Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ting!
Suara sistem tiba-tiba berbunyi sangat nyaring dan panjang di dalam kepala Husen tanpa peringatan apa pun.
[Peringatan Darurat Tingkat Tinggi!]
[Target murid utama Bara dan Rico sedang mengalami ancaman kekerasan fisik yang berpotensi menyebabkan cacat permanen]
[Lokasi ancaman: Toilet Pria Sayap Timur Gedung Serbaguna]
[Apakah Host ingin segera melakukan intervensi langsung?]
[Ya / Tidak]
Husen langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat cepat sampai kursinya berderit keras.
Srek!
Nisa dan Pak Haris mendongakkan kepala menatap Husen dengan raut wajah kebingungan.
"Ada apa, Pak Husen?"
"Wajah Bapak mendadak terlihat sangat tegang begitu."
Nisa bertanya sambil membetulkan letak kacamatanya dengan perasaan heran yang sangat janggal.
"Nisa, tolong jaga barang-barang kita di sini dan jangan biarkan Pak Haris pergi ke mana-mana sendirian."
"Aku harus menjemput Bara dan Rico sekarang juga karena sepertinya mereka sedang dalam bahaya kotor Reno."
Husen tidak menunggu jawaban dari Nisa dan langsung berlari melesat meninggalkan barisan kursi tribun penonton.
Tap tap tap tap!
Langkah kaki Husen sangat ringan namun melaju dengan kecepatan yang sangat luar biasa cepat melewati lorong-lorong gedung.
Matanya menatap tajam ke depan dengan aura dingin yang sangat membunuh menguar dari tubuhnya.
"Reno benar-benar tidak punya otak sama sekali sampai berani menyentuh murid-muridku secara fisik."
"Aku tidak akan menahan diri lagi kali ini."
Husen sampai di depan pintu toilet pria sayap timur dan mendapati pintunya terkunci rapat dari dalam.
Dia bisa mendengar suara erangan kesakitan Rico samar-samar dari balik pintu kayu tebal tersebut.
Husen memundurkan langkahnya dua tindak untuk mengambil jarak ancang-ancang yang pas.
Dia memusatkan seluruh tenaga di kaki kanannya dan menendang area dekat gagang pintu itu dengan kekuatan penuh.
Brakkk!
Pintu kayu tebal itu langsung jebol dan terdorong terbuka dengan sangat kasar sampai engselnya nyaris lepas dari dinding.
Suara ledakan pintu itu membuat Bagas dan dua anak buahnya terlonjak kaget dan menoleh secara bersamaan.
Bara dan Rico menatap ke arah pintu dengan mata membelalak lebar melihat sosok penyelamat mereka berdiri di sana.
"Pak Husen!"
Rico berteriak histeris dengan sisa suaranya yang tertahan karena lehernya masih dicekik kuat.
Husen melangkah masuk ke dalam toilet dengan ekspresi wajah yang sedingin es dan tatapan mata setajam pedang.
Dia merapikan sedikit kerah kemejanya yang tidak berantakan lalu menatap ketiga preman itu satu per satu.
Ting!
Skill Mata Penilai langsung aktif secara otomatis menganalisis ketiga musuh berotot tersebut dalam sekejap mata.
[Mendeteksi 3 target musuh]
[Target 1 Bagas: Memiliki riwayat cedera tulang rusuk kanan bawah akibat perkelahian jalanan]
[Target 2 Pengunci Bara: Respon saraf motorik bagian kirinya lambat karena efek minuman beralkohol]
[Target 3 Penahan Rico: Keseimbangan tubuh bertumpu penuh pada lutut kiri]
[Menyusun rute serangan paling efisien untuk Host tanpa meninggalkan memar di wajah musuh]
Husen membaca informasi singkat itu dan menyunggingkan senyum tipis yang terlihat sangat menakutkan bagi lawan.
"Lepaskan murid-murid saya sekarang juga, atau kalian akan pulang dari sini merangkak dengan tulang hancur."
Husen memberikan peringatan terakhir dengan nada suara yang sangat pelan namun menggema penuh wibawa.
Bagas tertawa meremehkan melihat guru muda yang tubuhnya terlihat jauh lebih ramping dari mereka itu.
"Oh, jadi ini guru buangan yang sombong itu ya?"
"Kebetulan sekali lu datang ke sini Pak Guru, Bos Muda juga nyuruh kita buat ngasih pelajaran ke lu sekalian."
Bagas melepaskan cengkeramannya dari lengan Bara dan berjalan mendekati Husen sambil mengepalkan tinjunya.
"Biar gue tunjukin gimana caranya orang dewasa bertarung di jalanan yang sebenarnya."
Wush!
Bagas melayangkan pukulan lurus yang sangat bertenaga tepat ke arah wajah Husen.
Husen sama sekali tidak berkedip sedikit pun dan hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
Pukulan keras itu hanya melewati udara kosong di samping telinga Husen tanpa menyentuh kulitnya sama sekali.
"Pertarungan yang sebenarnya bukan ditentukan oleh seberapa besar ototmu."
Husen berucap dengan tenang sambil memutar tubuhnya dan melayangkan sikunya dengan kecepatan luar biasa.
Bugh!
Siku Husen menghantam tepat di area tulang rusuk kanan bawah Bagas yang sudah memiliki riwayat cedera parah.
"Arghhh!"
Bagas berteriak sangat keras dengan mata melotot karena rasa sakit yang luar biasa menusuk jantungnya.
