Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
SUV hitam itu meluncur menuruni bukit El Burro Heights dan berbelok ke kawasan industri sepi di daerah Murrieta Heights. L.J. menghentikan kendaraan di depan sebuah bangunan beton kecil tak berpenghuni yang dulu bekas kantor dermaga.
Pintu besi bangunan itu berderit nyaring saat Lamar mendorongnya buka. Di dalam ruangan yang remang, hanya diterangi satu bola lampu gantung yang remang-remang, tumpukan debu dan meja kayu tua menjadi saksi bisu berkumpulnya mereka.
Andika melangkah masuk dan melemparkan koper perak itu ke atas meja kayu. Brak!
Debu halus beterbangan saat Andika membuka dua klip pengunci koper. Bagian dalam koper terbuka lebar, memamerkan tumpukan rapi lembaran rupiah senilai Rp500.000.000 segar yang baru saja mereka rebut dengan peluru dan darah.
"Man, lihat warna uang ini! Senilai ini baru namanya hasil kerja keras!" seru Lamar sambil menepuk-nepuk tangannya gembira. "Tidak ada lagi cuci piring, tidak ada lagi juragan kecil di Little Seoul yang bisa mengaturmu, Andika!"
Franklin bersandar di dinding semen sambil melipat tangan di dada, matanya menatap koper dengan tenang. "Sesuai kesepakatan awal, kita bagi rata berdasarkan peran. Tanpa tembakan pengalih dari L.J. dan Lamar, kita tidak bakal bisa masuk. Tapi tanpa aksi bersih Andika dan saya di dalam, koper ini tidak bakal keluar."
Franklin maju mendekati meja, lalu mulai membagi tumpukan uang itu menjadi empat bagian yang presisi.
"Total Rp500.000.000," kata Franklin sambil menggeser tumpukan uang pertama. "L.J., ini Rp125.000.000 buatmu. Untuk pasokan senjata kelas atas dan kemudi SUV yang mulus malam ini."
L.J. menyunggingkan senyum tipis di balik kacamata hitamnya, menyapu tumpukan uang itu masuk ke dalam tas duffel-nya. "Respect, Franklin. Uang segar ini cukup buat belanja pasokan bahan ledak baru dari Liberty City. Give thanks, brethren."
"Lamar, ini Rp125.000.000 bagianmu," lanjut Franklin menggeser tumpukan kedua.
Lamar langsung menyambar uangnya, menghitungnya sekilas dengan wajah berseri-seri. "Aha! Ini baru namanya pendapatan sejati! Malam ini saya mau traktir semua orang di club!"
Franklin mengambil bagiannya sendiri senilai Rp125.000.000, lalu menatap tumpukan terakhir sebesar Rp125.000.000 yang tersisa di atas meja. Ia menggesernya tepat ke hadapan Andika.
"Dan ini bagianmu, Andika. Rp125.000.000 bersih," tegas Franklin. "Kau baru dua hari di lingkaran ini, tapi kau sudah membuktikan kalau kau tidak panik saat peluru terbang di sekitarmu."
Andika memandangi tumpukan lembaran uang di depannya. Di tempat cuci piring dulu, butuh waktu bertahun-tahun baginya hanya untuk melihat angka sebanyak ini—itu pun kalau ia tidak makan dan tidak bayar sewa rumah sama sekali. Kini, Rp125.000.000 tunai ada di genggamannya hanya dalam waktu satu malam.
Andika menyapu uang itu dan memasukkannya ke dalam tas taktisnya, lalu menatap satu per satu rekan barunya.
"Di tempat asal saya di Makassar, ada istilah Siri' na Pacce—tentang harga diri, keberanian, dan rasa setia kawan," ujar Andika mantap. "Kalian sudah kasih saya kesempatan dan rasa percaya. Terima kasih, brothers."
L.J. mengangguk mantap sambil menepuk bahu Andika, sementara Lamar merangkul leher Andika sambil tertawa keras.
