"Briar" adalah seorang wanita muda berusia 20-an yang tengah berjuang menata kembali hidupnya. Terluka oleh trauma masa kecil dan kehilangan berbagai hal berharga, ia harus bertahan di dunia seorang diri.
Kesederhanaan, kepolosan, dan paras cantiknya tanpa sengaja mempertemukannya dengan Adrian, tetangga baru yang juga seorang CEO muda penuh kesempurnaan.
Tanpa ragu, Adrian masuk ke dalam hidup Briar, dan dalam waktu singkat, hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan. Untuk pertama kalinya, Briar merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun, di balik hangatnya sikap sang suami, pertanyaan-pertanyaan kelam mulai menghantui:
Mengapa pria sesempurna Adrian begitu terburu-buru menikahinya?
Rahasia gelap apa yang disimpan Adrian rapat-rapat?
Ketika takdir mulai mempermainkan segalanya, sanggupkah cinta mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangkuk perhatianku
Musim berganti, aku masih beraktivitas seperti biasanya. Masih melakukan segalanya untuk berjuang hidup sendirian.
Sesekali aku memandang kearah rumah Adrian, dan sepertinya Adrian orang yang jarang berada di rumah. Aku hanya melihatnya sesekali dari jauh, saat Adrian sedang berdiri di atas balkon atau terkadang aku melihatnya sedang bermain gitar di malam hari.
Aku tidak pernah lagi memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya, bila bertemu kami hanya sebatas menyapa, itupun karena kami bertetangga. Bahkan, aku tidak pernah lagi melihat Adrian bermain bola di pantai bersama teman-temannya. Entah karena Adrian memang tidak datang, atau aku yang tidak melihat bahwa Adrian ada di sana. Mungkin.. dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah.. hanya saja aku ingin sekali bisa bicara lagi dengannya.
-
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 21. Seperti biasa, aku akan membeli kue ulang tahun dan merayakanya sendirian. Karena aku tidak punya teman dekat, aku hanya dekat dengan sepupuku Dwi, yang sedang berada di luar kota. Aku fikir kali ini aku akan membeli sebuah kue berukuran kecil dan makan di toko kue yang cukup populer di kotaku, sambil memesan secangkir kopi espresso hangat.
Aku pun tiba di toko dan mulai memilih kue yang sesuai dengan yang aku inginkan. Akan tetapi ketika aku belum lama berada di toko, Orang-orang entah dari mana mulai berdatangan dan masuk kedalam toko. Aku mulai berfikir untuk membatalkan niatku untuk merayakan ulang tahunku disini, karena akan ramai. Jadi aku hanya membeli kue rasa lemon dengan sebuah lilin, lalu membawanya pulang.
-
Braakkkk !!
Suara benda bertabrakan dari jalan.
Saat aku berjalan keluar toko, aku menyaksikan sebuah kecelakaan antara pengendara bermotor sport berwarna merah dan sebuah pengendara bermotor biasa lain. Aku melihat, si pengendara motor sport itu mengenakan helm yang menutupi seluruh wajahnya tengah terbaring di aspal, sepertinya orang itu sudah jatuh pingsan di tempat. Sementara pengendara lainnya sudah mampu berdiri dan hanya mengalami luka-luka yang ku lihat tidak begitu parah.
Aku pun langsung menghampiri pengendara motor sport itu, dan berusaha membuka helm yang ia gunakan.
Namun saat aku membukanya..
"Adrian..!!". Aku benar-benar terkejut bahwa Adrianlah si pria yang mengenakan helm dan tengah pingsan di depanku.
"Pak.. Tolong, pak.. bantu saya bawa teman saya ke rumah sakit..". Aku meminta bantuan pada orang-orang di sekitar yang ikut menyaksikan kecelakaan. Aku juga meminta orang yang tinggal di sekitar tempat kejadian untuk menjaga motor milik untuk Adrian sementara waktu . Aku juga tidak lupa menyimpan nomor kontak mereka. Lalu kami pun berangkat dengan mobil orang sekitar. Namun. Adrian masih belum kunjung sadarkan diri.
Aku sangat khawatir dengan situasi saat ini.
Aku menaruh bagian kepala Adrian di pangkuanku. Lalu aku tidak sengaja menyentuh bagian wajah Adrian, dan wajahnya terasa cukup panas, sepertinya Adrian sedang demam. Aku fikir mungkin itulah penyebab mengapa kecelakaan barusan terjadi.
Setibanya di rumah sakit, aku mulai mengurus segala keperluan Adrian. Aku memeriksa dompetku yang memiliki sedikit uang.
"Mana uangku tinggal sedikit lagi..Tapi Adrian butuh pertolongan, dan hanya aku yang dapat menjadi walinya. Adrian bahkan tidak membawa handphone untuk menghubungi keluarganya..". Akhirnya aku memutuskan untuk membantunya dengan uangku yang hanya sisa sedikit.
Aku menuju tempat Adrian beristirahat, dan ternyata Adrian sudah mulai sadar. Adrian menatapku dan terlihat cukup pucat.
"Kamu.. nggak apa-apa??". Tanyaku pada Adrian.
"Aku hanya merasa sedikit pusing..". Jawab Adrian dengan lirih.
"Badan kamu cukup panas.. Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja dulu..". Ucapku sambil memperbaiki bantalnya.
