NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Di Antara Rantai dan Senyuman

Pagi di kediaman megah keluarga Pradipta selalu terasa dingin bagi Aira. Bukan karena pilar-pilar marmer yang menjulang atau pendingin udara yang berhembus tanpa henti, melainkan karena kesadaran bahwa di rumah ini, statusnya tak lebih dari sebuah barang jaminan.

Sejak perusahaan ayahnya gulung tikar dan meninggalkan utang puluhan miliar, kehidupan Aira berubah seratus delapan puluh derajat. Ayah dan ibunya harus mengasingkan diri untuk menghindari kejaran para kreditur, sementara Aira diserahkan kepada keluarga Pradipta—pemilik konglomerasi besar yang memegang lisensi tunggal atas aset utama milik ayahnya. Perjodohan ini bukan didasari atas rasa iba, melainkan transaksi dingin di atas kertas hitam di atas putih.

Jam dinding kayu ukir di ruang tengah baru menunjukkan pukul lima pagi. Aira sudah selesai mengikat rambut panjangnya yang sederhana, mengenakan seragam putih abu-abu yang sedikit kebesaran di tubuhnya yang kian mengurus. Jemarinya yang gemetar mulai merapikan meja makan panjang yang mampu menampung belasan orang itu.

Tugas Aira setiap pagi sangat jelas: menyiapkan sarapan spesifik untuk Vino—calon suaminya yang masih berstatus siswa SMA kelas dua belas, persis seperti dirinya.

"Aira! Mana jus alpukat gue?"

Suara berat yang tajam itu memotong kesunyian pagi. Langkah kaki yang terburu-buru terdengar menuruni tangga melingkar. Vino muncul dengan seragam sekolah yang dikeluarkan, dasi yang terikat longgar di leher, dan wajah tampan yang selalu dihiasi tatapan cemooh.

Aira refleks bergidik. Otot-otot tubuhnya secara otomatis menegang setiap kali jarak di antara mereka terkikis. Sifat penurut yang tertanam dalam dirinya sejak kecil, berpadu dengan rasa takut akan ancaman kemiskinan keluarga, membuat Aira tak pernah sanggup menatap mata Vino secara langsung.

"In—ini, Vin. Baru aja selesai dibikin," kata Aira lirih, menyodorkan segelas jus alpukat tanpa gula—sesuai preferensi pria itu—dengan tangan yang sedikit gemetar.

Vino menarik kursi dengan kasar, menghasilkan bunyi decit yang memenjara pendengaran. Ia melirik gelas di hadapannya, lalu menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik.

"Lama banget. Lu mikir gue punya waktu seharian buat nungguin lu kerja lambat gini?" cetus Vino kasar. Ia meraih gelas tersebut, menyesapnya sedikit, lalu membantingnya kembali ke atas meja hingga cairan hijau itu terpercik ke lengan seragam Aira.

Aira menunduk dalam-dalam. "Maaf, Vin. Tadi... tadi gue harus goreng roti buat Bibi dulu di dapur..."

"Gue enggak peduli!" potong Vino tegas, menggebrak meja hingga alat makan berdenting. "Di rumah ini, kebutuhan gue nomor satu. Lu dibayar mahal sama keluarga gue cuma buat jadi babu terhormat, paham? Lu dan keluarga lu itu cuma benalu yang numpang hidup!"

Kalimat itu menusuk tepat di dada Aira. Perih, tapi tak ada satu patah kata pun yang berani ia balaskan. Aira menyatukan kedua telapak tangannya di depan tubuh, berusaha menyembunyikan getaran hebat di jemarinya.

"Sepatu gue mana?" tanya Vino lagi, suaranya dingin tanpa penyesalan.

"Udah... udah gue semir dan ditaruh di depan pintu utama," jawab Aira pelan, matanya masih setia menatap lantai marmer yang mengilap.

"Bagus. Tas gue di sofa ruang tamu. Bawa ke mobil sekarang. Gue mau berangkat sepuluh menit lagi," perintah Vino seraya berdiri, membiarkan sarapannya tak tersentuh sama sekali.

Saat Vino hendak melangkah melewati Aira, ia sengaja menyenggol bahu cewek itu dengan cukup keras hingga Aira terdorong beberapa langkah ke belakang. Vino tidak berbalik, hanya terus berjalan seolah-olah Aira adalah benda mati yang menghalangi jalannya.

Aira menghela napas panjang yang terasa menyiksa. Ia mengusap perlahan pergelangan tangannya yang terkena cipratan jus, menahan panas di balik matanya agar air mata itu tidak menetes. Ia harus kuat. Demi ayah dan ibunya.

Ia berjalan ragu menuju ruang tamu untuk mengambil tas punggung merek ternama milik Vino yang amat berat karena berisi buku-buku dan perlengkapan olahraga. Namun, ketika Aira membungkuk hendak meraih tas tersebut, sebuah tangan lain yang bersih dan jemarinya terawat telah lebih dulu mengangkatnya.

"Berat banget. Kamu yakin sanggup bawa ini setiap hari?"

Aira terlonjak kaget. Suara itu bukan suara Vino yang penuh nada ancaman. Suara ini dalam, tenang, dan memiliki nada hangat yang sangat asing di telinga Aira.

Aira mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria jangkung mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Wajahnya sangat tampan—mirip dengan Vino karena garis keturunan yang sama—tetapi matanya memancarkan kelembutan yang sangat berbeda. Senyum tipis terukir ramah di bibirnya.

