NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Bianca Mulai Melawan

Pagi itu, Villa Vieri terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Bianca berdiri di depan cermin, mengenakan gaun hitam sederhana dengan rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Di atas meja rias terletak foto Elena Laurent, cincin perak berlambang bulan sabit, dan secarik kertas berisi nama Gabriel Moretti.

Terlalu banyak rahasia telah disembunyikan darinya.

Selama ini, Bianca mengira dirinya hanya seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan rahasia dengan seorang mafia. Ia mengira tugasnya adalah bertahan hidup, menemukan Adrian, lalu meninggalkan dunia Dante begitu keluarganya aman.

Namun, semuanya berubah.

Kini ia tahu bahwa masa lalu ibunya terhubung dengan keluarga Vieri, bahwa ayahnya mungkin menyembunyikan sesuatu tentang kelahirannya, dan bahwa pernikahannya sendiri mungkin merupakan bagian dari rencana yang telah disusun jauh sebelum ia mengenal Dante.

Bianca mengambil cincin itu dan memasukkannya ke dalam kotak kecil.

Ia tidak akan menunggu orang lain memberinya jawaban.

Jika keluarganya menyimpan rahasia, ia akan menemukannya sendiri.

Ketukan terdengar di pintu.

“Masuk.”

Dante muncul dengan kemeja hitam dan jas yang belum dikancingkan. Luka di lengannya masih dibalut perban tipis, tetapi ia tampak mengabaikannya.

“Kau belum sarapan,” katanya.

“Aku tidak lapar.”

“Dokter mengatakan kau perlu makan.”

Bianca menatapnya melalui cermin. “Sejak kapan kau menjadi pengawas makanku?”

“Sejak istriku mulai mengabaikan dirinya sendiri.”

Dante mendekat, lalu berhenti di belakangnya.

Biasanya, Bianca akan membalas godaannya. Namun, pagi itu ia hanya berdiri dan mengambil tas kecil dari atas kursi.

“Aku ingin pergi ke rumah lama keluargaku.”

Ekspresi Dante berubah.

“Tidak.”

Bianca berbalik perlahan. “Aku belum selesai bicara.”

“Tempat itu mungkin diawasi Luciano.”

“Justru itulah alasan aku harus pergi.”

“Bianca, aku tidak akan membiarkanmu berjalan masuk ke dalam jebakan.”

“Aku juga tidak akan membiarkanmu memutuskan segalanya untukku.”

Suasana mendadak tegang.

Dante menatapnya dengan rahang mengeras. “Aku berusaha menjagamu tetap hidup.”

“Dan aku menghargainya. Tetapi perlindungan bukan berarti kau boleh mengurungku dalam rumah ini sampai semua orang memutuskan bahwa aku sudah cukup aman untuk mengetahui kebenaran.”

“Aku tidak pernah mengurungmu.”

“Tidak secara harfiah.” Bianca melangkah mendekat. “Namun, setiap kali aku ingin mencari tahu tentang ibuku, kau selalu mengatakan bahwa waktunya belum tepat. Setiap kali aku bertanya tentang ayahku, kau memberikan setengah jawaban. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, Dante.”

Dante terdiam.

Bianca melanjutkan dengan suara lebih tenang.

“Aku istrimu, bukan barang berharga yang harus kau simpan di balik kaca antipeluru. Jika kita akan menghadapi semua ini bersama, kau harus mulai memperlakukanku sebagai seseorang yang bisa mengambil keputusan.”

Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding yang terdengar.

Kemudian Dante mengembuskan napas panjang.

“Baik.”

Bianca mengerutkan kening. “Baik?”

“Kita pergi ke rumah itu. Tetapi Marco akan ikut bersama beberapa pengawal.”

“Aku tidak keberatan.”

“Dan jika situasinya berbahaya, kita segera pergi.”

Bianca mengangkat alis. “Aku akan mempertimbangkannya.”

“Bianca.”

“Aku sedang belajar berkompromi. Kau seharusnya menghargainya.”

Dante menatapnya, lalu tertawa pendek—suara yang begitu jarang terdengar hingga Bianca sempat tertegun.

“Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimana kau bisa membuatku kehilangan argumen di rumahku sendiri.”

“Karena kau terlalu terbiasa membuat semua orang mengatakan ya.”

Dante mengulurkan tangan dan menyentuh jemarinya.

“Jangan membuatku menyesali keputusan ini.”

