Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Day
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Beberapa hari berlalu sejak kejadian yang tidak mengenakkan di ruang komunitas. Pagi itu, sinar matahari merembes melalui celah tirai kamar Otsuki. Ia terbangun dari tidurnya, lalu duduk termenung di tepi kasur dengan tatapan kosong menerawang ke depan, membiarkan pikirannya melayang tanpa arah.
Di tengah keheningan pagi kamarnya, suara notifikasi ponsel yang terletak di nakas mendadak berdering nyaring. Otsuki meraih ponselnya dengan malas dan membuka pesan masuk dari Evelia, teman dekatnya.
"Otsuki! Bangun, dong! Minggu ini bakal ada event cosplay besar di kota, kamu sudah tahu belum?" tulis Evelia di pesan tersebut.
Otsuki mengetikkan balasan dengan senyuman tipis di bibirnya, meski ada sedikit keraguan di hatinya karena statusnya yang sudah dikeluarkan dari komunitas. "Entahlah, Evelia... Aku masih belum tahu mau datang ke sana atau tidak minggu ini."
Tak berselang lama, balasan dari Evelia langsung masuk disertai kiriman stiker bergambar karakter cemberut yang merajuk.
"Ih, kok malah ragu-ragu begitu sih?! Pokoknya kamu harus ikut menemani aku, Otsuki! Jangan kebiasaan sendiri terus di rumah," omel Evelia lewat pesan teks dengan nada memaksa namun penuh perhatian. "Belakangan ini marak banget laporan soal kasus pelecehan dan oknum penguntit meresahkan di berbagai event, jadi aku bakal ngeri kalau harus datang sendirian. Temani aku ya, please?"
Otsuki mengetikkan balasan dengan cepat, merasa heran mengapa masalah seberat itu hanya diselesaikan dengan saling merajuk di chat. "Kenapa tidak laporin ke pihak berwajib atau polisi saja sekalian kalau memang pelakunya sudah meresahkan begitu?"
Pesan itu langsung dibalas oleh Evelia hampir seketika, menunjukkan betapa seriusnya ia menanggapi situasi tersebut. "Ya ampun, Otsuki... kamu kira semudah itu memangnya? Pihak yang mengalaminya pasti punya alasan tersendiri kenapa mereka tidak berani melapor. Bisa jadi karena mereka kekurangan bukti yang kuat, takut disudutkan, atau yang paling parah, mereka masih terjebak dalam rasa trauma mendalam setelah kejadian itu. Tidak semua orang punya mental untuk langsung berurusan dengan aparat."
Otsuki hanya terdiam membaca rentetan pesan panjang dari temannya itu. Ia tidak lagi mengetik balasan, memilih untuk sekadar membaca tanpa memberikan komentar lebih lanjut karena merasa topik tersebut terlalu berat untuk dibahas lewat layar ponsel.
Melihat obrolannya hanya dibaca tanpa balasan, Evelia menghela napas panjang penuh kekecewaan. Ia melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur empuk di kamarnya.
Evelia kemudian membalikkan badan, menatap lurus ke arah gantungan baju di sudut kamar tempat sebuah kostum detail lengkap tergantung rapi. Kostum keren itu baru saja ia sewa khusus untuk event akhir pekan ini dari Megane Cosrent. Sambil melipat kedua tangan di dada, ia bergumam pelan seorang diri dengan nada cemas, "Haah... kalau Otsuki beneran ogah nemenin, kira-kira aku bakal aman nggak ya nanti pas pakai kostum ini di tengah kerumunan event?"
Di sisi lain kamar yang remang, Otsuki membiarkan ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh begitu saja ke atas permukaan kasurnya yang empuk. Ia langsung merebahkan tubuhnya dengan malas, menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos sementara pikirannya melayang memikirkan pesan dari Evelia tentang rentetan masalah keamanan di event cosplay.
Belum sempat ia menikmati keheningan kamarnya lebih lama, suara ketukan dan panggilan nyaring terdengar dari arah luar.
"Otsuki! Sarapannya sudah siap di meja, cepat keluar kalau tidak mau kehabisan!" teriak Araya, kakak perempuannya, dari arah dapur dengan nada suara yang setengah mendesak.
