"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman
Azkia yang mengingat pertemuannya dengan Khilva, membuatnya tersenyum. Karena pertemuannya satu bulan yang lalu, Telah membawanya untuk selalu bertemu dengan gadis kecil itu. Bahkan panggilan bunda, masih saja melekat di bibir Khilva saat mereka bertemu.
"Aku sangat senang bisa mengenal gadis kecil yang pintar seperti kalian." Gumam Azkia sambil tersenyum kecil. Jika diingat-ingat pertemuannya dengan gadis kecil itu, membuat Azkia sering sekali tersenyum sendiri. Karena setiap pertemuan mereka, Khilva selalu membuatnya gemas dan membuat kelakuan gadis kecil itu melekat diingatkannya.
"Mbak, kita sudah sampai." Ucap pria paruh baya, sambil menoleh kearah kursi belakang, yang terdapat Azkia disana.
"Berapa pak?" Tanya Azkia, sambil mengambil uang pecahan lima puluh ribuan dari tasnya, lalu memberikan nya ke pak supir itu."Angsulannya untuk bapak saja."
"Benarkah mba?" Azkia menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan dari supir taksi itu."Alhamdulillah. Terimakasih mba." Ucap supir itu dengan tersenyum bahagia.
"Iya pak, sama-sama." Jawab Azkia membalas senyuman bapak paruh baya itu sambil turun dari mobil taksinya.
Azkia menatap rumah minimalis yang terlihat sederhana yang mungkin sudah berusia puluhan tahun. Karena rumah itu terlihat seperti rumah jaman bahari, hanya saja rumah itu masih terlihat utuh dan rapi, tanpa terlihatnya kerusakan samasekali. Bahkan halaman rumahnya tumbuh rumput-rumput halus dan bunga yang tertata rapi disana.
Walaupun rumah itu sudah terlihat tua dan berada di tengah-tengah kota. Tapi rumah itu masih dikatakan layak untuk di tinggali, karena masih berdiri kokoh diera kota yang semakin maju dan setiap rumah yang berdiri di perumahan itu semakin mewah.
Azkia melangkah memasuki halaman rumahnya, tapi sebelum dia benar-benar masuk, Azkia menghembuskan nafasnya terlebih dahulu, untuk membuat dirinya seolah-olah baik-baik saja.
"Azkia pulang." Ucap Azkia, sebelum dia melangkah memasuk kedalam."Papa sudah pulang?" Tanya Azkia saat melihat pria paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Azkia melangkah mendekati pria paruh baya itu, yang sepertinya sedang fokus membaca kertas di tangannya.
"Sudah pulang, nak?" Jawab pria paru baya itu sambil melipat kertas ditangannya dan menyimpannya didalam saku celananya, saat Azkia berdiri didepannya."Bagaimana hari mu hari ini, apakah menyenangkan?"
Fardy Zayn. Pria paruh baya berusia lima puluh dua tahun, yang sudah Azkia anggap seperti papa nya sendiri, Karena Zayn, bukalah papa kandung Azkia, melainkan seorang paman, yaitu saudara dari ayahnya.
Walaupun Zayn hanyalah paman Azkia, tapi Zayn dan mendiang istrinya begitu sangat menyayangi Azkia seperti anaknya sendiri setelah kedua orang tua Azkia bercerai. Apalagi Zayn tidak memiliki anak, yang membuat Zayn semakin menyayangi anak keponakannya itu.
Sedangkan Azkia terlihat penasaran saat melihat wajah papa nya yang terlihat sepertinya sedang tidak baik-baik saja."Ya, seperti biasanya." Jawab Azkia sambil duduk disebelah pria paruh baya itu, dan dengan manja dia menyandarkan kepalanya di bahu pamannya.
"Apakah mereka masih mengganggumu?" Tanya Zayn lembut dengan tangan mengusap lembut kepala Azkia
Azkia mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan papanya itu."Seperti yang papa tau. Mereka sangat menjengkelkan!" Jawab Azkia memasang wajah cemberutnya.
"Biarkan saja. Terkadang orang-orang seperti mereka memang seperti itu. Tidak memiliki perilaku sopan santun walaupun mereka memiliki pendidikan yang tinggi." Ucap Zayn yang mengerti akan kekesalan anak keponakannya itu.
"Sepertinya bukan otak yang perlu mereka lajari, papa. Melainkan hati dan mulut mereka, agar mereka tidak melakukan hal bodoh yang bisa merugikan orang lain!" Ucap Azkia yang sedang menahan kekesalannya. Sedangkan Zayn hanya tersenyum mendengar curhatan anak keponakannya itu. Walaupun Azkia, seorang anak perempuan yang manja. Tapi Azkia paling tidak suka ditindas oleh orang lain.