"Haha! Kau dengar itu, Franklin? Pria Makassar kita ini bukan cuma jago menembak, tapi juga punya kelas!" igau Lamar antusias. "Sekarang, dengan Rp125.000.000 di kantongmu... apa rencana pertamamu di Los Santos, Andika?"
Andika merapikan jaket kulit hitamnya, menyipitkan mata menembus kegelapan malam Los Santos di luar bangunan. "Rencana pertama? Membeli mobil baru yang pantas untuk jalanan kota ini, dan bersiap untuk bisnis besar kita berikutnya."
Sinar matahari pagi menyengat kawasan La Puerta. Andika yang baru selesai menyeduh kopi di balkon apartemen barunya mendengar suara klakson bernada berat melengking dua kali dari area jalan bawah.
Di sana, sebuah sedan Albany Emperor tua berwarna hitam dengan asap tipis mengepul dari knalpotnya sudah menunggu. L.J. bersandar pada pintu mobil sambil melambaikan tangannya.
Andika segera turun memakai jaket kulit hitam dan celana cargo kesayangannya. Tas taktis berisi sebagian uang tunai hasil pembagian semalam melingkar rapi di bahunya.
"Pagi, L.J.," sapa Andika sambil masuk ke kursi penumpang.
"Mornin', bredda," balas L.J. dengan aksen khasnya yang kental. "Hari ini kita ke tempatnya Simeon—eh, bukan, dealer ini punya kawan lama saya di Cypress Flats. Dia spesialis vin-scratch dan modifikasi total. Mobil-mobil di sana bekas 'diambil' dari jalanan Vinewood, tapi nomor rangka sudah berganti, cat diulang, dan sistemnya dibongkar habis. LSPD tidak bakal pernah tahu kalau itu mobil curian."
"Sempurna," senyum Andika. "Saya butuh kendaraan yang kencang, tangguh, tapi punya karakter."
Mobil tua L.J. melaju menembus kesibukan jalanan industri Los Santos hingga tiba di sebuah tempat penyimpanan kontainer yang tertutup di Cypress Flats. Di balik gerbang besi raksasa yang terbuka perlahan, terhampar sebuah garasi underground luas yang penuh dengan raungan mesin V8 dan aroma cat mobil yang menyengat.
Seorang mekanik bertato penuh di lengannya menghampiri L.J. dan saling bertukar salam kepalan tangan. "Ini kawan baru dari Makassar yang saya ceritakan. Dia punya Rp125.000.000 segar di tasnya dan butuh mobil terbaikmu," kata L.J.
Mekanik itu tersenyum lebar dan mengawal Andika mengitari jajaran mobil yang berderet rapi.
Pertama, ia memperlihatkan sebuah Vapid Dominator warna kuning menyala. "Opsi pertama, muscle car murni. Suaranya meledak-ledak, tapi agak liar di tikungan," kata mekanik itu. Andika mengamati mobil itu, namun menggeleng pelan. Terlalu mencolok untuk pekerjaan rapuh di jalanan.
Pilihan kedua adalah Karin Sultan empat pintu berwarna perak metalik. Mobil yang bagus dan lincah, tapi terasa terlalu biasa bagi Andika.
Lalu, mekanik itu membawanya ke sudut tergelap garasi, di mana sebuah kain penutup hitam ditarik perlahan.
Di sana terparkir sebuah Declasse Vigero ZX berwarna Matte Black (hitam doff) dengan garis merah tipis melingkari bagian bumper bawahnya. Bentuk bodi muscle car modern yang kekar, kap mesin berongga angin gahar, serta velg balap nuansa gelap menambah kesan misterius sekaligus intimidatif.
"Ini dia," gumam Andika seketika. Mata Andika tidak bisa berpaling.
Mekanik itu menepuk kap mesinnya yang dingin. "Mesin V8 Supercharged, suspensi balap jalanan, kaca anti-peluru tingkat lanjut, dan plat nomornya sudah resmi terdaftar atas nama identitas barumu di Los Santos. Aslinya ini milik seorang pengusaha kaya di Rockford Hills, tapi sekarang... tidak ada satu orang pun di kota ini yang bisa melacaknya."
