Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ayah dari Dimas menatap tajam anaknya dan juga Jessica yang terlihat tenang.
"Halo om, apa kabar? Sudah lama ti------,"
"Tutup mulut kotor mu itu!," ucap ayah dari Dimas dengan tegas.
Jessica langsung terdiam dan menatap datar ayah dari Dimas, pria paru baya itu menatap Dimas yang tengah gelagapan karena ketahuan.
"Suruh wanita gila ini keluar dari rumah kamu, sebelum istri dan mama kamu tau!," ucap tegas ayahnya Dimas.
Tuan yogaswara terlihat sangat marah, dan menatap anaknya dengan tatapan yang mematikan. Dimas menatap sang ayah setelah itu ia menatap Jessica.
"Lebih baik kamu pulang Jess," ucap Dimas.
Jessica menghela nafas dengan kasar dan langsung keluar dari rumah sang kekasih. Wanita itu benar benar muak melihat wajah ayahnya Dimas.
"Dasar orang tua, tidak tau sopan santun," gumam Jesica.
Setelah kepergian Jesica, tuan yogaswara langsung menarik tangan anaknya keluar dari dalam rumah. Pria paru baya itu menatap anaknya dengan tatapan marah bercampur kecewa. Dimas? Pria itu hanya bisa menundukkan kepalannya saja karena takut mendengar kemarahan dari sang ayah. Ingin sekali tuan yogaswara memukul wajah Dimas, namun rasa sayangnya mengalahkan kemarahan terhadap anaknya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Dimas? Kamu masih berhubungan dengan wanita gila itu?! Iya?!, papa sudah pernah mengingatkan mu untuk menjauhi wanita seperti dia!, papa menikahkan mu dengan Nadia agar kamu bisa jauh dari wanita gila itu!. Tapi apa?!, kamu malah masih berhubungan dengan wanita itu, dan menduakan istri kamu. Papa enggak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan hal keji itu Dimas. Ya tuhan, Dimas kenapa kamu bisa seperti ini? Kenapa?!," marah ayahnya Dimas.
Tuan yogaswara benar benar marah, ia tak menyangka anaknya akan melakukan hal sejauh ini.
"Akhiri hubungan kamu dengan wanita itu. Papa tidak ingin mama kamu tau, dan papa tidak ingin Nadia sakit hati mengetahui hal ini," ucap ayahnya Dimas.
Dimas menatap sang ayah. "Dimas enggak mau pa, asal papa tau Dimas mencintai Jessica, dia adalah gadis yang ingin Dimas nikahi. Tapi mama dan papa datang, memberitahu akan perjodohan Dimas dengan anak sahabat papa. Dimas menolak, tapi papa malah mengancam Dimas jika tidak menerima perjodohan itu, fasilitas yang ada pada Dimas akan papa sita. Dimas enggak mau kehilangan fasilitas itu pa. Dimas enggak mau! Satu lagi, Dimas terpaksa menikahi Nadia. Itu juga salah mama dan papa, jadi kalau dia sakit hati itu bukan urusan di-----,"
Ucapan Dimas terhenti saat tuan yogaswara menampar pipi anaknya karena sudah sangat sakit hati mendengar ucapan dari anaknya. Paru baya itu reflek menampar anaknya, dan untuk pertama kalinya ia menampar sang anak yang paling ia sayangi. Dimas terkejut bukan main dan menatap ayahnya yang terlihat sangat marah bercampur dengan kecewa. Di dalam hati tuan yogaswara sangat menyesal karena sudah menampar anaknya, namun dimas harus di berikan ganjaran agar dia bisa berbicara sopan terhadap siapapun dan bisa merubah tindakan kejinya itu.
"Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbicara kasar seperti itu Dimas. Papa menjodohkan kamu karena papa tau Nadia adalah gadis yang tepat untuk kamu, dia tidak sama seperti gadis lainnya. Dia berbeda, dia adalah gadis yang baik dan dia bisa membuat kamu bahagia. Sedangkan Jessica, dia hanya menginginkan harta kamu dan dia hanya memanfaatkan kamu Dimas. Sadar! Kamu hanya mainan dan bank berjalan untuk nya!," marah ayahnya dimas.
"Papa bicara seperti itu karena papa belum tau sifat asli Jesica seperti apa. Jessica wanita yang baik pa, dia juga sopan, dia juga cinta sama Dimas. Jadi jangan pernah papa membicarakan hal buruk tentang Jessica, Dimas enggak suka pa!," ucap dimas.
