NovelToon NovelToon
MENIKAH DENGAN MAFIA

MENIKAH DENGAN MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.

Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Mobil Rolls-Royce tua milik Gorgio merangkak perlahan membelah jalanan ibukota Seradam, Negara Mortena.

Kota yang dihiasi banyak gedung-gedung pencakar langit. Berbagai kemajuan teknologi yang dikendalikan sistem. Gorgio, istrinya Lotta Mendez dan putrimu Charoen. Mereka berada di dalam mobil yang disupiri Gorgio sendiri.

Malam ini, Keluarga Romanov mengundang Keluarga Torrer untuk makan malam.

Tentu saja semua antuasias, Grace bahkan telah memilih gaunnya yang paling indah dan pastinya akan lebih bagus di banding punya Charoen. Akan tetapi, Giorgio menatap mereka dengan pandangan penuh penyesalan.

"Hanya aku, istriku dan Char yang diminta datang...."

"Loh ... Tapi kami juga keluargamu!" teriak Robert yang telah mengenakan setelan taksedo mewah berwarna abu-abu dengan gagah.

Siapa yang tak ingin berjumpa dengan keluarga pemilik seluruh jaringan bisnis di Kota Seradam. Robert ingin masuk ke sana dan berniat mencuri foto untuk rencana terselubungnya kelak.

Tetapi semua hancur karena ternyata keluarga Romanov tidak ingin keluarga lain selain Char sebagai putri yang jadi "jaminan".

"Maaf Kak, tapi aku tak bisa apa-apa selain menuruti keinginan tuan rumah," ujar Gorgio lagi-lagi dengan nada menyesal.

Grace yang mendengar batal pergi, langsung kesal. Matanya melirik gaun putih berenda yang dikenakan Char. Dengan langkah teratur ia menuju meja makan.

"Ya sudah, kalau tak jadi ...," ujarnya pelan.

Ia mengambil pasta dengan menuang saus sedikit banyak. Lalu, ia pura-pura memakannya. Tania menatap kakaknya yang memakan porsi besar.

"Kak ... dietmu?" tanyanya dengan tatapan tak percaya.

"Ah ... aku lupa jika diet!" seru Grace yang tiba-tiba ia membalik badan dan melempar garpu berisi gulungan pasta berwarna merah dan jatuh mengenai gaun putih Char.

"Grace!" Gorgio berteriak keras melihat kelakuan salah satu keponakannya itu.

Grace langsung pucat, belum pernah ia melihat pamannya semarah itu. Gina langsung menenangkan kakaknya.

"Kak, dia nggak sengaja. Tolong jangan marah...."

"Grace. Jangan seperti anak kecil!" seru Robert pura-pura marah.

Grace langsung berlari ke belakang tubuh ayahnya.

"Ganti bajumu saja. Sudah, jangan ribut!" sela Lotta, ibu Char menengahi.

"Aku tak punya yang lebih bagus dari ini ... atau ganti saja dengan Grace ...."

"Cukup Char!" sentak Gina tak suka.

"Grace beri gaunmu yang paling bagus untuk menggantikan gaun yang kau rusak!" perintahnya pada sang putri.

"Mommy!" Grace tentu tak mau menuruti.

"Grace ... atau Mommy setuju jika kau menggantikan Char!" ancam Gina.

Grace akhirnya pergi ke kamarnya dengan muka ditekuk. Ia menyerahkan satu gaun midi yang jelas-jelas tak pantas untuk dikenakan pada malam hari berwarna hijau elektrik.

"Tukar Grace! Sebelum aku bongkar semua isi lemari mu dan kubakar pakaian-pakaian itu!" seru Gorgio akhirnya mengancam.

"Pa ...."

Gorgio berdecak kesal, ia melangkah cepat ke lantai atas yang tentu dikejar oleh Grace dan Gina.

"Naik, Char!" teriak Gorgio.

Char menghela napas panjang, sedikit malas ia ikut menyusul ayah, bibi dan Grace.

Gaun akhirnya diganti, sebuah gaun panjang dengan potongan kemben berwarna hijau jamrud yang kontras dengan kulit Char yang putih tanpa noda. Rambutnya yang hitam tebal digelung ke atas. Riasan sederhana, yang tak mencolok. Char nampak anggun dengan gaun yang memang untuknya dulu, tapi secara ilegal gaun itu jadi milik Grace.

Lotta menatap putrinya dengan pandangan takjub. Bahkan Don yang biasanya abai pada Char, menatapnya penuh. Sementara Grace dan Tania tak banyak bicara.

"Ayo kita pergi, jangan sampai terlambat!" ajak Gorgio setelah ia dan istrinya siap.

Gorgio melangkah cepat memimpin jalan, diikuti Lotta dan Charoen yang melangkah anggun dalam balutan gaun hijau zamrud tersebut. Gaun yang tadinya dirampas Grace kini kembali ke pemilik aslinya, membungkus tubuh kurus Char.

"Gaun ini sedikit kebesaran," ujarnya sedikit mengeluh.

"Sudah, tidak ada waktu. Jangan banyak bergerak agar gaun itu tak melorot di tengah-tengah pertemuan!" ucap Gorgio dingin.

Char tak menyahuti, tapi hatinya sangat sakit mendengar perkataan ayahnya. Ia pun melangkah sedikit pelan, lalu matanya melirik tisu di atas bufet. Ia mengambil banyak tisu itu dan ia sumpal di sela gaun bagian ketiak agar pas dan tak melorot.

Grace menatap langkah sepupunya dari belakang dengan gigi merapat erat dan kepalan tangan yang memutih. Rasa iri membakar dadanya melihat Charoen yang tampak begitu memesona—jauh melebihi dirinya meski tanpa riasan tebal.

