NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - Fire

Aku masih terdiam melihat Liam yang kini duduk di hadapanku, di kursi CEO Adinata Food.

Bagaimana bisa Liam menjadi CEO Adinata Food?

Apa yang sebenarnya terjadi?

“Elle... Elle...” panggil Aldi sambil menepuk pundakku.

“Hah?” Aku tersadar.

“Kenapa kamu diem aja?” tanya Aldi.

“Ah, nggak apa-apa,” jawabku.

“Davin... jadi ini orang dari Imajinasi Creative?” tanya Liam.

“Iya, Pak,” jawab Davin.

“Apakah ini pacar kamu yang kamu ceritakan itu?” tanya Liam.

Pacar Davin?

Aku langsung menoleh ke arah Davin yang sudah berdiri di sampingku.

“Bukan, Pak. Bukan. Ini teman pacar saya,” jelas Davin.

“Oh... syukurlah,” gumam Liam.

Aku langsung menatap Liam.

Kenapa dia malah bersyukur?

Aku tidak mengerti maksudnya.

Liam kemudian berdiri.

"Mari, silakan duduk,” ucapnya.

Aku dan Aldi pun duduk di sofa yang berada di depan meja kerja Liam. Liam dan Davin kemudian duduk di hadapan kami.

Di atas meja, kulihat sebuah botol minuman bertuliskan Ginsera. Aku belum pernah melihat minuman itu sebelumnya.

Mungkinkah itu produk baru mereka?

“Mbak Elle, perkenalkan. Ini Pak William Adinata, CEO perusahaan ini,” ucap Davin.

Liam mengulurkan tangannya kepadaku.

“William,” ucapnya singkat.

Aku menatapnya.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang sedang kuhadapi.

“Elle,” panggil Aldi sambil menyenggol lenganku pelan.

Aku menoleh ke arahnya.

Aldi memberi isyarat agar aku menjabat tangan Liam.

Aku pun akhirnya menjabat tangannya.

“Elfiana Putri. Panggil saja... Elle.”

Kulihat Liam menatapku cukup lama.

Aku segera menarik tanganku.

Aku tidak ingin terlalu lama berjabat tangan dengannya.

Aldi kemudian mengulurkan tangannya.

“Aldi.”

Liam menjabat tangan Aldi lalu mengangguk.

Aku tidak ingin berlama-lama berada di ruangan ini. Aku harus segera menyelesaikan tugasku agar bisa pergi dari hadapan Liam.

Aku menghela napas.

“Baik, Pak William. Jadi, produk apa yang akan diiklankan?” tanyaku.

“Silakan minum ini terlebih dahulu,” ucap Liam sambil menunjuk botol minuman di atas meja.

Aku dan Aldi saling pandang sebelum mengambil botol tersebut dan meminumnya.

“Bagaimana?” tanya Liam.

“Enak, Pak. Segar,” jawab Aldi.

“Lumayan,” jawabku datar.

Liam langsung menatapku.

“Lumayan? Kamu bilang lumayan?” tanyanya. “Dari banyaknya kata di dunia ini, kamu hanya bisa berkomentar lumayan?”

“Lalu saya harus berkomentar apa?” tanyaku balik.

Davin menatapku dengan ekspresi terkejut.

“Elle... jaga omongan kamu. Ini klien, lho,” bisik Aldi.

Aku menoleh sekilas ke arah Aldi sebelum kembali menatap Liam.

“Ya, kamu bisa berkomentar seperti temanmu ini. Kata lumayan itu ambigu. Bisa berarti lumayan enak, bisa juga berarti lumayan tidak enak,” ujar Liam.

Aku hanya diam.

“Apakah kamu dari dulu memang orang yang seperti ini? Jika ditanya pendapat tentang rasa, jawabannya hanya lumayan. Atau hanya enak, tidak enak saja,” ucap Liam.

Hah?

Apa dia sedang mengungkit masa lalu kami?

Aku memang seperti itu kalau memberikan pendapat tentang makanan atau minuman.

Kalau menurutku rasanya biasa saja, aku memang hanya akan mengatakan...

lumayan.

“Saya kan bukan chef, Pak. Mana tahu saya soal rasa dan tekstur makanan atau minuman,” ucapku.

Liam menghela napas.

