Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan hati
Malam semakin larut, namun amarah dan rasa bersalah yang membakar dada Radhit membuat dinginnya pendingin udara di kamar mewahnya terasa seperti neraka.
Dua tahun. Selama dua tahun ini, Radhit menyiksa batinnya sendiri dengan keyakinan bahwa dialah satu-satunya iblis yang menyebabkan Vivian pendarahan dan hampir kehilangan nyawa. Namun kenyataan malam ini menghantam jiwanya hingga hancur berkeping-keping.
Ada tangan kotor lain yang ikut merobek rahim wanita yang dicintainya. Ibu tirinya sendiri.
Pagi harinya, Radhit berdiri di depan jendela kantor pribadinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membayang tajam di bawah matanya. Pria itu menolak menyentuh setetes pun alkohol atau rokok,ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi manusia yang lebih bersih demi Bumi.
Klek.
Pintu ruangan terbuka. Pengacara pribadi Radhit masuk seraya membawa map tebal bertuliskan rahasia negara dan medis.
"Pak Radhit... seluruh bukti rekam medis dari rumah sakit tempat Ibu Vivian dulu dirawat sebelum melarikan diri, serta rekaman CCTV rumah lama yang sempat terhapus... berhasil dipulihkan," ujar sang pengacara dengan suara bergetar.
Radhit menerima berkas itu dengan tangan gemetar hebat.
Matanya menyusuri setiap baris dokumen tersebut. Hasil analisis laboratorium yang tertahan selama dua tahun menunjukkan adanya jejak zat aktif kimia penggugur janin dalam darah Vivian di malam kejadian.
JLEB!
Dada Radhit terasa seperti dihantam balok besi raksasa. Air mata kepedihan menetes tanpa bisa ditahan, menimpa lembaran kertas di tangannya.
"Jadi... malam itu..." suara Radhit pecah, "Vivian bukan cuma menahan caci maki dan penolakan saya... tapi tubuhnya sedang digerogoti racun dari dalam?"
Pengacaranya menunduk prihatin. "Benar, Pak. Ibu tiri Anda sengaja memanfaatkan kepanikan malam itu saat Anda emosi dan meninggalkan rumah. Beliau mencampurkan zat itu ke dalam minuman hangat Ibu Vivian."
"IBLIS!" bentak Radhit meraung, memukul meja kerjanya hingga vas bunga porselen di atasnya hancur berhamburan ke lantai!
Pyarr
Pyarrr
Bahunya berguncang hebat. Radhit berlutut di atas pecahan kaca itu, meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Betapa butanya ia selama ini. Betapa jahatnya lingkungan yang ia bangga-banggakan hingga mengorbankan wanita tak berdosa dan darah dagingnya sendiri.
Sore harinya, Radhit memilih untuk tidak langsung menemui ibu tirinya. Ia tahu, amarah yang tidak terkontrol hanya akan memperkeruh situasi. Radhit melangkah menuju taman perkotaan kecil tempat ia berjanji untuk menjemput Bumi dari taman kanak-kanak.
Di sana, dari kejauhan, Radhit melihat Vivian sedang duduk di bangku kayu, merapikan tali sepatu Bumi.
Mata Radhit menatap sosok Vivian dari kejauhan dengan tatapan yang sepenuhnya berbeda. Bayang-bayang kesombongan masa lalu dalam pikiran Radhit kini sirnah total, berganti dengan rasa hormat dan iba yang tak terhingga. Wanita itu adalah seorang penyintas. Vivian bertahan hidup dari racun, pengkhianatan, dan dinginnya dunia sendirian demi melahirkan buah hati mereka.
"Paman Radhit!" panggil Bumi riang saat melihat sosok Radhit berjalan mendekat.
Radhit mengukir senyum paling tulus yang ia miliki, meski hatinya teriris iris. Ia berlutut di depan Bumi, menggenggam tangan kecil itu.
"Halo, Jagoan..." sapa Radhit lembut. Lalu pandangannya beralih menatap Vivian yang berdiri anggun di samping stroller.
"Vi..." panggil Radhit lirih.
Vivian menatap mata Radhit. Wanita itu sedikit mengernyit melihat raut wajah Radhit yang tampak sangat hancur dan penuh dengan rasa bersalah yang tak biasa.
"Ada apa, Mas? Kamu kelihatan sakit," tanya Vivian datar namun ada sedikit nada keheranan.
Radhit menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, menahan air mata yang hendak menetes di depan anaknya.
"Saya... saya cuma mau bilang terima kasih, Vi," bisik Radhit dengan ketulusan paling dalam dari lubuk hatinya. "Terima kasih sudah bertahan hidup... Terima kasih sudah menjaga Bumi sampai hari ini."
Vivian terpaku. Suara Radhit terdengar begitu pasrah dan jujurtidak ada lagi nada menuntut, tidak ada lagi paksaan agar Vivian kembali padanya. Bayang-bayang rasa takut Vivian terhadap sosok Radhit yang pemarah dan arogan di masa lalu... perlahan-lahan mulai memudar, terkikis oleh ketulusan nyata pria itu.
"Sama-sama, Mas," jawab Vivian pelan. Ada sedikit kehangatan tipis yang mulai kembali di antara mereka.
Malam harinya, Radhit melangkah memasuki kediaman mewah keluarga besarnya dengan langkah kaki yang dingin dan mematikan.
Di ruang tamu utama, ibu tirinya sedang menikmati teh malam dengan senyum anggun tanpa dosa.
"Radhit? Tumben kamu pulang ke rumah Ibu?" sapa wanita paruh baya itu ramah.
Radhit tidak menjawab. Ia melempar map cokelat tebal berisi bukti racun dan hasil DNA itu tepat ke atas meja kaca di depan ibu tirinya.
"Pilih..." bisik Radhit dengan suara serak yang begitu menakutkan, matanya memerah menahan dendam. "Ibu menyerahkan diri secara sukarela ke kantor polisi malam ini... atau saya sendiri yang akan menghancurkan seluruh aset dan nama baik Ibu sampai Ibu membusuk di penjara!"
Mata ibu tirinya membelalak lebar melihat dokumen di atas meja, cangkir teh di tangannya seketika jatuh terhempas ke lantai!
Pyarr
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian