NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak Baru X Sahabat Ospek

‎   Ospek di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003 adalah sebuah karnaval penderitaan yang dibungkus dengan dalih "pembentukan karakter". Setelah insiden tertawa di tengah barisan yang membuat Reza dan Poltak dihukum merayap bak tentara di medan perang, keduanya resmi menjadi public enemy nomor satu bagi panitia. Namun, hukuman itu justru mematri persahabatan mereka menjadi sesuatu yang sekeras baja.

‎

‎Di hari terakhir Ospek, atau yang sering disebut sebagai malam inagurasi, tekanan tidak hanya datang dari hukuman fisik, tapi juga dari godaan pergaulan kota metropolitan. Selepas acara resmi yang melelahkan, beberapa senior atau "kating" (kakak tingkat) yang merasa dirinya paling berkuasa mengumpulkan mahasiswa baru laki-laki di sudut gelap parkiran kampus. Salah satunya adalah Bang Boris, kating gondrong bersuara serak yang selalu memakai jaket kulit meski cuaca Depok sedang panas-panasnya.

‎

‎"Kalian ini udah resmi jadi mahasiswa, bray. Anak UI! Masa depan bangsa!" seru Bang Boris sambil menyalakan rokok. Ia lalu mengeluarkan botol kaca berisi cairan bening kekuningan dari dalam ranselnya. "Nah, buat ngerayain kebebasan kalian dari masa SMA yang cupu, malam ini kita cheers dulu. Minuman dewa, oplosan spesial racikan kosan gue. Siapa yang berani minum duluan, gue jamin masa kuliahnya aman sentosa."

‎

‎Beberapa maba yang ingin terlihat keren dan diterima di circle pergaulan elit kampus langsung maju dan menenggak minuman berbau menyengat itu. Saat giliran botol itu disodorkan ke arah Reza dan Poltak, suasana mendadak hening.

‎

‎Reza menatap botol itu, lalu menatap wajah Bang Boris yang menantang. Di benaknya, langsung terbayang wajah bapaknya yang menjual motor Astrea Grand kesayangannya, dan ibunya yang rela makan nasi dengan garam demi ongkosnya ke Jakarta.

‎

‎"Maaf, Bang," kata Reza pelan tapi tegas, menolak botol tersebut. "Duit gue pas-pasan banget. Kalau gue minum ginian terus keracunan, masuk rumah sakit, bapak gue di kampung bisa-bisa jual ginjal buat bayar tagihan. Gue skip aja, Bang."

‎

‎Bang Boris mendengus sinis. "Halah, cupu lo! Takut sama emak lo?" Ia lalu beralih menatap Poltak yang bertubuh besar. "Lo gimana, Tak? Muka sangar masa minum susu?"

‎

‎Poltak, dengan logat Bataknya yang kental dan tanpa dosa, menggeleng kuat-kuat. "Bukan masalah cupu, Bang. Kalau sampai Inangku di Medan tahu aku minum ginian, bukan cuma ginjal si Reza yang hilang, marga Hasibuan-ku pun bisa dicabut! Lagian baunya macam spiritus tambal ban, Bang. Mauliate, makasih banyak, aku mending minum bandrek."

‎

‎Sontak beberapa kating tertawa meremehkan. "Yaelah, gembel kampung. Udah miskin, belagu lagi," cibir salah satu teman Bang Boris. Sejak malam itu, cap "Bocah Cupu" resmi menempel di dahi Reza dan Poltak. Namun, mereka berdua sama sekali tidak peduli. Bagi Reza, targetnya adalah Cina, bukan pengakuan dari kating kurang kerjaan.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Setelah Ospek selesai, realitas kehidupan perantauan memukul Reza dengan keras. Ia dan Poltak harus segera mencari tempat tinggal permanen di sekitar kampus. Kawasan yang paling populer bagi mahasiswa UI saat itu adalah Kukusan Kelurahan (Kukel) dan Kukusan Teknik (Kutek), daerah padat penduduk yang didominasi oleh deretan kamar kos berbagai kelas.

‎

‎Di sinilah perbedaan kasta antara Reza dan Poltak terlihat sangat mencolok.

‎

‎Poltak adalah anak dari seorang pemborong jalan tol di Sumatera Utara. Uang saku bulanannya mungkin setara dengan gaji bapak Reza selama setengah tahun. Saat mereka mensurvei kos-kosan, Poltak selalu menanyakan hal-hal yang membuat Reza menelan ludah.

‎

‎"Ada AC-nya, Bu? Kamar mandinya pakai shower air panas nggak? Kasurnya spring bed kan, bukan kasur kapuk yang ada kutu busuknya?" tanya Poltak pada seorang ibu kos berdaster macan tutul di daerah Kutek.

‎

‎Reza yang berdiri di belakang Poltak hanya bisa meringis. "Tak, gue pisah aja deh cari kosannya. Nyari yang kamar mandinya di luar, terus kalau bisa yang atapnya asbes juga nggak apa-apa asal murah."

‎

‎Poltak langsung menoleh, menatap Reza dengan wajah tidak setuju. "Bah! Apa pula kau ini, Za? Kita ini udah kawan seperjuangan dari Ospek. Masa kau tinggal di gubuk derita, aku tinggal di istana? Nggak tenang tidurku nanti kawan!"

‎

‎"Ya terus gimana? Duit gue cuma cukup buat bayar kosan sepetak, Tak. Kalau gue maksain ikut lo di kosan elit, bulan depan gue makan obat nyamuk bakar."

‎

‎Melihat keteguhan (dan kemiskinan) temannya, Poltak akhirnya membuat keputusan yang membuat Reza terenyuh. Pemuda Batak yang biasanya manja itu memilih untuk menyewa kamar di kos-kosan sederhana yang tidak ber-AC, tepat di sebelah kamar Reza. Kamar mandinya memang di dalam, tapi kasurnya masih kasur busa biasa. Ketika Reza protes karena merasa Poltak menurunkan standar hidupnya, Poltak hanya tertawa.

‎

‎"Tenang aja kau, Za. Anggap aja aku lagi latihan prihatin biar kalau nanti jadi anggota dewan nggak kaget pura-pura miskin," canda Poltak santai.

‎

‎Kebaikan Poltak tidak berhenti di situ. Ia tahu Reza berhemat gila-gilaan. Setiap kali Poltak memesan makan malam—entah itu ayam bakar, sate Padang, atau porsi jumbo nasi goreng gila—ia selalu memesan dua porsi.

‎

‎"Makan, Za. Jangan sampai otakmu konslet pas ngapal huruf keriting itu gara-gara kurang gizi," paksa Poltak sambil menyodorkan sebungkus nasi Padang ke kamar Reza yang pengap. Reza awalnya menolak karena gengsi, tapi cacing di perutnya selalu lebih jujur. Poltak, meski anak orang kaya raya, tidak pernah sekalipun merendahkan Reza. Ia justru sangat menghormati tekad temannya itu. Bagi Poltak, Reza adalah definisi dari kerja keras yang sesungguhnya.

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Kehidupan kuliah di jurusan Sastra Cina ternyata jauh lebih mengerikan dari bayangan Reza. Menghafal Hanzi (karakter Mandarin) dan Pinyin (romanisasi) menguras seluruh kewarasannya. Ia harus berlatih menulis satu huruf berulang-ulang sampai puluhan kali agar tangannya terbiasa. Salah satu goresan saja, maknanya bisa berubah dari "Ibu" menjadi "Kuda".

