. Sayang sekali kalau makanannya tidak ada yang menghabiskan.”

Nada suaranya terdengar seperti merasa bersalah.

Salah seorang temannya langsung berkata,

“Bukankah tadi kamu bilang Meng Lin belum bangun?”

Ya. Di mata orang-orang Meng Lin sering bangun kesiangan. Saat bangun, dia hanya tinggal sarapan saja.

Meng Wan mengangguk. “Iya. Aku pikir mungkin Kakak akan makan setelah bangun.” katanya dengan bingung.

Ia tersenyum tipis, lalu menambahkan, “Kalau tahu Kakak mau makan di luar, aku tidak akan menyisakan sarapannya.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun tanpa mengatakan secara langsung, Meng Wan berhasil membuat seolah-olah Meng Lin telah membuang makanan yang sudah disiapkan untuknya.

Meng Lin hanya menatapnya sebentar. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu. “Kalau tidak dimakan, ya sudah.”

Setelah mengatakan itu, Meng Lin berjalan melewati mereka.

Ekspresi Meng Wan membeku sesaat. Salah satu temannya justru menatap Meng Lin dengan sedikit heran.

Meng Wan segera tersenyum kembali. “Sudahlah. Mungkin Kakak memang sedang ingin makan di luar.”

Nada suaranya terdengar begitu pengertian.

Seolah-olah dialah orang yang paling memahami Meng Lin.

"Tapi dia sangat keterlaluan..!" ucap seorang gadis yang bernama Cun Yun. Sahabat baik Meng Wan yang selalu menempel dan menjilat.

"Bibi sudah berniat baik menyisakan sarapan untuknya, tapi dia malah buang-buang makanan. Mentang-mentang dia punya banyak uang!" lanjutnya dengan kesal.

Untuk uang kiriman Kakaknya setiap bulan juga mereka tahu, apalagi para tetangga. Tapi yang mereka tahu, Meng Lin mendapat 45 yuan dan 5 yuan untuk Pamannya.

Menurut orang luar, itu sangat sepadan. Anggap saja 5 yuan itu adalah uang makan Meng Lin sebulan. Tapi, kenyataan dalam rumah, malah sebaliknya.

"Benar. Selama ini, dia hanya pura-pura berhemat. Tidak seperti Wan wan, dia sangat baik. Dia juga selalu mengingat kita, jika dia punya uang lebih.!" ucapnya penuh pujian.,

"Hmm.. Dari dulu aku memang tidak suka padanya. Dia sering ingin bermain dengan kita, tapi dia sangat pelit.!" timpa Cun Yun.

Dia pernah menguji Meng Lin, berpura-pura setuju berteman dan mengajaknya makan ke Restoran Negara, tapi Meng Lin yang harus bayar setengah dari makan mereka semua. Tapi Meng Lin langsung menolak, dengan alasan menabung.

Meng Wan hanya tersenyum puas dalam hati. Lalu kemudian berkata dengan wajah bersalah. "Maaf yaa... Kakak ku pasti tidak bermaksud begitu. Mungkin hari ini, dia memang ingin makan di luar. Lagian, Kakak juga sangat pandai menabung.!"

Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Aku tidak seperti Kakak. Kalau aku ada uang, aku cuma tau mentraktir kalian!" wajahnya dibuat telah melakukan kesalahan.

"Wan Wan.. Kenapa kamu harus minta maaf? Ini bukan salahmu. Kamu itu sangat baik sama kami. Untuk menabung memang hal yang bagus, tapi itu bisa nanti setelah kamu sudah bekerja. Beda dengan Meng Lin, dia punya Kakak yang setiap bulan kirim uang, jadi wajar saja kalau dia menabung!" ucap Cun Yun.

"Benar.. Wan wan. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. !" sela temannya yang lain dengan nada meyakinkan. Jangan sampai Meng Wan berhenti mentraktir mereka. Hampir aksesoris yang mereka pakai, semua dibeli olehnya.

"Emm baiklah.. Terima kasih, kalian tidak menyalahkan Kak Lin'er..!" kata Meng Wang sambil tersenyum.

Sedangkan di dalam kamar. Meng Lin mendengar semuanya. Dia menatap ke arah pintu dengan tajam seolah ingin menembus keluar.

"Sungguh menarik...! Aku yang punya uang, tapi kalian yang kepanasan.!"

.

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!