Otsuki sedikit pun tidak berniat untuk bangkit. Ia hanya melirik malas ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, menghela napas panjang, lalu kembali memejamkan kedua matanya rapat-rapat untuk mengabaikan panggilan tersebut.
Beberapa menit berlalu tanpa ada tanda-tanda Otsuki akan beranjak dari tempat tidurnya. Kesabaran Araya akhirnya habis. Wanita berambut pirang dengan kacamata itu berjalan menghampiri kamar adiknya, membuka pintu dengan dorongan kuat, lalu dengan sigap menggedor-gedor daun pintu berkali-kali untuk membangunkan Otsuki.
"Otsuki! Jangan jadi pemalas begini, kuperingatkan kamu ya, sarapannya keburu dingin kalau kamu terus-terusan tidur seperti mayat hidup!" seru Araya dengan suara menggelegar.
Alih-alih bangun, Otsuki justru merengut di balik selimutnya. Ia membalikkan badan, membelakangi Araya, lalu menarik selimut tebal itu hingga menutupi kepala dan seluruh tubuhnya dengan rapat. "Biarkan aku tidur, Kak... Aku masih ngantuk dan nggak punya selera makan," gerutunya dari balik selimut dengan nada malas.
Melihat adiknya yang keras kepala, Araya menyunggingkan senyuman licik di sudut bibirnya. Ia tahu persis umpan apa yang paling ampuh untuk menarik perhatian adiknya yang apatis itu. Dengan nada santai namun penuh godaan, Araya berujar, "Wah, padahal Kakak baru saja selesai merampungkan jahitan kostum kesukaanmu yang paling baru... Tuh, Black Suit keren yang pas banget buat kamu pakai event nanti."
Seketika itu juga, pergerakan di balik selimut terhenti. Dalam sepersekian detik, Otsuki langsung membuka matanya lebar-lebar, menyibakkan selimutnya dengan gerakan kilat, lalu bangkit beranjak dari kasur. Ia menoleh tajam ke arah kakaknya dengan binar mata penuh antusias, persis seperti seekor kucing rumahan yang mendadak menoleh saat mendengar bunyi mangkuk makanannya diguncang.
"Tunggu! Seriusan?! Black Suit yang itu sudah jadi?!" tanya Otsuki dengan suara berbinar-binar, rasa ngantuknya langsung menguap entah ke mana.
Araya mengangguk dengan bangga, melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi adiknya yang langsung berubah drastis. Sebagai seorang kakak yang paling mengerti adiknya, ia sangat paham kalau Otsuki selama ini selalu merasa kurang nyaman dan canggung jika harus mengenakan kostum karakter yang terlalu terbuka atau rumit.
"Tentu saja serius, makanya cepat bangun," jawab Araya dengan nada santai. Ia lalu merapikan letak kacamatanya sambil menghela napas pelan. "Tapi, kamu juga harus tahu batasannya ya. Kakak kan cuma bisa membuatkan sebatas Black Suit simpel atau suit formal biasa seperti itu. Kakak tidak akan sanggup kalau disuruh membuat kostum yang desainnya ribet dan sedetail karakter game atau anime populer."
Otsuki mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, menatap sang kakak dengan pandangan maklum. "Iya, Kak, aku paham kok. Kalau kostum yang modelnya terlalu rumit dan banyak aksesoris begitu, memang jauh lebih baik beli jadi atau comission langsung ke costume maker profesional yang sudah berpengalaman."
Melihat adiknya sudah sepenuhnya sadar dan obrolan mereka mulai melebar ke mana-mana, Araya kembali menunjuk ke arah pintu kamar dengan dagunya.
"Nah, kalau urusan kostum sudah jelas, sekarang giliran kamu menuruti perintah Kakak. Cepat cuci muka sana, lalu segera ke meja makan karena Kakak sekali lagi menyuruhmu untuk makan sebelum makanannya benar-benar dingin!" tegas Araya dengan nada mutlak, lalu berbalik meninggalkan kamar Otsuki.