Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CLARA YANG KEMBALI DARI KEMATIAN
Ruangan itu mendadak sunyi.
Isabella berdiri terpaku. Matanya berpindah dari perempuan yang baru saja muncul ke pria yang mengaku sebagai Richard.
Clara Imanuel.
Nama itu selama dua puluh tahun hanya dikenal sebagai nama seorang perempuan yang telah meninggal. Perempuan yang kematiannya menjadi awal dari seluruh kekacauan dalam keluarga mereka.
Namun kini, Clara berdiri tepat di hadapannya.
“Clara…” bisik Isabella.
Perempuan itu mengangguk pelan.
“Ya, Isabella. Aku Clara.”
Dominic masih mengarahkan pistol kepada pria yang menyamar sebagai Richard.
“Kalau kau Clara, siapa sebenarnya pria ini?”
Clara menatap pria tersebut dengan kebencian.
“Namanya bukan Richard Laurent. Dia adalah Adrian Imanuel.”
Isabella terkejut.
“Adrian?”
Pria itu tertawa kecil. Kemudian ia melepaskan wajah palsu yang selama ini membuatnya tampak seperti Richard. Di balik penyamarannya, terlihat wajah Adrian yang sebenarnya.
“Luar biasa,” katanya sambil bertepuk tangan perlahan. “Akhirnya kau muncul juga, Clara.”
Clara tidak menjawab.
Adrian menatap Isabella.
“Sekarang kau mengerti, bukan? Mengapa semua orang berbohong kepadamu? Bahkan orang yang kau anggap ayahmu pun sebenarnya bukan orang yang selama ini kau kenal.”
Isabella menggeleng.
“Cukup! Aku ingin tahu kebenarannya. Siapa sebenarnya aku?”
Clara mendekat.
“Kau adalah anak yang selama ini berusaha kuselamatkan.”
“Tapi kenapa kau meninggalkanku?”
Mata Clara berkaca-kaca.
“Karena jika aku tetap bersamamu, Adrian akan membunuhmu.”
Adrian tertawa sinis.
“Jangan percaya padanya. Clara selalu pandai membuat dirinya terlihat seperti korban.”
Dominic mengangkat pistol lebih tinggi.
“Diam!”
Adrian tersenyum.
“Kau masih sama, Dominic. Selalu mengangkat senjata sebelum mengetahui siapa yang sebenarnya kau hadapi.”
Clara membantu Mariana berdiri. Perempuan itu terluka akibat tembakan, tetapi masih sadar.
“Mariana, bertahanlah,” ucap Clara.
Mariana menggenggam tangannya.
“Sudah waktunya mereka mengetahui semuanya.”
Clara mengangguk.
Ia kemudian menatap Isabella dan Dominic.
“Dua puluh tahun lalu, aku menemukan dokumen rahasia milik Adrian. Dokumen itu berisi rencana untuk menciptakan pewaris keluarga Imanuel melalui sebuah proyek yang melibatkan tiga bayi.”
“Proyek Imanuel?” tanya Isabella.
“Benar. Adrian ingin memiliki kendali atas tiga keluarga besar: Imanuel, Laurent, dan keluarga yang selama ini tidak pernah disebutkan dalam dokumen.”
“Kenapa bayi-bayi itu?” Dominic bertanya.
“Karena Adrian percaya bahwa darah dan identitas bisa menjadi alat untuk menguasai warisan, kekuasaan, dan orang-orang di sekitarnya.”
Clara mengeluarkan sebuah foto dari tasnya.
Foto itu memperlihatkan tiga bayi yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
Di bawah foto tertulis:
SUBJEK A — ISABELLA.
SUBJEK B — VICTORIA.
SUBJEK C — DOMINIC.
Isabella menatap foto tersebut.
“Jadi, kami bertiga memang dilahirkan pada malam yang sama?”
Clara mengangguk.
“Ya. Tetapi kalian bukan saudara kandung seperti yang selama ini kalian bayangkan.”
Dominic menatapnya.
“Lalu apa hubungan kami?”
