NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 HUKUMAN MUTLAK

Suara detak jarum jam dinding di Ruang Bimbingan Konseling (BK) itu terdengar bagaikan ketukan palu godam yang menghantam tengkorak Wira berulang-ulang.

Ruangan itu terasa pengap, berbau khas campuran karbol lantai dan obat merah. Udara dingin dari mesin pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredam hawa panas yang menguar dari ubun-ubun pemuda itu, maupun dari raut wajah sang guru BK yang duduk di seberang meja.

Dan kini Pak Anton mendekat.

Wira meringis pelan, menarik wajahnya ke belakang saat sehelai kapas berlumur cairan antiseptik ditekan dengan kasar ke sudut bibirnya yang robek.

"Tahan," tegur Pak Anton dengan suara baritonnya yang berat dan dingin. Guru bertubuh tambun dengan kumis tebal melintang itu membuang kapas kotor bercak darah ke dalam tempat sampah kecil di bawah meja.

Beliau kemudian menatap Wira dengan sorot mata yang bisa membuat nyali siswa manapun menciut.

Wira menundukkan pandangannya. Kedua tangannya bertumpu di atas paha, menyembunyikan buku-buku jarinya yang memar dan lecet akibat menghantam rahang Bima. Kemeja seragam putihnya yang robek di bagian bahu tampak sangat menyedihkan.

Namun, sekuat apa pun rasa perih di bibir dan tangannya, semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan rasa ngilu yang meremukkan dadanya.

Ingatan Wira terus berputar pada satu adegan sepersekian detik di lorong tadi. Sepasang mata teduh milik Asmara.

Mata yang biasanya memancarkan ketenangan dan senyum maklum itu, tadi menatapnya dengan kekecewaan yang sangat absolut. Tidak ada rasa kagum karena Wira membela namanya. Yang ada hanyalah kesedihan yang hening, seolah Asmara baru saja melihat seekor monster yang tak punya harapan untuk diselamatkan.

"Satu minggu..." Suara Pak Anton memecah keheningan yang mencekik, menarik Wira kembali ke realitas ruang BK.

Guru itu menggebrak meja dengan telapak tangannya yang besar, membuat Wira sedikit tersentak. "Baru satu minggu kamu duduk di bangku sekolah ini, Wira Aji Pratama! Dan kamu sudah membuat rekor yang sangat memalukan. Mematahkan hidung kakak kelasmu, menghancurkan kaca mading, dan memecahkan tiga pot palem kesayangan Kepala Sekolah!"

Wira tetap bungkam. Rahangnya mengeras.

"Jawab pertanyaan Bapak!" bentak Pak Anton, suaranya naik satu oktaf hingga urat lehernya menonjol. "Apa alasanmu menyerang Bima dan teman-temannya membabi buta seperti anjing gila?! Bima bilang kamu tiba-tiba muncul dari lorong dan langsung memukulnya tanpa alasan yang jelas. Benar begitu?!"

Di bawah meja, kedua tangan Wira mengepal erat.

Ia tahu betul alasannya. Ia tahu Bima dan cecunguk-cecunguknya itu melecehkan nama Asmara, menjadikan insiden tumpahan es teh itu sebagai bahan lelucon mesum yang merendahkan martabat sang gadis.

Namun, jika Wira membuka mulut dan mengatakan yang sebenarnya... jika ia berkata bahwa ia berkelahi demi membela kehormatan Asmara... apa yang akan terjadi?

Otak Wira berputar cepat.

Nama Asmara akan terseret dalam berita acara pemeriksaan.

Gosip akan menyebar ke seluruh penjuru SMA Budi Bangsa. Murid-murid akan mulai berbisik-bisik tentang apa yang sebenarnya dikatakan Bima hingga membuat si murid baru mengamuk.

Kehormatan Asmara yang selama ini tak tersentuh noda sedikit pun justru akan menjadi bahan gunjingan murahan di kantin dan koridor sekolah. Gadis itu tidak pantas menerima kotoran seperti itu.

Lebih baik Wira yang terlihat seperti preman gila, daripada membiarkan nama Asmara menjadi konsumsi publik.

Wira mengangkat wajahnya. Ia menatap lurus ke mata Pak Anton, memasang kembali topeng begajulannya, meski kali ini terasa sangat berat untuk dipakai.

"Gue... Eh, maaf, saya... Saya cuma nggak suka sama muka mereka, Pak," jawab Wira dengan nada datar yang dibuat-buat angkuh. "Mereka ngeliatin saya dengan nyolot pas saya lewat. Ya saya samperin. Mereka duluan yang nantang, ya saya ladenin. Namanya juga cowok, Pak."

