Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Hari-hari berlalu tanpa suara di dalam puri megah keluarga Moretti. Seiring berjalannya waktu, kondisi fisiku perlahan-lahan mulai membaik. Luka robek yang dulu menyiksa di area vitalku telah menutup, rasa memar di sekujur tubuhku pudar menjadi jejak samar, dan kakiku kini sudah sanggup menopang berat badanku sendiri untuk melangkah tanpa bantuan kursi roda atau papahan Elena.
Aku telah secara penuh kembali ke "sangkar emas" ini.
Namun sangkar emas yang kukenal kini terasa jauh lebih luas, asing, dan hampa. Jika dulu keberadaan Gabriel adalah bayang-bayang kelam yang selalu mengurung dan mengintimidasi setiap jengkal nafasku, kini sosoknya justru menjadi kehampaan yang nyaris tak pernah tampak.
Gabriel Moretti semakin jarang menginjakkan kakinya di puri ini. Pria itu kini seolah menjadikan medan pertempuran sebagai rumah utamanya.
Pembantaian Julian Romanov dan penumpasan pemberontak di dalam Dewan Moretti ternyata hanyalah pembuka dari gelombang kekacauan yang lebih besar. Perang mafia antar-kartel meletus di seluruh penjara batas kota. Faksi-faksi asing yang mencium bau kelemahan akibat perselisihan internal berusaha memotong jalur distribusi senjata dan narkotika milik dinasti Moretti.
Sebagai seorang Don, Gabriel tidak membiarkan siapa pun mengusik wilayah kekuasaannya. Pria yang biasanya memimpin dari balik meja marmer dan sofa kulit di ruang kerjanya, kini turun langsung ke garis depan. Ia menjadi iblis tanpa belas kasihan yang berburu di malam hari, memimpin eksekusi di pelabuhan, gudang terbengkalai, hingga lorong-lorong sempit kota bawah tanah.
---
Suatu sore, aku melangkah menyusuri lorong panjang lantai dua. Karpet merah tebal meredam tiap pijakan kakiku. Langkahku terhenti di depan pintu kayu mahoni raksasa yang sedikit terbuka ruang kerja Gabriel.
Dari dalam, suara berbariton tegas milik Marco terdengar sedang membacakan laporan harian.
"Dua pelabuhan di sektor barat sudah sepenuhnya terkendali, Tuan," ucap Marco dengan nada tenang namun cepat. "Sisa-sisa anggota faksi Romanov yang melarikan diri ke pinggiran kota telah dilumpuhkan. Delapan belas orang tewas di tempat, tiga orang ditahan untuk diinterogasi di basemen."
Aku berdiri mematung di balik celah pintu. Mataku menembus remang-remang ruangan, menangkap sosok Gabriel yang berdiri di dekat jendela besar.
Pria itu memunggungiku, namun aura kegelapan yang memancar darinya kini jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kemeja mewahnya tergulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang tegang. Ia memegang gelas kristal berisi wiski pekat, sementara di atas meja kerjanya yang luas bertumpuk berkas-berkas berbercak darah dan beberapa pucuk senjata yang belum dibersihkan dari bau mesiu.
"Bagaimana dengan wilayah utara?" suara Gabriel keluar begitu rendah, dingin, dan sarat akan serak akibat kelelahan yang akut.
"Pasukan bantuan dari keluarga Rossi mencoba menembus batas perbatasan sejam yang lalu," jawab Marco. "Tuan Gabriel... Anda belum tidur selama lebih dari empat puluh delapan jam. Biarkan unit eksekutor kedua yang menangani"
"Aku sendiri yang akan menyelesaikan mereka," potong Gabriel dingin tanpa jeda, meminum wiskinya hingga kandas dalam satu tegukan. "Siapkan kendaraan dalam sepuluh menit. Kita berangkat ke perbatasan."
Aku menatap punggung tegap itu. Dulu, jika aku berdiri sejauh ini, Gabriel pasti akan langsung menyadari kehadiranku. Kepekaan refleksnya yang gila selalu bisa menangkap aroma tubuhku atau gesekan kain gaunku. Namun hari ini, dalam pusaran dahaganya akan darah dan pertempuran, pria itu bahkan tidak menoleh sama sekali.
Ia adalah manusia yang telah ditelan bulat-bulat oleh ranahnya sendiri.
Aku membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa bersuara. Di dalam hatiku, tidak ada lagi rasa takut atau rasa cemas. Hanya ada sebuah kesimpulan pahit yang semakin mengakar: Gabriel lebih memilih berkubang dalam lumpur darah daripada harus berhadapan dengan tembok kesunyian yang kubangun di dalam puri ini. Ia berlari ke medan perang demi melupakan kenyataan bahwa ia telah meremukkan jiwaku hingga tak sanggup lagi ia jangkau.
---
Hari-hari berikutnya berjalan dalam pola yang monoton dan mengerikan.
Puri yang megah ini kini terasa bagai makam berlapis emas. Aku menghabiskan waktuku dengan menyusuri taman belakang, duduk di tepi kolam air mancur yang dingin, atau membaca buku-buku tua di perpustakaan tanpa benar-benar meresapi kata-katanya. Para pelayan dan pengawal bersenjata yang lalu lalang memandangku dengan tatapan penuh hormat bercampur iba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengajakku bicara selain Elena.
