NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:566
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Aturan Sang Pemenang

Notifikasi bank berbunyi tiga hari kemudian.

Laras sedang duduk bersila di lantai kontrakannya ketika angka itu muncul di layar.

Rp90.000.000.

Nominalnya tepat seperti yang ia sebutkan pada Naren. Tidak kurang seribu rupiah pun, tidak lebih satu rupiah pun.

Di hadapannya terbuka buku catatan bersampul cokelat. Kertasnya sudah berlipat di sudut-sudut, penuh angka yang ditulis tangan. Laras selalu menyalin transaksi penting ke sana. Saldo di layar bisa berubah atau hilang, tetapi tinta membuat uang terasa nyata.

Harga tanah untuk Rumah Puspa beserta biaya notaris: Rp420 juta.

Tabungan dua tahun dari uang bulanan Galih, hasil menjual kembali tas dan sepatu pemberiannya lewat akun preloved kecil, juga sisa gaji serabutan: Rp330 juta.

Kekurangan yang dilingkari dua kali dengan tinta merah: Rp90 juta.

Kini kekurangan itu ada di rekeningnya.

Pesan dari nomor asing masuk sesudahnya.

Mulai hari ini, aturan aku yang buat. Di depan orang kamu tetap perempuan Galih. Diam-diam kamu punya aku. Jangan sampai aku ngomong dua kali.

Laras membaca kalimat itu tanpa berkedip. Kata punya terasa seperti tali yang diselipkan ke lehernya.

Ponsel lain yang sudah tua berdering. Nama Eyang muncul.

Laras buru-buru mengangkat. “Assalamu’alaikum, Yang.”

“Wa’alaikum salam, Nduk. Lagi sibuk?”

“Nggak. Lagi hitung uang.”

Eyang Sri terkekeh kecil. “Uang kok dihitung terus. Jangan lupa makan.”

Suara tua itu membuat dada Laras menghangat sekaligus nyeri. Ia bertanya soal obat, menu makan, dan apakah kamar di panti wreda bocor setelah hujan. Eyang menjawab semuanya baik-baik saja, bahkan terlalu cepat. Kebiasaan orang yang tak mau membuat cucunya cemas.

“Tanahnya sebentar lagi lunas,” kata Laras.

“Alhamdulillah. Tapi jangan maksa diri, Rara.”

“Aku nggak maksa.”

Kebohongan itu terdengar halus.

Setelah panggilan berakhir, Laras membuka aplikasi bank. Ia salah mengetik PIN dua kali. Pada percobaan ketiga, transfer berhasil masuk ke rekening khusus pembayaran tanah.

Di kolom keterangan ia menulis: cicilan tanah.

Ia menyimpan tangkapan layar, lalu memberi garis pada angka Rp90 juta di buku. Tinta merah merobek serat kertas tipis. Lunas, tulisnya di samping angka.

Sebuah pesan dari kantor notaris masuk beberapa menit kemudian. Pembayaran tahap akhir telah diterima. Laras diminta datang pekan depan untuk memeriksa akta jual beli sebelum penandatanganan. Ia membaca pesan itu tiga kali, memastikan tidak ada biaya tersembunyi yang terlewat.

Di dalam laci, ia mengambil gambar denah bangunan sederhana. Empat kamar tidur, satu ruang belajar, dapur, kamar mandi yang mudah dijangkau anak kecil. Atap ruang sementara masih bocor, tetapi sebentar lagi mereka akan punya tanah yang tidak bisa diusir pemilik kontrakan.

Laras menempelkan bukti transfer di halaman denah dengan selotip. Uang Naren kini berada tepat di samping gambar rumah bagi anak-anak yang bahkan tidak tahu nama pria itu.

Seharusnya ia lega.

Namun telapak tangannya basah.

Ponsel bergetar lagi. Nomor yang sama mengirim sebuah alamat di kawasan tenang Jakarta Selatan, disusul waktu: 21.00.

Tak ada sapaan. Tak ada pertanyaan apakah Laras bisa datang.

Ia menatap alamat itu selama satu menit, lalu berdiri.

Di depan cermin kecil yang retak pada satu sudut, Laras memilih gaun biru tua yang paling sederhana. Tidak ada lipstik merah. Tidak ada mantel mahal. Ia mengikat rambut, memasukkan ponsel ke tas, dan memesan ojek online seperti sedang pergi bertemu klien.

Rumah yang dituju tersembunyi di balik pagar tinggi tanpa papan nama. Naren sendiri yang membukakan pintu. Kemeja hitamnya tergulung sampai siku.

Ia tidak menyapa.

Laras juga tidak.

Naren meletakkan segelas air di meja samping, lalu menunjuk sebuah baki kayu dekat sofa. “Taruh HP di situ.”

“Takut saya merekam balik?”

“Aku tidak suka kejutan.”

“Lucu. Saya juga.”

Mata mereka bertemu. Naren seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi memilih diam.

Laras menaruh ponselnya di baki. “Uangnya masuk.”

“Aku tahu.”

“Mulai malam ini utang saya berkurang satu kali.”

“Aku tidak pernah menyebutnya utang.”

“Saya yang menyebutnya begitu.”

Ia mendekat atas kemauannya sendiri. Tangan Naren terangkat, berhenti sebelum menyentuh wajahnya. Laras mengangguk kecil.

Barulah jari-jari itu menelusuri rahangnya.

Tak ada rayuan. Naren tidak menanyakan apakah ia takut, dan Laras tidak menawarkan kelembutan. Mereka bergerak mengikuti aturan yang terlalu baru, berhenti setiap kali tubuh Laras menegang, lalu melanjutkan setelah ia mengatakan iya.

Kedekatan itu dingin seperti proses pembayaran. Kancing yang terlepas, napas yang dipendam, kain gaun yang kusut di bawah telapak tangan. Laras menjaga wajahnya tetap tenang bahkan ketika tubuhnya mengkhianati ketenangan itu. Ia menolak memberi Naren kemenangan berupa rengekan atau permohonan.

Sesudahnya, Naren langsung mengenakan kembali kemeja. Ia berdiri di dekat jendela dan menyalakan rokok. Tidak menatap Laras. Tidak bertanya apakah ia ingin tinggal.

“Kamu ngerti aturannya, kan?”

Laras merapikan gaunnya. “Di depan orang, saya perempuan Mas Galih. Di belakangnya, saya datang kalau Anda memanggil.”

“Bagus.”

“Jangan terlihat senang dulu. Setiap aturan punya tanggal kedaluwarsa.”

Naren mengembuskan asap ke arah jendela. “Nanti kita lihat.”

Laras mengambil ponsel dari baki, memesan mobil, lalu pergi tanpa pamit.

Di sepanjang perjalanan pulang, ia menekan kedua tangan di atas lutut. Baru saat lampu jalan menyapu masuk melalui kaca, Laras menyadari jari-jarinya gemetar.

Kontrakan menyambutnya dengan gelap dan bunyi kipas tua. Ia duduk di lantai, masih mengenakan gaun yang sama. Buku catatan cokelat tergeletak terbuka pada kata lunas.

Laras tidak menyalakan lampu.

Ia juga tidak melihat ponselnya lagi.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!