"Awas kau, Char..." bisik Grace penuh dendam, suara desisannya tertutup derum mesin mobil yang dinyalakan Gorgio di luar.

Perjalanan menuju wilayah eksklusif tempat Kastil Romanov berdiri memakan waktu empat puluh lima menit. Sepanjang jalan, tidak ada percakapan hangat. Gorgio sibuk memikirkan nasib perusahaannya, Lotta terus meremas jemarinya cemas, sementara Charoen menatap ke luar jendela—memperhatikan deretan gedung pencakar langit Kota Seradam yang berkilau di bawah lampu malam.

Mobil Rolls-Royce tua itu akhirnya berbelok memasuki gerbang besi raksasa berukir lambang keluarga Romanov. Kastil putih pucat menjulang megah di balik perbukitan, dipagari deretan pengawal bersetelan serba hitam yang berdiri tegap dan memancarkan aura bahaya.

Begitu mobil berhenti di depan tangga utama, seorang pengawal membukakan pintu untuk Charoen.

Gorgio dan Lotta turun dengan lutut berguncang pelan, tetapi Charoen melangkah keluar dengan kepala tegak. Udara malam yang dingin menyapa kulit putihnya, namun matanya menatap lurus ke arah pintu utama kastil yang terbuka lebar.

Di aula utama yang berlantai marmer hitam, berdiri Raphael Angelo—sekretaris pribadi Alexander—yang menyambut mereka dengan senyum formal.

"Selamat datang, Tuan Torrer," panggil Raphael dingin. Pandangannya bergulir ke arah Charoen, sedikit tertegun melihat ketenangan yang tak biasa dari gadis yang diposisikan sebagai "jaminan" ini.

"Tuan Alexander sudah menunggu di ruang makan utama. Mari ikuti saya."

Langkah kaki mereka bergema menelusuri lorong kastil yang sunyi. Pintu ganda kayu mahoni dibuka, memperlihatkan sebuah ruang makan berukuran raksasa yang diterangi lampu kristal gantung.

Sesampainya di ruang makan, tidak ada orang selain deretan pelayan dengan seragam khusus berdiri tegak siap melayani tamu-tamunya.

"Silahkan duduk, Tuan Torrer ...."

"Mana Tuan Muda Romanov?" tanya Gorgio setengah berbisik.

"Maaf, saya mungkin tadi salah informasi jika Tuan Muda menunggu anda di sini," jawab Raph sedikit tidak suka dengan pertanyaan Gorgio.

Gorgio pun akhirnya diam dan duduk manis menunggu si empunya rumah.

Lalu tak lama, suara langkah dari sepatu kulit terdengar di lantai marmer hitam langka.

Tak! Tak! Tak!

Suara langkahnya membuat semua orang menahan napas. Lotta menggenggam erat tangan suaminya. Mereka seakan-akan ingin bertemu malaikat maut yang siap mencabut nyawa mereka.

Setiap ketukan tumit sepatu kulit itu bergema di dinding ruang makan raksasa, seirama dengan detak jantung Gorgio dan Lotta yang kian memburu. Aura penekanan yang dibawa pemilik langkah tersebut seolah mengikis oksigen di dalam ruangan.

Lalu sosok itu muncul dari balik kegelapan lorong.

Alexander Philip Romanov melangkah masuk. Postur tubuhnya yang menjulang 190 cm tampak makin mengintimidasi dalam balutan kemeja hitam yang membalut dada bidang serta lengan berototnya. Rambut peraknya menyala lembut di bawah pendar lampu kristal, membingkai wajah tampan bersudut tajam dengan rahang kekar dan hidung mancung yang sempurna.

Namun, yang paling mematikan adalah sepasang manik mata kelabunya. Tatapan itu dingin, tajam, dan misterius—seperti mampu menguliti pikiran siapa pun yang berani menatapnya.

"Apa kalian terlalu lama menungguku?" pertanyaan dari suara berat Alex yang tanpa penyesalan membuat jantung siapapun berhenti berdetak sepersekian detik.

Bersambung ...

Widih ... mafia mah auranya beda ya?

Next?

1
Eni Istiarsi
heran dengan orang tua modelan kayak gitu. anak sendiri dinistakan dan ditindas
Anita Barus
makin seru lanjut
Deyuni12
Waaah
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
Anita Barus
Grace KLO caper jgn menjatuh kan char lu kira omongan Lo digubris kagak lagi
Deyuni12
idikh
si Grace carmuk.banget
Anita Barus
🤣🤣🤣🤣
Deyuni12
lanjut
Anita Barus
Alex malu kalau berita tentang dirinya yg pingsan di depan pabrik roti tersebar di seantero kota bahkan dunia mungkin
Eni Istiarsi
Pak Palace mengingatkanku pada Mama Iya
Deyuni12
haha
gengsi Segede gunung
Deyuni12
bucin akut nh sang mafia
S.R ciplux
🤣🤣🤣🤣 udah kecintaan
Anita Barus
lanjut
Anita Barus
keluarga adik gorgio mulai dari bapak nya ibunya sampai kedua anak2 nya stres alias SGM sinting gila dan miring 🤣🤣🤣🤣🤣
S.R ciplux
orang tuamu jg terlalu percaya sama hasutannya grace char.
Deyuni12
next
Anita Barus
sang mafia sekarang rindu rumah teros nih ya
S.R ciplux
siapakah ibu raphael
Anita Barus
wah beneran jatuh cinta ni si Alexander
Deyuni12
waaaah
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!