Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arlan Rasyad Sikumbang Ingin Sekolah
Di sebuah rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu tua di pinggir sawah, hidup sebuah keluarga kecil yang bahagia. Rumah itu milik Abdullah bin Rais Payobadar dan istrinya, Siti Aminah Sikumbang. Cahaya senja selalu masuk melalui celah-celah dinding papan, menimbulkan garis-garis keemasan di lantai. Di rumah itulah, cerita tentang seorang bocah kecil bernama Arlan Rasyad Sikumbang dimulai.
Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya, Andi Rajo Alam Sikumbang, kakak laki-laki kandung Arlan, bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia adalah anak sulung yang rajin dan tekun. Dengan cekatan ia memakai kemeja putih yang sudah sedikit pudar di bagian kerah dan celana merah yang ujungnya sudah dijahit ulang oleh ibunya. Di sudut ruangan, Arlan yang usianya baru genap empat tahun, memperhatikannya dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. Bagi Arlan, kakaknya adalah pahlawan.
Saat Andi Rajo Alam sedang mencari ikat pinggangnya, Arlan diam-diam menyelinap ke kamar. Ia melihat seragam sekolah kakaknya yang satunya lagi tergantung di paku kayu. Seragam itu kebesaran untuk tubuh mungilnya, tapi bagi Arlan, itulah jubah kebesaran seorang pemberani. Tanpa pikir panjang, ia mengambil kemeja putih itu dan memakainya. Lengannya terjuntai panjang menutupi tangannya. Celana merahnya ia seret, hampir menutupi seluruh kakinya. Ia lalu berlari ke ruang tengah dengan wajah bangga.
"Amak... Apak... Caliaklah! Arlan alah mau sakolah juo!(Bu... Yah... Lihat! Arlan mau sekolah juga!)" serunya dengan suara cempreng khas anak kecil.
Siti Aminah Sikumbang yang saat itu sedang menumbuk cabai di dapur, menoleh dan hampir tertawa melihat pemandangan itu. Abdullah bin Rais Payobadar yang sedang memperbaiki cangkul di beranda pun masuk ke dalam. Andi Rajo Alam yang melihat adiknya memakai seragamnya hanya bisa melongo, setengah kaget setengah geli.
Arlan Rasyad Sikumbang Yang Waktu Itu Ternyata Hanya Memakai Seragam Sekolah Kakak Laki-lakinya Andi Rajo Alam Ingin Sekolah. Ia merengek minta sekolah dasar bersama kakak laki-laki kandungnya. Renekannya bukan rengekan biasa. Ia bergelayut di lengan kakaknya.
"“Uda Andi, bawok Arlan! Arlan nak ikut sakolah! Arlan nak pandai sarupo Uda!(Uda Andi, bawa Arlan! Arlan mau ikut sekolah! Arlan mau pintar kayak Uda)!" pinta Arlan.
Andi Rajo Alam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sayang sekali pada adiknya, tapi ia tahu sekolah bukan tempat bermain. Ia mencoba membujuk dengan lembut, "Dek, nanti kalau Arlan sudah besar ya. Sekarang Abang dulu yang sekolah."
Tentu saja, jawaban itu tidak memuaskan Arlan. Ia lalu berlari ke pangkuan ayah dan ibunya. Dengan segala kepolosan dan keyakinannya, ia mengeluarkan jurus pamungkasnya. Arlan bilang ke kedua orangtuanya dia bisa baca tulisan di buku pelajaran kakak laki-laki kandungnya Andi Rajo Alam Sikumbang, karena usianya masih empat tahun. Baginya, itu adalah bukti ia sudah layak sekolah.
Ia mengambil buku Bahasa Indonesia milik kakaknya yang sampulnya sudah lecek dan membukanya secara terbalik. Dengan suara lantang, ia mengeja, "A... I... U... Ini budi! Ini... ibu budi!" Padahal yang ia baca adalah gambar, bukan tulisan. Ia menunjuk-nunjuk huruf dengan jari mungilnya yang masih belepotan sisa nasi.
Melihat tingkah lucu anak keduanya itu, orangtuanya tidak bisa menahan senyum. Abdullah bin Rais Payobadar berusaha menenangkan buah hatinya. Ia mengangkat Arlan ke pangkuannya, membelai rambutnya yang ikal dan sedikit kemerahan karena sering bermain di bawah matahari.
