NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa lo?!

Waktu menunjukkan pukul dua malam lewat .Salsa pamit untuk kembali ke hotel karena kakinya sudah mulai pegal setelah seharian berkeliling Tokyo. Setelah sambungan video diputus, suasana kamar tamu kembali hening. Cesa meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia meregangkan tubuhnya, menarik selimut beludru tebal sampai ke dada, dan bersiap untuk tidur. Matanya sudah mulai terasa berat akibat efek kekenyangan setelah mukbang seafood raksasa tadi.

Namun, baru saja Cesa memejamkan mata selama kurang lebih lima menit, keheningan malam di dalam rumah mewah itu pecah berantakan.

Brak!

Suara pintu utama rumah yang ditendang atau dibanting dengan keras terdengar samar-samar sampai ke kamar tamu. Disusul oleh langkah kaki yang berat, tergesa-gesa, dan penuh amarah yang menggema di koridor lantai atas.

Cesa membuka matanya. Ia tidak terkejut, melainkan senyum penuh kelicikan kembali terkembang di wajahnya. "Ah, si monyet akhirnya pulang," gumamnya pelan.

Tidak butuh waktu lama sampai suara bariton laki-laki yang sangat ia kenali—suara Devan yang biasanya terdengar angkuh dan tengil—kini naik beberapa oktav, menggelegar ke seluruh penjuru rumah seperti petir di siang bolong.

"SIAPAAA YANG BERANI NGACAK-NGACAK KAMAR GUEEE?!"

Teriakan Devan terdengar sangat frustrasi dan penuh amarah. Dari posisinya di kamar tamu, Cesa bisa mendengar suara langkah kaki Devan yang mondar-mandir di koridor, disusul suara gebrakan pintu kamar lain.

"BI_BIK!! JOKO!! SIAPA PUN! KELUAR LO SEMUA! KELUAR NGGAK?!" Devan berteriak memanggil para pelayan dengan nada bar-bar yang tidak kalah kasarnya. Rupanya, cowok itu juga memiliki sifat asli yang meledak-ledak dan tengil jika dipancing. "SIAPA YANG PASANG BANNER SIALAN DI GANG DEPAN SAMA DI DEPAN PINTU GUE?! KELUAR LO SEMUA SEBELUM GUE BAKAR INI RUMAH!"

Devan benar-benar syok. Setelah kabur dari acara akad nikah yang dianggapnya sebagai lelucon itu, ia sengaja pergi ke sebuah club malam mewah di pusat kota untuk minum-minum dan melupakan kekesalannya bersama teman-temannya. Namun, saat pulang dalam kondisi setengah teler menggunakan taksi daring, matanya langsung terbelalak segar ketika melihat sebuah banner besar terpasang di gang masuk komplek perumahan elitnya, menyebut dirinya sebagai 'suami sialan' dan 'gay'.

Kekesalannya memuncak saat melangkah ke lantai dua rumahnya sendiri dan menemukan kamarnya sudah hancur lebur seperti habis diterjang badai tornado.

Kasur kesayangannya berantakan, dan yang paling membuat dadanya sesak adalah ketika melihat setelan jas serta celana mahal bermerek internasional miliknya telah terpotong-potong menjadi serpihan kain tidak berguna di lantai.

Karena tidak ada satu pun pelayan yang keluar dari kamar mereka akibat ancaman Cesa sebelumnya, Devan langsung mengalihkan pandangannya ke satu-satunya kamar tamu yang lampunya terlihat menyala dari bawah celah pintu. Dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam karena amarah, Devan berjalan cepat menuju kamar tamu tersebut.

Brak!

Devan membuka paksa pintu kamar tamu itu dengan satu sentakan keras, membuat daun pintu membentur dinding dengan suara memekakkan telinga. Ia berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang sudah kusut, rambut acak-acakkan, dan aroma alkohol yang samar-samar tercium dari tubuhnya. Matanya yang tajam langsung menusuk ke arah kasur.

Di atas ranjang, Cesa tampak duduk dengan santai, bersandar pada bantal yang ditumpuk. Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau terkejut. Ia justru menatap Devan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan, seolah-olah yang berdiri di depannya hanyalah seekor serangga pengganggu.

"Apa lo, monyet Ragunan? Berisik banget gila, gue mau tidur tahu nggak!" ucap Cesa dengan nada ketus, ket ket ket-nya yang khas keluar tanpa beban.

Devan merasa darahnya langsung mendidih mendengar sapaan pertama dari istri barunya itu. Ia melangkah maju ke dalam kamar, menunjuk wajah Cesa dengan jari gemetar karena menahan emosi.

"Oh, jadi lo pelakunya?! Lo yang ngacak-ngacak kamar gue, hah?! Lo yang nguntingin baju-baju mahal gue sampai hancur kayak gitu?!" cecar Devan dengan suara membentak, gaya bicaranya langsung berubah menjadi 'gue-lo' yang kasar dan tengil.

Cesa menyingkirkan selimutnya, lalu turun dari kasur dengan gerakan santai. Ia berdiri tegak di depan Devan, melipat kedua tangannya di dada dengan dagu terangkat menantang. Jarak tinggi badan mereka yang cukup jauh tidak membuat nyali Cesa ciut sedikit pun.