Bianca menggenggam tangannya.

“Kalau begitu, jangan membuatku menyesali pernikahan kita.”

Senyum Dante menghilang, tetapi ia tidak melepaskan tangan Bianca.

“Aku akan berusaha.”

Rumah lama keluarga Laurent terletak di pinggiran Roma, tersembunyi di balik deretan pohon cemara. Bangunan itu masih berdiri kokoh, tetapi cat putihnya mulai mengelupas dan taman depannya dipenuhi rumput liar.

Bianca menatap rumah tersebut dari dalam mobil.

Ia belum pernah kembali sejak ibunya meninggal.

“Aku masih ingat bagaimana ibu menanam mawar di dekat pagar,” katanya lirih. “Setiap pagi, dia akan memotong bunga yang sudah mekar dan meletakkannya di meja makan.”

Dante duduk di sampingnya.

“Kalau kau tidak ingin masuk, kita bisa kembali lain kali.”

Bianca menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama lari dari tempat ini.”

Ia membuka pintu mobil dan turun.

Marco bersama dua pengawal memeriksa sekeliling rumah sebelum memberikan isyarat bahwa keadaan aman. Dante mengikuti Bianca melewati pintu depan yang berderit ketika dibuka.

Aroma debu dan kayu tua menyambut mereka.

Ruang tamu itu masih menyimpan beberapa perabot lama. Sebuah piano berdiri di sudut ruangan, tertutup kain putih. Di dinding tergantung lukisan keluarga yang warnanya mulai pudar.

Bianca mendekati lukisan itu.

Ibunya berdiri di tengah, tersenyum sambil menggenggam tangannya ketika ia masih kecil. Adrian berdiri di sisi lain, sementara ayah mereka berada di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bianca merasa seperti anak kecil yang sedang mencari jalan pulang.

Dante berdiri beberapa langkah di belakangnya tanpa mengganggu.

“Aku merindukannya,” bisik Bianca.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau tidak tahu.” Bianca menyeka sudut matanya. “Aku bahkan mulai lupa suara ibuku. Aku takut suatu hari nanti aku hanya akan mengingatnya sebagai perempuan yang meninggal dan meninggalkan terlalu banyak rahasia.”

Dante mendekat perlahan.

“Rahasia yang disimpan orang lain tidak menghapus kenangan yang kau miliki tentangnya.”

Bianca menoleh.

“Bagaimana jika ibu juga berbohong kepadaku?”

“Dia mungkin memiliki alasan yang tidak pernah kita ketahui.” Dante menatap lukisan itu. “Tetapi itu tidak berarti semua yang dia lakukan kepadamu adalah kebohongan.”

Bianca terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

Di dalam lukisan, Elena mengenakan liontin bulan sabit. Namun, pada bagian tengah lambang itu terdapat delapan kelopak kecil yang membentuk pola seperti bunga.

Bianca mengambil liontin miliknya dan membandingkannya dengan lukisan.

“Dante, lihat ini.”

Dante mendekat.

“Lambangnya sama.”

“Tidak sepenuhnya.” Bianca menunjuk bagian bawah liontin dalam lukisan. “Ada garis tambahan di sini.”

Ia memeriksa liontin yang dibawanya. Di sisi belakang terdapat ukiran yang selama ini tertutup oleh rantai.

Sebuah angka Romawi: VIII.

Dante mengeluarkan cincin dari kotak kecilnya. Di bagian dalam cincin itu terdapat ukiran serupa.

“Delapan,” gumamnya. “Protokol Delapan Kelopak.”

Mereka saling bertukar pandang.

Sebuah rahasia lain baru saja membuka pintunya.

Bianca mulai memeriksa ruang kerja ayahnya yang berada di lantai dasar. Sebagian besar dokumen telah dibawa pergi, tetapi beberapa lemari masih terkunci.

Ia mencoba membuka laci meja dengan kunci kecil yang ditemukan di dalam kotak jahit milik ibunya.

Laci itu terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan, dua foto, dan amplop cokelat yang ditulis dengan tinta biru.

Nama Bianca tercantum di bagian depan.

Tangannya gemetar ketika membuka amplop tersebut.

Untuk Bianca, jika suatu hari kau kembali ke rumah ini untuk mencari kebenaran.

Ada hal-hal yang kulakukan demi melindungimu. Namun, aku tahu perlindungan yang dibangun dari kebohongan pada akhirnya akan berubah menjadi penjara.