"Anak Apak nan pandai(Anak Ayah yang pintar,)" kata Abdullah dengan suara berat namun penuh kasih. "Arlan memang alah pandai. Tapi sakolah tu ado aturannyo, Nak. Tunggu tigo tahun lai, baru Arlan Rasyad Sikumbang bisa sakolah. Nanti kalau lah anam tahun, Apak surang nan akan mendaftarkan Arlan ka Sakolah Dasar. Kini tugas Arlan tu barantiak, makan nan banyak, jo manolong Amak manjago adiak Arya.(Arlan memang sudah pintar. Tapi sekolah itu ada aturannya, Nak. Tunggu tiga tahun lagi baru Arlan Rasyad Sikumbang bisa sekolah. Nanti kalau sudah enam tahun, Ayah sendiri yang akan daftarkan Arlan ke Sekolah Dasar. Sekarang tugas Arlan itu main, makan yang banyak, dan bantu Ibu menjaga adik Arya.)"
Kata ayahnya, tiga tahun lagi baru Arlan bisa sekolah. Bagi orang dewasa, tiga tahun terasa sebentar. Tapi bagi seorang bocah empat tahun, tiga tahun adalah selamanya. Waktu terasa sangat lama. Dunia Arlan seakan runtuh mendengar kalimat itu.
Wajahnya yang tadi ceria langsung berubah. Bibir bawahnya mulai bergetar. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca. Dan seketika itu juga, tangisnya pecah.
Tapi Arlan malah ngambek. Dia menangis meraung-raung sambil guling-guling di tanah. Tangisannya bukan tangis manja biasa, melainkan tangisan protes yang tulus dari dalam hati seorang anak kecil yang merasa impiannya dirampas. Ia melepaskan diri dari gendongan ayahnya dan menjatuhkan dirinya ke lantai kayu.
Seragam kebesaran kakaknya itu kini menjadi alasnya berguling-guling. “Indak mau! Arlan nak sakolah kini! Arlan nak sakolah kini!(Tidak mau! Arlan mau sekolah sekarang! Arlan mau sekolah sekarang!)" teriaknya di sela-sela isak tangisnya yang keras. Suaranya menggema di seluruh rumah panggung itu, bahkan sampai terdengar ke tetangga sebelah.
Ibunya, Siti Aminah Sikumbang, sampai bingung melihat ulah anak keduanya. Ia sudah mencoba berbagai cara. Ia menawarkan pisang goreng kesukaan Arlan, ia menawarkan untuk dibelikan layang-layang baru, bahkan ia mengajaknya melihat ayam-ayam di belakang rumah. Namun semua tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Arlan yang sedang dilanda kecewa berat. Arlan tetap pada pendiriannya: ia ingin sekolah.
Sementara itu, si kecil Arya Arsyad Sikumbang, adik bungsu yang masih bayi, yang sedang digendong ibunya, hanya bisa melihat kakaknya dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti mengapa kakaknya yang biasanya mengajaknya tertawa, kini menangis begitu keras.
Abdullah bin Rais Payobadar, sebagai kepala keluarga, mencoba tetap tenang. Ia memberi isyarat kepada istrinya dan kepada Andi Rajo Alam untuk membiarkan saja. Kata ayahnya," “Biakan sajo anak ketek tu... Beko inyo baranti manangih surang. Manuruik pengalaman Apak, anak ketek kalau dibia-an manangih, lamo-lamo inyo capek lalu baranti manangih.(Biarkan saja anak kecil... Nanti dia berhenti nangis sendiri. Menurut pengalaman ayah, anak kecil jika dibiarkan menangis, lama-lama akan lelah dan berhenti)". Itu adalah teori yang sering ia terapkan.
Maka, keluarga itu pun membiarkan Arlan melanjutkan aksinya. Andi Rajo Alam kembali melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja kecil dekat jendela, meskipun konsentrasinya sedikit terganggu oleh tangisan adiknya. Siti Aminah kembali ke dapur sambil sesekali menengok dengan cemas. Abdullah duduk di kursi rotan, menghisap rokok daunnya pelan-pelan, memperhatikan anaknya dari jauh.
