Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan Part-2
BAB 3
Kegilaan-Part 2
Dengan penuh perjuangan, mandi pun kelar. Daffa memakai handuk seperti biasa melilitkannya ke pinggang. Ia pun keluar dari kamar mandi dengan santainya.
"Gila, begini tiap hari bisa opname gue."
Daffa berdiri berbicara sendiri.
Ceklek!
"Din."
Daffa terkejut tiba-tiba Sarah, ibunya Dinda membuka pintu dan masuk begitu saja ke kamar itu.
"Astagfirullahal'azim, Dinda....!"
Lagi-lagi ia terdiam membeku di tempatnya, tak bergerak bagai patung hidup dengan rambut basah yang menetes ke lantai.
"Kamu nggak bisa pakai handuk yang bener apa?! Untung aja Ibu yang masuk, coba kalau Joan atau ayah, kan malu! Kamu udah gede gini pakai handuk tuh yang bener!"
Wajah Daffa memucat, karena Sarah mengomeli dirinya. Ia takut salah ucap dan Sarah akan mencurigai dirinya.
Wanita itu kemudian melepaskan handuk yang di lilit di pinggang dan memasangnya kembali dengan model kembanan.
"Kalau pakai handuk itu yang bener kayak gini, jangan kayak tadi. Malu tahu?! Tuh baju mu sudah Ibu bawakan habis di strika Bibi. Kamu rapikan sendiri masukin dalam lemari." Ujar Sarah, kemudian meninggalkan Dinda alias Daffa yang terdiam membatu.
Sarah berjalan menuju pintu. Begitu pintu di tutup, ia mengerutkan dahinya.
"Tumben tuh anak jadi kalem nggak sewot." Gumam Sarah sambil menuruni tangga menuju dapur.
Sementara di kamar, Daffa membuang napas dengan kasar. Dalam hati ia mengumpat dengan apa yang terjadi saat ini.
Kejadian barusan membuatnya berpikir, bagaimana ia harus bertindak setelah ini. Tentu banyak hal kehidupan yang tetap harus ia jalani meski tubuhnya bertukar dengan dinda saat ini.
Bahkan hal yang begitu kecil pun menjadi sulit untuk di lakukan. Contohnya seperti saat ini. Ia kembali terdiam di depan lemari karena bingung, baju mana yang harus ia pakai saat ini. Bahkan ia bingung dimana letak pakaian dalam Dinda di lemari itu.
Daffa mulai bergerak. Lelaki itu kemudian mencari-cari dan memperhatikannya apa saja yang ada, dan dimana letak barang-barang milik Dinda.
Tak lupa pakaian yang telah di antar Sarah ia susun ke dalam lemari. Setelah rapi, Daffa mengambil pakaian yang hendak ia kenakan dan berencana mendiskusikan masalah ini dengan Dinda.
***
Sementara itu di rumah Daffa.
Dinda yang berada dalam tubuh Daffa masih dalam perjuangan.
"Aduuuh sakiiiit....!"
Ia mengerang kesakitan karena sedari pagi menahan diri untuk tidak ke kamar mandi.
"Nggak tahan lagiii....!"
Akhirnya ia buru-buru ke kamar mandi. Tanpa berpikir lagi, ia membuka celana dan berjongkok di closet untuk buang hajat kecilnya.
"Aaaggh...!!"
Dinda terkejut saat cairan kuning keluar seperti mesin pompa air yang mengalir deras tanpa bisa berhenti. Apalagi cairan itu tidak mengalir ke closet, bahkan malah menyembur ke dinding hingga percikan-percikan air itu mengenai dirinya.
"Huuwaaaa...! Ini gimana cara gunain nya?!"
Dinda meringis kebingungan. Sesuatu di bawah sana nyaris berdiri dengan tegak. Mau di sentuh tapi ia merasa sangat geli, malu juga takut. Tidak di sentuh, air terjun itu benar-benar bebas tak terarah. Ini pertama kali baginya menghadapi situasi gila seperti ini.
"Ya Tuhan...! Hiks... "
Dinda menangis, kebingungan. Di saat bersamaan ia juga merasa jijik dan kotor kecipratan air seni.
"Nggak bisa, gue harus mandi."
Dalam keadaan panik, bingung dan frustrasi, ia pun memutuskan untuk segera mandi saja.
Perlahan ia membuka baju yang ada di tubuh Daffa. Sama seperti kamar mandi miliknya. Di kamar mandi itu, juga ada cermin besar yang memantulkan gambaran dirinya.
Dinda terpana. tubuh Daffa yang atletis membuatnya kagum sesaat dan lupa akan permasalahan yang ada.