"Kalau iya kenapa? Mau marah lo?" tantang Cesa, bibirnya mencebik meremehkan. "Lagian itu hukuman buat suami gak guna yang kabur di hari pernikahan tapi malah asyik dugem di club malam. Bagus kan hasil karya gue di kamar lo? Anggap aja itu dekorasi baru khusus dari istri tercinta lo ini."

"Istri tercinta pala lo peyang!" balas Devan sengit, meniru umpatan yang biasa didengarnya. "Lo tuh bukan istri gue ya! Kakak lo yang harusnya nikah sama gue, bukan bocah ingusan modelan lo yang nggak tahu sopan santun! Lo tahu nggak berapa harga setelan jas yang lo hancurin itu? Itu harganya ratusan juta, sialan! Lo harus ganti rugi semuanya!"

Cesa tertawa renyah, tawa yang sengaja dibuat-buat untuk memanaskan telinga Devan. "Ganti rugi? Pake daun mau? Heh, Devan tengil! Denger ya, yang mau nikah sama lo juga siapa? Kakak gue kabur karena dia pinter, emang ogah dapet cowok modelan lo yang songongnya selangit. Gue terpaksa gantiin dia biar reputasi keluarga kita nggak hancur di depan umum. Harusnya lo tuh sujud syukur di kaki gue karena gue udah nyelametin muka lo dari sebutan 'pengantin pria yang ditinggal kabur'!"

"Tapi lo malah bikin banner yang nulis gue gay di gang komplek, bangsatt!" teriak Devan frustrasi, menjambak rambutnya sendiri karena merasa hampir gila menghadapi kegilaan gadis di depannya.

"Tetangga-tetangga pada ngeliatin banner itu pas gue pulang tadi! Reputasi gue di komplek ini langsung hancur gara-gara kelakuan gila lo!"

Cesa mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Ya bagus dong. Biar semua orang tahu kalau lo itu emang bermasalah. Lagian lo emang gay kan? Kalau nggak, ngapain lo kabur dari malam pertama dan milih meluk botol di club malam sama temen-temen cowok lo yang tengil itu? Masuk akal kan teori gue?"

"GUE NGGAK GAY, NYET!" bentak Devan, wajahnya makin memerah menahan malu dan amarah yang bercampur menjadi satu. "Gue ke club karena gue stres harus kejebak di pernikahan sialan ini sama lo! Gue kira kakak lo yang bakal di pelaminan, tahunya malah dapet macan ternak kayak lo!"

"Heh, jaga ya mulut lo! Gue bukan macan ternak, gue Alice Sabrina Catrine, cewek paling cantik yang bakal bikin hidup lo di rumah ini kayak di neraka kalau lo macem-macem sama gue!" Cesa maju satu langkah, menepuk dada Devan dengan jari telunjuknya yang mungil namun bertenaga. "Mulai hari ini, aturan di rumah ini gue yang pegang. Kamar utama lo udah jadi kapal pecah, jadi silakan lo tidur di lantai atau di gudang sana. Kamar tamu mewah ini punya gue. Dan kalau lo berani berisik lagi malam ini..." Cesa menggantung kalimatnya, matanya melirik ke arah gunting dapur besar yang sengaja ia letakkan di atas meja nakas. "...gue nggak bakal ragu buat menyunat lo dua kali pas lo tidur. Ngerti?!"

Devan melihat ke arah gunting besar yang berkilat di bawah lampu kamar, lalu kembali menatap mata Cesa yang penuh dengan keseriusan tanpa rasa takut. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Devan yang terkenal tengil, sombong, dan tidak pernah mau kalah dari siapa pun, merasa merinding menghadapi seorang gadis berusia dua puluh tahun yang baru saja resmi menjadi istrinya beberapa jam lalu.

"Lo... lo bener-bener gila ya," bisik Devan dengan napas memburu, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah jatuh ke lantai.

"Memang. Makanya jangan pernah bangunin singa yang lagi tidur kalau lo masih sayang sama masa depan lo," balas Cesa dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan di mata Devan. Ia berbalik, kembali naik ke atas kasur empuknya, dan menarik selimutnya dengan kasar. "Sekarang, keluar dari kamar gue. Tutup pintunya yang rapat, dan jangan berani-berani lo bikin suara sekecil apa pun sampai besok pagi. Gue. Mau. Tidur."

Devan berdiri mematung di tengah kamar selama beberapa detik. Tangannya mengepal kuat, giginya bergeletuk menahan amarah yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Namun melihat kegilaan Cesa dan mengingat kamarnya sendiri yang sudah tidak bisa ditempati lagi, Devan akhirnya mendengus keras dengan sapaan kasar yang tertahan di tenggorokan.

"Awas lo ya besok pagi! Urusan kita belum selesai, bocah barbar!" ancam Devan dengan nada tengilnya yang khas sebelum berbalik dan menghentakkan kakinya keras-keras keluar dari kamar tamu. Ia membanting pintu kamar tamu itu dengan kekuatan penuh sebagai pelampiasan terakhirnya.

Di dalam kamar, Cesa hanya mendengus geli mendengar ancaman tersebut. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi pintu, memeluk guling sutranya dengan erat, dan mulai memejamkan mata dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Hari pertama pernikahan darurat ini ditutup dengan kemenangan mutlak di tangannya, dan Cesa sudah tidak sabar untuk membuat huru-hara yang lebih besar lagi esok hari di kehidupan si cowok tengil, Devan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!