NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:80.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Kartu Kredit yang Membisu-1

Siang itu, matahari ibu kota membakar aspal dengan teriknya. Namun di dalam salah satu mal paling bergengsi di kawasan Jakarta Selatan, udara dingin dari pendingin ruangan terasa sangat menyejukkan. Di sebuah restoran khas Italia bertaraf bintang lima, suara denting gelas kristal dan alunan musik klasik mengalun lembut, menciptakan suasana mewah yang biasa dinikmati oleh kalangan papan atas.

Di salah satu meja bundar yang berada di sudut terbaik restoran tersebut, Sisil sedang duduk dikelilingi oleh empat orang teman kampusnya. Di atas meja, piring-piring bekas hidangan truffle pasta, wagyu steak, hingga penutup mulut berupa tiramisu impor tampak berantakan.

Sisil tersenyum lebar, melipat kedua tangannya di atas meja sembari memamerkan jam tangan bersepuh emas yang baru saja ia beli pekan lalu.

"Aduh, Sil, makasih banyak ya udah traktir kita di sini!" seru Karin, salah satu teman gengnya dengan nada penuh kekaguman. "Makan di sini kan mahal banget. Sekali makan berlima begini bisa habis tiga sampai empat juta!"

Sisil mengibaskan tangannya dengan gaya sok acuh, tertawa renyah yang sedikit dipaksakan. "Aduh, Karin, santai aja kali! Cuma empat juta mah kecil buat keluarga gue. Abang gue itu Manager Divisi di Vantara Development Group, tahu gak? Gajinya puluhan juta, bonusnya aja ratusan juta! Cuma buat traktir makan siang begini mah uang receh buat Mas Rian!"

"Sumpah, Sil, iri banget deh punya kakak sukses kayak gitu," timpal Sheila, teman lainnya, sambil sibuk memoles lipstik. "Tiap minggu kamu bisa belanja baju branded, nongkrong di tempat mewah. Beruntung banget kamu ya, Sil!"

Pujian demi pujian itu melambungkan gengsi Sisil hingga ke langit ketujuh. Dahi gadis berusia dua puluh tahun itu terangkat tinggi. Ia merasa sangat bangga dan superior di antara teman-temannya. Bagi Sisil, gaya hidup mewah adalah sebuah keharusan demi menjaga status sosialnya di kampus, tak peduli dari mana uang itu berasal.

"Ya dong! Kan Mas Rian sayang banget sama gue," ujar Sisil penuh kesombongan. "Oh ya, bentar ya, gue panggil waiter-nya dulu buat bayar. Habis ini kita lanjut keliling cari tas, ya!"

Sisil melambaikan tangannya dengan gerakan anggun memanggil seorang pelayan restoran. Tak butuh waktu lama, seorang pelayan berseragam rapi mendatangi meja mereka sambil membawa sebuah map kulit hitam berisi lembar tagihan.

"Ini tagihannya, Mbak. Total seluruhnya menjadi tiga juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah," ucap pelayan itu dengan sopan.

Sisil tak sedikit pun terkejut melihat angka hampir empat juta rupiah itu. Dengan santai, ia membuka tas tangannya, mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna perak mengilap yang tampak sangat elegan. Kartu itu adalah kartu kredit tambahan (supplementary card) atas nama Annisa Septiani yang sejak dua tahun lalu dipegang oleh Sisil untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya.

"Pakai kartu ini ya, Mas. Tanpa PIN, langsung gesek aja," kata Sisil seraya menyodorkan kartu perak itu dengan gaya acuh tak acuh.

"Baik, Mbak. Mohon tunggu sebentar," sahut pelayan itu seraya membawa kartu kredit tersebut ke meja kasir.

Sisil kembali mengobrol gembira bersama gengnya. Mereka mulai merencanakan toko barang branded mana lagi yang akan dikunjungi setelah ini. Dalam pikiran Sisil, dalam hitungan detik pelayan itu akan kembali membawa resi pembayaran yang tinggal ia tandatangani.

Namun, lima menit berlalu, pelayan tadi belum juga kembali.

Sepuluh menit berlalu, alih-alih pelayan tadi, kali ini yang menghampiri meja Sisil adalah Manager Restoran berseragam jas hitam rapi dengan raut wajah yang sangat serius.

"Selamat siang, Mbak," sapa Manajer Restoran itu dengan nada sangat sopan, namun ada ketegasan di dalamnya.

Sisil mengerutkan keningnya. "Iya, Pak? Ada apa ya? Kok lama banget transaksi kartunya?"

Manajer Restoran itu menyerahkan kembali kartu kredit perak milik Sisil di atas nampan kecil. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Mbak. Kartu kredit yang Mbak berikan baru saja kami coba gesek di dua mesin EDC yang berbeda, dan keterangannya sama: Transaction Declined atau Transaksi Ditolak oleh pihak bank."

Seketika, tawa renyah di meja itu terhenti total. Empat teman Sisil saling pandang dengan raut wajah heran.

Wajah Sisil mendadak berubah agak merah karena malu. "Hah?! Ditolak?! Nggak mungkin, Pak! Bapak yang bener aja kalau ngecek! Itu kartu limitnya ratusan juta ya! Coba gesek lagi, mungkin mesin EDC Bapak yang rusak!"

"Kami sudah mencoba tiga kali, Mbak," jawab Manajer Restoran dengan sabar namun dingin. "Pihak mesin menyatakan bahwa kartu ini telah diblokir atau dinonaktifkan oleh pemegang kartu utama sejak jam dua belas siang tadi. Apakah Mbak memiliki opsi pembayaran lain? Kartu debit, kartu kredit lain, atau uang tunai?"

