Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Tenda darurat
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk keluar dari area pemukiman padat dan mencapai ujung jalan setapak di mana gubuk reyot keluarga Lin berada.
Begitu mereka tiba di lokasi tujuan, pemandangan di hadapan mereka benar-benar sebuah pemandangan kehancuran total.
Gubuk kayu yang tadinya berdiri reot namun masih berfungsi sebagai tempat berteduh kini telah berubah wujud menjadi tumpukan papan kayu patah, pecahan dinding jerami yang berserakan, dan tiang-tiang utama yang roboh bersandar miring di atas tanah berdebu. Pintu kayu reyot tergeletak terkelupas di dekat semak belukar.
Lin Bao yang melihat kembali reruntuhan bekas rumah mereka, kembali merintih pelan dan bersembunyi di balik punggung ibunya.
"Kakak... rumah kita benar-benar hancur..." cicit Lin Bao sedih.
Nyonya Lin menarik napas berat, ia merasakan sisa-sisa sesak di dadanya melihat tempat tinggal yang ia diami selama bertahun-tahun kini rata dengan tanah.
Namun, Lin Wanru tidak membuang waktu sedetik pun untuk meratapi reruntuhan tersebut. Matanya yang tajam langsung beralih ke mode analisis arsitektural.
Ia melangkah maju ke tengah puing-puing, menginjakkan kakinya di atas fondasi batu tanah yang masih kokoh, lalu mulai mengetuk-ngetuk beberapa tiang utama yang tersisa menggunakan ujung tongkat kayunya.
"Bagus," gumam Wanru pada dirinya sendiri, seraya mengangguk-angguk puas. "Meskipun dinding dan atapnya dihancurkan habis-habisan, empat tiang penyangga sudut utama masih menancap kuat di tanah dan strukturnya belum patah. Paman Dehai dan preman-premannya hanya merusak bagian dinding dan atap, tapi mereka terlalu malas atau bodoh untuk mencabut fondasi tiang utama."
Ini adalah sebuah keuntungan struktural yang sangat besar!
Dengan memanfaatkan keempat tiang penyangga utama yang masih berdiri kokoh di atas fondasi batu tersebut, Wanru tidak perlu membangun kerangka rumah dari nol. Ia bisa langsung menggunakan tiang-tiang itu sebagai pilar penopang utama untuk merakit tenda darurat semi permanen.
**
Matahari kini sudah semakin condong ke barat, menyisakan waktu kurang dari satu jam sebelum kegelapan malam total menyelimuti hutan dan desa.
Wanru segera membagi tugas dengan terstruktur dan efisien layaknya seorang manajer proyek konstruksi profesional di lapangan.
"Ibu, tolong bantu aku mengumpulkan ranting-ranting kayu kering dan batu-batu pipih di sekitar sini untuk meratakan lantai dasar yang tidak rata," instruksi Wanru cepat. "Dan Bao-er, jadilah asisten kecil Kakak. Ambilkan paku atau pegangkan tali saat Kakak mengikat tiangnya, ya?"
"Baik, Kakak!" jawab Lin Bao dengan penuh semangat, teralih dari rasa sedihnya berkat tugas baru yang diberikan oleh sang kakak.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Wanru mulai bekerja. Ia menggunakan gergaji tangan kecil untuk memotong beberapa bilah kayu sisa yang masih utuh guna dijadikan palang penguat horizontal di antara keempat tiang utama.
Dengan menggunakan tali tambang rami yang baru dibelinya dari pasar, ia mengikat erat setiap sambungan kayu dengan teknik simpul militer yang kuat dan kokoh agar tidak mudah goyah diterpa angin malam pegunungan.
Setelah kerangka dasar berbentuk kubus terbuka selesai dirakit di atas reruntuhan gubuk, Wanru membentangkan dua lembar kain kanvas tebal berlapis minyak (Youbu) di atas kerangka tersebut.
Ia menariknya kencang-kencang, lalu memaku bagian sisinya ke tiang kayu dan menindih bagian bawah kain dengan batu-batu berat di atas tanah agar kedap air dan tidak tersapu angin.
Proses pengerjaan itu berlangsung sangat cepat, sistematis, dan tanpa cela. Di bawah cahaya temaram senja yang mulai berganti menjadi remang-remang malam, sebuah tenda darurat semi permanen yang kokoh, rapi, dan tahan air akhirnya berdiri tegak di atas reruntuhan gubuk lama keluarga Lin.
Di bagian dalam tenda terpal tersebut, Wanru menggelar selimut usang di atas lapisan jerami bersih yang dikumpulkan dari sisa-sisa lama, menciptakan tempat tidur darurat yang hangat dan nyaman. Di sudut ruangan kecil itu, mereka menaruh sisa barang belanjaan dan kantong uang sisa dengan aman.
Nyonya Lin masuk ke dalam tenda darurat tersebut. Ia meraba dinding kain kanvas yang tebal, dan merasakan betapa kokohnya struktur tenda buatan putrinya, lalu mencium kehangatan udara di dalam ruangan yang terlindung dari terpaan angin malam pegunungan.
Air mata keharuan kembali tumpah dari mata Nyonya Lin, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.
"Wan-er... ini... ini luar biasa..." bisik Nyonya Lin terisak haru, lalu memeluk putrinya erat-erat di dalam tenda darurat yang remang-remang. "Dalam waktu beberapa jam saja, kau berhasil membangun tempat berteduh yang sehangat ini... Ibu tidak tahu lagi harus memuji kecerdasanmu dengan cara apa..."
Lin Bao berbaring di atas selimut yang empuk, merentangkan tangannya dengan riang gembira. "Wah! Tenda ini hebat sekali! Tidak ada angin yang masuk, dan rasanya hangat seperti di dalam gua peri!" seru bocah itu gembira, melupakan seluruh kengerian hari ini.
Lin Wanru tersenyum hangat, dan membalas pelukan ibunya sambil mengusap kepala adiknya. Ia duduk bersila di atas selimut, dan menyandarkan punggungnya perlahan meski masih sedikit meringis menahan sisa rasa sakit di otot belakangnya.
Melalui jendela kecil terpal yang bisa dibuka-ditutup, Wanru menatap ke luar ke arah kegelapan malam Desa Hutan Batu yang mulai terlelap.
Hari ini adalah hari paling dramatis dan melelahkan dalam hidupnya sejak bertransmigrasi ke era dinasti kuno. Dimulai dari pacu waktu di hutan, pelunasan utang dramatis oleh pangeran penyamar, perkelahian konyol di pasar, hingga pembangunan tenda darurat di atas reruntuhan rumah.
Namun, di dalam dada sang CEO, sebuah kepastian mutlak tertanam kuat, ini baru langkah awal.
Bersambung...