NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uang Darah

Aris keluar melalui pintu belakang klinik, membiarkan kebisingan barikade polisi Sektor Selatan tetap berada di area depan dermaga pelabuhan lama.

Di bawah guyuran gerimis malam yang kian mendingin, dia berjalan kaki cepat menuju jalan raya utama untuk mencegat taksi kota yang lewat.

Dia sengaja bergerak sendirian. Mengajak Bramantyo hanya akan membahayakan nyawa sang wartawan senior, dan operasi penyusupan ke jantung pertahanan musuh membutuhkan kerahasiaan total yang tidak boleh terabaikan oleh gerak-gerik orang awam.

Tangan kanannya meraba saku jaket kulit cokelatnya, memastikan kunci tua Kamar 204 masih aman di sana bersama revolver kaliber miliknya yang sudah diisi ulang dengan peluru cadangan.

Tiga puluh menit kemudian, taksi yang ditumpanginya berhenti di seberang jalan Hotel Marunda Indah. Bangunan hotel kelas bawah berlantai tiga itu, dengan lampu neon papan namanya yang berkedip-kedip tidak stabil.

Aris turun, merapatkan kerah jaketnya, dan menyelinap masuk melalui pintu samping dekat area jemuran dapur agar tidak memicu kecurigaan resepsionis di lobi depan yang mungkin saja merupakan informan suruhan Sekretaris Kota, Drs. Mulya.

Suasana tangga beton menuju lantai dua terasa sangat sunyi, Aris melangkah, memanfaatkan bunyi kipas angin langit-langit yang berputar untuk menyamarkan langkah sepatu larsnya.

Begitu sampai di koridor lantai dua, langkah kaki Aris memelan. Cahaya lampu koridor yang temaram menangkap pintu kayu tua bertuliskan angka 204 di ujung lorong.

Sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang sangat bersih terletak rapi di depan keset pintu Kamar 204. Pintu kamar itu sendiri tampak sedikit merenggang, menyisakan celah yang memancarkan cahaya lampu kuning dari dalam ruangan. Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi tampaknya sudah berada di dalam kamar komando logistik hitam tersebut mendahului kedatangannya.

Aris merapatkan tubuhnya ke dinding di samping kusen Kamar 204. Gerakan tubuhnya diatur sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara pada lantai kayu lorong hotel.

Dia mematikan senter National di pergelangan tangannya, lalu perlahan mencondongkan kepala untuk mengintip melalui celah pintu yang merenggang sekitar dua sentimeter.

Di dalam kamar diterangi lampu meja, seorang pria berambut klimis dengan setelan kemeja batik sutra lengan panjang sedang berdiri membelakangi pintu. Pria itu adalah Drs. Mulya, Sekretaris Kota Marunda.

Di atas ranjang hotel yang berantakan, koper diplomatik hitam berukuran besar terbuka, memperlihatkan tumpukan uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah baru dan beberapa bundel sertifikat tanah kosong.

"Semua dana taktis proyek sudah aman di koper ini," ucap Drs. Mulya ke arah gagang telepon merah yang didekap di telinganya.

Suaranya terdengar menahan amarah yang meluap. "Siaran radio bajingan Bramantyo itu membuat balai kota dikepung massa. Kita harus mengosongkan rekening sisa dinasti Hadiningrat malam ini juga sebelum tim penuntut pusat mendarat."

Aris menahan napas, matanya mengunci setiap detail di dalam ruangan, fokusnya mendadak teralih ketika Drs. Mulya berbalik sedikit, menyingkap area ruangan di dekat lemari pakaian.

Di sana, dalam kondisi terduduk di kursi dengan mulut tersumpal kain dan tangan terikat erat, terdapat Pak Subroto, Kepala Logistik Dinas Pekerjaan Umum. Wajah pria tua itu lebam. Drs. Mulya tampaknya telah menculik Pak Subroto untuk mencari tahu sejauh mana Aris berhasil melacak nomor seri gembok besi di pekarangan belakang rumah Ratna.

"Jika Detektif Aris datang ke hotel ini mencari Anwar, habisi dia langsung di koridor," perintah Drs. Mulya kepada seseorang yang berdiri di sudut gelap kamar, seorang pria bertubuh besar memegang senapan gentel (shotgun) laras ganda yang siap menyalak.

Aris tahu, dia tidak bisa lagi menunda waktu. Nyawa Pak Subroto berada di ujung tanduk, dan seluruh bukti pelarian logistik hitam Kota Marunda berada tepat di depan matanya.

Aris melemparkan senter National besinya dengan ayunan kuat ke celah pintu Kamar 204. Benda logam yang berat itu meluncur deras, menghantam cermin besar di atas meja rias hotel hingga hancur berantakan. "Ada penyusup!" teriak pria bertubuh besar. Jiwa militernya langsung terpicu oleh suara hantaman keras tersebut.

Tanpa berpikir panjang, dia memutar arah senapannya ke sumber suara cermin hancur dan menarik pelatuk. BOOM!Dentuman senapan gentel (shotgun) laras ganda menggema di dalam kamar, memuntahkan lusinan peluru yang menghancurkan sisa meja rias dan dinding tripleks di dekat lemari pakaian.

Asap mesiu putih pekat mengepul, mengaburkan pandangan semua orang di dalam ruangan. Itulah celah yang dicari Aris. Aris mendobrak pintu kamar dengan hantaman bahunya. Dia merunduk menembus kepulan asap, berguling di atas karpet hotel dengan pistol revolver kaliber .38 yang sudah siap membidik.DOR! DOR! Aris melepaskan dua tembakan cepat dari posisi tiarapnya.

Peluru pertama menghantam pergelangan tangan sang pria besar, memaksa senapan gentel kosongnya terlepas dari genggaman. Peluru kedua bersarang telak di lutut kanan pria itu, membuatnya kesakitan dan langsung ambruk ke lantai kayu tanpa mampu membalas lagi.

Drs. Mulya yang sedang memegang gagang telepon merah seketika menjerit panik. Telepon tersebut terlepas dari tangannya, Dia melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kaca yang menghadap langsung ke jalanan kota Marunda.

Tangannya mencoba meraih koper diplomatik berisi uang kertas sepuluh ribu rupiah di atas ranjang.

"Angkat tanganmu, Sekretaris Kota!" gertak Aris, perlahan bangkit berdiri dengan moncong revolver yang mengunci tepat di antara kedua mata Drs. Mulya.

"Langkah pelarianmu di Kamar 204 sudah selesai" Pak Subroto yang terikat di sudut kursi mendongak dengan mengeluarkan suara erangan di balik sumbatan kain, lega karena sang detektif datang tepat pada waktunya.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!