Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Bebas
Bip… Bip… Bip…
Suara monitor medis berulang‑ulang menggema di ruang perawatan yang terasa dingin menusuk tulang. Annabella berdiri di ambang pintu, matanya tak beralih dari sosok pria baya yang terbaring di ranjang. Alat bantu pernapasan terpasang di wajah Paman Aditya, menjadi satu‑satunya jembatan yang menahannya di antara hidup dan mati.
“Paman…”
Ia menarik kursi, lalu duduk perlahan di samping ranjang.
“Paman, ini Bella…” bisiknya di sela‑sela isak tangis.
“Bella sudah bebas, Paman.”
Tak ada jawaban. Hanya bunyi detak monitor yang terdengar, seolah menjadi satu‑satunya bukti bahwa jantung pria itu masih berdenyut.
Annabella menunduk, lalu mengecup punggung tangan pamannya berulang kali.
“Maafkan Bella, Paman…
Maaf karena apa yang telah Bella lakukan membuat Paman terluka seperti ini. Seandainya dulu Bella tidak melakukan kesalahan itu, mungkin Paman tidak akan mengalami semua ini.”
Suaranya pecah.
“Bella janji akan memperbaiki semuanya. Bella sudah berubah. Jadi tolong bangun, ya? Bella mohon…”
Namun Aditya tetap diam tak bergerak. Pria yang dulunya dikenal sebagai pengusaha sukses itu kini bahkan tidak sanggup membuka matanya sendiri. Kekayaan, kehormatan, dan bisnis yang ia bangun selama puluhan tahun telah runtuh seketika.
Annabella mengangkat wajah, matanya sudah sembap karena menangis.
Di balik kaca lorong, beberapa petugas medis lewat berjalan terburu‑buru. Dunia di luar sana terus bergerak maju, sementara dunianya seolah berhenti tepat di depan ranjang itu.
“Paman, jangan tinggalkan Bella sendirian. Bella sudah tidak punya Ibu dan Ayah. Bella hanya punya Paman.”
Tiba‑tiba sebuah suara dingin memotong dari belakang.
“Menangis tidak akan membuatnya bangun.”
Annabella tahu siapa pembicara itu tanpa perlu menoleh.
Lucian berdiri di ambang pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Jas hitam yang ia kenakan tampak rapi sempurna, sangat kontras dengan suasana pilu yang memenuhi ruangan.
Annabella cepat‑cepat menghapus air matanya, lalu berdiri menatap pria itu.
Lucian Winston.
Pemilik perusahaan teknologi besar yang berkuasa dan kaya raya. Satu‑satunya orang yang bersedia membiayai perawatan pamannya, sekaligus pria yang amat sangat membencinya.
Annabella melangkah mendekat.
Tanpa berkata apa‑apa lebih dulu, ia tiba‑tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapan Lucian.
“Tuan Lucian, kumohon…”
Lucian mengangkat satu alisnya.
Annabella menundukkan kepala, jari‑jarinya mencengkeram ujung celana pria itu sementara air mata kembali mengalir deras.
“Tolong selamatkan pamanku. Aku mohon padamu.”
Kebetulan seorang suster lewat di depan pintu, lalu berhenti terkejut melihat perempuan itu berlutut di depan pria yang terkenal kejam dan dingin itu.
Tapi Annabella tidak peduli. Harga dirinya sudah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa Paman Aditya.
“Aku menerima syaratmu. Aku akan menikah denganmu. Aku tidak akan menolak lagi. Kau boleh melakukan apa pun padaku, tapi tolong… jangan biarkan Paman meninggal.”
Lucian menatap sosok Annabella yang tampak lusuh berlutut di depannya. Selama tiga tahun belakangan, ia sudah membayangkan berbagai cara untuk membuat perempuan itu merasakan penderitaan yang menurutnya pantas diterima. Ia ingin melihat dunia Annabella hancur, ingin melihatnya kehilangan segalanya.