Andika mendekat, meraba lekukan bodi Vigero ZX hitam tersebut. Karakter mobil ini sangat pas dengan identitas barunya: tangguh, gelap, dan mematikan.
"Berapa harganya?" tanya Andika tegas.
"Untuk kawan L.J., saya kasih harga bersih Rp85.000.000. Sudah termasuk tangki penuh bensin dan garansi sistem pelacak mati total," jawab si mekanik.
Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Andika membuka resleting tas taktisnya, mengeluarkan 85 lembar uang pecahan seratus ribuan tunai, dan menyerahkannya langsung ke tangan mekanik tersebut.
"Kesepakatan bagus," kata Andika.
Andika membuka pintu pengemudi, duduk di atas jok kulit berkualitas tinggi yang berbau baru, lalu menekan tombol Engine Start.
BRRRRRRRR-ROAR!
Suara deru mesin V8 Supercharged itu meledak di dalam garasi underground, menggetarkan lantai semen dan membuat dada siapa pun yang mendengarnya berdesir. L.J. tertawa lepas sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Wah, dis a real beast, man! Fits ya style proper!" seru L.J.
Andika menurunkan kaca jendela, memandang L.J. sambil menyunggingkan senyum puas. Dari seorang tukang cuci piring berpenghasilan pas-pasan yang tidur di kos reot Davis, kini Andika memegang kemudi sebuah muscle car monster senilai puluhan juta rupiah di tengah kota Los Santos.
"Ayo, L.J.," kata Andika sambil menginjak pedal gas tipis-tipis, membiarkan mesinnya menggerung garang. "Kita beri tahu Lamar dan Franklin kalau saya sudah punya armada baru."
Ponsel Andika berdering nyaring, menginterupsi dentuman halus mesin V8 Declasse Vigero ZX barunya yang masih bergetar gahar di area Cypress Flats. Nama Franklin tertera di layar.
Andika menekan tombol speakerphone. "Ya, Franklin?"
"Yo, Andika! L.J. baru saja kirim foto mobil barumu. Matte Black Vigero ZX? Pilihan gila, Brother!" suara Franklin terdengar renyah di seberang telepon, diiringi dentuman musik hip-hop yang samar-samar. "Dengar, pekerjaan di El Burro Heights sukses besar, uang sudah di kantong. Hari ini waktunya santai. Datang ke rumah saya di Vinewood Hills. Kita buka beberapa botol bir, rokok, dan... L.J. sudah menyiapkan ganja kualitas terbaik dari Liberty City."
Lamar yang ternyata sudah ada di rumah Franklin mendadak merebut ponsel. "Woy, Andika! Jangan cuma pamer mobil bagus di garasi! Kita buktikan siapa yang paling kencang di jalanan Los Santos. Siapa yang sampai duluan di rumah Franklin di Vinewood Hills, dia berhak ambil uang taruhan!"
"Taruhan berapa?" tantang Andika sambil menyunggingkan senyum tipis, jemarinya cengkeram erat kemudi kemudi berbalut kulit.
"Rp5.000.000 per kepala!" sahut Franklin kembali memegang telepon. "Aturannya sederhana: start dari Cypress Flats, tancap gas menembus kemacetan downtown, menanjak ke perbukitan Vinewood Hills. Yang pertama memarkir mobil di halaman rumah saya, dialah pemenangnya!"
"Deal! Rp5.000.000 tunai!" jawab Andika mantap sebelum mematikan telepon.
Ia menoleh ke samping, menyejajarkan mobilnya dengan Albany Emperor tua milik L.J. yang mesinnya sudah dipaksa meraung tinggi.
"Bredda, me not gonna go easy on ya!" teriak L.J. dari balik kaca jendela sambil mengacungkan jempol.
"Buktikan di jalanan, L.J.!" balas Andika.
tiiiit... tiiiit... TIIIT!
