NovelToon NovelToon
Terlambat, Tuan Wiratama

Terlambat, Tuan Wiratama

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Vale

Tiga puluh dua panggilan tak terjawab. Satu kotak putih kecil yang dibuang seperti sampah. Dan seorang suami yang memilih menemani perempuan lain.

Dua tahun Maya Nugroho menjadi istri yang tak boleh dikenal siapa pun. Ketika mobilnya dilempar ke sungai dan ia kehilangan bayinya, Dimas Wiratama, pewaris Grup Wiratama yang dingin dan selalu merasa benar, bahkan tak sempat bertanya apa yang terjadi padanya.

Maya memilih pergi.

Yang tak diketahui keluarga itu: perempuan yang mereka remehkan sebagai "analis junior" adalah Aro, nama paling ditakuti di dunia teknologi, orang yang bisa menahan kontrak bernilai miliaran hanya dengan satu laporan penilaian. Dan ada satu rahasia lain yang Maya sembunyikan rapat-rapat dari Dimas.

Kini keluarga Wiratama menekan lewat perawatan ayahnya, musuh lama memasang jerat, dan sebuah kebohongan besar mulai retak dari dalam. Maya harus bertahan demi satu-satunya hal yang tak akan ia biarkan hilang lagi.

Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dimas hanya punya satu kata untuk dirinya sendiri: terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

capitulo-001

Bab 1 — Hadiah yang Jadi Sampah

"Tolong panggilkan suamiku. Kumohon. Aku sedang kehilangan bayi kami."

Perawat itu menggenggam tanganku, sementara aku berusaha menyodorkan ponsel kepadanya. Di layar tertera tiga puluh dua panggilan keluar ke Dimas Wiratama. Tak satu pun dijawab.

Semuanya kutelepon dari dalam mobil, saat aku terjebak di sungai. Sekarang aku sudah di rumah sakit, berdarah-darah, dan masih berharap dia datang.

"Bu Maya, kami harus membawa Ibu sekarang," katanya. "Dokter sudah menunggu."

"Rumah sakit ini milik keluarganya. Pasti ada yang tahu dia di mana."

Rasa sakit lain membuatku membungkuk memegangi perut. Aku takut mati. Tapi lebih dari apa pun, aku ingin anakku selamat. Aku butuh Dimas ada di sini saat mereka memberi tahu apakah masih ada harapan.

Perawat itu meminta rekannya mencoba mencari Dimas, lalu melepas rem kursi roda.

"Kami akan merawat Ibu. Kami tidak bisa menunggu suami Ibu."

Aku mengangguk sambil menangis. Aku didorong masuk tanpa sempat bicara dengan suamiku.

Aku dan Dimas sudah menikah dua tahun. Pernikahan kami tercatat resmi di KUA, tetapi dia menolak mengakuinya di depan umum. Larasati adalah adiknya. Clarissa adalah perempuan yang dia pamerkan sebagai kekasih.

Aku sudah menyukai Dimas sebelum kami menikah. Setelah satu malam yang tak sepenuhnya kami ingat, dia menuduhku merencanakan semuanya. Aku menyangkal. Dia tidak percaya, tapi tetap menerima pernikahan itu demi mencegah skandal bocor ke publik.

Katanya, urusan memberi tahu keluarga bisa nanti-nanti. Aku ingin percaya bahwa lama-lama, setelah hidup serumah denganku, dia akan sadar bahwa dia salah.

Bahkan di rumah sakit yang memakai nama keluarganya, aku harus menjelaskan siapa diriku.

Kecelakaan itu terjadi kemarin pagi. Aku sedang mengemudikan mobil perakku di jalan lingkar tepi sungai ketika sebuah mobil impor merah menyerempet sisi kendaraanku dan memotong jalurku. Kendali mobil lepas, aku menerobos pembatas jalan dan jatuh ke sungai.

Sabuk pengaman terkunci. Air merembes masuk lewat jendela, dan aku terjepit di antara kepingan besi, berusaha mempertahankan kepalaku di atas permukaan.

Aku terus menelepon Dimas sampai jari-jariku kehilangan tenaga. Beberapa kali panggilannya bahkan tidak tersambung. Sisanya berdering sampai putus sendiri. Aku hanya ingin minta dia memanggil tim penyelamat. Minta dia datang menjemputku.

Butuh dua jam sampai mereka berhasil mengeluarkanku dari sana. Sisa hari itu kuhabiskan di rumah sakit. Dini hari, pendarahanku makin parah.

Saat sadar setelah tindakan itu, aku mencari dokter yang menanganiku.

"Bayinya baik-baik saja?"

Dokter itu menarik kursi ke dekat ranjang.

"Saya turut menyesal, Bu Maya. Ibu mengalami keguguran."