Perlahan, sudut bibir Lucian terangkat. Sebuah senyum miring muncul di wajah tampannya, sama sekali tidak membawa kehangatan. Bahkan ada sesuatu yang mengerikan di baliknya.
Suster yang masih berada di dekat pintu tiba‑tiba merasakan bulu kuduknya berdiri. Saat tatapan mereka tanpa sengaja bertemu, suster itu segera menunduk dan bergegas pergi, seolah baru saja menyaksikan hal yang tidak seharusnya ia lihat.
“Bagus,” ujar Lucian akhirnya.
Annabella mengangkat wajah dengan mata merah.
“Apa?”
“Kau akhirnya mulai mengerti keadaanmu.”
Lucian membungkuk sedikit, lalu mengulurkan tangan untuk mengangkat dagu perempuan itu.
“Berdirilah.”
Annabella bangkit dengan susah payah.
“Mulai sekarang, kau harus menuruti semua perkataanku. Tidak ada penolakan. Tidak ada perdebatan. Dan jangan pernah berpikir untuk melarikan diri,” lanjut Lucian dengan nada datar.
Annabella menggigit bibir bawahnya kuat‑kuat.
“Aku mengerti.”
“Bagus. Sekarang, bersiaplah.”
Annabella mengerutkan kening bingung.
“Bersiap untuk apa?”
“Bertemu orang tuaku.”
Wajah Annabella seketika memucat.
“Apa?”
“Kau tidak tuli, bukan?”
“Tidak… aku tidak mau.”
Annabella mundur beberapa langkah sambil menggeleng, napasnya mulai memburu.
“Tolong jangan paksa aku menemui mereka. Mereka membenciku. Mereka tidak akan pernah menerimaku, apalagi setelah semua yang terjadi pada adikmu.”
Orang tua Lucian. Mereka adalah orang‑orang yang paling menginginkan Annabella mendapat hukuman setimpal selama persidangan dulu. Ia masih ingat jelas tatapan kebencian yang pernah mereka berikan padanya.
Bagaimana mungkin sekarang ia harus berdiri di depan mereka sebagai calon istri putra mereka?
“Lucian, aku sudah setuju untuk menikah denganmu. Tapi bisakah kita tidak menemui mereka hari ini?”
Ekspresi wajah Lucian berubah menjadi jauh lebih dingin. Dalam satu gerakan cepat, ia maju lalu mencengkeram rahang Annabella, memaksanya mendongak hingga perempuan itu meringis kesakitan.
“Dengarkan aku baik‑baik,” desis Lucian.
“Kau sudah menyetujui syaratku. Jadi jangan bersikap seolah‑olah kau masih punya hak untuk memilih.”
Jari‑jarinya semakin mengerat.
“Pernikahan ini akan berjalan sesuai keinginanku. Kau akan menemui orang tuaku, kau akan menanggung apa pun yang mereka katakan, dan kau tidak akan mempermalukanku di depan mereka.”
Mata Annabella kembali berkaca‑kaca. Ia berusaha menahan rasa sakit di rahangnya, tapi tidak berani melawan.
Di dekat pintu, suster yang kembali untuk mengambil catatan medis tanpa sengaja melihat kejadian itu. Begitu tatapan Lucian beralih kepadanya, suster itu segera menunduk ketakutan lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lucian kembali menatap Annabella.
“Kalau kau menolak sekali lagi, detik itu juga aku akan menghentikan biaya perawatan pamanmu.”
Mendengar ancaman itu, Annabella tidak lagi berani menolak. Rasa sakit di rahangnya terasa lebih ringan dibanding ketakutan kehilangan satu‑satunya keluarga yang ia miliki. Ia ingin menangis sejadi‑jadinya, ingin berteriak bahwa Lucian tak berhak memperlakukannya seperti ini. Ia bukan barang yang bisa dibeli dan dipaksa tunduk hanya karena kesalahan masa lalunya.
_
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