Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Neraka Kecil di Ruang Bawah Tanah
Ruang bawah tanah kediaman Pendelton kembali menjadi saksi bisu dari kegilaanku.
Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh nyala lilin temaram, sebuah bak mandi dari batu granit telah kuisi penuh dengan air mendidih. Aku berdiri di depan bak tersebut, menatap lekat-lekat Akar Mandragora Kematian yang tergeletak di telapak tanganku. Bentuknya yang seperti janin keriput terlihat semakin menjijikkan di bawah cahaya redup.
"Kau tahu," suara Nox tiba-tiba menggema dari sudut langit-langit. Gadis berambut perak itu bergelantungan terbalik seperti kelelawar, mengayunkan kakinya santai. "Kebanyakan alkemis menggunakan penjepit perak hanya untuk memindahkan benda itu. Kau memegangnya dengan tangan kosong seolah itu adalah lobak."
"Jika aku takut pada bahan mentahnya, bagaimana aku bisa menaklukkan intisarinya?" balasku datar.
Tanpa ragu, aku melemparkan akar hitam pekat itu ke dalam bak berisi air mendidih.
Reaksinya instan. Begitu Mandragora itu menyentuh permukaan air, suara desisan keras terdengar, disusul kepulan asap ungu pekat yang berbau seperti belerang dan darah kering. Air yang tadinya bening bergolak hebat, berubah warna menjadi hitam legam seperti tinta. Suhunya meroket naik, melepaskan gelombang panas yang membuat udara di ruang bawah tanah ini bergetar.
Ini bukan lagi air rebusan biasa. Ini adalah cairan asam korosif tingkat tinggi yang siap melarutkan apa pun yang masuk ke dalamnya.
Aku melepas kemeja dan celanaku, membiarkan tubuh bagian atasku terekspos udara dingin. Kuhela napas panjang, menyingkirkan semua keraguan dari benakku. Di dunia ini, kekuatan absolut menuntut pengorbanan yang absolut.
"Selamat menikmati neraka kecilmu, Penjahat Kecil," kekeh Nox, matanya berbinar antusias. "Tolong jangan mati, ya? Nanti aku harus mencari tontonan baru, dan itu sangat merepotkan."
Aku tidak membalas. Dengan wajah datar, aku melangkah masuk dan menenggelamkan seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga sebatas leher, ke dalam bak air hitam yang mendidih itu.
Tiga detik pertama, sunyi.
Lalu, rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata meledak di setiap inci tubuhku.
Mataku terbelalak lebar. Rasanya seolah ada jutaan semut api yang disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darahku, merayap ganas menuju sumsum tulangku. Cairan hitam itu tidak membakar kulit luarku, melainkan menembus pori-pori dan menyerang kerangka tubuhku secara brutal.
Tulang-tulangku serasa dihancurkan, digiling menjadi bubuk, lalu direkatkan kembali menggunakan lelehan besi cair.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga darah segar mengalir ke dagu. Otot-otot leherku menegang keras. Jari-jariku mencengkeram tepi bak granit hingga buku-buku jariku memutih dan batu granit itu perlahan retak.
"Sirkulasi Vespera... fokus!" raungku dalam hati.
Aku memejamkan mata, menolak untuk kehilangan kesadaran. Jika aku pingsan sekarang, racun Mandragora ini akan melarutkan tubuhku menjadi genangan lumpur. Aku memaksakan teknik pernapasan Grimoire. Tarik napas... tahan... hembuskan.
Aku memperlakukan rasa sakit ini layaknya sebuah bug dalam sistem komputer. Aku memisahkan kesadaranku dari rasa sakit fisik. Aku menjadikan pikiranku sebagai 'server pusat' yang hanya mengobservasi, membiarkan tubuhku menjadi 'hardware' yang sedang di-upgrade secara paksa.
Pusaran Mana Core gelap di jantungku berputar liar, merespons masuknya racun Mandragora. Sihir kegelapanku dengan rakus melahap energi kematian dari ramuan itu, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk menempa tulang-tulangku.
Dari luar, Nox menatapku dengan mata membulat. Tawanya perlahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang penuh kekaguman. Ia melihat bagaimana urat-urat di tubuhku menonjol hitam pekat, namun tidak ada satu pun jeritan yang keluar dari mulutku. Hanya dengusan napas berat yang berirama konstan.
Proses penyiksaan itu berlangsung selama tiga jam. Tiga jam yang terasa seperti tiga abad di neraka terbawah.