Tuan yogaswara mengepalkan kedua tangannya dan memilih untuk pergi dari hadapan Dimas. Anaknya benar benar mirip sepertinya, sangat keras kepala. Dimas yang melihat kepergian sang ayah hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Ia mengacak rambutnya karena ketahuan oleh ayahnya.
******
Di dalam rumah. Ibu dari Dimas tengah tertawa bersama menantunya. "Ma, kita pulang yuk. Ada pekerjaan kantor yang harus papa selesaikan," ucap ayahnya Dimas.
Ibu dari Dimas menatap suaminya. Ya sudah, ayo pa. Nadia, mama dan papa pulang dulu ya. Kasih tau suami kamu kalau mama dan papa pulang," ucap ibunya Dimas.
Nadia tersenyum manis. "Iya ma, mama dan papa hati hati di jalan ya. Nanti kalau sudah sampai rumah kabari Nadia," ucap Nadia.
Ibu dari Dimas menganggukkan kepalanya dan memeluk Nadia dengan erat. Ayah dari Dimas hanya diam dan merasa sedih melihat menantinya yang harus mendapatkan suami seperti Dimas. Ia menahan air matanya saat menatap Nadia. Dimas masuk ke dalam rumah dan tuan yogaswara langsung memalingkan wajahnya saat mengetahui Dimas ada di sampingnya.
"Dimas mama dan papa pul-------,"
"Ayo ma, kita pulang. Dimas juga tau kalau kita mau pulang," ucap ayahnya Dimas.
Tuan yogaswara sudah tidak mau melihat wajah anaknya lagi. "Iya pa ayo," ucap ibunya Dimas.
Akhirnya kedua orang tua Dimas keluar dari rumah. Dimas yang melihat kepergian kedua orang tuannya hanya bisa menghela nafas dengan pelan. Nadia? Gadis Itu tengah membersihkan meja yang ada di ruang tamu. Dimas menatap sang istri dan setelah itu ia memilih untuk masuk ke dalam kamar. Kepalannya bener benar terasa sangat sakit, setelah bertengkar dengan ayahnya.
Nadia menatap ke arah suaminya. "Kak Dimas kenapa ya?, papa juga berbeda sekali setelah berbicara dengan kak Dimas? ," gumam Nadia.
Nadia benar benar bingung melihat Dimas yang terlihat banyak pikiran. Apa lagi ayah mertuanya tadi terlihat sangat kesal stelah berbicara dengan Dimas. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dan memilih untuk masuk ke dapur. Ia tidak ingin bertanya hal tersebut kepada Dimas, karena ia takut sang suami merasa risih dan memarahinya.
******
Di dalam mobil. Tuan yogaswara sedari tadi hanya diam sambil menyetir mobil miliknya. Sang istri mengerutkan dahinya saat melihat suaminya yang sedari tadi hanya diam.
"Pa, ini bukan papa yang mama kenal loh. Kok papa dari tadi diem aja, biasanya papa banyak bicara setelah pulang dari rumah anak kita," ucap ibunya Dimas.
Tuan yogaswara menatap istrinya. "Papa enggak papa ma, papa lagi banyak pikiran, kerjaan kantor mendadak numpuk bikin sakit kepala aja," ucap ayahnya Dimas.
Pria paru baya itu tidak ingin memberi tau tentang anaknya kepada sang istri. Ia takut istrinya tiba tiba sakit karena mendengar kelakuan dari Dimas, yang sudah menduakan menantu kesayangannya. Ibu dari Dimas menganggukkan kepalannya dan langsung menggenggam tangan kiri suaminya.
"Nanti mama bantu ya?," ucap ibunya Dimas.
"Enggak perlu ma, papa bisa kok mengerjakan pekerjaan kantor sendiri. Lebih baik mama istirahat, pasti mama capek," ucap ayahnya Dimas.
Ibu dari Dimas menyenderkan kepalannya di bahu sang suami. "Pa, Dimas so sweet banget ya sama Nadia, mereka berdua cocok banget ya pa. Mama jadi enggak sabar dapet cucu yang lucu dari mereka. Mam------,"
"Ma udah ya, jangan membicarakan mereka dulu. Papa lagi fokus nyetir, takutnya nanti terjadi hal yang tidak tidak," ucap ayahnya Dimas.
Ibunya Dimas langsung memanyunkan bibirnya. "Iya maaf, mama terlalu bahagia pa," ucap ibunya Dimas.