NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Nadira Prameswari sedang menikmati mi ayam di meja kerjanya ketika ponselnya bergetar tanpa henti.

Satu notifikasi.

Lima notifikasi.

Dua puluh tiga notifikasi.

Ia mengernyit, lalu membuka layar ponselnya.

Artikelmu viral!

Pesan dari Dimas muncul paling atas, disusul tautan artikel yang baru diterbitkan Level Up Media dua puluh menit lalu.

Judulnya terpampang besar:

VEX: RAJA ESPORTS ATAU PEMAIN YANG TERLALU PERCAYA DIRI?

Nadira hampir tersedak.

"Dim!"

Dimas muncul dari balik partisi mejanya dengan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya.

"Apa?"

"Kenapa judulnya begini?"

"Menarik, kan?"

"Ini artikel jurnalistik, bukan undangan duel!"

"Tenang. Isi tulisanmu tetap berdasarkan wawancara dan data pertandingan. Judulnya cuma bikin orang penasaran."

Nadira menatap layar lagi. Kolom komentar sudah dipenuhi perdebatan antara penggemar Vex dan orang-orang yang setuju dengannya.

Sebagian menyebutnya jurnalis berani.

Sebagian lain menyebutnya cari perhatian.

Ada juga yang menyarankan agar ia belajar bermain gim sebelum mengkritik pemain profesional.

Nadira menghela napas.

"Kenapa orang-orang menganggap kritik itu kejahatan?"

"Karena yang lo kritik punya jutaan penggemar," jawab Dimas santai. "Selamat menikmati popularitas."

"Gue enggak butuh popularitas."

"Bagus. Soalnya yang lo dapat mungkin juga ancaman kematian dari penggemar fanatik."

Dimas kembali ke mejanya sebelum Nadira sempat melempar bungkus mi ke arahnya.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Nomor Tidak Dikenal: Berani juga lo bikin judul begitu.

Nadira mengetik balasan.

Terima kasih. Saya memang berbakat.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Jangan senang dulu.

Nadira menyipitkan mata.

Ia membuka profil pengirim, tetapi tidak ada foto atau nama yang bisa dikenali.

"Penggemar fanatik?" gumamnya.

Ia mengabaikan pesan itu dan kembali bekerja.

Bagaimanapun, ia punya tenggat waktu dan dua artikel lain yang harus diselesaikan.

Ia tidak akan membiarkan satu pemain esports mengacaukan harinya.

Setidaknya, itulah rencananya.

Di markas ASTRAL, suasananya jauh lebih berisik.

"WOI, VEX! LO MASUK BERITA!"

Bima, salah satu anggota tim, menyodorkan ponselnya ke depan wajah Raka.

Raka yang sedang memeriksa strategi pertandingan menggeser layar itu menjauh.

"Gue bisa baca sendiri."

"Judulnya sadis, anjir."

"Berisik."

Bima tertawa sambil membaca komentar.

"Katanya lo raja yang enggak bisa dikritik. Ada yang bilang lo butuh kursus komunikasi. Wah, ini parah. Ada yang bikin meme muka lo!"

Raka akhirnya mengambil ponsel tersebut.

Ia membaca judul artikel itu sekali.

Lalu dua kali.

Rahangnya mengeras.

Bukan karena seluruh isi tulisan itu salah. Justru bagian yang paling mengganggunya adalah beberapa kritik Nadira yang masuk akal.

Ia tidak suka mengakuinya, tetapi perempuan itu melakukan riset dengan baik.

Namun, judulnya tetap terasa seperti tantangan terbuka.

"Siapa yang kasih dia akses ke rekaman pertandingan kita?" tanya Raka.

"Rekaman publik, kali," jawab Bima. "Memangnya kenapa?"

Raka mengembalikan ponsel itu.

"Enggak kenapa-kenapa."

"Lo mau bikin pernyataan?"

"Enggak."

"Live streaming buat klarifikasi?"

"Enggak."

"Bikin video permintaan maaf?"

Raka menatapnya tajam.

Bima langsung mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Gue diam."

Raka kembali menatap monitor, tetapi konsentrasinya sudah berantakan.

Ia membuka artikel itu dari komputernya sendiri.

Nadira menuliskan statistik pertandingan, menganalisis beberapa keputusan yang ia ambil, lalu menutup artikel dengan satu pertanyaan:

Jika Vex ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemain berbakat dengan ego besar, mungkin ia harus mulai menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya tentang siapa yang paling hebat, tetapi juga siapa yang mampu membuat timnya lebih baik.

Raka membaca kalimat itu berulang kali.

"Dia pikir dia tahu segalanya," gumamnya.

"Siapa?" tanya Bima.

"Enggak ada."

Raka menutup halaman artikel.

Dua detik kemudian, ia membukanya lagi.

Menyebalkan.

Benar-benar menyebalkan.

Pukul 16.05 WIB, Nadira menerima telepon dari Dimas.

"Lo masih di kantor?"

"Iya. Kenapa?"

"Tim ASTRAL baru menghubungi kita."

Nadira langsung menegakkan tubuh.

"Mereka mau protes?"

"Lebih aneh."

"Apa?"

"Mereka mengundang lo datang ke sesi latihan terbuka besok. Katanya, Vex bersedia menjawab pertanyaan lanjutan."

Nadira terdiam.

Kemudian, ia tertawa pendek.

"Dia mau debat lagi?"

"Entahlah. Tapi ini kesempatan bagus. Kita bisa bikin artikel lanjutan."

Nadira mengetuk meja dengan ujung pulpen.

Ada dua kemungkinan.

Pertama, Raka ingin memperbaiki citranya.

Kedua, laki-laki itu ingin membuktikan bahwa Nadira salah.

Melihat kepribadian Raka yang ia temui pagi tadi, Nadira bertaruh pada kemungkinan kedua.

"Baik," jawabnya. "Aku datang."

"Jangan cari masalah."

"Gue enggak pernah cari masalah, Dim."

"Masalah yang selalu menemukan lo, ya?"

"Tepat sekali."

Ia menutup telepon sambil tersenyum puas.

Besok, ia akan kembali bertemu Raka Adhitama.

Dan kali ini, ia datang dengan lebih banyak pertanyaan.

Di tempat lain, Raka berdiri di depan jendela ruangannya, memandang lalu lintas Jakarta yang mulai padat.

Ponselnya berada di tangan, menampilkan halaman profil Nadira Prameswari.

Ia tidak tahu kenapa dirinya mencari tahu tentang perempuan itu.

Mungkin karena ingin memahami cara berpikirnya.

Mungkin karena ingin menemukan kelemahan dalam tulisannya.

Atau mungkin karena ia sekadar penasaran.

Raka mengunci layar ponsel.

Tidak penting.

Besok, ia akan memastikan Nadira mengerti bahwa ada perbedaan antara mengkritik dari luar arena dan menghadapi tekanan di dalamnya.

Ia akan membuat perempuan itu menarik kembali setiap kata yang meragukan kemampuannya.

Sementara itu, Nadira sedang menyiapkan daftar pertanyaan baru, sama sekali tidak berniat menarik kembali satu pun kritiknya.

Dua orang keras kepala.

Dua tujuan berbeda.

Satu pertemuan yang kemungkinan besar akan berakhir dengan perdebatan.

Dan tanpa mereka sadari, keduanya mulai menantikan hal yang sama.

Kesempatan untuk bertemu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!