Hingga akhirnya... air di dalam bak itu berhenti bergolak. Warna hitam legamnya memudar, berubah kembali menjadi air jernih yang hangat. Semua intisari racun dan energi Mandragora Kematian telah terserap habis ke dalam tubuhku.
Aku membuka mataku perlahan. Pendaran biru es di mataku kini memiliki lingkaran ungu redup di bagian pupilnya.
Aku bangkit berdiri dari dalam bak. Air menetes dari tubuhku.
Secara fisik, posturku tidak membesar atau berubah menjadi raksasa berotot menjijikkan. Tubuhku tetap ramping dan proporsional. Namun, aku bisa merasakan kepadatan yang luar biasa di baliknya. Otot-ototku sekeras marmer, dan tulang-tulang di dalam tubuhku... tidak lagi berwarna putih, melainkan sehitam obsidian. Tulang Kematian.
Aku mengangkat tangan kananku, mengepalkan tinju. Hanya dengan meremas udara, terdengar suara letupan kecil akibat tekanan yang kubuat.
Aku berjalan menuju salah satu pilar penopang ruang bawah tanah yang terbuat dari batu bata padat. Tanpa mengambil ancang-ancang, aku meninju pilar itu.
BLAAAAM!
Pilar batu setebal paha orang dewasa itu hancur berantakan. Batu-bata hancur menjadi debu, dan setengah bagian pilar itu lenyap tak tersisa. Tangan kananku? Tidak tergores sedikit pun. Rasanya seperti memukul bantal kapuk.
"Gila..." gumam Nox dari sudut ruangan. Gadis kuno itu menelan ludah, matanya menatap pilar yang hancur itu dengan ngeri. "Tulangmu sekarang memiliki kepadatan Mythril hitam. Senjata tajam biasa akan patah jika menyentuh kulitmu. Kau benar-benar meretas batasan fisik manusia, Arthur."
Aku menyeringai tipis, mengelap sisa darah di daguku dengan punggung tangan. "Ini baru permulaan, Nox. Sekarang, wadahku sudah siap."
Waktu yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba.
Keesokan paginya, matahari bersinar terik menyinari Arena Koloseum Akademi Solaria.
Hari ini adalah hari pertama Ujian Pertarungan Pertengahan Semester. Ribuan murid memenuhi tribun penonton. Sorak-sorai, spanduk dukungan, dan ketegangan memenuhi udara. Para bangsawan dari berbagai faksi hadir di kursi VIP untuk memantau perkembangan anak-anak mereka.
Di tengah koloseum raksasa itu, arena pertarungan berbentuk lingkaran dilapisi oleh ubin sihir yang bisa menyerap damage agar murid tidak mati dalam duel.
Aku berjalan menyusuri lorong gelap menuju pintu masuk arena. Jas seragam akademiku berkibar pelan. Langkah kakiku kini tidak menghasilkan suara sedikit pun, seringan bayangan, namun memancarkan aura intimidasi yang membuat para murid di sekitarku secara insting menyingkir dan menahan napas.
Saat aku melangkah keluar dari lorong dan berdiri di bawah sinar matahari, namaku bergema dari pengeras suara sihir.
"Pertandingan Pembuka! Dari Kelas Reguler: Arthur Pendelton! Melawan... Dari Kelas Unggulan: Leon!"
Sorak-sorai meledak. Tentu saja, Panitia Ujian yang berada di bawah kendali Pangeran Julian sengaja mengatur jadwal ini. Mereka ingin Leon mempermalukanku di pertandingan pertama sebagai ajang balas dendam atas kejadian di Hutan Emerald.
Di seberang arena, Leon melangkah maju. Rambut merahnya tampak menyala di bawah sinar matahari. Ia mengenakan seragam tempur akademi, dan di pinggangnya, tergantung Pedang Mythril Suci yang kuberikan padanya beberapa hari lalu.
Leon menatapku dengan sorot mata penuh determinasi dan kebencian yang mendalam. Tangannya mencengkeram gagang pedang Mythril itu erat-erat.
"Aku sudah menunggu hari ini, Arthur," teriak Leon agar suaranya terdengar melintasi arena. "Hari ini, aku akan membuktikan di depan semua orang bahwa kekuasaan, kelicikan, dan donasi sombongmu tidak ada artinya di hadapan kekuatan murni!"
Aku tidak membalas teriakannya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan bosan, seolah sedang melihat anak kecil yang pamer mainan baru. Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, membiarkan tubuhku rileks tanpa memasang kuda-kuda bertarung sama sekali.
Kerja keras? Kekuatan murni?
Bibirku melengkung membentuk seringai mengejek.
Mari kita hancurkan pahlawan ini dari dalam ke luar.