Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 2
Sore hari, tepatnya pukul 3 pagi. Tubuh ibunya Nadia dan Rara yang dibalut kain kafan sudah terbaring diruang tamu didalam rumah minimalis tipe 45 dengan 2 lantai. Didepan garasi mobil sudah tertata kursi, satu per satu mulai terisi oleh pelayat yang datang. Bendera kuning terikat dipintu pagar yang terbuka, untuk menandakan keluarga ini sedang berduka.
Nadia dan Rara duduk didalam ruang tamu menemani jenazah ibunya. Mereka duduk saling berseberangan. Paman, tante atau adik-adik dan ipar ibunya turut duduk menemani mereka berdua.
Mata Nadia tampak sembab. Matanya telah berubah menjadi dua mata air abadi yang menolak kering, mengalirkan duka yang terlalu berat untuk ditampung oleh jiwa. Ia belum bisa menerima kepergian ibunya. Disampingnya ada tantenya yang terus menenangkannya untuk ikhlas menerima kenyataan.
Diseberang Nadia, ada Rara yang duduk bersila di samping kanan tubuh ibunya. Ia tertunduk. Sesekali ia menatap wajah ibunya yang diam membeku dan juga menatap kakaknya yang tak hentinya menangis.
Rara juga merasakan apa yang dirasakan kakaknya. Merelakan kepergian sang ibunda dengan ikhlas. Sebenarnya ia terdistraksi dengan kakaknya untuk menangis. Namun, ia mencoba membendung air mata yang keluar dan sesekali mengatur napasnya.
Rara termenung. Ia kembali teringat saat dirinya keluar dari rumah dan pergi tinggal diapartemen. Itulah hari dimana ia berselisih dengan ibunya. Hari dimana kekesalan didalam dirinya memuncak. Seperti biasa, ia dinasehati tapi selalu keras kepala. Ibunya menginginkan masa depan dan kehidupan terbaik untuknya, tapi ia merasa ini terlalu mengekang.
Sambil menatap ibunya satu kata ia ucapkan lirih,"maafin aku ma."
Saat ini dikepalanya muncul kejadian hari itu. Ia membentak ibunya, karena ia dituntut mencari pekerjaan lain dan pergi meninggalkan dunia yang penuh keglamoran. Itu adalah kesalahan terbesarnya yang saat ini ia rasakan. Ia menyesal, kenapa baru hari ini ia sadar dan bisa bilang maaf.
Rasanya ia ingin menangis menumpahkan rasa penyesalannya. Ia langsung mengusap air matanya yang sempat menetes keluar dari ujung matanya. Ia mencoba menahannya, namun apalah daya, ia sudah tak mampu menampung luapan kesedihan dihatinya. Ia pun menangis, air matanya tumpah seketika.
"Nadia, cukup ya," kata tante mereka yang duduk disamping kakaknya sambil mengusap lembut kepala Nadia.
"mama sudah tenang sekarang, mamamu sudah sembuh, dia sudah tidak merasakan penyakitnya lagi," tantenya perlahan mencoba memberikan pengertian. "udah cukup nangisnya, kalau mamamu melihat, dia juga nggak mau lihat kamu seperti ini."
Nadia mencoba menenangkan diri, sesekali ia mengusap air matanya yang membasahi pipinya sehingga tampak berkilau. Ia mengatur napas dan berusaha mengaburkan rasa kesedihannya. Perlahan, ia dapat berhenti menangis, namun dua mata masih tampak sembab.
Meninggalkan kesedihan dirumah duka, kini jenazah ibunya sudah ada di pemakaman. Keranda dibuka, lalu beberapa lelaki turun ke liang kubur, termasuk Rio, suami Nadia. Perlahan tubuh ibunya masuk ke tempat peristirahatan terakhir. Semua keluarga berdiri dengan perasaan duka yang mendalam mengitari liang kubur itu.
Nadia berdiri sambil ditemani tantenya. Matanya masih tampak sembab, setelah tak hentinya mengeluarkan air mata kesedihan. Disampingnya berdiri Rara. Ia menatap prosesi pemakaman ibunya dengan dibayangi rasa penyesalan karena belum ada kata maaf yang terucap dari dirinya, di depan ibunya langsung. Sesekali ia mengusap air matanya yang keluar dan mengalir dipipinya. Matanya berkaca-kaca tak mampu menahan kesedihan. Namun, bagaimanapun ia harus tetap menerima ini semua dengan lapang dada.
Acara pemakaman berakhir. Nadia dan Rara sudah tidak mampu menatap ibunya yang telah terkubur. Rio kini ikut menemani Nadia menabur bunga diatas kuburan mertuanya. Rara pun ikut menabur bunga setelah bergantian dengan kakaknya. Satu persatu anggota keluarga meninggalkan tempat itu untuk kembali kerumah duka.
Kini tinggal 3 orang yang berada disamping makam, Rio, Nadia dan Rara. Nadia dan Rara termenung menatap nisan yang bertuliskan nama ibunya. Rio mengusap bahu Nadia. Ia mencoba membujuk istrinya untuk segera pulang dan merelakan semuanya.
"sudah, sudah, kita harus bisa merelakan mama. Mama sudah bahagia disana," ucap Rio sambil mengusap lembut bahu istrinya. Perlahan Nadia mulai beranjak dari tempatnya berdiri dengan didampingi Rio.
"ayo ra, kita pulang," ajak Rio setelah Nadia membalikkan badan dan melihat adik iparnya belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Rara mengusap matanya sebentar. Lalu berjalan menyusul langkah kaki Rio dan Nadia.
Sore mulai berubah petang. Matahari mulai tenggelam dan perlahan digantikan kegelapan malam yang menanti. Di sekitar makam Ibu Diana sudah tak ada satu pun orang yang berdiri disampingnya. Makam itu letaknya tepat disamping makam suaminya, Bapak Kusuma Wijaya.
Saat ini, Nadia dan Rara mulai menerima kepergian ibunya. Sosok manusia yang telah melahirkan mereka berdua dan rela berjuang membesarkannya.