"Ka—kamu... siapa?" bisik Aira terbata-bata, merapatkan tubuhnya ke sandaran sofa karena insting takutnya yang langsung aktif.

Pria itu terkekeh pelan, sebuah kekehan renyah yang terdengar sangat menenangkan. Ia menurunkan tas Vino ke lantai dan mengulurkan tangannya pada Aira.

"Kenalkan, saya Darel. Sepupunya Vino," ucapnya lembut. "Saya baru sampai dari Inggris tadi malam, mungkin kamu belum sempat dengar dari Paman atau Tante. Kamu pasti Aira, kan?"

Aira ragu-ragu. Matanya menatap uluran tangan Darel, lalu menatap wajah pria itu lagi. Tidak ada kilat kejam di sana. Tidak ada tatapan merendahkan seperti yang selalu diberikan Vino atau teman-temannya.

"I—iya... aku Aira," jawabnya pelan, akhirnya berani menyambut uluran tangan itu sebentar sebelum menariknya kembali dengan cepat.

"Senang berkenalan denganmu, Aira," kata Darel. Matanya melirik bekas cipratan jus di lengan seragam Aira, lalu raut wajahnya berubah menjadi prihatin. "Lengan baju kamu basah... dan tadi saya sempat dengar dari atas. Vino keterlaluan banget sama kamu."

Aira makin menundukkan kepalanya, merasa malu karena ketidakberdayaannya disaksikan oleh orang asing. "Enggak apa-apa, Kak Darel. Aku... aku udah biasa."

"Enggak ada manusia yang boleh terbiasa diperlakukan kasar, Aira," potong Darel cepat. Tangannya terangkat, mengusap bahu Aira dengan sangat perlahan dan hati-hati—sebuah gestur perlindungan yang belum pernah Aira rasakan dari siapapun selama berada di rumah ini. "Vino memang keras kepala dari kecil. Tapi mulai sekarang, kalau dia keterlaluan lagi, kamu bisa bilang ke saya. Saya yang bakal tegur dia."

Mata Aira berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada seseorang yang menganggapnya manusia. Ada seseorang yang menawarkan bantuan tanpa meminta imbalan apapun. Rasa hangat perlahan merayapi dada Aira yang selama ini hampa dan penuh rasa takut.

"Makasih, Kak..." ucap Aira tulus, suara kepalanya bergema menyuarakan rasa syukur yang mendalam.

Darel tersenyum sangat manis—senyuman sempurna yang bisa meluluhkan pertahanan siapa saja. Namun, saat Aira kembali membungkuk untuk mengambil tasnya, senyuman di bibir Darel perlahan memudar.

Di balik kelopak matanya yang teduh, kilat dingin yang sangat murni memancar. Darel menatap Aira dari atas sampai bawah—menilai tubuh cewek yang rapuh, mudah diintimidasi, dan sangat mudah dibodohi itu. Bagi Darel, Aira bukan sekadar gadis malang yang butuh pertolongan. Aira adalah sebuah mainan baru yang sangat menarik. Sebuah objek sempurna yang siap ia manipulasi sampai hancur berkeping-keping, tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

"AIRA! MANA TAS GUE?! LAMA BANGET LU!"

Teriakan Vino dari arah garasi membuyarkan momen itu. Aira langsung panik, terburu-buru menyambar tas Vino yang berat dan tas sekolahnya sendiri.

"Aku... aku harus pergi sekarang, Kak Darel," ujar Aira panik.

"Iya, hati-hati ya, Aira. Nanti kita ngobrol lagi," balas Darel ramah, melambaikan tangan saat Aira berlari kecil menuju luar rumah.

Di garasi, mobil sports merah milik Vino sudah menyala dengan raungan mesin yang meraung keras. Vino berdiri di samping pintu kemudi, menatap Aira yang terengah-engah mendekatinya dengan mata menyalang murka.

"Lu ngapain aja di dalam?! Niat sekolah enggak sih?!" bentak Vino kasar. Ia merebut tasnya dari tangan Aira dengan sentakan kuat, hingga tali tas itu sempat menggores kulit leher Aira sampai memerah.

"Maaf, Vin... tadi ada Kak Darel—"

"Gue gak butuh alasan lu!" potong Vino dingin. Ia melempar tasnya ke jok belakang, lalu menatap Aira dari atas ke bawah dengan pandangan muak. "Lu jalan kaki ke depan kompleks, naik angkot sendiri. Gue mau jemput Caren dulu. Gue enggak sudi satu mobil sama cewek pembawa sial kayak lu. Lagian kalau Caren lihat lu di mobil gue, dia bisa ill-feel."

Aira hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menunduk dalam-dalam. "Iya... maaf, Vin."

Tanpa menunggu Aira menyelesaikan kalimatnya, Vino langsung masuk ke mobil dan menancap gas. Mobil mewahnya melesat cepat keluar dari pagar rumah, menyisakan asap knalpot yang terhirup oleh Aira.

Aira berdiri sendirian di jalan kompleks yang masih sepi dan dingin, menyesuaikan tali tasnya yang menekan bahunya yang kaku. Di tengah rasa sakit, cemas, dan kehampaan yang membelenggunya, wajah Darel dan senyuman ramahnya mendadak terlintas di pikiran Aira.

Mungkin... masih ada orang baik di dunia ini, batin Aira polos, tanpa menyadari bahwa bahaya yang jauh lebih mengerikan dari sekadar gertakan Vino justru baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!