Clara menarik napas.
“Isabella adalah anakku dengan Richard Laurent. Victoria adalah anak Elena dengan Adrian. Sedangkan Dominic adalah anak Mariana dengan Richard.”
Isabella terdiam.
“Berarti aku dan Dominic memiliki ayah yang sama?”
“Benar.”
Dominic menundukkan kepala. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang dicintainya ternyata memiliki hubungan darah dengannya.
Isabella mundur beberapa langkah.
“Tidak…”
Clara segera menghampirinya.
“Isabella, dengarkan aku. Kalian tidak pernah mengetahui kebenaran itu. Tidak seorang pun memberi tahu kalian.”
Isabella menatap Dominic dengan mata basah.
“Selama ini…”
Dominic tidak sanggup menjawab.
Ia menurunkan pistolnya.
Semua kenangan mereka mendadak terasa berbeda. Setiap sentuhan, setiap pengakuan cinta, dan setiap janji seolah berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
“Aku tidak tahu,” bisik Dominic.
Isabella menutup wajahnya.
“Aku juga tidak tahu.”
Adrian memanfaatkan keadaan itu untuk bergerak.
Ia mengambil pistol kecil dari balik jasnya dan mengarahkannya kepada Clara.
“Cukup dengan drama keluarga ini.”
Dominic langsung mengangkat senjatanya kembali.
“Letakkan pistolmu!”
Adrian tertawa.
“Kau tidak akan menembakku, Dominic. Kau tahu kenapa? Karena selama ini aku satu-satunya orang yang memberitahumu siapa dirimu.”
“Justru karena itu aku ingin kau menjawab semua pertanyaanku.”
Adrian menatap Dominic.
“Baik. Tanyakan.”
“Siapa yang membunuh Clara?”
Adrian tersenyum.
“Tidak ada yang membunuhnya.”
Clara langsung menyela.
“Jangan dengarkan dia!”
Adrian melanjutkan, “Clara memang ditembak malam itu, tetapi dia tidak mati. Aku menyelamatkannya.”
“Lalu kenapa semua orang percaya dia sudah meninggal?” tanya Isabella.
“Karena Clara sendiri yang menginginkannya. Dia membuat semua orang percaya bahwa dirinya mati agar bisa melarikan diri dari proyek ini.”
Clara menggeleng.
“Aku melakukannya untuk menyelamatkan anakku.”
Adrian mengangkat alis.
“Dan kau pikir dengan bersembunyi selama dua puluh tahun, kau berhasil?”
Ia mengeluarkan sebuah foto lain.
Foto Richard yang terbaring di lantai dengan luka tembak di dada.
“Richard mengetahui bahwa Clara masih hidup. Karena itulah dia harus disingkirkan.”
Dominic mengepalkan tangannya.
“Jadi, kau yang menembak Richard?”
Adrian tidak menjawab.
Namun senyum di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.
Tiba-tiba terdengar suara sirene dari kejauhan.
Adrian menoleh ke arah pintu.
Clara memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Isabella ke belakang.
“Cepat, kita harus keluar!”
Namun sebelum mereka bergerak, seseorang muncul dari lorong.
Victoria.
Wajahnya dipenuhi luka kecil. Di tangannya terdapat sebuah tas hitam.
“Aku tahu kalian akan berkumpul di sini,” katanya.
Adrian tersenyum.
“Victoria. Akhirnya kau datang.”
Victoria menatapnya dingin.
“Aku datang bukan untuk membantumu.”
Ia melempar tas hitam ke tengah ruangan.
Isinya adalah beberapa dokumen, rekaman video, dan sebuah kotak kecil.
“Ini semua bukti kejahatanmu, Adrian.”
Adrian tertawa.
“Kau pikir dokumen itu bisa menghancurkanku?”
“Tidak hanya dokumen.”
Victoria membuka kotak kecil tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah alat perekam suara.
“Aku juga punya rekaman percakapanmu dengan orang yang memerintahkan pembunuhan Richard.”
Adrian langsung kehilangan senyumnya.
