Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Terlalu Cantik untuk Bertarung
“Tanpa syarat.”
Aira terdiam sejenak, seolah sedang menghitung di kepala. Lalu dia menggeleng. “Tidak. Kalau saya terima uang dari kamu setiap bulan, saya jadi bergantung. Ketergantungan itu berbahaya. Saya lebih suka cari sendiri.”
Raka mengerutkan kening. “Tapi—”
“Selain itu,” Aira melanjutkan, “kalau saya terima uang dari pria, biasanya mereka minta balasan. Saya tidak mau repot.”
Raka terdiam. Lalu senyumnya muncul lagi, kali ini lebih lembut. “Aku tidak akan minta apa-apa.”
“Semua pria bilang begitu di awal.” Aira berbalik menuju pintu kost. “Pulang, Raka. Sudah malam. Saya mau tidur.”
Raka masih berdiri di halaman. “Aku akan kembali.”
“Bawa makanan lagi kalau kembali. Yang lebih murah juga tidak apa-apa.”
Pintu tertutup. Aira mengunci dari dalam, lalu bersandar di dinding. Jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena perkelahian barusan. Melainkan karena pria tampan itu… terlalu merepotkan. Dia membuka saku dan menghitung lagi uang yang masih utuh.
"Masih delapan belas juta... Cukup. Besok saya bayar semua utang. Lalu cari lawan baru di arena. Mungkin yang bayarannya lebih tinggi."
Di luar, suara mobil sport menyala dan menjauh. Aira berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit yang retak. Untuk pertama kalinya sejak lama, dia merasa ada sesuatu yang mengganggu di dadanya. Bukan rasa takut atau rasa sakit. Melainkan rasa… merepotkan. Dia memejamkan mata. Pria tampan memang susah mati dan lebih susah lagi disuruh pergi.
Keesokan harinya, Aira melangkah masuk ke arena malam dengan wajah datar seperti biasa. Jaket hitamnya masih sama, sepatu botnya masih bocor di bagian kiri, dan rambutnya diikat asal-asalan. Bau keringat, rokok, dan darah sudah familiar di hidungnya.
Begitu dia muncul di sisi ring, suara tawa langsung bergema. “Eh, cewek cantik datang lagi!”
“Malam ini lawannya siapa? Jangan-jangan boneka saja!”
“Taruhan saya di lawannya. Cewek secantik itu pasti cuma gaya-gayaan.”
Aira tidak menoleh. Dia sudah terbiasa. Setiap kali ada lawan baru yang belum pernah melihatnya bertarung, komentar seperti itu pasti muncul. Cantik. Lemah. Pasti cepat kalah. Pasti hanya menarik penonton laki-laki. Bandar gemuk yang kemarin dia ancam sedang tersenyum lebar di sudut. “Aira! Malam ini lawanmu spesial. Namanya Gajah. Baru dari luar kota. Beratnya hampir seratus kilo. Kamu yakin mau lawan?”
Aira menatap pria besar yang sedang pemanasan di dalam ring. Ototnya tebal, lehernya hampir tidak kelihatan, dan tatapannya sudah meremehkan sejak awal.
“Berapa hadiahnya?” tanya Aira singkat.
“Lima belas juta kalau menang. Tapi… saya kasih tahu ya, banyak yang pasang taruhan kamu kalah. Jadi kalau kamu kalah cepat, saya untung besar.”
Aira mengulurkan tangan. “Bayar di muka setengah.”
Bandar itu tertawa. “Tidak ada sistem bayar di muka.”
“Ada. Mulai malam ini.” Aira menatapnya tanpa berkedip. “Atau saya pulang sekarang dan kamu kehilangan pertandingan utama.”
Bandar itu menggerutu, lalu menyerahkan tujuh juta setengah dengan wajah masam. Aira memasukkan uang itu ke saku dalam tanpa menghitung di depan orang. Dia sudah hafal jumlahnya. Begitu Aira naik ke ring, Gajah langsung menyeringai. “Seorang gadis? Aku tidak bisa memukul wanita... Sebaiknya kamu mundur dan masak di rumah.
Aira menatapnya datar. "Tidak ada aturan genre di pertarungan... aturannya hanya satu... yang kuat dialah yang menang."
Pria itu tertawa, dan masih mengejek Aira. "Kamu terlalu cantik untuk jadi lawanku... Sayang kulitmu bakal rusak malam ini. Mau saya pelan-pelan saja supaya wajahmu tetap bagus?”
