"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
POV Arin
"Aku sudah tahu semuanya Rin. Aku selalu siap menolong kamu kapan saja Rin, kamu berhak bahagia. Jika kamu sudah tidak sanggup dengan Aga, kedua tangan ingin dengan lebar siap menerima kamu kapanpun"
Kata-kata Dewa sebelum dia pamit pulang, terus terngiang-ngiang di ingatan ku.
Kenapa dia bisa tahu? Bahkan ibu saja tidak tahu kalau Mas Aga tidak mau memperkenalkan aku dengan teman-temannya.
Aku bahkan sudah menutupi keburukan Mas Aga di depan Dewa. Tapi kenapa dia bisa tahu ini? Aku juga tidak bilang padanya kalau aku tidak di akui, aku di abaikan, bahkan aku di duakan. Tapi sungguh aku tidak pernah mengatakan itu pada orang lain. Aku tahu sebagai istri aku harus memendam rapat-rapat keburukan suamiku.
Ku tatap gerimis dari jendela, Mas Aga tengah keluar membelikan Ibu martabak kesukaannya. Aku diam di kamar, Dewa lelaki baik, dia begitu perduli dengan dirinya sejak dulu, lelaki lembut dan perhatian. Dia mungkin akan bahagia jika bersamanya.
Tapi bagaimana dengan Ibu nanti? Aku tidak bisa membuat hati ibu terluka, mencari lelaki lain bukanlah solusi masalah rumah tangga ku. Aku harus berani memulai, aku harus maju dan melangkah.
Ku buka lemari kecil ku, aku mencari sesuatu yang beberapa hari lalu di belikan ibu.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku mendapatkan nya juga.
Aku menatap baju dinas malam untuk para istri ini. Aku sengaja menyimpan satu di lemari. Aku harus maju, aku harus berani melangkah. Aku ingin menjadi istri seutuhnya bagi Mas Aga. Meski belum ada cinta di hatinya.
Aku yakin dengan lebih dekat dengannya, Aku bisa menaklukkan dia.
'Bismillah'
Dengan kemantapan hati, aku memberanikan diri memakai baju yang di belikan Ibu.
Aku menanti kedatangan mas Aga dengan gelisah. Aku sudah memakai baju seksi ini, aku bahkan sudah duduk di ranjangnya. Ranjang yang tidak pernah dia izinkan aku memakainya.Aku harus nekat, demi rumah tangga kami.
Mas Aga membuka pintu, dia menutup pintu dengan pelan. Dia belum menyadari hadirku, karena aku memang mematikan lampu.
Begitu pintu tertutup, dia berbalik. Mas Aga seperti orang yang terkejut kala melihatku. Sengaja aku beri aroma terapi yang begitu wangi di ruangan ini. lilin kecil aku nyalakan sebagai pengganti lampu yang telah ku matikan.
Mas Aga tidak marah melihat ku duduk sambil menundukkan kepalaku di atas ranjang miliknya. Ku lihat dia berjalan dengan begitu santai, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, dia tidak marah, namun tidak bicara juga. Mas Aga melepas pelukannya dan hanya menyisakan kaos dalamnya saja.
Tanpa bicara, dia duduk di sampingku, nafasnya terdengar berat, dia melirik ku. Aku tersenyum saat dia tidak mengatakan kata-kata kasar seperti saat malam pertama kami. Aku mulai percaya diri, apalagi tubuh ini sudah begitu wangi dan mulus. Aku sengaja luluran, memakai minyak wangi serta berdandan tipis demi dia.
Melihat dia tidak protes, aku yakin Mas Aga juga menyukainya.
"Mas mau minum?" Tawar ku.
Aku sudah mempersiapkan diri jikalau Mas Aga melemparkan isi air di gelas itu ke wajah ku. Namun itu tidak terjadi, dia justru meminum air itu dengan takus. Mas Aga nampak seperti orang kehausan. Dia duduk di sampingku, sambil menatapku dalam. Aku tidak tahu tatapan apa itu, yang pasti hati ini sudah berbunga-bunga tiada tara.
