Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG KERAJAAN
Fajar belum menyingsing saat Xuanyuan bangun. Udara pagi terasa dingin, menembus celah-celah pakaian tipisnya. Ia merapikan pakaian pengangkut kayu berwarna cokelat kusam yang diberikan Xiao Man kain kasar yang menutupi bentuk tubuhnya, topi jerami lebar yang meneduhkan sebagian wajahnya. Pedang Tulang Hitam yang patah ia bungkus dengan kain goni, diikat di punggungnya seakan sebatang kayu besar.
Ia menatap bayangannya di genangan air. Hampir tidak mengenali diri sendiri.
"Pakaian yang tepat menyembunyikan lebih dari sekadar tubuh, Xuanyuan. Ia menyembunyikan niatmu. Dan di dalam sarang musuh, tidak ada perlindungan yang lebih baik daripada dianggap tidak berharga." suara Lang Wuyan terdengar pelan dan tenang.
Xuanyuan menyentuh cincin perak di jarinya, lalu mengangguk pelan.
Saat ia keluar dari gubuk, rombongan sudah berkumpul di pinggir hutan. Gerobak-gerobak kayu berat ditarik oleh kerbau yang tenang. Pria-pria desa berjalan di sampingnya, wajah mereka penuh bekas matahari dan kerja keras. Tidak ada yang tampak gagah, tidak ada yang tampak istimewa. Itulah yang membuat mereka sempurna.
Xiao Man menunggangi kerbau terdepan. Saat ia melihat Xuanyuan, ia hanya mengangkat dagu sedikit isyarat untuk masuk ke barisan belakang. Xuanyuan berjalan masuk di antara mereka, menunduk, bahu sedikit membungkuk, menatap tanah. Seorang pria tua di sebelahnya melirik sekilas, lalu berdeham pelan.
"Baru, ya? Jangan banyak bicara. Jangan menatap mata prajurit. Lakukan apa yang diperintahkan. Dan kalau ditanya namamu, kau bisu. Mengerti?"
Xuanyuan mengangguk pelan.
"Bagus. Namamu A'Mu. Ingat itu."
Perjalanan berlangsung sepanjang hari. Jalan tanah yang berdebu berubah menjadi jalan batu yang rapi dan luas semakin mereka mendekat. Di kejauhan, dinding kota Kerajaan Langit Timur mulai terlihat tinggi, tebal, dibangun dari batu hitam yang mengkilap di bawah sinar matahari. Di atasnya, menara-menara pengawas menjulang, dan di puncaknya bendera kerajaan berkibar lebar seekor burung emas yang mencengkeram pedang merah.
Jantung Xuanyuan berdegup kencang. Pupil Gandanya di balik kain mantra mulai terasa hangat, seakan merespons sesuatu yang tersembunyi di balik tembok itu.
"Ada kekuatan di sini. Bukan sekadar banyak orang. Ada yang... tidak wajar. Hati-hati, Xuanyuan. Matamu mungkin melihat sesuatu yang sebaiknya tidak kau lihat sekarang."
Rombongan berhenti di pos pemeriksaan utama. Gerbang kota terbuka lebar, dijaga oleh dua baris prajurit berbaju zirah besi yang mengkilap. Mereka berdiri tegak, tidak bergerak, tatapan mereka tajam dan dingin. Di depan gerbang, seorang perwira memeriksa dokumen sambil memandang rendah siapa pun yang lewat.
Xiao Man melompat turun, menyerahkan gulungan kertas. Perwira itu membacanya sekilas, lalu matanya beralih ke wajah setiap orang dalam rombongan. Saat tatapannya jatuh pada Xuanyuan, ia berhenti.
Xuanyuan menahan napas. Ia tidak menunduk terlalu dalam, tidak menatap terlalu tajam. Ia hanya berdiri, kosong, seakan tidak memiliki pikiran.
"Yang ini siapa?" tanya perwira itu, jari telunjuk menunjuk ke arah Xuanyuan.
"A'Mu. Anak yatim dari desa kami. Bisu. Tidak bisa berbicara sejak lahir," jawab Xiao Man tenang.
Perwira itu melangkah maju, berdiri tepat di depan Xuanyuan. Ia menatap wajahnya, lalu ke tangan yang kasar dan penuh kapalan. Matanya berhenti sejenak di bungkusan di punggung Xuanyuan.
"Apa di dalamnya?"
"Kayu bakar," jawab Xuanyuan dalam hati, tapi mulutnya hanya mengeluarkan suara gumaman yang tidak jelas, tangannya menunjuk ke bungkusan itu dengan gerakan canggung.
Perwira itu mengulurkan tangan. "Buka."
Darah Xuanyuan terasa membeku. Perlahan ia meletakkan bungkusan itu ke tanah, lalu membuka kain goni dengan tangan yang bergetar bukan karena takut, tapi karena ia harus terlihat takut. Ujung pedang tulang hitam terlihat. Perwira itu mengerutkan kening.
"Kayu bakar berbentuk pedang?"
"Itu... peninggalan ayahnya. Ia membawanya ke mana-mana. Tidak berharga," kata Xiao Man cepat, sambil menatap perwira itu lurus-lurus.
Perwira itu menatap mereka bergantian. Lalu ia mendengus, menarik tangannya kembali.
"Masuk. Tapi ingat setiap orang yang masuk hari ini akan diawasi. Ada peristiwa penting di istana. Jangan ada yang membuat masalah, atau kepala kalian yang jadi gantinya."