Preman besar itu langsung ambruk berlutut di lantai sambil memegangi perut sampingnya dan terbatuk-batuk hebat.
Uhuk uhuk!
Husen tidak berhenti sampai di situ, dia langsung melesat maju ke arah preman yang sedang mengunci leher Bara.
Preman itu panik melihat bosnya tumbang dalam satu detik dan mencoba memukul Husen menggunakan tangan kirinya.
Karena saraf motorik kirinya lambat, gerakan itu terlihat seperti gerakan kura-kura di mata Husen.
Srak!
Husen menangkap pergelangan tangan kiri preman itu, memelintirnya ke belakang dengan kuat, lalu menendang bagian belakang lututnya.
Brak!
Preman itu jatuh tersungkur ke depan dan melepaskan kunciannya dari leher Bara seketika.
Bara mengambil napas dalam-dalam menyadari dia sudah terbebas dari ancaman mematikan tersebut.
Tinggal satu preman tersisa yang sedang menahan Rico di dekat wastafel dengan wajah pucat ketakutan.
"Jangan mendekat atau anak ini gue cekik sampai mati!"
Preman itu berteriak panik mencoba menjadikan Rico sebagai perisai hidupnya yang terakhir.
Husen menatap tajam ke arah keseimbangan lutut kiri preman tersebut sesuai petunjuk dari sistemnya.
Husen mengambil sebuah botol sabun cair plastik dari wastafel terdekat dan melemparnya dengan keras ke wajah preman itu.
Tak!
Preman itu refleks memejamkan mata dan mengendurkan sedikit cekikannya karena kaget terkena lemparan botol.
Dalam hitungan detik, Husen sudah berada di depan preman itu dan menyapu lutut kirinya dengan tendangan rendah yang telak.
Brak!
Keseimbangan preman itu hancur berantakan dan dia jatuh telentang menghantam ubin lantai dengan bunyi berdentum keras.
Rico langsung merangkak menjauh dan berlindung di belakang punggung Bara dengan napas terengah-engah.
Husen berdiri tegak di tengah ruangan toilet yang kacau itu tanpa terlihat berkeringat sedikit pun.
Dia menunduk menatap Bagas yang masih mengerang kesakitan memegangi rusuknya di lantai.
"Kalian bertiga beruntung karena saya masih seorang guru yang memegang kode etik."
"Jika kita bertemu di luar gedung sekolah ini, saya pastikan kalian tidak akan bisa berjalan normal lagi seumur hidup."
Husen menarik kerah baju Bagas dengan satu tangan dan mengangkat wajah preman itu agar menatap matanya langsung.
"Sampaikan pesan ini kepada bos muda kalian yang sombong itu."
"Katakan padanya, jika dia berani bermain kotor lagi dengan anak murid saya, saya sendiri yang akan menyeretnya ke penjara."
Husen melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Bagas terjatuh kembali ke lantai dengan lemas.
"Sekarang keluar dari sini sebelum saya memanggil pihak keamanan dan polisi."
Ketiga preman berbadan besar itu langsung berebut bangun dengan susah payah sambil menahan rasa sakit di tubuh mereka.
Mereka sama sekali tidak berani menoleh ke belakang dan langsung berlari pincang keluar dari toilet secepat mungkin.
Husen menghela napas panjang meredakan emosinya lalu menoleh ke arah Bara dan Rico dengan tatapan khawatir.
"Kalian berdua tidak apa-apa?"
"Apakah ada bagian tulang kalian yang patah atau wajah kalian yang terluka memar?"
Bara menggelengkan kepalanya pelan masih dengan ekspresi sangat tercengang menatap wali kelasnya itu.
"Kita berdua baik-baik aja Pak, luka fisik nggak ada sama sekali berkat Bapak datang tepat waktu."
"Tapi sumpah Pak, Bapak tadi mukulnya cepet banget kayak adegan film aksi yang sering gue tonton."
Rico mengangguk setuju dengan mata berbinar-binar kagum seolah baru saja melihat pahlawan super turun dari langit.
"Beneran Pak Husen, mereka yang badannya segede kingkong aja bisa tumbang cuma pakai satu serangan gitu."
"Bapak dulu sebelum jadi guru pernah jadi agen rahasia ya?"
Husen tertawa pelan mendengar pertanyaan konyol dari Rico yang kepolosannya mulai kembali itu.
"Saya murni hanya seorang guru biasa, Rico."
"Saya hanya tahu sedikit kelemahan anatomi manusia untuk melindungi diri sendiri di saat darurat seperti ini."
Husen berjalan mendekati wastafel dan membuka keran air agar mereka berdua bisa mencuci muka.
Srrash.
"Cepat cuci muka kalian dan rapikan seragam kalian berdua sekarang."
"Kita sudah ditunggu oleh lawan kita di panggung babak semifinal sepuluh menit lagi."
Bara mencuci mukanya dengan cepat dan menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan senyum yang sangat menakutkan.
"Kali ini gue nggak bakal nahan diri lagi pakai kata-kata sopan di atas panggung, Pak."
"Gue bakal hancurin mental lawan sampai mereka nyesel lahir di dunia ini."
Husen menepuk bahu Bara pelan menyetujui kemarahan yang sudah diubah menjadi tekad membara tersebut.
Mereka bertiga berjalan keluar dari toilet itu dengan kepala tegak, siap menyapu bersih semua musuh di arena olimpiade tanpa sisa.