Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN HANYA TENTANG EVA
Keheningan menyelimuti mereka setelah menyadari data subjek-03 yang mirip dengan Anaxa. Alya kemudian membongkar laci laci lain meja komputer itu dan mendapatkan map. Dibacanya isi dokumen tersebut.
"Subjek 01... Subjek 02... Subjek 03..." gumam Alya kemudian terhenti. Perempuan itu menyuruh Dimas untuk membaca lebih dalam.
Empathy Response: HIGH.
Social Adaptation: LOW.
Emotional Sensitivity: HIGH.
Isolation Tendency: HIGH.
"Data mereka mirip. Dan bukan hanya itu saja." Ucap Alya, menyuruh Dimas membalik halaman selanjutnya.
Empati tinggi.
Sensitivitas emosional tinggi.
Kesulitan beradaptasi secara sosial.
Kecenderungan menarik diri.
"Berarti bukan kebetulan. Mereka... memang sengaja mencari orang dengan karakteristik kayak gini...” ucap Dimas. " Mereka gak asal pilih korban."
"Damn! Kok serem banget? Merinding banget sumpah." Keenan berkata sambil menggosok gosok lengannya.
Dimas langsung memasukkan map itu kedalam tas nya. Keenan dan Alya juga ikut memasuk kan barang bukti lain yang mereka dapatkan ke tas ransel masing-masing.
Folder demi folder
Banyak dokumen
Kepingan rekaman suara
Tape recorder
Mereka bertiga mulai memasukkan sesuatu secara acak ke dalam tas ransel.
Kemudian Dimas berusaha mencari-cari kunci lemari yang ada di ruang bawah tanah. Tetapi tidak menemukan kuncinya. Dia sangat penasaran dengan isi lemari itu.
Maka Dimas panggil Keenan untuk segera ke dekatnya. "Keenan, coba lu pakai alat pembuka kuncinya untuk buka lemari. Bisa gak alatnya?"
Keenan pun mendatangi Dimas. "Wait. Biar gue coba dulu." Dan tepat saat Keenan mulai mengeluarkan alatnya, tiba-tiba lampu yang menyinari ruang itu dengan penerangan temaram seketika padam.
"Anjing! Kok mati!" Ucap Keenan karena kaget.
Alya dan Dimas juga kaget. Mereka berdua langsung mencoba menyalakan senter di ponsel. Namun ketika layar ponsel dihidupkan, Dimas langsung tertegun. Dia membaca pesan dari sebuah nomer yang tidak dikenali. Isi pesan tersebut bertuliskan "Berhenti mencari EVA." Tanpa kata, Dimas menunjukkan pesan itu kepada Alya juga Keenan dan mereka pun terkaget-kaget.
"Bagaimana ada orang yang tahu kita sedang mencari..." Alya tidak meneruskan perkataan nya. Gadis itu tiba-tiba menotis setitik cahaya merah yang menyala di sudut ruangan.
Alya sangat terkejut akan penemuannya itu. "Dimas! Keenan! Ruangan ini ternyata ada CCTV-nya!" Kata Alya dengan panik menunjuk ke arah cahaya merah itu.
Dimas dan Keenan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Alya, mereka pun langsung panik. "Cepat keluar dari sini!" Ucap Dimas hampir berteriak. Dia menyalakan senter di ponselnya, meraih tas ranselnya, juga mengangkut satu tas besar berisi uang. Keenan juga melakukan hal seperti Dimas.
Alya memanggul tas ranselnya dan berjalan duluan menaiki tangga dengan sinar senter dari ponsel. Dibelakang nya Keenan dan Dimas mengikuti. Sepanjang menaiki tangga, jantung mereka bertiga makin berdebar ketakutan. Karena mereka tidak tahu siapa orang yang mengawasi mereka dari balik CCTV di ruang bawah tanah rahasia itu.
Setelah beberapa saat tibalah Alya di puncak anak tangga. Gadis itu bertatap-tatapan dengan Keenan dan Dimas sebelum dirinya mendorong pintu shaft hingga terbuka.
Dan apa yang mereka bertiga temukan di balik pintu membuat jantung mereka hampir copot! Bu Aglaea berdiri sembari memeluk tangan di depan dada. Dosen itu tampak menunggu mereka muncul sedari lama.
"Bu Aglaea..." Ucap Keenan.
Satu persatu dari mereka keluar dari tangga dibalik pintu shaft. Dan sorot mata dingin seperti membekukan mereka bertiga.
