Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Cap Mandul
Bunga delima itu meninggalkan noda merah di atas hasil pemeriksaan Sekar.
Ia baru hendak membersihkannya ketika panggilan Wida terdengar lagi dari dalam paviliun.
"Sekar! Eyang tidak suka menunggu."
Sekar memasukkan laporan RS Medika Prima ke dalam map. Enam tahun lalu, Rendra menanam pohon itu sambil menjanjikan rumah yang ramai oleh anak-anak. Hari ini, ia dipanggil menghadap keluarga karena rumah mereka tetap sunyi.
Ruang utama Danuwijaya terasa terlalu dingin. Eyang Sri duduk di kursi jati besar, punggungnya lurus meski usianya sudah lanjut. Wida berdiri di sebelahnya. Dua pelayan menunggu dekat pintu, cukup jauh untuk berpura-pura tidak mendengar, cukup dekat untuk membawa setiap ucapan ke dapur.
"Duduk," perintah Eyang Sri.
Sekar duduk di ujung sofa.
"Enam tahun," kata perempuan tua itu. "Eyang sudah memberimu enam tahun."
Jari Sekar mengencang pada map di pangkuannya. "Saya tidak pernah berhenti berobat, Eyang."
"Jangan sebut berobat kalau hasilnya tetap sama," sela Wida. "Setiap bulan Mama melihatmu membeli vitamin, pergi ke dokter, menghitung masa subur. Mana hasilnya?"
Sekar membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar laporan. "dr. Laksmi, Sp.OG sudah memeriksa saya. Tidak ada gangguan berarti. Beliau menyarankan agar saya dan Mas Rendra menjalani pemeriksaan sebagai pasangan."
Wida tidak menyentuh kertas itu.
"Apa maksudmu? Kamu mau bilang anak Mama yang bermasalah?"
"Saya hanya menyampaikan saran dokter."
"Dokter bisa salah. Fakta di rumah ini tidak salah. Kamu yang enam tahun tidak hamil."
Kalimat terakhir sengaja diucapkan lebih keras. Salah satu pelayan menunduk. Yang lain melirik cepat sebelum kembali menatap lantai.
Eyang Sri mengetukkan ujung tongkat ke marmer. "Cukup. Kita tidak sedang mencari siapa yang harus dipersalahkan. Kita mencari jalan keluar demi keturunan dan nama baik keluarga."
Namun mata Eyang hanya tertuju kepada Sekar. Semua orang di ruangan itu tahu siapa yang telah dipilih sebagai pihak yang bersalah.
Ponsel Sekar bergetar. Grup WhatsApp keluarga kembali ramai. Sebuah foto dari acara arisan kemarin muncul, memperlihatkan tiga sepupu Rendra menggendong bayi. Di bawahnya seseorang menulis, `Semoga tahun depan semua menantu bisa membawa cucu, bukan hanya tas bermerek.`
Emoji tertawa memenuhi layar.
Wida sempat melihatnya. Alih-alih menegur, ia berkata, "Mereka hanya bercanda. Jangan terlalu sensitif."
Sekar membalikkan ponsel. "Candaan itu selalu mengarah kepada saya, Ma."
"Kalau kamu memberi keluarga ini anak, tidak ada yang akan bercanda seperti itu."
Dada Sekar seperti ditekan benda berat. Di RS Medika Prima dua minggu lalu, dr. Laksmi telah menatapnya dengan prihatin.
"Bu Sekar, hasil hormon, USG, dan pemeriksaan lainnya masih dalam batas baik," kata dokter itu. "Evaluasi infertilitas seharusnya dilakukan pada kedua pasangan. Pak Rendra perlu datang untuk analisis sperma."
"Saya sudah memintanya tiga kali."
"Minta lagi. Ini bukan hanya tanggung jawab perempuan."
Sekar membawa kalimat itu pulang seperti membawa payung di tengah badai. Sayangnya, di rumah Danuwijaya, tidak seorang pun mau berdiri di bawah payung yang sama.
"Simpan laporanmu," ujar Eyang Sri. "Kertas tidak bisa meneruskan nama keluarga."
Sekar memasukkan kembali laporan tersebut. Sudut kertas yang terkena bunga delima tampak seperti cap merah.
"Lalu apa yang Eyang inginkan dari saya?"
Wida dan Eyang Sri saling berpandangan.
"Hari ini akan ada tamu," jawab Wida. Suaranya mendadak lembut. "Mama harap kamu menerimanya dengan sopan. Jangan membuat keributan."
"Siapa?"
"Nanti kamu juga tahu."
Senyum tipis di bibir Wida membuat tengkuk Sekar meremang.
***
Rendra pulang mendekati tengah malam. Sekar menunggunya di kamar dengan lampu meja menyala dan laporan pemeriksaan terbuka di antara mereka.
"Mas, kita harus bicara."
Rendra melonggarkan dasi. "Besok saja. Aku lelah."
"Besok selalu menjadi alasanmu. dr. Laksmi meminta kita diperiksa bersama. Aku sudah membuat jadwal untuk Jumat."
Rendra berhenti. "Aku ada rapat."
"Jadwalnya bisa disesuaikan."
"Sekar." Ia mengembuskan napas, seolah permintaan istrinya merupakan beban lain setelah sehari penuh bekerja. "Jangan mulai lagi."
"Aku tidak sedang menuduhmu. Aku meminta kita mencari jawaban bersama."
"Aku tahu tubuhku sehat."
"Dari mana kamu tahu kalau belum pernah diperiksa?"
Rendra menatapnya tajam. Sekar menunggu, berharap lelaki itu akan melihat betapa lelahnya ia menanggung semua pemeriksaan sendirian. Namun Rendra justru mengambil ponselnya dari meja.
"Sabar, ya. Jangan memperbesar masalah."
"Keluargamu memanggilku mandul di depan pelayan. Di grup keluarga, mereka mempermalukanku setiap hari. Bagian mana yang menurutmu kecil?"
"Eyang dan Mama hanya ingin cucu. Kamu tahu bagaimana keluarga kita."
"Lalu kamu? Apa yang kamu inginkan?"
Rendra tidak menjawab. Layar ponselnya menyala karena sebuah pesan. Ia segera membalikkan layar sebelum Sekar dapat membaca nama pengirimnya.
"Aku tidur di ruang kerja malam ini," katanya.
Pintu tertutup, meninggalkan aroma parfum yang tidak dikenal pada kemejanya.
Keesokan siangnya, Wida bersikap aneh. Ia meminta bunga segar diganti, teh terbaik diseduh, dan semua pelayan berdiri rapi di serambi depan. Ketika Sekar turun, ibu mertuanya bahkan merapikan kerah bajunya sendiri.
"Ingat," bisik Wida. "Tersenyumlah."
Suara mobil memasuki halaman.
Jantung Sekar berdetak tidak teratur. Eyang Sri keluar dari ruang utama, sedangkan Wida bergegas ke serambi dengan senyum yang belum pernah diberikannya kepada Sekar.
Sebuah sedan hitam berhenti.
Pintu belakang dibuka oleh sopir. Sepasang sepatu hak tinggi menyentuh batu teras. Gerakannya pelan, hati-hati.
Kemudian seorang perempuan turun sambil menyangga pinggangnya.
Satu tangan bertumpu di bawah perut yang membuncit tinggi.