"Setiap orang yang memiliki kekuasaan, pasti akan seperti itu, nak. Karena mereka bisa membeli keadilan dengan uang. Bahkan hukum seakan mati saat tertutup dengan kekuasaan." Jelas Zayn menatap sedih kearah Azkia."Sebaiknya kamu tidak usah memikirkan mereka. Karena mereka tidak cocok untuk membuatmu terus saja berpikir. Sebaiknya kamu tetap fokus pada kuliah mu, abaikan orang-orang seperti mereka."
"Baik pa." Jawab Azkia mengangguk ngerti.
"Sebaiknya sekarang, Azkia bersih-bersih terlebih dahulu. Karena dari tadi papa seperti mencium bau-bau yang tidak enak." Ucap Zayn mengalihkan perbincangan mereka kearah lain agar Azkia tidak terlalu memikirkan masalahnya.
"Benarkah? Tapi Azkia tidak mencium apa-apa?" Ucap Azkia, sambil mencium kedua ketikannya secara bergantian."Papa bohong ya?!" Mata Azkia menyipit menatap papa nya itu, yang sepertinya sedang mode jahil.
"Hihihi. Papa bercanda. Sebaiknya kamu bersih-bersih sekarang, karena setelah itu kita mau makan malam." Ucap Zayn sambil terkekeh karena merasa lucu dengan tingkat Azkia yang percaya-percaya saja dengan keusilannya.
"Emangnya hari ini papa masak apa?"
"Masak soto daging sapi, kesukaan anaknya papa Zayn."
"Benarkah?!" Tanya Azkia dengan senyuman cerianya."Baiklah, kalau gitu Azkia bersih-bersih dulu, pa." Ucap Azkia bersemangat. Sepertinya gadis itu sudah lupa akan kekesalannya tadi, setelah mendengar papanya masak masakan kesukaannya. Azkia berdiri dari duduknya, dan dengan sedikit berlari melangkah kearah kamarnya.
Zayn yang melihat tingkah anak keponakannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Walaupun sudah berusia dua puluh satu tahun, Azkia akan tetap bersikap manja seperti anak kecil jika di rumah. Tapi tidak dengan diluar, karena Azkia adalah gadis yang susah untuk ditindas.
Setelah membersihkan tubuhnya, Azkia merasa jauh lebih segar sekarang."Jauh lebih baik dari sebelumnya." Ucap Azkia, dengan tangan terus mengerikan rambutnya menggunakan handuk.
Saat Azkia sedang santai dengan kegiatannya. Suara ponsel membuat gadis itu menghentikan kegiatannya dan dengan tangan yang masih mengeringkan rambutnya, Azkia mengambil ponselnya, lalu menatap kearah layar ponselnya yang terdapat nomor yang tidak dikenal."Nomor baru? Emangnya nomor siapa?" Tanya Azkia pada dirinya sendiri saat melihat nomor yang tidak dikenal menghubunginya."Mungkin Naila mengganti nomornya lagi." Karena berpikir kalau yang menghubunginya adalah sahabatnya, Azkia mengangkat panggilannya itu.
"Selamat malam, Nona Azkia Anandita Ayunindya. Bagaimana kabar Anda malam ini?" Azkia menghentikan kegiatannya kembali, karena terkejut saat mendengar suara pria yang tidak asing di pendengaran nya."Hey, why are you surprised? You should be glad I called you back after our meeting this afternoon."
Azkia mengepalkan tangannya, saat dia mulai menyadari kalau yang menelfon ternyata adalah Arkanza. Pria yang tadi siang dia temui."Apa yang anda inginkan tuan? Kenapa anda mengganggu saya lagi!" Kesal Azkia.
"Are you afraid?"
"No. I am not afraid!" Jawab Azkia dengan berani saat mendengar pertanyaan Arkanza.
"Wuu, ternyata anda sangat berani nona. Sehingga menjawab pertanyaan saya dengan cepat dan juga sangat berani." Ucap Arkanza dengan nada mengejeknya."Jika anda berani seperti sekarang, Apakah anda akan tetap berani seperti itu kepada saya, setelah saya. take away your uncle's happiness?"
"Apa maksud anda tuan? Kenapa anda membawa nama paman saya?" Tanya Azkia saat mendengar kalau paman nya akan terlibat dalam permasalahannya.
"Karena anda sudah berani bermain-main dengan saya nona Azkia."