Daffa yang rajin olah raga membuat bentuk tubuhnya menjadi pandangan yang menarik bagi Dinda. Bahkan membuat air mata Dinda berhenti menetes karenanya.
"Wooah...! Atletis juga."
Dinda terlena akan pemandangan yang ada. Ragu-ragu tangannya mulai menyentuh roti sobek itu dengan perlahan.
Sedang asik meraba-raba, Dinda tak sengaja melihat lagi benda yang menggantung di bawah sana.
"Aarrghh!! Aje gileee!!!"
Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, malu melihat belalai gajah dengan warna dan ukuran yang tak pernah ia bayangkan.
Pipinya panas dan memerah. Jantung bertabuh mengalahi derap lari kuda yang siap berperang.
"Gimana ini?!"
Dinda kebingungan setengah mati.
"Tapi Gue harus mandi."
Bayangan belalai gajah terus nampak di pelupuk mata meski ya telah menutupnya.
"Bodo ah!!"
Dinda mengguyur tubuh dengan air. Lalu membersihkan tubuh itu tanpa berani memandang kemana-mana. Tatapannya hanya berfokus ke satu arah yaitu depan, dimana tidak ada cermin di sana dan hanya ada peralatan mandi yang bisa ia gunakan.
Dengan penuh perjuangan akhirnya Dinda selesai membersihkan diri. Handuk ia lilitkan keseluruh tubuhnya dengan model kemban.
Dinda mencari pakaian dalam Daffa serta baju dan celana yang bisa digunakan. Setelah selesai, Dinda terbaring di tempat tidur dengan banyak pikiran.
"Tuhan, gimana ini? Bagaimana jika gue selamanya menjadi Bang Daffa?" Gumam Dinda menatap langit-langit di kamar itu.
"Tok... Tok.. Tok...!"
Dalam keadaan pikiran yang kalut, suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Dinda. Tatapan matanya langsung beralih pada pintu dan menjadi ketegangan baru yang ia hadapi saat ini.
"Daff? Kamu sudah bangun? Ada Dinda dibawah nyariin kamu."
Suara Mayang, Ibunya Daffa membuat Dinda membeku.
"Tok... Tok... Tok...!"
"Daffa, buruan turun ya. Kasihan loh Dinda kalau kelamaan nungguin."
"Iya..."
Akhir Dinda bersuara.
"Benar, Gue harus diskusikan dengan Bang Daffa." Gumamnya.
Dinda beranjak dan mengambil hodie yang tergantung, lalu mengenakannya. Ia menutup bagian kepala dan perlahan melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar itu. Ragu-ragu ia menuruni tangga dan berjalan menuju pintu utama.
Untungnya tidak begitu sulit bagi Dinda untuk mengetahui tata letak dan ruang serta area karena rumah Daffa hampir sama dengan kondisi rumahnya sendiri.
Mereka bertetangga. Rumah mereka berada di komplek yang sama, juga bentuk rumah yang sama. Yang berbeda hanya funitur dan beberapa ruangan saja.
Dinda menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Mayang. Begitu merasa aman, ia segera menuju pintu dan menemui Daffa yang telah menunggunya di teras rumah.
"Din....", Ucap Daffa pelan memanggil Dinda pada tubuhnya.
"Ssstt!"
Dinda panik dan langsung menarik lengan Daffa padahal itu lengan tubuhnya sendiri. Mereka berdua melangkah dengan cepat, dan segera menjauh dari rumah mereka.
"Gila Bang! Ada Tante Mayang di rumah! Jangan panggil Dinda. Nanti ketahuan gimana?"
Benar apa yang di katakan Dinda. Sesaat tadi Daffa lupa dengan situasi mereka.
"Jadi panggil apa?"
"Panggil gue, Bang Daffa! Kan begitu dari dulu."
Dalam diam Daffa tersenyum tipis tanpa Dinda ketahui. Meski aneh, mau tidak mau Daffa harus berperan sesuai keadaan mereka.
"Ehem,okey. Bang Daffa." Ucap Daffa, pelan.
"Duduk di situ aja."
Tunjuk Dinda pada sebuah kursi panjang taman yang berada di dekat pohon rindang.
Tanpa bicara, Daffa mengikuti Dinda. Mereka lalu duduk di kursi taman dengan pikiran masing-masing.
Setelah hening beberapa saat, akhirnya Daffa buka suara.
"Kenapa kita bisa bertukar tubuh gini ya? Rasa-rasanya Gue jarang berbuat dosa."
Daffa merasa konyol saat ini. Tidak ada solusi, tidak tahu harus berbuat apa. Dan bagaimana ia harus menghadapi situasi kedepannya dengan kehidupan yang berbeda yang tidak biasa ia lakukan.