Satu menit, lima menit, sepuluh menit berlalu. Tangisan Arlan yang tadinya meraung-raung, perlahan-lahan mulai berubah menjadi isakan-isakan kecil. Tenaganya mulai terkuras. Guling-gulingnya di lantai kayu yang semula penuh semangat, kini hanya menjadi gerakan menggelinjang pelan. Keringat membasahi dahinya yang tertutup seragam kebesaran kakaknya. Matanya mulai sayu dan berat.
Dan benar saja, apa yang dikatakan ayahnya terjadi. Akhirnya Arlan Rasyad Sikumbang kelelahan sampai tertidur pulas di lantai kayu. Di tengah lantai, dengan seragam sekolah kakaknya yang berantakan, dengan pipi yang masih basah oleh air mata dan debu yang menempel di pipinya, Arlan tertidur. Napasnya teratur, sesekali masih tersedu-sedu kecil dalam tidurnya. Wajahnya terlihat begitu damai dan polos dalam tidurnya, sangat kontras dengan kehebohan yang baru saja ia buat.
Melihat pemandangan itu, hati Abdullah bin Rais Payobadar luluh. Rasa kesal yang mungkin sempat ada, sirna berganti menjadi rasa sayang yang meluap-luap. Ia mematikan rokok daunnya dan berjalan pelan menghampiri tubuh mungil anaknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan, akhirnya sang ayah menggendong tubuh mungil menggemaskan Arlan sambil tersenyum mencium pipi dan kening sang putranya.
Aroma keringat dan debu bercampur dengan aroma khas anak kecil menyeruak. Abdullah menggendong Arlan dengan penuh cinta, seolah menggendong harta yang paling berharga di dunia. Ia tidak langsung membawa Arlan ke tempat tidur. Ia ingin Arlan tetap dekat dengan kakaknya, sumber inspirasinya.
Dan sang ayah memindahkan tubuh Arlan di sebelah kakak laki-laki kandungnya yang belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Ditemani cahaya lampu seadanya, sebuah lampu teplok minyak tanah yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin malam, dua bersaudara itu terlihat begitu mengharukan. Sang kakak, Andi Rajo Alam, belajar dengan tekun menulis huruf-huruf di buku tulisnya yang sudah hampir habis. Dan di sebelahnya, sang adik, Arlan, tertidur pulas dengan seragam kebesaran, masih memeluk erat buku pelajaran kakaknya seolah itu adalah ijazahnya.
Siti Aminah Sikumbang sambil menggendong si kecil Arya Arsyad Sikumbang hanya tersenyum melihat ulah putra keduanya. Senyumnya adalah senyum seorang ibu yang memahami. Ia tahu, tangisan Arlan tadi bukanlah tangisan manja, melainkan tangisan sebuah cita-cita yang lahir terlalu dini. Di dalam diri bocah empat tahun itu, sudah bersemayam api semangat untuk belajar, api yang sama yang ia lihat di mata suaminya dan di mata anak sulungnya.
Malam itu, di rumah panggung sederhana itu, tidak ada yang marah kepada Arlan. Justru sebaliknya, kejadian itu menjadi cerita yang akan mereka kenang selamanya. Abdullah berbisik kepada istrinya, "Caliaklah, Mak. Anak kito nan ciek ko, beko akan jadi urang pandai. Semangatnyo lah manyalo semenjak ketek. Inyo indak mau kalah jo uda-nyo.(Lihat, Bu. Anak kita yang satu ini, kelak akan jadi orang pintar. Semangatnya sudah menyala sejak kecil. Ia tidak mau kalah dari kakaknya)."
Andi Rajo Alam pun berhenti menulis sejenak. Ia menatap adiknya yang tertidur di sebelahnya. Ia lalu dengan lembut merapikan seragamnya yang berantakan dan menyelimuti adiknya dengan kain sarung. Dalam hatinya, ia berjanji, kelak jika Arlan sudah sekolah, ia akan mengajarinya membaca dan menulis dengan sabar, seperti ayah mengajarinya dulu.
Malam semakin larut. Suara jangkrik dan katak dari sawah mulai bersahutan. Lampu teplok masih menyala, menerangi dua bersaudara yang tertidur berdampingan di lantai kayu. Yang satu tertidur karena lelah belajar, yang satu tertidur karena lelah memperjuangkan mimpinya untuk bisa belajar. Dan di sudut ruangan, Ayah dan Ibu menatap mereka dengan penuh syukur, menjaga api kecil di dalam lampu dan api besar di dalam hati anak-anak mereka agar tetap menyala sampai pagi menjelang.