Ia melambai. Gerbang terbuka lebih lebar. Rombongan berjalan masuk satu per satu. Saat Xuanyuan melewati gerbang batu yang raksasa itu, udara di sekitarnya berubah. Lebih berat. Lebih dingin. Dan di belakangnya, di atas menara pengawas, sepasang mata tertutup perlahan seakan baru saja mencatat keberadaannya.
Di dalam kota, keramaian menyambut mereka. Jalan lebar dipenuhi pedagang, kereta, pejalan kaki, dan prajurit yang berpatroli. Rumah-rumah batu bertingkat berjejer rapi, lentera kertas merah digantung di setiap sudut. Semuanya tampak teratur, bersih, dan megah. Tapi Xuanyuan merasakannya ketegangan yang tersembunyi di balik senyum-senyum paksa.
"Banyak orang yang takut di sini. Bukan takut pencuri atau perampok. Mereka takut pada kerajaan itu sendiri. Setiap jendela terasa seperti mata yang mengintip."
Rombongan berhenti di sebuah halaman luas di distrik pengrajin. Kerbau dilepaskan, kayu diturunkan, dan pria-pria desa diberi koin tembaga masing-masing. Xiao Man mendekati Xuanyuan saat yang lain sibuk.
"Malam ini, istana akan mengadakan pesta untuk menyambut tamu dari Sekte Awan Surgawi. Pernikahan Pangeran dengan Putri Murong. Kota akan ramai, tapi penjagaan akan jauh lebih ketat dari biasanya. Jangan pergi ke distrik istana. Tetap di penginapan ini sampai fajar besok."
"Dan kau?" bisik Xuanyuan pelan, suaranya rendah agar tidak didengar orang lain.
"Aku punya urusan. Dan mencari tahu di mana Kakek Meng ditahan." Ia menyelipkan sebilah belati kecil ke saku dada Xuanyuan. "Ini untuk keadaan darurat. Jangan gunakan kecuali kau tidak punya pilihan lain."
Xiao Man berbalik dan menghilang di antara kerumunan. Xuanyuan berdiri sejenak, memegang belati itu di dalam saku, merasakan gagang kayunya yang halus dan hangat.
Ia berjalan menuju penginapan sederhana di sudut jalan seperti yang disepakati. Di dalamnya gelap dan pengap, tapi murah. Ia mengambil kamar paling belakang, jendela menghadap ke gang sempit yang sepi. Saat ia menutup pintu dan mengunci rapat-rapat, ia baru merasa aman untuk melepas topi lebar dan kain yang menutupi matanya.
Ia duduk di tepi tempat tidur kayu yang keras, menatap bayangannya di cermin retak di dinding. Mata kirinya masih tertutup kain mantra, tapi di baliknya, Pupil Gandanya berputar perlahan merasakan, mendengar, memetakan.
Dari lantai bawah, suara percakapan terdengar samar.
"...katanya Putri Murong itu tidak mau. Dia dipaksa. Tapi siapa yang berani menolak Kerajaan Langit Timur?"
"Dipaksa? Pernikahan ini menyatukan dua kekuatan besar. Apa yang bisa dilakukan seorang gadis?"
"Katanya... malam sebelum pernikahan, ada yang melihat dia menangis di menara timur. Sendirian. Seakan menunggu seseorang yang tidak akan datang."
Xuanyuan berdiri kaku. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Murong.
Itu nama keluarga Lian Yue.
Lang Wuyan tiba-tiba berbicara dengan nada yang sangat serius, tidak seperti biasanya.
"Xuanyuan... dengarkan aku baik-baik. Jika Putri yang akan dinikahi besok adalah Lian Yue... maka kau tidak punya waktu untuk rencana. Kau tidak punya waktu untuk menyusup, menyelidiki, atau menunggu. Kau punya dua pilihan: kabur sekarang selagi kau bisa, atau hancurkan seluruh kota ini malam ini."
Xuanyuan meremas ujung meja kayu hingga seratnya berderit di bawah jari-jarinya. Ingatannya melayang kembali ke pagi hari selembar kertas di bawah bantal jeraminya, tulisan tangan halus yang ia hafal di luar kepala:
"Aku mendengar mereka berencana melaporkanmu ke tetua. Pergilah sebelum malam tiba. Jangan cari aku. Aku akan mencarimu. L.Y."
Dan sekarang... dia ada di sini. Di tengah sarang musuh. Sebagai pengantin yang dipaksa.
Xuanyuan berdiri tegak. Ia melepas kain mantra penutup matanya. Untuk sesaat, dua lingkaran hitam berkilau samar di cermin redup.
"Aku tidak akan menghancurkan kota ini," bisiknya. "Tapi aku akan mengambil apa yang milikku."
Ia mengikat kembali kain mantra itu dengan kuat, lalu membalikkan telapak tangannya. Di sana, di permukaan kulitnya yang kasar, satu nama belum tertulis di Blood Ledger. Tapi malam ini, ia tahu dengan pasti nama Raja Kerajaan Langit Timur, Pangeran, dan semua yang terlibat dalam pernikahan ini akan ditulis dengan darah mereka sendiri.
Jendela kamarnya terbuka pelan. Angin malam berhembus masuk, membawa aroma bunga melati dan asap dupa dari arah istana yang jauh. Di langit, bulan purnama bersinar terang seakan menyaksikan perjanjian yang akan dilanggar malam ini.
Xuanyuan melangkah keluar ke ambang jendela. Di bawah sana, gang gelap menantinya.
"Pangeran... kau memilih pengantin yang salah," gumamnya pelan, lalu melompat turun ke dalam bayangan malam.