Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 18
Pukul sepuluh pagi lewat sepuluh menit, pintu lift terbuka di lantai 42 Nusantara Tower. Reyden melangkah keluar dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya, meski sisa-sisa kegelisahan masih membakar dadanya. Keputusan sudah ia ambil, ia akan menyelesaikan rapat ini secepat dan seprofesional mungkin, lalu bergegas pulang untuk menebus kesalahannya pada Misya.
Di ruang rapat utama yang megah dengan meja marmer panjang, tim dari Nusantara Production House sudah menempati kursi mereka. Di antara jajaran staf agensi tersebut, tampak sosok Merlyn, sepupu Reyden duduk dengan senyuman penuh percaya diri, memegang sebuah map dokumen di pangkuannya. Kehadiran Merlyn di tim kreatif proyek ini memang merupakan rekomendasi langsung dari Aurelia, sesuatu yang belakangan sangat disesali Reyden karena tingkah usil sepupunya itu.
Tak lama kemudian, Aurelia Parlita Handoko melangkah masuk dengan anggun, mengenakan blazer berwarna navy yang pas di badan. Wanita itu tersenyum ramah ke arah Reyden.
"Selamat pagi, Pak Reyden. Senang bisa memulai pembahasan draf final kita hari ini," sapa Aurelia begitu ia duduk di kursi utama seberang Reyden.
Reyden mengangguk singkat, memasang ekspresi profesional sedingin es. "Selamat pagi. Mari kita langsung mulai. Waktu saya terbatas hari ini, jadi pastikan semua poin revisi langsung dibahas secara efisien."
Aurelia sedikit mengerjap, terkejut dengan nada bicara Reyden yang begitu kaku dan terburu-buru. Namun ia hanya tersenyum tipis, menganggapnya sebagai tekanan pekerjaan biasa.
"Baiklah, mari kita tinjau lampiran anggaran dan konsep visualnya," ujar Aurelia sambil membuka tabletnya.
"Merlyn, bisa tolong jelaskan bagian poin revisi creative layout yang kemarin kamu ajukan?"
Merlyn yang namanya dipanggil langsung menegakkan punggungnya. Ia melirik sekilas ke arah Reyden dengan seringai licik yang hampir tidak kasat mata, lalu mulai berbicara dengan nada sok profesional.
"Tentu, Mbak Aurel," kata Merlyn, lalu menatap langsung ke arah Reyden.
"Untuk layout promosi kampanye produk, kami sepakat dengan Mbak Aurel bahwa konsepnya harus menonjolkan estetika kemewahan yang elegan, mirip seperti konsep branding yang dulu pernah sukses besar dikerjakan Pak Rey dan Mbak Aurel lima tahun lalu. Benar begitu kan, Pak Rey? Kalian kan duo dynamic yang paling klop dari dulu."
Senggolan halus bernada provokatif itu terlontar begitu saja di hadapan seluruh anggota rapat. Beberapa staf saling berpandangan kikuk, sementara Anggara yang duduk di sebelah Reyden langsung berdehem keras untuk menutupi ketegangan.
Darah Reyden mendesak naik ke kepalanya. Urat-urat di pelipisnya menegang. Sebelum Merlyn sempat melanjutkan kalimat lancangnya, Reyden memotong dengan suara bariton rendah yang menggelegar dingin di dalam ruang rapat.
"Merlyn," panggil Reyden tajam, membuat seluruh isi ruangan terkesiap.
"Kita sedang berada dalam forum rapat resmi perusahaan, bukan sedang membicarakan masa lalu atau urusan personal. Kalau kamu tidak bisa membedakan mana ranah profesional dan mana gosip murahan, saya bisa langsung keluarkan kamu dari tim proyek ini sekarang juga."
Seketika, suasana di dalam ruang rapat berubah menjadi sedingin es. Merlyn memucat pasi, bibirnya terbuka namun tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun di bawah tatapan tajam dan mematikan dari sang sepupu.
Aurelia segera turun tangan untuk mendinginkan suasana, meski hatinya sendiri merasa tertohok oleh sikap dingin Reyden.
"Ehem... Rey, maksud Merlyn mungkin hanya ingin mereferensikan standar estetika sukses dari proyek lama kita agar bisa diterapkan kembali. Tidak perlu sampai emosi," bela Aurelia halus, mencoba melunak.
Reyden menoleh menatap Aurelia lekat-lekat. Tidak ada sisa kelembutan atau kenangan masa lalu di manik mata hitam pria itu; yang ada hanyalah ketegasan mutlak.
"Standar profesionalisme tidak butuh nostalgia, Aurelia," jawab Reyden tanpa ampun.
"Fokus saja pada substansi kontrak saat ini. Saya tidak tertarik membahas masa lalu dengan siapa pun di ruangan ini."
Skakmat telak. Aurelia terdiam seribu bahasa, menelan ludah dengan susah payah di hadapan para stafnya yang kini menunduk takut melihat ketegasan CEO Nusantara itu.
Rapat yang tersisa berjalan dalam keheningan total yang mencekam. Tidak ada lagi yang berani melayangkan candaan atau menyelipkan kalimat-kalimat di luar konteks pekerjaan.
Rapat berjalan alot. Aurelia menjelaskan poin-poin ide kreatifnya dengan gestur tangan yang anggun. Sesekali, Aurelia memiringkan tubuhnya mendekat ke arah meja Reyden untuk menunjukkan bagan di dalam draf dokumen, membuat posisi duduk mereka tampak begitu dekat dari sudut pandang tertentu.
Tanpa disadari oleh Reyden maupun Aurelia, Merlyn yang duduk di barisan kursi samping sibuk memperhatikan gerak-gerik mereka. Matanya berbinar licik melihat momen saat Aurelia berdiskusi intens dengan Reyden di ujung meja rapat.
Bagi Merlyn, ini adalah kesempatan emas untuk semakin menghancurkan mental Misya. Tanpa membuang waktu, ia mengarahkan kamera ponselnya diam-diam, mengambil sudut foto (angle) yang pas agar Reyden dan Aurelia terlihat amat dekat dan mesra di dalam ruang rapat tersebut.
Cekrek.