"Kembalikan semua yang kalian ambil dari sana." Aglaea berkata dengan nada dinginnya.
Sontak ucapan itu langsung membuat Dimas kesal. "Haruskah?" Ucap Dimas mengembali kan ucapan yang Aglaea ucapkan kepadanya. Dan ucapan itu sukses memancing amarah dari dosen perempuan itu.
Namun sebelum Aglaea sempat marah, Alya langsung mendorong dosen itu hingga jatuh tersungkur di lantai. "CEPAT KABUR!"
Dimas dan Keenan pun langsung cepat tanggap. Mereka ikut berlari keluar dari tangga darurat mengikuti Alya yang berlari tak jauh di depan. Mereka berlari cepat ke parkiran motor. Dan tanpa membuang waktu lagi, mereka bertiga menaiki motor masing-masing, mengendarai nya keluar kampus, dan menuju ke rumah sakit tempat Ribka dan Anaxa di rawat.
Motor mereka injak gas, bahkan kena marah orang lain karena kebut-kebutan. Tetapi untungnya mereka gak kecelakaan seperti Anaxa dan selamat sampai tujuan belasan menit kemudian.
Mereka bertiga memikirkan motor masing-masing dan turun dari atas motor.
"Hah... Gila banget anjir tadi! Ternyata kita kepergok bu Aglaea lewat CCTV!" Ucap Keenan setelah membuka helm nya.
Alya mengiyakan ucapan Keenan. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras, masih merasa syok dengan kejadian tadi.
"Lu berani banget sampai dorong bu Aglaea. Gak terduga." Ucap Dimas sambil mengacungkan jempol kepada Alya.
"Hah iya anjir! Untung bu Aglaea gak ngejar. Kalau ngejar mah udah kayak game horror!" Ucap Keenan malah ngawur. Sukses membuat Alya dan Dimas ketawa.
"Ayo ke kamar Anaxa." Ucap Alya kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit, diikuti oleh Dimas dan Keenan yang tidak hanya membawa ransel tapi juga memanggul tas besar berisi buntelan uang.
Alya membuka pintu ruang rawat inap Anaxa dan gadis itu melihat Ribka duduk disebelah ranjang Anaxa sambil tertawa cekikikan. Alya mendadak terdiam di tempat saat melihat Anaxa yang juga tertawa menanggapi Ribka. Alya juga mendengar Anaxa yang bercerita dengan semangat ke Ribka.
Deg!
Jantung Alya langsung berdenyut nyeri. Sebuah pikiran langsung terlintas di benak nya.
"Ternyata bukan aku satu-satunya yang mendengar tawa dan cerita Anaxa..."
Dimas dan Keenan langsung bertatap-tatapan karena bingung setelah melihat Alya yang diam berdiri saja. Lalu mereka berdua mengikuti arah pandang gadis itu dan jadi paham.
Keenan menepuk-nepuk bahu Alya supaya sabar. Sementara Dimas malah mengkedutkan rahangnya. Pria itu marah. Dalam pikirnya "Bagaimana bisa Anaxa memperlakukan Alya seperti itu?!"
Dimas langsung berjalan mendekati Anaxa dan Ribka. Sedangkan Anaxa yang menyadari keberadaan Dimas langsung mengangkat tangannya yang tidak dipasang infus. "Halo. Gimana sidangnya? Udah ke ruang bawah tanahnya belum?"
Pertanyaan Anaxa tidak dijawab oleh Dimas. Dia malah melempar kasar satu tas besar berisi uang dan ranselnya ke lantai dekat ranjang rawat, membuat Anaxa yang melihatnya langsung mengkerut kan kening.
"Kenapa?" Tanya Anaxa. Dan Ribka juga menatap Dimas dengan bingung.
"Lu ternyata brengsek ya? Udah tau Alya suka sama lu tapi perilaku lu gak bisa dijaga ya. Bangsat!" Amuk Dimas.
Bukan hanya Anaxa dan Ribka yang terkejut mendengar perkataan Dimas, Keenan dan Alya juga lah sama terkejut nya.
Belum sempat membuka mulutnya untuk mengeluarkan satu patah kata, Dimas kembali berkata "Gue suka Alya. Dan lu gak pantas dapetin dia. Lu jangan sengaja bego dong dan nyakitin gitu, anjing!"
Dan ruang itu mendadak hening mencekam.