NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cahaya biru meredup di atas ranjang. Butir-butir perak yang tadi menyelimuti tubuh Lastri naik satu per satu, mengalir kembali ke tangan Elang, dan menyatu menjadi lapisan tipis di lengannya. Lalu lapisan itu menggelap dan hilang di balik lengan kemeja.

Napas Lastri naik dan turun teratur. Pipinya masih pucat, tetapi pucat orang yang sedang tidur, bukan pucat yang membuat orang takut menyentuhnya.

Elang menggulung turun lengan bajunya dan merapikan manset. Ia membuka kunci pintu.

"Masuk."

Orang-orang tertahan di ambang pintu, saling menahan, sampai Pak Wijaya mendorong bahu pengawalnya dan masuk lebih dulu. Dokter Hendra menyusul tepat di belakangnya. Dasinya miring, dan ada bekas sepatu di punggung jas putihnya.

Ia melihat ranjang itu. Lastri masih terbaring, matanya terpejam, tidak bergerak.

Dokter Hendra tertawa.

"Lihat! Lihat, dia tidak bangun!" Ia menunjuk ke ranjang dengan tangan gemetar karena puas. "Sudah saya duga. Pembohong! Anak ini hanya..."

"Jadi kau senang," potong Elang. Ia berdiri dengan tangan di saku, wajahnya tenang. "Putri Pak Wijaya tidak bangun, dan kau senang."

Tawa itu patah di tengah. Pak Wijaya menoleh perlahan, dan sorot matanya turun ke wajah dokter itu seperti pisau yang ditarik dari sarungnya.

"Bukan..." Dokter Hendra menarik tangannya. "Bukan begitu maksud saya, Pak. Saya hanya..."

"Kenapa ribut-ribut..." Suara itu kecil, serak, dan terdengar dari ranjang.

Semua orang berhenti bernapas.

Kelopak mata Lastri bergerak, sekali, dua kali. Ia mengerjap pelan menatap langit-langit, lalu menoleh ke arah orang-orang yang berdiri membeku di kamarnya. Bibirnya yang pecah-pecah mengerut, bingung.

"Ayah?"

Pak Wijaya mendorong Dokter Hendra ke samping tanpa melihatnya. Dokter itu terhuyung dan menabrak troli instrumen, dan botol-botol kecil berdenting di atasnya. Pak Wijaya sampai di ranjang dalam tiga langkah, memeluk putrinya, dan tubuh lelaki enam puluhan itu mulai berguncang.

"Lastri. Lastri, kau bangun. Kau..." Kalimat itu tidak selesai. Ia menyembunyikan wajahnya di rambut putrinya, di pita biru yang selalu ada di sana, dan suaranya tinggal napas terputus.

"Ayah, jangan menangis." Lastri mengangkat tangan, ragu, lalu menepuk punggung ayahnya.

Pak Wijaya menarik diri. Ia memegang wajah putrinya dengan kedua telapak tangan. "Bagaimana rasanya? Sakit? Ada yang sakit?"

Lastri berpikir sebentar. Ia mengangkat tangannya ke depan wajah, memutarnya, menggerakkan jari satu per satu, seperti baru menemukan benda itu.

"Tidak sakit." Ia tertawa kecil, kaget pada suaranya sendiri. "Badanku... ringan sekali. Dan kuat. Rasanya seperti baru lahir lagi, Yah."

Dokter Hendra berdiri di dekat troli dengan mulut sedikit terbuka. Tidak ada kata yang keluar. Perawat-perawat di belakangnya saling menggenggam lengan.

Elang memperhatikan semuanya dari jarak dua langkah, dan satu sudut bibirnya naik.

'Sehebat itu.' Ia menurunkan pandangan ke tangan kanannya sendiri, ke kain hitam yang tampak biasa saja. 'Aku sendiri tidak menyangka.'

Pak Wijaya berdiri, menyeka matanya dengan punggung tangan, dan berbalik menghadap Elang. Rambut peraknya berantakan. Wajahnya basah.

"Anak muda." Ia menarik napas, sekali. "Aku berutang nyawa putriku padamu. Dua kali hari ini kau menyelamatkan nyawa di keluargaku. Apa pun yang kau minta, aku akan melakukannya."

Elang melangkah ke depan dan menaruh tangannya di bahu lelaki itu lagi, ringan, seperti sebelumnya.

[Permintaan dijalankan...]

[Subjek Wijaya memiliki mental yang sangat kuat. Keberhasilan: 0%.]

[Permintaan gagal.]

[Kuota tersisa: 3/5.]

Elang menghembuskan napas lewat hidung. Ia menarik tangannya.

'Masih sama.' Ia menatap kerutan di sudut mata lelaki itu. 'Setelah semua ini pun, ia tidak mau tunduk. Menarik.'

Ia tidak menyesal. Ia hanya berpikir, cepat dan dingin, tentang jalan yang lain.

Pandangannya bergeser, ke ranjang, ke gadis yang kini duduk bersandar pada bantal dengan pipi mulai memerah.

"Pak Wijaya." Elang berhenti satu langkah di sebelah ranjang. Ia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh punggung tangan Lastri, seolah memeriksa nadinya. "Aku meminta agar Lastri menjadi tunanganku."

Suara itu datar, seperti orang menyebut harga.

[Permintaan dijalankan...]

[Subjek Lastri memiliki mental yang lemah. Keberhasilan: 71%.]

[Permintaan berhasil.]

[Kuota tersisa: 2/5.]

Pak Wijaya terdiam sebentar. Alisnya bertaut, tetapi ia tidak marah. Ia hanya melihat ke putrinya, lalu ke Elang, dan akhirnya mengangguk pelan.

"Aku tidak akan menolak orang yang menyelamatkan putriku," katanya. "Tapi ini bukan keputusanku. Lastri yang menentukan. Dia sudah dua puluh empat tahun, dan dia bisa menentukan hidupnya."

Elang menoleh pada Lastri.

Gadis itu menatap ke depan. Matanya terbuka, jernih, tetapi tidak ada apa pun di dalamnya. Beberapa detik berlalu, cukup lama untuk didengar detik jam.

Lalu ia mengangkat wajah dan bertemu mata Elang.

"Iya," katanya. "Aku mau."

Elang menatapnya sedikit lebih lama dari yang ia rencanakan. Kemudian ia menurunkan pandangan, menganggukkan kepala, dan senyumnya kembali dingin, rapi.

'Efek sesaat. Wajar.'

Pak Wijaya berdeham, merapikan jasnya yang kusut.

"Aku akan mengantar Lastri pulang. Dokter Hendra akan memeriksanya sekali lagi di rumah." Ia menoleh ke pintu. "Darman."

Seorang lelaki bertubuh tegap melangkah maju dan menunduk.

"Antarkan Tuan Elang ke mansion yang sudah kusiapkan. Sekarang. Kunci dan dokumennya sudah ada di laci mobil." Pak Wijaya menatap Elang sekali lagi. "Rumah itu milikmu sejak hari ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!