Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : HANGAT KEMBALI
Tiga hari setelah malam susu jahe dingin itu, rumah di Graha Famili kembali hangat.
Tidak ada lagi nasi goreng satu porsi. Pagi ini Bintang masak dua porsi lagi. Telur ceploknya dua. Satu untuknya, satu untuk Angkasa. Ia bahkan masih sempat membuatkan bekal makan siang dengan sticky note kecil: "J*angan makan di luar. Makan ini aja," *Angkasa yang menemukan bekal itu di atas meja kerja Dirut.
senyumnya sampai ke telinga. Hukuman diemin telah selesai.
Makan siang kembali bareng. Kadang di pantry, kadang di ruangan Bintang. Kadang Angkasa sengaja menyelinap ke ruangan Bintang hanya untuk mencuri kerupuk dari piring Bintang. Hal kecil yang dulu hilang, kini kembali. Sejajar dengan Bumi yang juga ikut damai. Untuk sementara tidak ada notif masuk dari perempuan itu.
Malam, mereka kembali usaha. Bukan hanya usaha program hamil yang dijanjikan Angkasa, tapi usaha mengembalikan rasa aman. Nonton TV bareng di sofa. Bintang bersandar di bahu Angkasa sambil mengecek progres 40 set kitchen set dari Devan. Angkasa tidak cemburu lagi.
Ia bahkan ikut komentar, "Bagus kayu jati ini, Tang. Kokoh."
Dan yang paling penting, Mentari sudah tidak muncul di area ruangan CEO dan Sekretaris.
Sejak email mutasi dari Bu Lilis, meja Mentari di depan ruang Dirut kosong.
Sepi.
Tidak ada lagi aroma parfum vanilla yang menyengat, tidak ada lagi dress putih selut yang lewat-lewat.
"Akhirnya plong," kata Bu Lilis suatu siang saat masuk ke ruangan Bintang.
Bintang mengangguk sambil menatap meja kosong itu.
"Iya Bu. Lebih tenang."
"Tapi kamu juga jangan terlalu capek ya. Kata Bu Ratna kemarin, kamu itu calon ibu, jangan kerja terus," kata Bu Lilis menirukan pesan Bu Ratna.Bintang tersenyum tipis.
"Bukan karena itu, Bu." Ini yang membuat Bintang berbeda dari sekretaris kebanyakan. Ia bukan mencari pengganti karena ia dilarang capek oleh Bu Ratna. Ia bukan manja. Ia mencari pengganti karena ia belajar dari pengalaman kemarin. Jika rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja, jika ia dan Angkasa sedang berantem, semua orang sekantor bisa melihatnya. Bisa mengkonsumsinya. Menjadi gosip. Menjadi celah.
Kemarin saat ia dan Angkasa dingin, Mentari masuk seperti kucing liar ke teras. Itu bukti. Ketika fondasi rumah goyah, orang luar akan dengan mudah masuk.Itu image yang tidak baik. Tidak baik untuk perusahaan, tidak baik untuk rumah tangganya.
"Bu Lilis, saya memang harus jeli cari pengganti Mentari. Bukan karena saya tidak boleh capek. Tapi karena posisi Sekretaris Dirut itu terlalu dekat dengan Pak Angkasa. Terlalu rawan. Saya tidak mau kalau besok saya harus ke Sidoarjo lagi cek gudang, atau saya harus bedrest karena hamil nanti, ada lagi Mentari-Mentari baru yang merasa bisa ngejogrok di teras rumah saya," kata Bintang jujur.
Bu Lilis tertegun.
Lalu mengangguk hormat. "Kamu dewasa sekali, Bintang.Yuk ke ruanganku. Kita sama-sama lihat profil pelamar yang sudah kita sebar dan terima." Ajak Bu Lilis di ikuti Bintang ke ruangannya.
Bintang membuka map lamaran yang sudah menumpuk. Ia sudah menyeleksi 5 nama.
Hanya banyak perempuan muda cantik. Ia mencari kriteria baru: laki-laki, umur 30-an, sudah menikah, berpengalaman di logistik.
"Bu Lilis pelamarnya kok semua perempuan, muda cantik cantik juga." Telaah Bintang dengan seksama.
"Maunya gimana?"
"Ya... kalo bisa laki-laki usia 30 an, cekatan, rajin dan bisa kerja tentunya. Biar aman. Biar tidak ada lagi drama teras jam 11 malam. Saya mau di rumah atau di tempat lain, saya tenang. Rumah tangga saya tidak jadi konsumsi orang sekantor," Bintang memberi keterangan dengan detail.