"Mana bisa lu tahu dosa lu berapa banyak Bang?! Yang tahu itu Tuhan, dan malaikat yang mencatat amal baik dan buruk lu." Sewot Dinda.
Mereka terdiam sesaat.
"Kedepannya kita bakal susah menghadapi semuanya. Orang tua, saudara, sahabat, rutinitas.., semuanya!"
Keluh Dinda lagi yang berada di tubuh Daffa.
"Hal simpel aja bisa jadi ribet karena nggak tahu. Seperti letak baju dan...."
Dinda tidak melanjutkan kata-kata. Ia lupa kalau Daffa pasti juga merasakan hal yang sama. Ia lalu melihat ke arah Daffa yang berada dalam tubuhnya, memperhatikan dengan seksama dari atas sampai bawah penampilan dirinya yang dikemas oleh Daffa.
Seketika wajahnya memerah. Ia segera berpaling karena malu. Ia meremas jari-jarinya, dengan helaan napas berat yang terdengar keluar dari bibirnya.
Daffa yang baru mengerti setelah melihat sikap Dinda pun berpaling membelakangi Dinda yang berada dalam tubuhnya. Ia melihat baju dan celana yang di kenakan sudah berbeda dari yang kemarin ia gunakan. Aroma sabun mandi pun tercium jelas di hidung Daffa. Daffa yakin, apa yang ada dipikirannya, sudah terjadi saat ini.
"God!"
Gumam Daffa pelan sambil mengusap wajahnya.
Gumaman itu tentu terdengar oleh Dinda yang juga paham makna dari ucapan itu.
"Lu juga mandi kan Bang? Berarti lu juga udah lihat semuanya?! Ya... Tuhan..."
Kaki Dinda mendadak lemas tak berdaya. Ingin rasanya ia berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Tapi yang hanya bisa ia lakukan hanya menahan diri dan menahan sesak di dada.
"Sebaiknya kita pikirkan dengan kepala dingin. Ini udah terlanjur terjadi. Dan kita nggak tahu, berapa lama kita akan bertukar tubuh begini." Ucap Daffa.
"Hiks..."
Dinda menangis.
"Dinda, please... jangan nangis dengan tubuh gue." Bujuk Daffa, pelan.
"Jangan minta gue nggak nangis, Bang. Mana ada orang dalam keadaan gue seperti ini bisa nerima dan baik-baik aja. Hiks..."
"Gue tahu, gue tahu. Tapi please..." Daffa menahan ucapannya. "Lu tahu kan, itu tubuh laki-laki? Gimana kalau sampai ada yang lihat seorang laki-laki nangis, dan itu gue?"
Dinda menepis air mata dalam tangis tanpa suara. Meski ucapan Daffa benar dan ia ingin berhenti, namun air mata tetap mengalir tanpa di minta.
Daffa menghela napas berat.
"Gue paham apa yang lu rasain. Gue ngerti."
Ucap Daffa mencoba menenangkan, padahal ia sendiri dalam kondisi yang sama.
"Gue nggak akan cerita ke siapa-siapa apa yang udah gue lihat. Gue janji!" ucapnya akhirnya karena tahu, hal itu lah pastinya yang memberatkan Dinda.
Dan benar saja. Dinda membalikkan tubuhnya menghadap Daffa dan melihat kesungguhan lelaki itu setelah mendengar ucapannya. Meski sedikit ragu, namun apa boleh buat. Hanya dengan begitu mereka baru bisa menjalani kehidupan mulai saat ini.
"Baiklah, Bang. Ayo, kita kerja sama menghadapi ini semua... " Ujar Dinda lemah.
Daffa merasa sedikit lega mendengar ucapan itu.
Dinda kemudian mencoba untuk tegar dan meredakan sisa tangisnya. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Dan menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya.
Setidaknya saat ini Daffa tidak lagi melihat seorang laki-laki menangis di depannya. Ia merasa tenang sekarang. Tinggal ia memikirkan, bagaimana mereka kedepannya nanti.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan kedepannya Bang?" Tanya Dinda menoleh pada Daffa.
"Astaga, Bang...!"
Baru beberapa detik Dinda mencoba menenangkan dirinya, ia kembali di kejutkan dengan penampilan tubuh aslinya saat ini.
"Dari tadi lu keluar dengan tampilan begini? Kenapa lu nggak pakein tubuh gue bra sih, Bang?!"
Seketika Daffa membeku.
Dinda berubah kesal setelah menyadari dua bukit di tubuhnya tergantung bebas tanpa pengaman di balik kaos oblong yang di kenakan Daffa. Ia pun segera melepaskan hodie yang ia kenakan dan memakaikannya pada tubuh aslinya untuk menutupinya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu