"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi Cheerleader 33.
Keheningan di sudut kantin itu terasa mencekik. Keysha masih berdiri di sana, menatap tautan tangan Rian dan Ziva seolah benda itu adalah belati yang baru saja menghunjam dadanya.
Ziva bisa merasakan bagaimana jemari Rian sempat mengeras selama satu detik.
Refleks tubuh yang wajar dari seseorang yang masa lalunya tiba-tiba muncul.
Namun, yang membuat jantung Ziva berdesir hebat adalah apa yang dilakukan Rian sedetik kemudian: cowok itu tidak melepas genggamannya. Sama sekali tidak. Rian justru membawa tangan Ziva masuk ke dalam saku jaketnya, menyembunyikannya dari pandangan Keysha.
"Ada perlu apa, Key?" tanya Rian. Suaranya datar. Tidak ada lagi nada panik atau binar memohon yang biasanya selalu ada setiap kali Keysha menoleh padanya.
Keysha tertawa hambar, suara tawanya terdengar bergetar di ujung. "Nggak ada. Cuma nggak menyangka aja. Cepat banget ya, Yan? Kemarin lo bilang gue segalanya, sekarang lo bahkan nggak malu terus pamer kemesraan di tempat umum sama... dia?" Pandangan Keysha beralih ke Ziva, penuh kilat merendahkan.
Ziva yang biasanya meledak-ledak dan siap menjambak siapa saja yang mengusiknya, kali ini hanya diam. Dia menatap Keysha dengan tatapan tenang, hampir seperti rasa kasihan. Ziva tahu, dia sudah menang. Rian-lah yang memilih untuk tinggal di sisinya.
"Gue rasa nggak ada yang perlu didebatin, Key," sahut Rian dingin, berdiri dari kursinya sambil menarik Ziva lembut agar ikut berdiri. "Ayo, Ziv. Kelas bentar lagi mulai."
Rian melangkah melewati Keysha begitu saja, meninggalkan cewek itu sendirian di tengah kantin yang mulai berbisik-bisik. Keysha mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sesak di dadanya mendadak berubah menjadi bara ego yang terbakar.
**
Dua minggu berlalu secepat angin, dan atmosfer SMA Taruna Bakti mendadak berubah total.
Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) tingkat provinsi resmi dibuka.
Di sinilah gengsi antar sekolah dipertaruhkan, dan bagi Keysha, ini adalah panggung pembuktiannya.
Gedung Olahraga (GOR) utama kota sudah dipadati ribuan suporter. Teriakan yel-yel menggema, saling bersahutan memekakkan telinga.
Hari ini adalah kompetisi cheerleader tingkat provinsi, acara paling bergengsi yang selalu dinanti.
Di dalam ruang ganti tim Taruna Bakti, suasananya justru mencekam.
"Keysha! Gerakan lo di formasi piramida tadi telat setengah ketukan! Lo fokus nggak, sih?!" bentak pelatih mereka, membuat seluruh anggota tim langsung menunduk takut.
Keysha yang sedang membenarkan ikatan rambut kuncir kudanya hanya bisa menggigit bibir bagian dalam. Wajahnya yang dipoles riasan tebal tampak pucat. "Maaf, Kak. Tadi cuma kurang konsentrasi. Saya perbaiki di penampilan inti nanti."
"Harus! Lo itu kapten! Kalau lo berantakan, satu tim hancur!" Pelatih itu keluar dengan membanting pintu.
Keysha mengembuskan napas berat. Dia berjalan mendekati jendela ruang ganti yang menghadap langsung ke arah parkiran VIP. Matanya bergerak gelisah, mencari satu objek yang sejak pagi dia tunggu.
Sebuah mobil sport hitam yang sangat dia kenali tampak baru saja memasuki area parkir.
Jantung Keysha berdegup kencang. Itu mobil Marvel, pacarnya. Marvel adalah kapten tim basket dari sekolah nya, cowok kaya raya yang akhir-akhir ini mulai terasa menjauh dan bersikap dingin padanya sejak Marvel frustasi nilainya turun yang berakhir asetnya diambil oleh papahnya.
Marvel turun dari mobil itu dengan gerakan frustrasi, terlihat papahnya ikut turun dari mobil dan sedikit berbincang pada Marvel dengan tampang kepalang sebal.
Keysha tersenyum lega. "Dia datang. Marvel pasti datang buat dukung gue," bisiknya menenangkan diri sendiri. Setidaknya, kehadiran Marvel bisa mengembalikan egonya yang sempat runtuh.
Namun, senyum itu perlahan memudar ketika cowok itu tidak berjalan ke arah pintu masuk tribun penonton umum.