Gabriel biasanya hanya kembali ke puri menjelang fajar, dalam kondisi yang membuat siapa pun bergidik.
Kadang, aku terbangun di tengah malam oleh suara langkah sepatu boot-nya yang berat di lorong. Pintu kamar utama akan terbuka pelan, membawakan bau tajam dari logam, tembakau mahal, dan cairan tembaga pekat yang menusuk hidung.
Gabriel tidak pernah menyalakan lampu. Pria itu hanya akan melangkah dalam kegelapan, mendekati sisi ranjang tempatku berbaring. Ia akan berdiri di sana selama berjam-jam dalam hening, hanya memandangi wajahku yang berpura-pura tidur nyenyak. Tangannya yang kasar dan dinginkadang masih ternoda bekas darah kering yang belum sempat dibersihkanakan terulur ragu-ragu di atas kepalaku, hendak mengelus rambutku.
Namun sebelum jemarinya menyentuh helai rambutku, ia selalu menariknya kembali.
Pria yang ditakuti seluruh syndicate kejahatan itu seolah ragu dan takut bahwa sentuhan tangannya yang telah mencabut belasan nyawa malam itu akan menghancurkan tubuhku yang baru saja pulih. Ia takut melihat mata kosongku yang menatapnya tanpa rasa.
Setelah berdiri mematung seperti patung berdarah di samping tempat tidurku, Gabriel akan berbalik melangkah keluar kamar. Ia tidak pernah tidur di ranjang utama lagi. Ia akan mengurung dirinya di ruang kerja atau langsung memacu mobilnya kembali ke medan pertempuran sebelum matahari terbit, meninggalkan jejak bau kematian di ambang pintu.
---
Suatu malam, di minggu ketiga sejak aku pulih sepenuhnya, hujan badai mengguyur kota dengan sangat dahsyat. Petir menyambar bergantian, memantulkan kilatan cahaya menakutkan di kaca jendela kamar utama.
Aku duduk di atas peraduan, memeluk kedua lututku.
Pintu kamar terbuka pelan. Gabriel masuk dengan langkah agak menyempang. Malam ini, pria itu terluka. Kemeja hitam yang dikenakannya robek di bagian bahu kiri, basah oleh darah segar yang mengalir pelan. Wajah tampannya pucat pasi, namun matanya yang memerah menyala oleh sisa-sisa adrenalina pertempuran yang gila.
Marco yang mengikutinya dari belakang tampak panik. "Tuan! Anda harus membiarkan tim medis menjahit luka tembak itu terlebih dahulu!"
"Keluar, Marco," pangkas Gabriel pendek, suaranya mengandung tekanan mematikan yang tak bantah.
Marco menunduk pasrah, melirik ke arahku sejenak sebelum menarik pintu hingga tertutup rapat dari luar.
Kini, hanya ada aku dan Gabriel di dalam kamar yang remang-remang.
Gabriel menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup, memegangi bahunya yang berdarah. Napasnya terdengar berat dan patah-patah. Mata hitamnya perlahan terangkat, mengunci pandangannya pada sosokku yang duduk kaku di atas ranjang.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, kami berada dalam satu ruangan yang sama tanpa ada dinding pelarian untuknya.
Ia melangkah mendekatiku secara perlahan, menyeret langkah kakinya yang berat. Setiap pijakannya meninggalkan bercak air hujan bercampur darah di atas karpet putih. Ia berhenti tepat di tepi tempat tidur, menatapku dari ketinggian.
"Kau melihatku, Aurora?" bisiknya parau, suaranya bergetar oleh perpaduan antara rasa sakit fisik dan kelelahan jiwa. "Aku bersimbah darah malam ini... Aku baru saja membantai sepuluh orang yang mencoba merebut wilayah utara."
Aku menatap bahunya yang berdarah, lalu perlahan menaikkan pandanganku tepat ke dalam manik matanya.
Tidak ada rasa terkejut di wajahku. Tidak ada rasa cemas, ketakutan, apalagi belas kasihan. Wajahku datar bagaikan cermin es.
Aku tidak menyuarakan sepatah kata pun. Aku hanya menatapnya lurus, lalu dengan sangat pelan dan tenang, aku memalingkan wajahku kembali ke arah jendela yang tertutup rapat, memunggunginya.
Keheningan itu menghantam Gabriel jauh lebih keras daripada peluru yang baru saja menembus bahunya.
Aku mendengar hembusan napasnya yang tercekik. Pria itu mengepalkan tangannya yang tidak terluka hingga buku-buku jarinya berbunyi nyaring. Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau memaksaku seperti yang biasa ia lakukan, Gabriel justru tertawa sebuah tawa kecil yang sangat getir, hampa, dan penuh rasa frustrasi yang mematikan.
Ia mundur satu langkah, memegangi bahunya yang terus meneteskan darah di atas lantai.
"Bagus..." gumam Gabriel lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemuruh petir di luar sana. "Tetaplah seperti ini, Cara mia... Tetaplah membenciku sampai aku mati di medan pertempuran itu."
Tanpa menyentuhku sedikit pun, pria itu berbalik dan melangkah keluar dari kamar utama dengan tubuhnya yang terluka. Pintu tertutup rapat kembali, menyisakan aku sendirian di dalam sangkar emas yang dingin, menyaksikan sang penguasa mafia yang perlahan-lahan hancur oleh kegilaan dan darahnya sendiri.