Bianca berhenti membaca sejenak.

Ia hampir dapat mendengar suara ayahnya ketika membaca kata-kata itu.

Jika kau menemukan surat ini, carilah ruang penyimpanan di balik dinding perpustakaan. Jangan percayai siapa pun yang mengatakan bahwa Elena meninggal karena kecelakaan. Dan jangan pernah menyerahkan liontin bulan sabit kepada Luciano Vieri.

Di bagian bawah surat terdapat satu kalimat tambahan.

Maafkan aku karena tidak memberimu keberanian untuk memilih kebenaran sejak awal.

Bianca menurunkan surat itu.

Dante berdiri di sampingnya, membaca tulisan tersebut dengan ekspresi serius.

“Perpustakaan,” katanya.

Mereka segera menuju ruangan di sebelah timur rumah. Rak-rak buku memenuhi dinding, sebagian besar berisi novel lama dan ensiklopedia yang berdebu.

Bianca mencari tanda-tanda yang tidak biasa.

Akhirnya, ia menemukan sebuah buku berjudul Sejarah Keluarga Vieri. Buku itu tampak lebih baru daripada buku-buku lainnya.

Ketika ditarik, terdengar bunyi mekanis dari balik rak.

Sebuah panel kecil bergeser, memperlihatkan ruang sempit di dalam dinding.

Di sana terdapat kotak besi.

Dante memeriksa mekanisme penguncinya, lalu membukanya menggunakan kunci yang ditemukan Bianca.

Di dalam kotak itu tersimpan beberapa lembar dokumen, foto lama, dan sebuah akta kelahiran yang sebagian tintanya telah memudar.

Bianca mengambil dokumen paling atas.

Matanya menyusuri tulisan di sana, lalu berhenti pada kolom nama ayah.

Rafael Moretti.

Sementara nama ibunya tertulis jelas: Elena Laurent.

Bianca menutup mulutnya dengan tangan.

Ia selalu tahu bahwa ada kemungkinan pria yang membesarkannya bukan ayah kandungnya. Namun, melihat nama itu tercetak di atas dokumen resmi membuat kenyataan terasa jauh lebih menyakitkan.

“Jadi, selama ini…” Suaranya bergetar. “Ayah tahu?”

Dante tidak menjawab dengan tergesa-gesa.

“Aku tidak tahu apa yang dia ketahui,” katanya akhirnya. “Kita perlu memastikan dokumen ini asli.”

Bianca menatap akta tersebut sekali lagi. Di bagian bawah terdapat tanda tangan seorang saksi.

Gabriel Moretti.

Nama yang sama dengan pria yang mereka yakini telah meninggal dua belas tahun lalu.

Tiba-tiba, ponsel Marco berbunyi dari ruang depan.

“Don!” serunya. “Kita harus segera pergi!”

Dante langsung bergerak ke arah pintu. “Apa yang terjadi?”

Marco muncul di ujung lorong dengan wajah tegang.

“Seseorang baru saja mengirim foto rumah ini. Mereka tahu kita berada di sini.”

Bianca memasukkan dokumen itu ke dalam tasnya.

“Luciano?”

“Kami belum tahu,” jawab Marco.

Dante mengulurkan tangan kepada Bianca.

“Kita pergi sekarang.”

Namun, sebelum mereka mencapai pintu depan, suara mesin mobil terdengar dari luar. Beberapa kendaraan berhenti di halaman.

Dante menarik Bianca ke balik dinding dan mengeluarkan pistolnya.

Dari jendela, Bianca melihat seorang pria turun dari mobil paling depan. Ia mengenakan mantel abu-abu panjang dan membawa tongkat hitam.

Pria itu mengangkat wajah ke arah jendela, seolah mengetahui persis di mana Bianca berdiri.

Kemudian ponsel Bianca bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan takut, Bianca. Aku datang untuk mengembalikan sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu.

Pesan kedua muncul.

Namaku Rafael Moretti.

Bianca menatap pria di luar jendela, jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Pria itu mengangkat tangan, memperlihatkan sebuah liontin bulan sabit yang identik dengan milik Elena.

Lalu ia tersenyum tipis.

Dan mengucapkan sesuatu yang membuat Bianca membeku.

“Putriku, akhirnya kita bertemu.”

Bersambung — Bab 19: Ancaman untuk Sang Istri

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!