Begitu klakson ketiga berbunyi, kedua mobil itu langsung membakar ban! Wush! Asap putih mengepul hebat saat Vigero ZX milik Andika melesat meninggalkan garasi Cypress Flats, disusul raungan keras mobil L.J. yang menempel ketat di belakang.
Aksi balap ugal-ugalan pun tak terelakkan. Andika memacu Vigero ZX-nya hingga kecepatan penuh, menerobos lampu merah di daerah Pillbox Hill, meliuk-liuk secara ekstrem di antara bus kota dan taksi yang membunyikan klakson panik. L.J. memanfaatkan kelincahan mobil tuanya untuk menyalip dari celah gang sempit, mengambil alih posisi terdepan saat memasuki wilayah Downtown.
"Ancuk, kencang juga mobil tuanya!" gumam Andika.
Mendekati perbukitan Vinewood Hills yang berbelok-belok tajam, Andika menurunkan gigi, menginjak rem tangan sekejap, dan melakukan manuver drift sempurna mengitari tikungan tajam memotong jalur L.J.! Ban belakang Vigero ZX memercikkan bunga api saat menyapu trotoar, lalu melesat menanjak meninggalkan L.J. yang sempat melintir tipis.
Dengan raungan mesin V8 yang memekakkan telinga kawasan pemukiman mewah Vinewood Hills, Andika membanting setir masuk ke halaman rumah megah milik Franklin, memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu garasi dengan posisi melintang gahar!
Sreeek!
Beberapa detik kemudian, mobil L.J. tiba dengan hembusan asap dari kap mesinnya, disusul gelak tawa Lamar yang sudah berdiri di balkon lantai dua sambil memegang botol bir.
"Hahaha! Pria dari Makassar menang lagi!" teriak Lamar heboh.
Andika melangkah keluar dari Vigero ZX dengan santai, merapikan jaket kulitnya. L.J. keluar dari mobilnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub.
"Me tell ya, dat man drives like a demon!" puji L.J. sambil mengeluarkan dompet dan menyerahkan lima lembar uang pecahan satu juta rupiah (Rp5.000.000) ke tangan Andika. Franklin yang keluar dari pintu depan juga tertawa sambil menyerahkan jatah taruhannya Rp5.000.000.
"Kerja bagus, Andika. Mobil baru, menang taruhan Rp10.000.000 dalam sepuluh menit," ujar Franklin sambil menepuk bahu Andika dan merangkulnya masuk ke dalam rumah.
Rumah megah Franklin di Vinewood Hills menjadi panggung perayaan mereka malam itu. Pemandangan gemerlap lampu kota Los Santos terhampar indah dari tepi kolam renang infinity pool.
Mereka duduk mengitari sofa empuk di area teras. Franklin membagikan botol-botol bir dingin yang langsung diteguk hangat oleh Andika. L.J. mulai meracik gulungan ganja berkualitas tinggi, menyalakan ujungnya, lalu menghirupnya dalam-dalam sebelum mengalirkannya ke Lamar dan Andika.
Asap tipis beraroma khas membumbung ke udara malam yang sejuk. Andika menyandarkan punggungnya di sofa mewah, menikmati tegukan bir dingin dan asap rokok di tangannya.
Mengingat kembali beberapa hari lalu saat ia masih meratapi nasib di kamar kos sempit Davis dan memegang kain pel di dapur restoran, perasaan di dadanya kini benar-benar berbeda. Di sini, di balik kemewahan perbukitan Vinewood Hills bersama kru barunya, Andika tahu bahwa impian besarnya untuk menaklukkan Los Santos bukan lagi sekadar bualan.
Dentuman bass musik hip-hop di teras belakang rumah Franklin melambat, berganti dengan suara desir angin malam Vinewood Hills. Franklin menenggak sisa bir dari botolnya hingga kandas, meletakkannya di atas meja kaca dengan bunyi klak! yang cukup keras untuk menyedot perhatian semua orang.
Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Andika, Lamar, dan Little Jacob satu per satu.