Pak Anton membelalakkan matanya, seolah tak percaya mendengar alasan absurd dan penuh kesombongan itu.

Wajah guru itu memerah padam. Beliau menghela napas kasar, seakan kehabisan stok kesabaran untuk menghadapi pemuda di depannya ini.

"Kamu pikir ini ring tinju liar di jalanan Bogor?!" desis Pak Anton tajam. Beliau membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map merah yang sangat Wira kenal, lalu melemparkannya ke atas meja hingga berbunyi nyaring.

Itu adalah berkas kepindahan Wira dari SMA Pelita 1 Bogor ke SMA Budi Bangsa ini.

Berkas yang berisi rekam jejak kriminalitas pelajarnya, termasuk Surat Peringatan Ketiga (SP-3) dari sekolah lamanya itu.

"Bapak sudah membaca semua riwayatmu, Wira. Tawuran, bolos, melawan guru. Bapakmu mengirimmu ke sini dengan harapan tangan besi Bude Ning dan kedisiplinan Jogja bisa meruwat (merubah) otakmu yang rusak itu," ucap Pak Anton sambil menunjuk-nunjuk map tersebut. "Bapak bisa saja langsung menelepon Kepala Sekolah detik ini juga, menerbitkan surat pengeluaranmu, dan mengembalikanmu ke Bogor sebagai sampah yang tidak bisa didaur ulang!"

Mendengar ancaman itu, jantung Wira seolah berhenti berdetak sesaat.

Dikembalikan ke Bogor???

Jauh-jauh hari yang lalu, itu adalah impian terbesarnya.

Ia sangat ingin pulang, kembali ke kebebasan warung sate ayahnya, kembali memeluk gitar dan nongkrong bersama teman-teman lamanya.

Tapi hari ini... entah mengapa kata 'pulang' terdengar seperti sebuah vonis hukuman mati.

Jika ia dikeluarkan dari sekolah ini, jika ia diusir dari kota ini, itu berarti ia harus pergi dengan membawa tatapan kecewa Asmara sebagai memori terakhirnya.

Ia tidak akan pernah bisa membuktikan pada gadis itu bahwa ia bukan sekadar preman tanpa otak. Ia tidak akan pernah lagi mencium aroma melati yang menenangkan itu. Ia akan kalah.

DAN WIRA ADALAH PEMUDA YANG BENCI KEKALAHAN.

Raut wajah Wira berubah pias. Topeng angkuhnya runtuh.

Untuk pertama kalinya, ada gurat kepanikan dan permohonan di mata pemuda bengal itu.

"Pak... tolong, Pak..." suara Wira keluar dengan parau, nadanya merendah, menelan seluruh sisa egonya. Ia bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Jangan keluarin saya, Pak... Saya ngaku salah... Saya yang mukul duluan... Kasih saya hukuman apa aja, saya terima, Pak... Tapi tolong, jangan kembalikan saya ke Bogor."

Perubahan drastis dari sikap arogan menjadi memohon itu membuat Pak Anton terdiam.

Guru BK yang sudah puluhan tahun menghadapi kenakalan remaja itu memicingkan mata, menilai kesungguhan di balik suara parau Wira. Ada sesuatu yang patah di dalam diri pemuda itu, dan Pak Anton bisa melihatnya dengan jelas.

Suasana ruangan kembali hening untuk beberapa saat, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dan dengungan AC.

Pak Anton menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung besarnya ke kursi kerjanya.

"Saya sudah berbicara dengan Bude Ning via telepon saat kamu dibersihkan di ruang UKS tadi," ucap Pak Anton dengan nada yang jauh lebih tenang, namun tetap membawa otoritas yang mutlak.

Wira menelan ludah. Menyebut nama algojo rumahnya itu sukses membuat bulu kuduknya berdiri. Bude Ning pasti akan memotongnya hidup-hidup nanti sore.

"Beliau sangat terkejut, namun beliau meminta pihak sekolah untuk tidak mengeluarkanmu," lanjut Pak Anton. "Kata beliau, 'Sekolah adalah tempat pendidikan. Kalau sekolah hanya membuang murid yang bermasalah, lalu apa bedanya sekolah dengan tempat pembuangan akhir?'. Dan sejujurnya, Wira, Bapak setuju dengan Bude-mu."

Wira mengangkat wajahnya, secercah harapan mulai menyala di matanya yang memerah. "Jadi... saya nggak dikeluarin, Pak?"

"Jangan merasa lega dulu, preman!" potong Pak Anton tegas.

"Kepala Sekolah juga tadi sudah setuju untuk menahan surat pengeluaranmu dengan satu syarat. Kamu akan menerima hukuman yang jauh lebih berat dari sekadar skorsing berdiam diri di rumah."