“Dari mana kau mendapatkan itu?”
Victoria menekan tombol pemutar.
Suara Adrian terdengar jelas.
“Pastikan Richard tidak sempat berbicara. Jika dia membuka rahasia tentang anak ketiga, semua rencana kita akan hancur.”
Kemudian terdengar suara lain.
Suara seorang perempuan.
“Dan bagaimana dengan Isabella?”
Adrian menjawab tanpa ragu.
“Biarkan dia hidup. Dia masih berguna.”
Isabella merinding.
Namun ketika suara perempuan itu kembali terdengar, semua orang membeku.
“Bagaimana jika dia mengetahui bahwa aku adalah ibu kandungnya?”
Rekaman berhenti.
Isabella perlahan menoleh kepada Mariana.
Mariana menangis.
“Bukan aku…” bisiknya.
Clara terlihat terkejut.
Victoria menunduk.
Adrian justru tertawa.
“Sekarang kalian mulai mendekati kebenaran.”
Isabella menatapnya.
“Siapa perempuan dalam rekaman itu?”
Adrian mendekatkan wajahnya.
“Kau benar-benar ingin tahu?”
Isabella mengangguk.
Adrian menunjuk Clara.
“Perempuan itu adalah ibumu.”
Clara memejamkan mata.
“Aku memang ibumu, Isabella. Tetapi ada sesuatu yang belum kuceritakan.”
“Apa?”
Clara menatap Dominic.
“Richard bukan ayah biologis Isabella.”
Isabella terdiam.
“Tapi tadi kau mengatakan…”
“Aku mengatakan bahwa Richard membesarkanmu dan namanya tercatat sebagai ayahmu. Namun ayah biologismu adalah pria lain.”
Dominic mengerutkan kening.
“Siapa?”
Clara membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara tembakan kembali terdengar.
Semua orang berteriak.
Clara terjatuh.
Isabella berlari menghampirinya.
“Ibu!”
Darah mulai merembes dari bahu Clara.
Dominic mengarahkan pistol ke lorong, tetapi penembaknya sudah menghilang.
Victoria membantu menahan luka Clara.
“Siapa yang menembak?” teriak Isabella.
Clara menggenggam tangan putrinya.
“Jangan cari penembaknya…”
“Tapi Ibu terluka!”
Clara menggeleng lemah.
“Dengarkan aku. Ayah kandungmu masih hidup.”
Isabella menangis.
“Siapa dia?”
Clara berusaha mengangkat tangannya, lalu menunjuk ke arah Dominic.
Dominic membeku.
“Jangan bilang…”
Clara menggeleng.
“Bukan Dominic.”
Isabella menatapnya penuh harap.
Clara menarik napas terakhir sebelum berbisik:
“Orang yang menjadi ayah kandungmu adalah orang yang selama ini paling kau percaya.”
Kemudian tangannya terlepas dari genggaman Isabella.
“IBU!”
Isabella berteriak histeris.
Di tengah kepanikan itu, ponsel Dominic bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Clara belum mengatakan semuanya.
Ayah kandung Isabella bukan Adrian, bukan Richard, dan bukan orang yang kalian pikirkan.
Pesan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
NAMA AYAH KANDUNG ISABELLA: DOMINIC LAURENT.
Dominic menatap layar dengan wajah pucat.
Ia mengangkat kepalanya perlahan ke arah Isabella.
Namun sebelum salah satu dari mereka sempat berbicara, Victoria tiba-tiba berkata:
“Sekarang kalian harus tahu satu hal lagi.”
Isabella menoleh.
Victoria menatap Dominic dengan air mata mengalir.
“Dominic bukan hanya anak dari Richard dan Mariana.”
Ia berhenti sejenak.
“Dia juga adalah anak yang seharusnya tidak pernah dilahirkan.”
Dan di balik semua rahasia itu, masih ada satu nama yang belum pernah disebut siapa pun: ORANG YANG MENCIPTAKAN PROYEK IMANUEL.
jangan lupa mampir kakk..🤭