Aku meletakkan tangan di perutku.

"Tidak bisa diselamatkan?"

Dia menggeleng. Aku memintanya memeriksa sekali lagi. Aku harus yakin dulu sebelum mendengar kata-kata itu untuk kedua kalinya.

Dokter itu kembali memeriksa hasil pemeriksaan, lalu mengatakan hal lain: aku mengandung bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Padahal catatan pemeriksaan kehamilanku menyebut "janin tunggal". Aku bertanya kenapa tidak ada yang menyadarinya sejak awal. Dia tidak bisa menjelaskan.

"Aku kehilangan keduanya?"

"Begitu hasil pemeriksaan kami."

Aku mulai menangis. Selama ini yang kubayangkan hanya satu boks bayi, satu nama, satu anak yang menunggu di rumah. Ternyata mereka dua, dan aku baru tahu setelah diberi tahu bahwa keduanya sudah tiada.

Beberapa saat kemudian, seorang petugas menyerahkan kotak putih kecil kepadaku. Katanya, di dalamnya ada jenazah bayi-bayiku.

"Keduanya?" tanyaku.

Dia membenarkan. Kudekap kotak itu ke dadaku, dan aku tak sanggup bertanya apa-apa lagi.

Dimas tahu aku hamil. Aku harus memberitahunya apa yang dikatakan para dokter. Aku masih ingin dia masuk ke kamar ini, memelukku, dan menemaniku. Aku tak tahu bagaimana caranya keluar dari sini sambil membawa kotak itu seorang diri.

Paginya, ponselku bergetar.

Cepat-cepat kuraih, mengira akhirnya dia yang menghubungiku.

Ternyata pesan dari sekretarisnya, yang rupanya salah terkirim ke kontak lain:

Pak Dimas meminta jadwal sore ini diatur ulang. Beliau akan mendampingi Nona Clarissa di rumah sakit, area VIP. Prioritas utama.

Kubaca dua kali.

Clarissa adalah perempuan yang selalu muncul di foto bersamanya. Semua orang memperlakukannya sebagai kekasih Dimas. Aku istrinya, dan aku tetap disembunyikan.

Dia ada di rumah sakit yang sama. Dia membatalkan semua urusannya demi menemani Clarissa, tapi tak membalas satu pun teleponku.

Aku menoleh ke pintu. Beberapa detik, aku masih menunggu seseorang berkata bahwa dia sedang menuju kemari.

Di balik sekat tirai, dua perawat sedang mengobrol.

"Ingat ibu hamil yang jatuh ke sungai kemarin pagi?"

"Yang mobilnya perak itu?"

"Iya. Katanya mobil yang menyerempet dia itu Maserati merah punya Clarissa. Yang dikasih Pak Dimas."

Kueratkan pelukanku pada kotak di pangkuan.

Aku memang sempat melihat mobil merah itu sebelum benturan, tapi tidak tahu siapa pengemudinya. Kalau perawat itu benar, berarti itu mobil yang dibeli suamiku untuk perempuan lain.

Aku ingin memanggil salah satu dari mereka dan bertanya dari mana mereka tahu. Mulutku sudah terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Kubaca lagi pesan di ponselku.

Untuk Clarissa, dia menyisihkan satu sore penuh. Aku sudah di sini sejak kemarin, dan tak sekali pun dia menanyakan bayi kami.

Selama dua tahun, aku menerima alasan bahwa dia sibuk. Aku tak pernah menuntut apa-apa karena takut dia makin menjauh. Bahkan ketika terjebak di sungai, kukira cukup asal aku bisa bicara dengannya.

Sekarang aku takut melihatnya masuk, lalu mendengar diriku sendiri meminta maaf karena terlalu sering menelepon.

Kutempelkan dahiku ke kotak itu dan menangis sampai terpaksa mengangkat kepala untuk bernapas.

"Aku sangat menginginkan kalian," bisikku.

Aku tak tahu apa yang akan kulakukan setelah pulang nanti. Ada pakaianku di lemarinya, dokumen-dokumen yang tersimpan, sebuah kehidupan yang harus kubongkar. Membayangkan harus menjelaskan semuanya saja sudah membuatku lelah.

Tapi aku tidak mau lagi menunggu Dimas di rumah itu.

Kuhapus tiga puluh dua panggilan itu, lalu nomornya. Jari-jariku gemetar. Aku masih ingin dia datang, dan aku benci karena masih menginginkannya.

Ponselku kuletakkan telungkup di pangkuan.

Aku akan mengajukan gugatan cerai.

Terdengar langkah kaki berhenti di depan kamar. Aku mengenali suara Dimas di lorong dan mengangkat kepala sebelum sempat menahan diri.

Pintu terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!