Dia justru berjalan ke arah koridor belakang, menjemput seorang cewek dengan seragam cheerleader dari sekolah lain, lalu merangkul pinggang cewek itu dengan mesra di depan umum.
BOOM!
Dunia Keysha rasanya runtuh saat itu juga. Kenyataan menampar wajahnya dengan begitu keras. Marvel sengaja datang ke GOR ini bukan untuknya, melainkan untuk mendukung cewek lain. Sialnya, Marvel sempat mendongak, menatap ke arah jendela ruang ganti tempat Keysha berdiri, lalu memberikan senyum sinis yang seolah berkata: Lo bukan siapa-siapa lagi buat gue.
"Keysha! Tiga menit lagi kita naik ke lapangan! Bersiap!" teriakan asisten pelatih membuyarkan lamunan pahitnya.
Keysha berbalik dengan tubuh gemetar. Air mata hampir merusak maskara mahalnya, namun dia paksa untuk tertahan. Dadanya sesak luar biasa, kepalanya berdenyut pening karena tekanan yang bertubi-tubi. Ambisinya, pacar kayanya, reputasinya—semuanya terasa perlahan slip dari genggaman tangannya.
**
Lampu GOR meredup, menyisakan lampu sorot yang mengarah tepat ke tengah lapangan. Tim cheerleader SMA Taruna Bakti berjalan masuk dengan senyuman profesional yang dipaksakan. Di barisan paling depan, Keysha memimpin dengan dada membusung, mencoba melupakan rasa sakit akibat pengkhianatan Marvel yang baru saja dia lihat di parkiran.
Musik berdentum keras.
Keysha mulai menari. Gerakannya bertenaga, senyumnya mengembang lebar di bawah sorotan lampu. Namun di dalam hati, dia menjerit. Dia butuh pengakuan. Dia butuh seseorang yang menatapnya dengan penuh pemujaan seperti dulu, untuk membuktikan bahwa dia tidak se-menyedihkan ini.
Di sela-sela formasi, saat tubuhnya diangkat ke atas oleh anggota timnya, mata Keysha bergerak liar menelusuri ribuan penonton di tribun khusus SMA Taruna Bakti. Dia mencari satu sosok yang biasanya selalu berdiri di barisan paling depan membawa air mineral dan handuk kecil untuknya.
'Rian. Di mana lo? Lo pasti lihat gue, kan?' jerit batin Keysha frustrasi.
Dan di sanalah cowok itu.
Tepat di barisan tengah tribun penonton, Rian duduk dengan tenang. Mata Keysha berbinar sesaat. Ada secercah harapan yang mendadak membuncah di dadanya.
Rian datang. Cowok itu ternyata masih peduli padanya! Rasa percaya diri Keysha mendadak melambung tinggi. Dia memberikan gerakan terbaiknya, matanya dikunci lurus ke arah Rian.
Namun, antusiasme itu mendadak mati total ketika formasi berubah dan lampu sorot GOR menerangi area tribun penonton dengan lebih jelas.
Keysha salah besar.
Rian tidak sedang memakai jaket denim yang biasa dia pakai saat mendukung Keysha. Hari ini, Rian memakai kaos polos berwarna putih oblong yang disablon manual secara tebal di bagian dadanya.
Tulisan di kaos itu berwarna merah menyala, sangat kontras dan bisa dibaca dengan jelas oleh siapa pun dari tengah lapangan:
"TIM HORAS MADING - ZIVA'S NUMBER ONE FAN."
Di samping Rian, Ziva duduk sambil memegang kamera DSLR, sibuk mengambil gambar jalannya acara mading sekolah dengan senyum lebar. Sesekali Rian mencondongkan tubuhnya, mengusap keringat di leher Ziva dengan tisu, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Ziva tertawa lepas hingga memukul lengan Rian pelan.
Dunia di sekitar Keysha mendadak berjalan slow motion.
Pandangan Rian sama sekali tidak tertuju pada panggung cheerleader yang sedang berkilau.
Mata Rian, sejak awal hingga detik ini, hanya terkunci pada Ziva yang berada di sebelahnya. Cowok itu memakai baju bertuliskan nama cewek lain di panggung tertinggi tempat Keysha seharusnya menjadi ratu.
Ego Keysha hancur berkeping-keping. Rasa panik, cemburu, dan penghinaan yang luar biasa bercampur menjadi satu, menyumbat aliran napasnya.
Tepat saat musik mencapai klimaks dan Keysha harus melakukan lompatan balik (backflip) untuk formasi penutup, fokusnya hilang total. Matanya masih terpaku pada tawa bahagia Rian dan Ziva di tribun.
Kaki Keysha salah menumpu.
Brakk!
......................
...***************...
To be continue,