Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Diantara Kerumunan
Pagi itu, suasana Gedung Fakultas Ekonomi terasa lebih padat dari biasanya. Riana melangkah memasuki ruang kuliah besar di lantai dua untuk mengikuti mata kuliah pilihan antar-semester. Karena sistem pengambilannya terbuka, kelas ini menggabungkan mahasiswa dari berbagai tingkat, meski tetap dalam satu program studi yang sama: Manajemen. Sebagai mahasiswi semester dua, Riana cukup antusias memperdalam materinya.
Namun, rasa antusias itu menguap seketika begitu pandangannya menangkap sosok pria yang duduk di barisan tengah. Reza. Pria semester empat itu berada di ruang yang sama, duduk santai dengan laptop terbuka di depannya.
Langkah Riana sempat tertahan di ambang pintu. Ia tahu betul aturan main di antara mereka. Berada di fakultas dan program studi yang sama sudah cukup berisiko, apalagi kini harus duduk dalam satu ruangan kuliah yang sama selama dua jam ke depan. Riana dengan cepat menguasai diri, memilih melangkah menuju sudut paling belakang yang berseberangan dengan posisi Reza.
Tak lama kemudian, dosen pengampu masuk dan membagikan lembar studi kasus. Suara dosen menggema, mengumumkan bahwa tugas hari ini harus dikerjakan secara berpasangan dengan teman di sebelah atau dalam kelompok kecil.
"Kalian yang semester atas harap bisa membimbing adik kelasnya di semester dua," ujar sang dosen santai dari depan kelas.
Riana baru saja hendak membuka buku catatannya ketika seorang mahasiswa semester atas mendatangi mejanya untuk mengajak berdiskusi. Di saat yang sama, Riana memergoki pandangan Reza yang sesekali terlempar ke arah belakang. Raut wajah pria itu tampak tidak tenang, ada guratan ketegangan yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya. Apakah Reza takut rahasia mereka terbongkar? Atau ia risih melihat Riana berinteraksi dengan mahasiswa lain di prodinya sendiri?
Riana sengaja melempar pandangannya ke luar jendela, memilih mengabaikan kehadiran suaminya dan fokus penuh pada lembar tugas di depannya.
Pukul satu siang, kantin fakultas dipenuhi oleh riuh mahasiswa yang beristirahat di sela-sela jadwal kuliah. Riana duduk di meja pojok bersama Maya, menikmati mangkuk bakso hangatnya. Sebagai mahasiswi semester dua, topik pembicaraan Maya tak jauh dari tugas-tugas kuliah dan desas-desus seputar senior di program studi mereka.
"Ri, kamu tahu kan kalau senior semester empat di prodi kita itu banyak yang berprestasi? Termasuk Reza," kata Maya sambil mengaduk minumannya. "Selain pinter, dia juga aktif di himpunan. Cuma ya gitu, orangnya dingin banget kalau sama adik kelas, kecuali sama Sela."
Riana hanya mengangguk pelan tanpa berniat menanggapi lebih jauh. "Oh ya? Aku gak terlalu memperhatikan," jawabnya singkat.
Tepat saat itu, Reza masuk ke area kantin bersama beberapa teman seangkatannya dari semester empat. Sosoknya yang jangkung dan tenang selalu berhasil menyedot perhatian sekitar. Ketika Reza berjalan melewati deretan meja kantin, matanya tak sengaja beradu dengan mata Riana.
Untuk sepersekian detik, ada jeda tak kasatmata di antara mereka. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman. Reza hanya menatap Riana dengan pandangan datar yang sulit diartikan, sebelum akhirnya mengalihkan perhatian dan duduk di meja depan bersama teman-teman seangkatannya.
Bagi orang lain di kantin itu, mereka berdua hanyalah senior semester empat dan junior semester dua dari prodi yang sama yang kebetulan tidak saling kenal. Namun di bawah bayang-bayang status rahasia tersebut, setiap detik interaksi tanpa kata itu menyimpan ketegangan yang kian menumpuk.
Riana menghela napas pelan, menyelesaikan makan siangnya dengan cepat. Ia sadar, hidup dalam dua dunia yang berseberangan di tempat yang sama akan menjadi ujian kesabaran yang sangat panjang.