"Aku mau pulang saja.. aku tidak apa-apa..". Adrian menjawab dengan terlihat cukup tidak nyaman.
"Baiklah kalau memang kamu mau pulang, biar aku antarkan..Dan.. apakah kamu mau menghubungi seseorang?". Tanyaku lagi.
Adrian hanya menggelengkan kepala, pertanda bahwa dia tidak mau menghubungi siapapun.
"Baiklah.. aku akan memesan taxi untuk pulang..". Aku menekan layar handphoneku dan memesan taxi.
-
Kami pun tiba di depan rumah besar milik Adrian. Aku membuka pagar lalu memapa Adrian masuk kedalam rumahnya. Adrian memberikanku kunci dan aku membukakan pintunya. Lalu membantu Adrian masuk dengan tertatih-tatih karena ukuran badan Adrian yang cukup besar di bandingkan aku.
"Bisakah kamu tetap disini untuk sementara waktu..?" Tanya Adrian padaku.
"Mm.. kamu butuh sesuatu..?". Jawabku
"Aku hanya tidak punya siapa-siapa untuk membantuku.. sebelumnya aku tinggal dengan Ibu Mirna asisten rumah tanggaku, tapi setelah pindah kesini aku berencana untuk tinggal sendirian tanpa siapapun.. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, hanya tolong jangan pergi dulu dan tetap disini.. itupun jika tidak mengganggu waktumu..". Ucap Adrian sambil menundukan kepalanya kemeja karena merasa pusing.
"Baiklah.. kamu istirahat saja, dan kalau kamu butuh sesuatu, silahkan panggil saja aku..". Ucapku mencoba menenangkannya.
"Terimakasih banyak, dan maaf sudah merepotkanmu..". Adrian pergi menuju ke kamarnya.
Aku melihat isi dalam rumah Adrian. Rumahnya masih sedikit berbau cat, mungkin karena baru, dan barang-barangnya juga masih sedikit, hanya ada sofa dan meja di ruang tamu yang kosong. Lalu dapur yang hanya ada lemari pendingin dan sebuah kompor beserta kabinetnya. Aku fikir, aku harus memeriksa apakah Adrian punya bahan makanan di dapurnya.
Aku membuka lemari pendingin, dan ternyata hanya berisi sedikit ayam yang di kemas dan sudah di bumbui, beberapa butir telur, dan air mineral juga soda. Aku mengecek isi dapurnya dan menemukan hanya ada beberapa mi instan, bawang dan bumbu-bumbu dapur sederhana. Dapurnya sangat bersih seolah tidak pernah ia gunakan.
Aku fikir aku akan membuat makanan untuknya, mungkin semangkuk sup ayam? Karena ku fikir dia terlihat kurang sehat, dia butuh makanan yang memberinya energi.
-
Tok..tok..tok..
Aku mengetuk pintu depan kamar Adrian. Lalu Adrian pun segera membuka pintunya..
"Sebaiknya, kamu makan terlebih dahulu.. Tadi aku masak di dapur dengan bahan seadanya..". Menyerahkan sebuah mangkuk yang berisi sup ayam sederhana.
Adrian pun keluar dari kamarnya dan berjalan memegang mangkuknya membawanya menuju ke meja makan.
Adrian mengambil sendok dan menyuapkan sup ayam itu ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.
Adrian terlihat makan dengan lahap dan sesekali melihat kearahku yang sedang duduk memainkan handphone. Aku sengaja mengabaikannya karena tidak mau membuatnya merasa canggung saat makan masakanku. Aku hanya berharap rasa masakanku cukup enak.
"Briar.. terimakasih. Maaf karena aku merepotkanmu..". Adrian mengatakanya dengan matanya yang sedikit membengkak, seolah-olah ia baru saja menangis saat di dalam kamar tadi. Aku memang melihat wajahnya yang cukup murung sedari kecelakaan tadi. Entah karena sakitnya atau memang ada sesuatu yang membuatnya merasa sedih.
"Setelah ini, kamu harus minum obat yang dokter kasih..". Ujarku sambil menyodorkan obat padanya dan mengambilkannya segelas air.
Tak berselang lama, aku mendapatkan sebuah pesan dari pelangganku..
"Adrian.. aku fikir aku harus pulang dulu.. Karena ada orang yang datang untuk mengambil jahitannya dirumah..". Aku mengatakannya dengan terburu-buru mengambil tasku.
Adrian mengangguk tanda setuju. Tetapi dia hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku akan catat nomor handphoneku, jadi kalau kamu perlu sesuatu kamu hanya perlu menghubungiku, untungnya rumahku hanya berada di seberang rumahmu..". Aku mengatakanya sambil mencatat nomorku di sebuah kertas, lalu memberikanya pada Adrian.
Aku merasa khawatir untuk meninggalkanya, hanya saja aku harus pulang. Mungkin nanti aku akan kembali untuk melihat keadaanya sambil membawa makanan untuk Adrian makan. Kebetulan aku masak enak karena hari ini aku sedang berulang tahun.
Tunggu..
"Kue? Astaga aku lupa dimana aku menaruh kueku... Ya sudahlah..".
Aku harus cepat-cepat membereskan semuanya, lalu kembali kerumah Adrian untuk melihat kondisinya.