NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Pencarian Tanpa Arah

Deru mesin motor sport milik Vino meraung membelah sunyinya area pemukiman elit kediaman Pradipta. Vino melompat turun sebelum motornya benar-benar berhenti sempurna, membiarkan standar terpasang asal. Saku jaket kulit hitamnya mencengkeram erat flashdisk berisi bukti kejahatan Darel di Inggris. Dadanya bergemuruh oleh rasa percaya diri bahwa malam ini, ia akan mengakhiri permainan kotor Darel untuk selamanya.

Namun, langkah tegap Vino terhenti seketika di ambang garasi belakang. Pintu besi berlapis kayu itu terkunci rapat dengan lilitan rantai dan gembok besar dari luar. Firasat buruk yang amat pekat mendadak mencengkeram dadanya, dingin dan menghimpit.

"Aira!" panggil Vino, suaranya menggema membelah sunyinya rumah.

Tidak ada jawaban. Rumah besar itu hening bagai kuburan. Pak Pradipta dan para asisten rumah tangga sedang menginap di luar kota untuk urusan bisnis, meninggalkan bangunan megah ini tanpa penjagaan ketat.

Vino melompati pagar samping, mendobrak pintu dapur dengan satu tendangan keras hingga engselnya terlepas. Ia berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, tidak peduli pada rasa sakit di kakinya. Vino menendang pintu kamar Aira hingga terbuka lebar.

Kamar itu kosong melompong.

Ranjang Aira tertata rapi, namun sebuah gelas berisi sisa cairan susu yang pecah di dekat meja dan bau zat kimia yang samar tercium di udara. Vino panik luar biasa. Ia berlari turun kembali ke garasi bawah tanah, mendobrak rantai garasi dengan pipa besi hingga terbuka. Di sudut remang-remang dekat pintu keluar garasi, matanya menangkap kepingan plastik hitam yang hancur—kartu SIM ponsel Aira yang telah dicabut dan dipatahkan secara sengaja.

Bip.

Ponsel di dalam saku jaket Vino bergetar tajam. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Darel:

> "Kamu sudah kalah, Vino. Aira ikut saya secara sukarela. Jangan pernah cari kami lagi kalau kamu gak mau hal buruk terjadi sama dia."

>

"BANGSAT! DAREL BANGSAT!"

Vino meraung murka. Pukulan mentah dari kepalan tangannya menghantam dinding semen garasi berkali-kali hingga kulit buku-buku jarinya pecah, mengalirkan darah segar yang tak ia hiraukan. Matanya memerah, napasnya memburu liar seperti binatang terdesak.

Rasa penyesalan yang amat mendalam dan menyiksa mendadak menghantam dadanya tanpa ampun.

Seandainya saja ia tidak menyia-nyiakan waktu berpura-pura tsundere dan gengsi... seandainya saja ia tidak menyembunyikan perhatiannya di balik omelan kasar... seandainya saja ia langsung menyeret Aira keluar dari rumah Pradipta sejak pertama kali menyadari gelagat aneh Darel... Aira tidak akan jatuh ke dalam bahaya sebesar ini.

"Gue bego... gue bangsat..." umpat Vino serak pada dirinya sendiri, meremas rambutnya dengan jemari yang gemetaran hebat. Air mata frustrasi dan ketakutan kehilangan merembes di sudut matanya, menetes menimpa noda darah di tangannya.

Vino menarik napas panjang, memaksa dirinya yang hampir gila oleh rasa bersalah untuk kembali berpikir jernih. Aira membutuhkan dirinya sekarang. Menyesal tidak akan menyelesaikan apa pun.

Vino berlari menuju kamar Darel di lantai atas. Ia mengacak-acak meja kerja Darel, membongkar laci-laci yang terkunci pakai obeng, hingga tumpukan kertas berhamburan ke lantai. Di dalam sebuah buku agenda kulit yang tersembunyi di balik susunan buku tebal, Vino menemukan selembar brosur dan salinan sertifikat kepemilikan aset lama keluarga Pradipta yang tidak pernah ditinggali—sebuah vila tua terisolasi di kawasan bukit terpencil, beberapa puluh kilometer di luar batas kota.

Di lembar kertas itu, terdapat denah kasar dengan coretan tinta merah bertuliskan nama Aira.

Mata Vino menyipit tajam, pendar amarahnya kini membeku menjadi tekad pembunuh yang dingin. Darel tidak hanya membawa Aira pergi, tetapi telah merencanakan penyekapan ini di lokasi yang tak tersentuh siapa pun.

Vino menyambar kunci motor dan helmnya kembali. Ia menyapu darah di tangannya ke celana jeans-nya, lalu melangkah keluar menerobos hujan gerimis yang mulai turun membasahi bumi.

"Tunggu gue, Aira..." bisik Vino dengan suara berat dan parau namun penuh kepastian. "Gue bakal bawa lu pulang... meskipun gue harus mati di tangan bangsat itu malam ini."

Deru mesin motor Vino kembali meraung keras, membelah kegelapan malam dan hujan, melaju kencang tanpa arah ragu menuju kawasan bukit terpencil demi sebuah konfrontasi berdarah yang menentukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!