‎

‎Sementara mahasiswa lain asyik nongkrong di mal kawasan Margonda atau bermain biliar sehabis kelas, Reza mengubah dirinya menjadi 'tahanan' Perpustakaan Pusat (Perpusat) UI. Setiap hari, dari jam pelajaran usai hingga perpustakaan hampir tutup, Reza duduk di sudut yang sama. Di depannya menumpuk kamus Mandarin setebal batu bata, buku tata bahasa, dan brosur-brosur usang tentang beasiswa ke Tiongkok yang ia kumpulkan dari berbagai pameran pendidikan.

‎

‎Ia tahu, satu-satunya tiket menuju Guangzhou, tempat Chintya berada, adalah beasiswa. Dan beasiswa hanya diberikan kepada mereka yang nilainya nyaris sempurna. Kelereng pemberian Chintya selalu ia letakkan di atas meja belajarnya. Benda kecil itu menjadi semacam jimat penolak kantuk. Setiap kali matanya mulai berat dan kepalanya hampir membentur meja, satu tatapan ke arah kelereng itu sudah cukup untuk membuat adrenalinnya kembali terpompa. Gue harus ke sana. Gue harus nemuin dia.

‎

‎Selain belajar mati-matian, Reza juga sadar bahwa uang saku dari orang tuanya di kampung sangatlah terbatas. Ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan subsidi silang berupa traktiran dari Poltak. Oleh karena itu, Reza memutuskan untuk bekerja sambilan.

‎

‎Setelah berputar-putar melamar di sekitar Margonda, Reza akhirnya diterima bekerja sebagai waiter sekaligus tukang cuci piring di sebuah kedai Kopitiam kecil yang baru buka. Jadwalnya sangat padat. Pagi hingga siang ia kuliah, sore ia mendekam di perpustakaan, dan malam dari jam 7 hingga 11 ia bekerja di Kopitiam dengan celemek yang selalu bau asap dapur.

‎

‎Waktu tidurnya tidak lebih dari empat jam sehari. Wajahnya semakin tirus, kantung matanya menghitam seperti panda. Poltak yang sering menemaninya belajar (meski Poltak sendiri lebih sering tertidur di atas buku) sering menggelengkan kepala melihat rutinitas Reza.

‎

‎"Kau ini sebenarnya manusia, robot, atau zombie, Za? Nggak capek kau ngejar beasiswa sambil nyuci piring tiap malam?" tanya Poltak suatu sore di kantin fakultas.

‎

‎Reza yang sedang mengunyah tempe goreng murahan tersenyum tipis. "Capek sih, Tak. Tapi kalau gue berhenti gerak sekarang, gue bakal ketinggalan pesawat ke Cina selamanya. Janji gue ada di sana, Tak. Kalau gue nggak berjuang, mending gue balik kampung ternak lele."

‎

‎Mendengar itu, Poltak hanya bisa menepuk bahu Reza dengan penuh rasa hormat. "Ngeri kali tekadmu kawan. Kalau kau sampai ke Cina nanti, kau harus bawakan aku oleh-oleh pedang Shaolin!"

‎

‎

‎...

‎

‎

‎   Kantin Sastra, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Kansas", adalah pusat peradaban bagi anak-anak FIB dan juga tempat nongkrong lintas fakultas. Suasananya selalu ramai, dipenuhi asap rokok, suara denting gitar kopong, dan tawa mahasiswa.

‎

‎Namun, seperti halnya di banyak kampus, ada saja sekelompok mahasiswa yang merasa dirinya adalah kasta tertinggi. Di angkatan Reza, kelompok ini dipimpin oleh Kevin, seorang mahasiswa dari fakultas tetangga yang selalu nongkrong di Kansas. Kevin adalah stereotip anak borju awal 2000-an: rambut jigrik dengan gel mahal, kemeja bermerek yang sengaja tidak dikancing bagian atasnya, dan selalu memutar-mutar kunci mobil Honda Jazz di tangannya agar semua orang tahu status sosialnya.

‎

‎Suatu siang yang terik, insiden tak terelakkan itu terjadi.