"Dengar, brothers," Franklin membuka pembicaraan, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Uang dari perampokan koper Rp500.000.000 kemarin memang manis. Taruhan balapan sepuluh juta rupiah malam ini juga menyenangkan. Tapi mari kita realistis... uang tunai dari pekerjaan sekali jalan seperti itu cepat datang, cepat habis."
Lamar yang sedang menghembuskan asap ganja ke udara menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu apa, Frank? Kita kan baru saja menang banyak."
"Maksud saya," potong Franklin cepat, "kalau kita cuma mengandalkan pekerjaan dadakan dari orang lain, kita bakal terus-terusan mempertaruhkan nyawa demi recehan orang. Kita butuh pasokan uang pasif. Sebuah bisnis ilegal yang terorganisir, milik kita berempat sendiri. Bisnis yang bikin uang ratusan juta rupiah terus mengalir ke kantong kita tiap minggu, bahkan saat kita sedang tidur di rumah ini."
Little Jacob mengangguk-angguk pelan, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk botol bir. "Real talk, bredda. Pasif income di jalanan itu kunci. Control de supply, control de city. Tapi jalan mana yang mau kita ambil? We talkin' arms, counterfeit, or drugs?"
"Nah, itu masalahnya," ujar Franklin sambil menyandarkan punggungnya kembali ke sofa, mengusap dagunya. "Saya tahu kita butuh bisnis ini secepatnya, tapi saya masih menimbang-nimbang sektor mana yang paling aman dari jangkauan radar LSPD tapi punya margin keuntungan paling gila."
Lamar langsung menegakkan badan, matanya berbinar antusias. "Bagaimana kalau pasokan senjata api seperti kawan kita L.J.? Atau tempat pencucian uang dari toko pakaian bekas?"
"Terlalu banyak pesaing di kawasan utara, Lamar," tanggap Franklin menggeleng pelan. "Bagaimana denganmu, Andika? Kau punya ide?"
Semua mata kini tertuju pada Andika. Andika memutar-mutar botol bir di tangannya, meresapi setiap kata dari Franklin. Otaknya yang biasa dingin dalam situasi terdesak mulai berputar cepat, memperhitungkan peta kekuatan jalanan Los Santos yang baru saja ia pelajari beberapa hari terakhir.
Bisnis ini bukan lagi soal bertahan hidup bayar sewa kos, tapi soal membangun kerajaan yang akan melambungkan nama mereka berempat di kota ini.
Andika menghembuskan asap rokoknya perlahan, lalu menyandarkan badan di sofa empuk teras Vinewood Hills. Ia menatap tiga rekannya yang menunggu jawaban dengan penuh harap.
"Jujur saja, brothers... saya bingung," kata Andika berterus terang dengan nada santai. "Saya ini orang baru di sini. Baru beberapa hari lalu saya menginjakkan kaki di Los Santos dari Makassar, dan mata saya cuma terbiasa lihat dapur restoran dan jalanan Davis. Kalau soal peta jaringan bisnis ilegal, mana yang aman dan mana yang bakal memancing seluruh helikopter LSPD ke rumah kita, kalian bertiga jauh lebih paham daripada saya."
Andika meneguk birnya sebentar, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Jadi, bisnis apa pun yang kalian putuskan—mau itu pasokan senjata, pencucian uang, atau distribusi khusus—saya cuma ikut. Asal menghasilkan uang banyak dan risikonya sepadan, hitung saya di dalam."
Kejujuran dan sikap rendah hati Andika justru membuat ruangan hening sejenak. Franklin tersenyum tipis sambil mengangguk paham, sementara Lamar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Benar juga kata Andika," ujar Franklin sambil memijat pelipisnya. "Dia belum paham betul seluk-beluk kawasan industri kota ini. Kitalah yang harus menentukan arahnya."