"Hukuman apa, Pak? Saya siap, Pak! Disuruh lari keliling lapangan seratus putaran juga saya siap!"

Pak Anton tersenyum sinis. "Lari keliling lapangan hanya akan menghabiskan tenagamu, tapi tidak akan mengisi otak dan hatimu dengan empati. Hukumanmu adalah Hukuman Sosial Edukatif."

Pak Anton menarik selembar kertas bermaterai dari laci mejanya, bersama sebuah pena.

Beliau menggesernya ke hadapan Wira.

"Mulai hari ini, selama satu bulan penuh, kamu dilarang pulang setelah jam sekolah berakhir. Kamu akan ditugaskan untuk membersihkan, merapikan, dan mengelola Ruang Budaya dan Perpustakaan Lama di paviliun belakang sekolah setiap sore, dari jam tiga sampai jam lima."

Mata Wira membelalak. "Satu bulan penuh, Pak?! Setiap hari?!"

"Iya, setiap hari!" tegas Pak Anton mutlak.

"Termasuk hari Sabtu. Kamu akan merapikan buku-buku yang berdebu, membersihkan gamelan, mengepel lantai kayunya dengan tanganmu sendiri. Kamu harus belajar menghargai ketenangan dan merawat fasilitas, bukan hanya tahu cara menghancurkannya." tambah Pak Anton.

Wira mengusap wajahnya yang kusut.

Membayangkan harus terjebak di sekolah sampai sore setiap hari untuk mengelap debu dan buku-buku membosankan rasanya seperti dikurung di dalam neraka. Kebebasannya benar-benar dirampas habis-habisan.

Namun, mengingat alternatif lainnya adalah diusir kembali ke Bogor, Wira tahu ia tidak punya pilihan.

"Kalau kamu ketahuan membolos satu hari saja, atau menunda pekerjaanmu, surat pengeluaranmu akan Bapak cetak detik itu juga," tambah Pak Anton, menyilangkan tangan di dada. "Bapak butuh tanda tanganmu di surat pernyataan itu sekarang juga."

Dengan tangan yang masih gemetar menahan nyeri dan emosi, Wira mengambil pena tersebut. Ia membaca sekilas poin-poin di surat pernyataan itu. Semuanya terasa begitu mengekang.

Namun, saat pikirannya kembali melayang pada tatapan Asmara di lorong tadi, Wira menggertakkan giginya.

Ia akan membuktikan bahwa ia bisa menjalani ini.

Ia akan memperbaiki kesalahannya.

Wira membubuhkan tanda tangannya di atas materai dengan coretan yang tegas.

"Bagus... Bagus..." Pak Anton menarik kembali kertas itu, lalu menatap Wira dengan pandangan tajam. "Satu hal lagi, Wira. Ruang Budaya itu menyimpan barang-barang berharga milik sekolah. Bapak tidak bisa percaya sepenuhnya pada berandalan yang baru saja memecahkan fasilitas sekolah untuk bekerja sendirian di sana."

Kening Wira berkerut. "Maksud Bapak? Saya diawasin sama satpam?"

"Tidak. Satpam punya tugas menjaga gerbang. Kamu akan diawasi langsung oleh salah satu pengurus inti OSIS yang paling bertanggung jawab dan sangat menghargai nilai budaya di sekolah ini," jawab Pak Anton tenang.

Beliau merapikan berkas-berkas di mejanya, lalu menatap Wira lekat-lekat. "Pengurus inti OSIS itu yang akan menjadi mandormu, mencatat kehadiranmu, dan melaporkan pekerjaanmu setiap hari kepada Bapak selama satu bulan ke depan."

Wira terpaku.

Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat kuat langsung menyambar otaknya.

Tidak...

Tidak...

TIDAK MUNGKIN...

"Siapa... siapa orangnya, Pak?" tanya Wira terbata.

Pak Anton berdiri dari kursinya, merapikan letak ikat pinggangnya, lalu menunjuk ke arah pintu keluar ruang BK.

"Namanya Asmara Putri. Teman sebangkumu sendiri. Sekarang, keluar dari ruangan ini, cuci mukamu, dan bersiaplah menemui mandormu sepulang sekolah nanti."

Dunia Wira kembali berhenti berputar.

Hukuman yang ia kira adalah sebuah neraka kebosanan, ternyata adalah sebuah takdir yang akan memaksanya berhadapan langsung dengan "sang Bulan" setiap sore, dalam sunyinya Ruang Budaya yang akan menjadi saksi bisu dari segala gejolak batin terdalam di antara mereka.

Keputusan mutlak telah dijatuhkan.

Dan Wira tahu, ia tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!