‎

‎Poltak yang sedang membawa mangkuk soto ayam panas dan segelas es teh manis, berjalan terburu-buru mencari meja kosong. Karena badannya yang besar dan jalannya yang sedikit kikuk, Poltak tidak sengaja tersandung kaki kursi. Keseimbangannya hilang, dan... BYUR!

‎

‎Sebagian kuah soto ayam yang berminyak itu tumpah, tepat mengenai sepatu sneakers putih bersih milik Kevin yang sedang berdiri mengobrol dengan geng-nya di jalur lintasan.

‎

‎Keheningan mendadak menyelimuti separuh kantin. Suara tawa terhenti.

‎

‎"Woy, anjing!" umpat Kevin keras, menatap sepatunya dengan jijik, lalu menatap Poltak dengan mata melotot. "Mata lo di mana, hah?! Lo tahu nggak harga sepatu gue ini berapa? Muka lo aja dijual nggak bakal cukup buat belinya!"

‎

‎Poltak yang pada dasarnya berhati lembut dan tidak suka keributan, langsung pucat. Ia buru-buru mengambil tisu dari sakunya dan berjongkok. "Aduh, sori Bang. Sori kali, nggak sengaja aku. Sini kulap, biar kubawa ke laundry nanti..."

‎

‎Sebelum tangan Poltak menyentuh sepatu itu, Kevin menendang tangan Poltak kasar hingga pemuda Batak itu terjengkang ke belakang. "Nggak usah pegang-pegang pakai tangan kotor lo! Dasar gajah bengkak. Udah muka preman, nyasar masuk Sastra Cina lagi. Lo pikir lo F4? Pantes aja kampus ini makin suram, isinya gembel kayak lo pada!" teman-teman Kevin tertawa riuh, ikut memanaskan suasana.

‎

‎Di sudut kantin, Reza yang sedang fokus menyalin Hanzi langsung menghentikan gerakan bolpoinnya. Ia melihat sahabatnya ditendang dan dipermalukan di depan umum. Darah Reza mendidih. Ia memang miskin, ia memang kurus, tapi ia tidak pernah membiarkan temannya diinjak-injak.

‎

‎Dengan langkah tenang namun rahang mengeras, Reza mendekati kerumunan itu. Ia berdiri tepat di depan Poltak yang masih terduduk, menjadi tameng bagi sahabatnya.

‎

‎"Udah, Tak. Bangun," kata Reza dingin, menarik tangan Poltak untuk berdiri.

‎

‎Lalu, Reza menatap lurus ke mata Kevin. Tidak ada rasa takut sedikit pun. "Dia udah minta maaf, dan dia bilang mau ganti rugi atau laundry. Lo nggak perlu main fisik dan bawa-bawa fisik orang. Sepatu lo mungkin ori, tapi kelakuan lo KW super. Kampungan tau nggak?"

‎

‎Kata-kata Reza yang menusuk dan sarkastis membuat wajah Kevin memerah padam karena marah dan malu dilihat banyak orang. Harga dirinya sebagai "penguasa" kampus terkoyak oleh mahasiswa kurus kering berpenampilan lusuh.

‎

‎"Berani lo sama gue, hah?! Lo siapa? Penjaga warnet mana lo?!" teriak Kevin. Tanpa aba-aba, Kevin meraih gelas es teh manis milik Poltak yang masih utuh di atas nampan, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Reza.

‎

‎BYUR!

‎

‎Es teh manis dingin, lengkap dengan bongkahan es batunya, mengguyur rambut dan wajah Reza. Seragam kemeja flanel lungsurannya basah kuyup. Beberapa mahasiswi di kantin menjerit kaget.

‎

‎"Gembel Sastra belagu banget. Itu buat cuci muka lo yang kucel!" cibir Kevin sambil meludah ke lantai, lalu berbalik pergi bersama geng-gengnya yang masih tertawa mengejek, meninggalkan Reza dan Poltak yang menjadi tontonan seluruh kantin.