'Diblokir oleh pemegang kartu utama?!'

Jantung Sisil serasa berhenti berdetak saat itu juga. Darahnya berdesir hebat ke kepala. Kartu utama itu atas nama Annisa Septiani! Wanita yang pagi tadi dipotong jatah uang belanjanya oleh Rian!

"N-nggak mungkin," gumam Sisil dengan suara bergetar. Tangannya mulai gemetaran saat mengambil kembali kartu kredit itu. "Pasti ada yang salah sama banknya!"

"Sil ... gimana nih?" berbisik Karin dengan wajah panik dan canggung. "Kartumu beneran diblokir? Terus kita bayar pakenya gimana? Aku nggak bawa uang tunai sebanyak itu."

"Iya, Sil, aku cuma bawa uang seratus ribu di dompet," timpal Sheila, matanya menatap Sisil dengan pandangan yang tak lagi penuh kekaguman, melainkan kecurigaan dan rasa malu.

Sisil merasa seolah ada batu besar yang menghantam dadanya. Rasa malu yang luar biasa membakar wajahnya hingga memerah padam. Di depan teman-temannya yang tadi memuji-mujinya setinggi langit, kini ia berdiri bagaikan seorang penipu yang tidak bisa membayar makanan mewah yang ia pesan sendiri.

"Sebentar! Gue telepon abang gue dulu!" seru Sisil panik. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponselnya dan segera mendial nomor Rian.

Di tempat lain, Rian sedang duduk di dalam ruang kerjanya yang ber-AC dingin di lantai empat gedung anak perusahaan Vantara Development Group. Di sampingnya, Eriska sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di meja Rian sambil mengelus gelang berlian baru di pergelangan tangannya.

Kring! Kring!

Dering ponsel Rian memecah suasana manja di ruangan itu. Rian melihat layar ponselnya yang menampilkan nama adiknya.

"Kenapa, Sil? Mas lagi sibuk nih di kantor," angkat Rian dengan nada agak malas.

"Mas Rian! Tolongin Sisil, Mas! Tolongin!" suara Sisil melengking histeris dari ujung telepon, terdengar suara tangisan bercampur kepanikan yang sangat hebat.

Rian menegakkan posisi duduknya, dahinya berkerut tajam. "Kamu kenapa menangis, Sil?! Ada apa?!"

"Kartu kredit Sisil diblokir, Mas! Sisil lagi makan sama temen-temen kampus di restoran Italia, totalnya hampir empat juta. Pas mau bayar, kartunya dibilang ditolak sama kasir! Sisil malu banget, Mas! Sisil ditahan sama Manajer Restoran di sini!" jerit Sisil tanpa peduli lagi pada harga dirinya.

Rian melotot kaget. "Diblokir?! Kok bisa diblokir?! Itu kan kartu kredit dari—"

Bersambung...

1
Oma Gavin
feeling mu sudah bener kenapa tetap nekat jalan tanpa prasangka buruk
iqha_24
deg2an, mommy lanjuut
I Pehh
lanjut mom, sllu d tunggu upnya💪
Halimah
Udah ga waras nih Rissa
Cicih Sophiana
Rissa dari pada uangdi buang sia sia kan lebih baik untuk bersenang senang... misal nya belanja, ke salon atau jalan jalan ke luar negri kan asik... ini kok malah di buang sia sia ngasih makan orang jahat...
Teh Euis Tea
si rissa bodoh bgt punya uang bukannya hidup tenang pergi jauh dan memperbaiki diri ini malah di pake buat bayar orang untuk nyelakain anissa, mudah2an anissa dan calon bayinya selamat ya dan si rissa membusuk di penjara
Nar Sih
jgn sampai risa berhssil niat jht nya untuk mencelakai anisa
Wiek Soen
semoga saja Anisa selamat
Wiek Soen
rissa menggali kuburnya sendiri ❤️
Herman Lim
waduh moga aja GPP
vania larasati
lanjut
Kar Genjreng
rissa Ahir tinggal nama kalah telak duhh bodo si kenapa uang di hambur ga jelas coba buat hidup tenang menikmati. pemberian mantan lah ini berulah karena
ga terima di cerai,,, sekarang abis lah riwayat mu ,,,karir ham ur leburur uang di tarik harga diri ha punya lagi tinggal.
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin 🥰🥰🙏😍
Mutaharotin Rotin
🤦🤦🤦🤦 aduuuh ada bahaya mengintai Anisa
Oma Gavin
modal nekat rissa semoga senjata makan tuan
Cicih Sophiana
nafsu serakah Rissa adh tdk bisa di kendalikan hawa nafsu... perempuan egois seperti Rissa krn dia tdk mau kehilangan hidup dgn kemewahan...
Cicih Sophiana
Rissa siapa bukan siapa siapa kan... pasti akan mudah di jatuhkan bos Vantara dan Fandy 😄
Cicih Sophiana
Rissa gak mungkin kamu bisa melawan Nissa dan Fandy apa lg mereka punya uang... mau apa pun pasti mereka bisa melakukan nya... Rissa kamu cari masalah yg tdk mungkin kamu bisa melawan nya...
Cicih Sophiana
buat apa hidup menyiksa diri... di kasih hidup pergunakan dgn baik Rissa
Cicih Sophiana
knp neng kok marah marah bukan nya udah di cerai Fandi yah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!