“Kamu bekerja di agensi kreatif. Seharusnya kamu belajar tentang rasa dan tekstur. Klien kalian pasti banyak yang berasal dari perusahaan makanan dan minuman, kan?" ucap Liam.

“Kenapa Bapak malah mengomentari saya? Bukannya Bapak memanggil kami ke sini karena Bapak membutuhkan jasa kami?” tanyaku.

“Elle...” tegur Aldi.

“Hahaha...” Davin tertawa kecil. “Mbak Elle, Pak William bukan bermaksud mengomentari Mbak. Beliau hanya ingin Mbak memahami bidang pekerjaan Mbak. Betul begitu, kan, Pak?”

“Iya, betul,” jawab Liam.

Aku menghela napas.

“Baiklah. Mulai sekarang saya akan belajar tentang rasa dan tekstur,” ucapku.

“Bagus,” jawab Liam.

Aku mengepalkan kedua tanganku. Kesal.

“Baik. Jadi, minuman ini yang akan diiklankan?” tanyaku.

Liam mengangguk.

“Lalu, apakah Bapak sudah memiliki ide untuk konsep iklannya? Atau Bapak akan menyerahkan semuanya kepada kami?” tanyaku.

“Saya beri tahu dulu bahwa produk ini mengandung ginseng Korea,” jelas Liam. “Saya menyarankan pembuatan produk ini karena melihat sekarang banyak orang yang menyukai segala sesuatu tentang Korea. Selain itu, banyak orang yang sibuk bekerja dan merasa kelelahan. Saya ingin setelah meminum produk ini, stamina mereka kembali.”

Aku dan Aldi diam mendengarkan.

“Untuk konsepnya, terserah kalian. Yang penting, iklannya bisa menarik perhatian para pecinta Korea,” lanjut Liam.

“Jadi, targetnya orang-orang yang sering melakukan aktivitas begitu?” tanyaku.

“Targetnya pecinta Korea,” jawab Liam.

Aku mengernyitkan dahi.

“Mohon maaf, Pak William. Tadi Bapak mengatakan bahwa Bapak ingin orang-orang yang meminum produk ini mendapatkan kembali staminanya. Berarti konsumennya tidak hanya pecinta Korea. Kalau Bapak hanya menargetkan pecinta Korea, berarti orang yang bukan pecinta Korea seperti saya tidak boleh meminumnya.”

Liam terdiam.

Aku menatapnya.

“Baiklah. Saya revisi. Targetnya semua orang,” ucap Liam akhirnya.

Aku mengangguk.

“Jadi, untuk konsepnya benar-benar terserah kami begitu, ya, Pak?”

“Iya. Yang penting, tonjolkan ginseng dan unsur Koreanya agar orang-orang tahu bahwa produk ini mengandung ginseng Korea. Bintang iklannya juga dari usia yang berbeda-beda. Ada anak muda dan ada juga orang tua. Biar orang tahu kalau minuman ini bisa dikonsumsi semua kalangan, tetapi bukan untuk anak-anak.”

Aku menatap Liam.

“Tadi Bapak mengatakan konsepnya terserah kami, tapi sepertinya Bapak sudah punya konsep sendiri.”

“Saya hanya memberikan arahan.”

“Arahan yang sangat spesifik,” balasku.

“Saya hanya tidak ingin kalian membuat iklan yang tidak sesuai dengan produk kami,” jawab Liam.

Aku menghela napas.

“Baiklah, Pak. Saya akan mencatat semua arahan Bapak.”

Aku pun mulai mencatat semua arahan yang diberikan Liam di tabletku.

“Apakah ada arahan lain lagi, Pak?” tanyaku dengan nada menyindir.

“Untuk sekarang, cukup itu saja,” jawab Liam.

Aku mengangguk.

“Baik. Kalau begitu, kami pamit.” Aku berdiri. “Ayo, Di.”

Aldi ikut berdiri.

Davin juga berdiri. “Mari saya antar.”

Liam berdiri dari kursinya.

“Mbak Elle...” panggil Liam.

Aku menoleh ketika hendak melangkah keluar.

Liam mengulurkan tangannya.

“Senang bertemu denganmu,” ucapnya.

Aku tidak senang bertemu denganmu.