Aira kembali menatapnya. “Tidak perlu. Saya tidak dibayar untuk jadi pajangan. Tapi dibayar untuk menang.”
Crowds meledak tertawa. Beberapa orang berteriak, “Habisi dia, Gajah! Biar dia tahu tempat!”
Wasit mengangkat tangan. Bel berbunyi. Gajah langsung menyerang dengan pukulan melebar yang kasar. Aira melangkah ke samping, membiarkan tinju besar itu menyapu udara. Dia tidak membalas segera. Dia hanya mengamati.
"Pukulan terlalu lebar. Kaki kiri kurang stabil. Napas sudah memburu sejak awal. Orang ini mengandalkan tenaga, bukan teknik."
Gajah mengayunkan lagi, kali ini dari atas. Aira menunduk, lalu meninju ulu hati lawannya sekali dengan keras dan tepat sasaran. Pria itu terbatuk dan mundur dua langkah. Matanya membelalak. “Heh… cewek sialan—”
Aira tidak memberi waktu. Dia melangkah masuk, menendang lutut Gajah dari samping, lalu memukul sisi kepalanya dengan siku. Bunyi duk yang dalam terdengar. Gajah goyah.
Crowds yang tadi berteriak meremehkan sekarang terdiam sejenak, lalu mulai ribut lagi.
“Dia serius?!”
“Taruhan saya di Gajah, tolong jangan cepat kalah!”
Gajah marah. Dia meraung dan menerjang seperti banteng. Aira menunggu sampai jaraknya pas, lalu melompat sedikit, memutar tubuh, dan menendang rahang lawannya dengan tumit. Kepala Gajah terhempas ke belakang. Dia jatuh terduduk di lantai ring, mata berkunang-kunang.
Aira berdiri di depannya, napas masih stabil. “Bangun. Saya belum dapat uang penuh.”
Gajah mencoba berdiri sambil menggeledah. “Kamu… kamu bukan cewek biasa…”
“Saya tahu.” Aira menunduk sedikit. “Berdiri atau saya selesaikan sekarang.”
Gajah bangkit dengan goyah. Dia mengayunkan pukulan terakhir yang putus asa. Aira menangkap pergelangan tangannya, memutar, lalu membantingnya ke lantai ring dengan teknik yang sudah dia kuasai bertahun-tahun. Bunyi hantaman tubuh besar itu membuat beberapa penonton meringis.
Wasit mulai menghitung. "Satu. Dua. Tiga…"
Gajah tidak bergerak. “Knockout! Pemenangnya Aira!”
Suara penonton campur aduk antara kekecewaan bagi yang kalah taruhan dan teriakan kagum. Aira turun dari ring tanpa ekspresi. Dia langsung menuju meja bandar.
Bandar itu sudah menunggu dengan wajah pucat. “Kamu… kamu bikin saya rugi besar malam ini.”
“Bukan urusan saya.” Aira mengulurkan tangan. “Sisa delapan juta setengah. Sekarang.”
Bandar mengelak total pembayaran, tapi Aira mencengkeram kerah lehernya, "Kamu masih berhutan satu juta kemarin, mau bayar atau saya hajar?"
Bandar itu menggerutu sambil menyerahkan uang. “Baiklah saya bayar... lain kali saya carikan lawan yang lebih kuat.”
“Silakan. Yang penting bayarannya lebih tinggi.”
Aira baru saja memasukkan uang ke saku ketika suara familiar terdengar dari belakang.
“Kamu memang tidak pernah mengecewakan.”
Raka berdiri di dekat pagar arena, mengenakan topi dan masker, tapi Aira tetap mengenalinya dari postur dan suara. Beberapa penonton mulai berbisik curiga.
Aira menghela napas. “Kamu lagi?”
“Saya hanya ingin menonton. Dan kebetulan saya menang taruhan besar karena memasang di kamu.” Raka tersenyum di balik maskernya. “Jadi… saya berhutang terima kasih. Lagi.”
“Bayar dengan uang, bukan dengan omongan.”
Raka tertawa pelan. “Baik. Nanti saya transfer.”
Aira sudah berbalik hendak pergi ketika seorang pria berbadan tegap mendekat. Dia bukan penonton biasa. Cara berdirinya terlalu rapi dan terlalu waspada. Matanya menatap Aira dengan tajam, seolah sedang mengingat setiap detail wajahnya.
“Kamu Aira?” tanya pria itu dengan suara rendah.
Aira menatapnya. “Tergantung. Kamu penagih utang atau polisi?”