"Harus laki-laki? Nanti Pak Angkasa yang malah cemburu." Kekehnya.
"Ya ... kan jadi asisten ku hanya sebentar, nanti kalo aku udah resign. Akan jadi sekretaris Angkasa juga." Jawab Bintang masih memindai berkas di tangannya.
"Tapi info loker ini sudah kita buka 2 minggu. Celakanya, semua wanita yang melamar. Jadi gimana?" Tanya bu Lilis mirip curhat.
"Gak ada sama sekali yang laki-laki bu?" Ulang Bintang.
"Iya perempuan semua. Lajang lagi.” Umpat Bu Lilis mengamati profil pelamar di laptopnya.
“Ya … minimal kita terima yang statusnya menikah lah. Untuk mengurangi kemungkinan serong sama Angkasa.” Pilih Bintang pasrah.
“Siapa yang bisa jamin kalo udah nikah gak akan main serong?” Canda Bu Lilis menggoyahkan Bintang.
“Ibu jangan nakutin gitu, ah.” Tawa Bintang terlerai.
Bintang menganggap semua Perempuan beristri itu setia, seperti dia.
“Oh di sini.” Angkasa itu sekarang selain sibuk kerja, di kantor juga sibuk nyari istrinya kalo lepas dari pandangan matanya. Se posesif itu.
“Iya … aku butuh asisten, Sa. Rencana resign ku udah bulat, asal penggantiku udah dapat.” Jelas Bintang pada Angkasa yang sudah ikut mendekat ke daftar profil yang di lihat Lilis dan Bintang.
Angkasa terlihat kadang men zoom data pelamar, tanpa ekspresi.
“Gimana? Ada saran?” Bintang bertanya pada Angkasa.
“No, aku serahkan semuanya padamu. Aku yakin dengan pilihanmu. Besok yang akan jadi partner kerja kan kamu, bukan aku. Jadi sesuai selera mu saja.” Jawab Angkasa. Walaupun pupil matanya sempat memindai dengan jelas satu nama orang yang ia kenal, bahkan atas informasi darinya. Jika di kantor Kusuma Land itu sedang butuh asisten Sekretaris.
Bintang mengangguk.
“Bu Lilis, tolong jadwalkan untuk interview mereka. Liat orangnya lebih mudah baca kinerjanya.” Pinta Bintang.
“Siap bu, saya akan kirim email pemberitahuan pada mereka.” Sahut Bu Lilis hormat.
Hubungan mereka memang sudah sedikit hangat lagi, tapi Bintang masih menyimpan satu pelajaran.
Keduanya meninggalkan ruang HRD.
"Sa, aku belajar satu hal. Rumah tangga yang baik itu bukan yang tidak pernah berantem. Tapi yang berantemnya tidak membuat orang luar bisa masuk. Kemarin kita lengah. Kita berantem, satu kantor tau. Itu salah kita," kata Bintang.
Angkasa mengangguk. Ia menggenggam tangan Bintang sepanjang jalan dan masuk lift menuju ruangan mereka
"Tang, janji. Mulai sekarang kalau ada masalah, kita selesaikan di rumah. Jangan sampai nampak di kantor. Hanya kita berdua. Biar tidak ada lagi yang bisa konsumsi kita," janji Angkasa.
Bintang mengangguk. Merasa setuju dengan janji Angkasa.
“Dan yang lebih penting sekarang adalah usaha kita biar kamu cepat hamil. Tapi kamu jangan merasa sekarang aku sedang meneror mu ya, Sa.” Angkasa takut Bintang salah tafsir.
“Gak kok. Aku juga emang mau banget bisa hamil.” Jawabnya singkat.
“Tara …” Angkasa menunjukan sebuah aplikasi on line
Suaminya itu ternyata diam-diam sudah membeli tiket liburan.
“Bali …?” Bintang melotot melihat pada layar.
“Kita butuh healing, Tang.”
“Berweekend di sana, kiranya cukup menyegarkan kita.” Senyum Angkasa manis sekali.
Bintang tersenyum.
"Sudah hangat. Tinggal dijaga biar tidak dingin lagi." Mobil Alphard hitam sudah siap di depan kantor. Siap di lajukan pemiliknya untuk membawa istri tercinta pulang ke rumah mereka
Bersambung...
Hai readers kita sudah di BAB 15 aja nih.
Gimana mulai ada gregernya gak sih?
Tinggalian jejak jempol dan pastikan kasih bintang 5 yaak.
Biar Nyak semangat ngelanjutin nya.
Makasiiih