Lamar mendadak berdiri dari sofanya, berjalan bolak-balik di tepi kolam renang sambil mengusap dagu. "Aduh, ini membuat kepalaku pusing! Bisnis mobil curian sudah dipegang gang Armenia, bisnis senjata di utara dikuasai geng motor Lost MC... Kita butuh sesuatu yang pasarnya selalu lapar tapi belum ada penguasa tunggalnya di area Los Santos selatan!"
L.J. menghembuskan asap ganjanya yang tebal, matanya yang redup menyipit menembus kegelapan malam. "Hmm... Think, bredda, think. Counterfeit cash butuh cetakan khusus, risikonya tinggi kalau berurusan dengan agen federal. Drug lab di Sandy Shores? Jauh sekali dari kota."
Keempatnya kini diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana teras megah itu mendadak hening, hanya dihiasi deru mesin kendaraan di kejauhan dan desir angin perbukitan. Mereka berempat benar-benar berpikir keras, mencoba menemukan celah bisnis ilegal sempurna yang bisa menyulap mereka menjadi jutawan baru di Los Santos.
Oke, sepertinya otak kita sudah terlalu panas malam ini," ujar Franklin memecah keheningan. Ia berdiri dari sofa lalu merapikan kaus birunya. "Tidak ada gunanya dipaksa kalau kepala sudah penuh alkohol dan ganja. Lebih baik kita pulang, tidur, dan jernihkan pikiran. Besok baru kita bahas lagi bisnis apa yang paling cocok."
L.J. mengangguk setuju, melangkah perlahan menuju pintu sambil membenahi jaket kulitnya. "Real talk, Frank. Sleep on it, man. Besok pikiran kita bakal lebih segar. Respect, bredda," pamit L.J. sambil memberikan salam kepalan tangan ke Franklin, Lamar, dan Andika sebelum berjalan menuju mobil Emperor tuanya.
Lamar yang duduk di sudut sofa tampak enggan bergerak, meraba-raba saku celananya dengan raut wajah konyol. "Aduh, Frank... mobilku kan masih ada di bengkel Strawberry. Siapa yang mau antar saya pulang ke Davis malam-malam begini?"
Lamar menoleh cepat ke arah Andika, matanya berbinar melihat kunci mobil Vigero ZX yang tergeletak di atas meja. "Yo, Andika! Homie-ku dari Makassar! Boleh kan saya menumpang di mobil barumu? Rumah kontrakan barumu di La Puerta kan searah dengan daerah Davis!"
Andika menyunggingkan senyum tipis sambil menyambar kunci mobilnya dari meja. "Ayo. Tapi ingat, jangan bikin kotor jok kulit mobil baru saya."
"Aha! Itu baru kawan sejati!" sorak Lamar girang sambil melompat berdiri.
Setelah berpamitan pada Franklin, Andika dan Lamar berjalan ke halaman depan. Suara dentuman halus mesin V8 Declasse Vigero ZX kembali meraung di kegelapan malam Vinewood Hills saat Andika menekan tombol Engine Start. Lamar masuk ke kursi penumpang, mengelus dashbor Matte Black mobil itu dengan wajah kagum.
"Man... mobil ini benar-benar gila, Andika," puji Lamar saat mobil meluncur mulus menuruni perbukitan. "Dulu kau cuma tukang cuci piring yang naik bus kota, sekarang kau mengemudi mobil monster Rp85.000.000 dan mengantarkanku pulang!"
"Semua berubah cepat di kota ini, Lamar," balas Andika santai, matanya fokus menembus jalanan malam Los Santos yang mulai sepi.
Malam semakin larut. Vigero ZX melaju melintasi kawasan Downtown yang gemerlap sebelum akhirnya memasuki daerah Davis yang remang dan tenang. Andika menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Lamar.
Lamar membuka pintu mobil, lalu menoleh ke arah Andika sebelum turun. "Terima kasih teumpangannya, brother. Besok saya bakal putar otak lagi buat cari ide bisnis itu. Tidur yang nyenyak!"
"Sama-sama, Lamar. Sampai ketemu besok," jawab Andika.
Setelah Lamar melangkah masuk ke