Namun, aku tetap menjabat tangannya.

“Saya juga senang bertemu dengan Anda,” jawabku.

“Benarkah?” tanya Liam.

“Saya selalu senang jika bertemu dengan klien.”

Kecuali kamu.

“Syukurlah,” ucap Liam.

Aku segera melepaskan tanganku dan berjalan keluar.

Davin dan Aldi pun mengikutiku.

“Mbak Elle, kalau ada yang perlu ditanyakan, langsung hubungi saya saja,” ucap Davin ketika kami sudah berada di depan lift.

Aku mengangguk.

Aku dan Aldi kemudian masuk ke dalam lift.

Begitu pintu lift tertutup dan lift mulai bergerak turun, aku hanya diam memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Kenapa aku harus bertemu lagi dengan Liam?

Kenapa?

Bertahun-tahun aku merasa tenang karena tidak pernah bertemu dengannya. Namun, kenapa sekarang kami justru dipertemukan kembali?

Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untukku?

Ting!

Pintu lift terbuka di basement.

Aku dan Aldi langsung keluar dan masuk ke dalam mobil.

Aldi menyalakan mesin, lalu mulai meninggalkan gedung Adinata Food.

Beberapa saat kemudian, ketika mobil sudah cukup jauh dari gedung tersebut, Aldi memanggilku.

“Elle...”

“Hm?” gumamku.

“Apa tipe cowok yang kamu suka itu kayak Pak William?”

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Hah? Kenapa kamu tiba-tiba tanya kayak gitu?”

“Soalnya tadi waktu kamu lihat Pak William, kamu langsung terdiam. Kayak orang terpesona lihat ketampanan orang,” ujar Aldi.

Aku tertawa kecil.

“Terpesona? Aku? Aku terpesona sama Pak William? Nggak! Aktor Hollywood jauh lebih tampan daripada dia, ya."

“Terus kenapa kamu diem tadi?” tanya Aldi.

“Ehm... itu...” Aku terdiam sejenak, mencari alasan. “Aku cuma kaget. Aku kira CEO-nya bapak-bapak. Ternyata masih muda.”

Aku berbohong.

Aku tidak mungkin mengatakan kepada Aldi bahwa Liam adalah mantanku.

“CEO sekarang banyak yang masih muda. Apalagi kalau perusahaannya merupakan perusahaan keluarga kayak Adinata Food,” ucap Aldi.

“Apa? Perusahaan keluarga?” tanyaku terkejut.

“Iya. Pak William itu anak pendiri Adinata Food sekaligus penerus ayahnya sebagai CEO,” jelas Aldi.

Aku terdiam.

Kenapa Liam dulu tidak pernah cerita tentang itu?

“Kamu tahu dari mana?”

“Cari tahu di internet, lah,” jawab Aldi santai.

“Oh...” Aku mengangguk kecil.

“Jadi, kamu nggak suka sama Pak William?” tanya Aldi.

“Nggak!” jawabku cepat.

“Syukurlah,” ucap Aldi.

Aku menoleh ke arahnya.

“Di... aku tahu nggak mudah buat ngilangin perasaan, tapi aku mohon, coba pelan-pelan hilangin perasaanmu buat aku. Karena sampai kapan pun, aku nggak akan bisa membalas perasaanmu.”

“Jangan bilang sampai kapan pun. Perasaan bisa berubah kapan aja. Dulu aku juga nggak suka kamu, tapi seiring berjalannya waktu, aku malah jadi suka sama kamu,” jawab Aldi.

“Tapi aku nggak mau terluka lagi,” ucapku lirih.

“Apa?” Aldi menoleh sekilas.

“Bukan apa-apa. Lupain aja,” jawabku. “Udah, kamu fokus menyetir.”

Aku merasa kasihan kepada Aldi.

Namun, luka dari masa lalu masih terlalu menyakitkan bagiku. Aku tidak ingin luka itu bertambah lebar.

Aku takut kembali memberikan kepercayaanku kepada orang yang salah, lalu dikhianati untuk kedua kalinya.

Aku tidak yakin masih sanggup menanggung rasa sakit yang lebih dalam dari sebelumnya.

Bagaimana jika kali ini aku benar-benar hancur?

Bagaimana jika kali ini aku memilih menyerah?

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!