"Panas sekali" Gumamnya, aku kembali mengambilkan air untuk Mas Aga, mungkin dia sangat kehausan. Namun dia justru menarik lenganku hingga aku jatuh di pangkuannya.
Mas Aga menatapku, dia menyentuh pelan pipi ku, aku memejamkan mata saat tangannya beralih menyentuh mata ku, tangannya turun ke hidung dan berakhir di bibir ku. Dia menyentuh bibirku lama. Aku meremas ujung bajuku.
"Apa dia akan mencium ku?" Aku makin memejamkan mata, saat nafas mas Aga begitu dekat dengan wajahku.
Gerimis di luar rumah sungguh seperti alunan musik yang makin membuat suasana semakin romantis.
bibir mas Aga mencium telingaku, rasanya tubuh ini meremang.apalagi saat tangannya mulai nakal membelai paha ku yang terbuka. Aku merakan sensasi lembut itu. tubuh meremang, rasanya ingin sekali dia melakukan lebih.
Tangan mas Aga mulai nakal, dia terus masuk hingga menyentuh inti tubuh ku, aku rasanya seperti melayang. Tak pernah ku rasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya. Aku rasanya ingin mendesah,namun aku tahan sebisa mungkin.
Tangan mas Aga mulai menurunkan celana dalam ku, aku pasrah. Apalagi bibir mas Aga terus mengecup leher ini.
Aku membuka mata, Mas Aga menatap ku penuh hasrat, dia terus menatap bibirku, aku memberanikan diri maju lebih dulu, tinggal beberapa senti lagi bibir kami akan menyatu, namun mendadak ponsel Mas Aga berdering. Dia menurunkan tubuh ku dari pangkuannya dengan sedikit kasar. Sontak tubuh ini jatuh ke lantai. Hati ku menjerit sakit, aku bak wanita malam yang menggoda pelanggannya. Tubuh ini langsung lemas. Seakan tidak punya daya untuk bangun.
Ku lihat mas Aga tengah mengetik sesuatu di layar ponselnya. Tanpa aku melihatnya pun aku sudah yakin itu pasti telpon dari Rahma. Tubuhku kembali lemas, apalagi saat melihatnya mematikan lilin dengan kasar.
"Kamu yang memberi saya obat perangsang?" Tanya Mas Aga. Sontak aku menatapnya, aku tidak melakukan itu, aku hanya nekat merayunya dengan memakai baju seksi, tapi aku sama sekali tidak pernah memberi dia obat.
"Sudah aku bilang, Aku tidak mencintai kamu, jangan berani melakukan hal bodoh ini lagi!"
"Jangan buang waktumu untuk hal yang sia-sia"
Aku ingin membela, namun dia buru-buru ke kamar mandi, aku tersenyum miris, bahkan dia lebih memilih menyalurkan hasratnya sendirian di kamar mandi, dari pada memintaku membantunya. Aku berdiri mengambil baju ku di dalam lemari.
Sehina itu kah diriku di matanya? Aku meringkuk sambil menangis tertahan dengan kepala yang aku benamkan di antara lutut ku. Kenapa dia menolak ku? Apa salah ku? Tidak bisakah aku jadi istrinya. Dalam banyak novel dan film, wanita yang pernah menolong seorang laki-laki akan menjadi istri tersayang nya. Dia bahkan tidak akan di lupakan. Tapi itu hanyalah novel. Di kehidupan nyata, Aga justru membenci ku bak musuhnya. Aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya, rasanya hati ini begitu nelangsa, aku malu sudah menunjukkan seluruh tubuh ku padanya.
"Bagaimana aku menghadapi hari esok?" tangis ku makin menjadi, pada siapa aku mengadu? Apa aku harus pulang dan menceritakan semua ini pada Ibu?
Haruskah aku ceritakan semua ini pada Dewa? Tidak, bicara dengannya hanya akan menambah masalah.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?"
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...