‎

‎Suasana menjadi kaku. Beberapa orang menatap mereka dengan kasihan, namun tidak berani ikut campur. Poltak, dengan mata berkaca-kaca karena merasa bersalah, menatap Reza.

‎

‎"Za... maafin aku, Za. Gara-gara aku kau yang disiram. Hancur kali bajumu," suara Poltak bergetar. Ia siap meninju Kevin saat itu juga, tapi Reza menahan lengannya kuat-kuat. Jangan sampai mereka terlibat perkelahian yang bisa berujung pada Drop Out. Mimpi ke Cina terlalu berharga untuk ditukar dengan ego.

‎

‎Reza berdiri mematung selama beberapa detik. Air teh yang lengket menetes dari ujung rambutnya, melewati hidungnya, dan masuk ke sela-sela bibirnya. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang.

‎

‎Lalu, hal yang paling tidak terduga terjadi.

‎

‎Reza membuka matanya, menjulurkan lidahnya, dan menjilat sisa es teh manis yang menempel di sudut bibirnya. Ia menoleh ke arah Poltak dengan wajah datar yang dibuat-buat.

‎

‎"Manis, Tak," kata Reza santai. "Lumayan banget ini, gue jadi hemat nggak usah pesen minum siang ini."

‎

‎Poltak terbelalak, tidak percaya dengan reaksi temannya. Detik berikutnya, saat melihat rambut Reza yang lepek menempel di dahi lengkap dengan sepotong daun teh yang tersangkut di alisnya, pertahanan Poltak runtuh. Ia tertawa. Awalnya hanya kekehan kecil, lalu berubah menjadi tawa terbahak-bahak yang menggelegar.

‎

‎Mendengar tawa Poltak yang menular, Reza pun akhirnya ikut tertawa. Mereka berdua, berdiri di tengah kantin yang basah oleh kuah soto, dengan baju Reza yang lengket dan bau melati, tertawa lepas seolah kejadian barusan adalah lelucon paling lucu di dunia. Mereka menertawakan Kevin, menertawakan kemiskinan mereka, menertawakan nasib mereka yang konyol. Mahasiswa lain yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, mengira dua maba itu sudah putus urat malunya.

‎

‎"Udah ah, cabut yuk Tak. Gue mesti kerja ntar sore, bau soto gini malah dikira menu berjalan gue nanti," ucap Reza sambil merangkul pundak Poltak. Keduanya berjalan meninggalkan Kantin Sastra dengan dada membusung, seolah merekalah pemenang dari insiden itu.

‎

‎Sore harinya, setelah berganti baju, Reza duduk sebentar di tepi Danau Kenanga, danau ikonik di dalam kampus UI. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan warna keemasan di permukaan air. Poltak duduk di sampingnya, mengunyah kacang sukro.

‎

‎Reza merogoh saku celananya, mengeluarkan kelereng baret dengan motif biru merah itu, dan memutarnya di bawah sinar matahari.

‎

‎"Apa itu, Za? Dari Ospek aku perhatikan kau selalu bawa gundu itu. Jimat dari dukun mana itu?" tanya Poltak iseng.

‎

‎Reza tersenyum tipis. "Ini bukan jimat, Tak. Ini semacam... kompas."

‎

‎"Kompas? Nunjuk ke arah mana rupanya?"

‎

‎"Ke arah seorang cewek tomboy yang hidungnya sering belepotan debu, Tak. Di sebuah kota bernama Guangzhou," jawab Reza lirih, matanya menerawang jauh melintasi danau, melintasi Jakarta, melintasi benua.

‎

‎Poltak tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti beratnya beban yang dibawa sahabatnya itu. Di bawah langit sore Depok, janji itu semakin mengkristal di hati Reza. Hinaan, es teh manis, rasa lelah bekerja, semuanya hanyalah batu kerikil yang harus ia lewati demi menepati kata yang belum sempat terucap.

‎

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!