"Saya yang berani bermain-main dengan anda tuan! Lalu kenapa anda membawa nama papa saya?! Jangan libatkan papa saya, karena dia tidak bersalah!" Geram Azkia, yang begitu sangat marah jika pamannya ikut terseret oleh masalahnya, sedangkan pamannya tidak mengetahui apapun.
"Karena anda sudah berani menghina saya, nona. Maka saya akan membuat orang terdekat anda hancur. Agar anda tau, kalau lawan bermain anda salah nona." Jawab Arkanza yang terdengar Sedang tertawa disana."Look, how I destroyed you and your uncle!"
"Brengsek, apa yang anda inginkan?!" Marah Azkia saat dia menyadari kalau ancaman pria itu benar-benar akan dia lakukan.
"You..." Setelah mengatakan itu, Arkanza langsung mematikan sambungan telepon nya tanpa meneruskan perkataannya yang lain.
"Dasar pria Brengsek! kenapa dia mematikan sambungan teleponnya, sebelum dia melanjutkan ucapannya!" Geram Azkia yang begitu sangat marah saat Arkanza mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Rasanya Azkia ingin memukul pria itu, jika berada di depannya, Karena berani mengancamnya.
"Tapi kalau dia benar-benar melakukannya bagaimana." Ucap Azkia yang mulai merasa khawatir, karena takut kalau pria itu benar-benar menyakiti pamannya. Apalagi Azkia tau kalau Arkanza memiliki segalanya yang bisa menghancurkan ia dan juga pamannya, mengunakan kekuasaan yang pria itu.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu yang diketuk, membuat Azkia mengalihkan pandangannya kearah pintu. Azkia tau kalau yang mengetuknya pintu kamarnya pasti pamannya.
"Azkia, apakah kamu didalam nak?" Panggil Zayn yang berdiri didepan pintu kamar Azkia.
"Iya papa, Azkia ada didalam. Papa duluan Aja, nanti Azkia nyusul."
"Baiklah nak, jangan lama-lama. Papa tunggu dimeja makan." Setelah mendapatkan jawaban dari Azkia. Zayn melangkah meninggalkan kamar Azkia untuk duduk di meja makan, untuk menunggu anak keponakannya itu.
"Tenanglah Azkia. Kamu yakin, kalau semuanya akan baik-baik saja. Pria itu tidak akan menyakiti papa mu, karena papa adalah orang yang hebat dan kuat. Dia tidak akan bisa di tindas oleh orang seperti pria gila itu." Ucap Azkia mencoba untuk menyakinkan dirinya, kalau Arkanza tidak akan berani menyakiti pamannya. Karena pamannya adalah orang yang hebat dan pamannya tidak akan mudah di tindas oleh orang lain.
Setelah yakin dengan ucapannya. Azkia melangkah keluar dari kamarnya untuk pergi kemeja makan, karena Azkia yakin kalau paman nya pasti sudah menunggunya.
Seorang pria sedang duduk di kursi kerjanya, sedangkan tangan dari tadi terus memutar-mutar ponselnya. Bukan saja ponselnya, melainkan kursi yang dia duduki ikut berputar, saat pria itu menggerakannya.
"Dare to play around with Arkanza Abbiyya Bassam. see, how can I silence you, Miss Azkia Anandita Ayunindya." Ucap Arkanza sambil tersenyum miring."Aku ingin melihat wajah kasian nya nanti, saat dia mengetahui sesuatu." Entah apa yang pria itu rencanakan, sampai dari tadi terus saja tersenyum.
"Nona, Azkia Anandita Ayunindya. Aku tidak sabar untuk datangnya hari esok."
Saat Arkanza sedang bahagia dengan rencananya. Arkanza tidak menyadari, kalau ada tubuh mungil yang diam-diam memasuki ruang kerjanya itu. Kebetulan juga pintu ruang kerja Arkanza tidak tertutup dengan rapat, membuat tubuh mungil itu bisa masuk secara diam-diam tanpa disadari oleh Arkanza.
Kaki kecil itu terus melangkah mendekati kursi Arkanza dan dalam hitungan detik.
Doorrr
Arkanza yang kaget, langsung menjatuhkan ponselnya kelantai. Karena dia begitu sangat terkejut saat orang yang usil itu mengagetkannya.
Pria itu memejamkan matanya, dengan tangan yang terkepal Berusaha mengendalikan amarahnya, karena ada orang yang
berani menganggu nya. Arkanza memutar kursi nya untuk melihat orang yang sudah berani menganggu nya.
"Kamu!!"
********