Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Lantai 15 tidak memiliki langit-langit katedral yang megah ataupun panorama cakrawala buatan.
Di atas kepala mereka, sebuah kubah batu hitam raksasa yang berlumuran kerak darah kering menjulang setinggi ratusan meter. Dari kegelapan kubah yang lembap, puluhan rantai besi berkarat menggantung tengkorak monster purba dan kerangka raksasa yang telah memfosil. Di tengah-tengah amfiteater bundar berdiameter dua ratus meter tersebut, berdiri sebuah panggung altar batu hitam bertingkat yang diukir dengan ribuan parit darah kuno, bermuara pada sebuah kolam tembaga mendidih di pusatnya: Altar Darah Abadi.
Aroma karat darah kering berbaur dengan uap belerang panas yang keluar dari celah lantai, menciptakan udara pekat yang menekan dada. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk besi yang menggores dinding tenggorokan.
Di sekeliling dinding koloseum, obor raksasa menyala dengan lidah api hitam kemerahan, melemparkan bayangan panjang di atas lantai batu andesit merah. Batu-batu itu terasa lengket di bawah sol sepatu bot, dipenuhi lapisan darah tua dari para penantang masa lalu yang meregang nyawa di arena ini. Suasana mencekam menyelimuti setiap sudut ruangan, diiringi desau angin panas yang berputar di antara deretan pilar monolit purba.
Gerbang perunggu masuk di sisi selatan meledak terbuka oleh hantaman gelombang sihir penghancur.
Julius von Ravensburg melangkah masuk ke dalam arena dengan derap kaki berat menahan amarah. Jubah sutra birunya kotor oleh jelaga dan robek di bagian bahu akibat pantulan energi di Lantai 14. Di belakangnya, sisa pasukan ekspedisi berbaris masuk—sekitar delapan puluh ksatria elit Ravensburg berzirah lempeng baja dan tiga puluh ksatria pengawal Althea yang dipimpin oleh Lady Elise.
Raut wajah Julius tampak mengerikan. Senyum dingin yang biasa menghiasi bibirnya telah lenyap, digantikan oleh tatapan mata biru yang menyala penuh amarah setelah dipermalukan oleh prajurit jelata yang berhasil melompati jebakan mautnya.
Di barisan belakang, Penyihir Gunter yang terluka akibat tongkat sihirnya meledak tampak dipapah oleh dua orang prajurit, sementara Kapten Valerie menghunus pedang besarnya dengan rahang mengeras rapat. Para ksatria Ravensburg melangkah masuk dengan formasi rapat, mata mereka memindai ruangan luas dengan kecurigaan tinggi.
Tepat saat prajurit terakhir melangkah melewati ambang pintu, gerbang perunggu terbanting menutup dengan debuman keras yang menggetarkan seluruh arena. Rantai-rantai sihir merah darah bermunculan dari rekahan lantai batu, melilit gerbang perunggu dan menguncinya rapat dari segala arah.
Pada saat yang sama, di seberang koloseum, Gerbang Ascensi megah berlapis emas yang mengarah ke Lantai 16 disegel oleh lambang tengkorak raksasa yang memancarkan pendar api hitam pekat. Suara dentang rantai ghaib bergema di seluruh kubah, menegaskan bahwa tidak ada jalan mundur bagi siapa pun yang telah menginjakkan kaki di lantai ini.
Di dinding monolit altar di tengah koloseum, prasasti kuno menyala terang dengan pendar merah membara, memancarkan pesan kematian yang terbaca oleh seluruh pasukan:
Ujian Koloseum Darah telah dimulai. Gerbang keluar terkunci rapat bagi seluruh penjelajah yang menginjakkan kaki di lantai ini. Akses menuju puncak hanya akan terbuka melalui dua pilihan takdir: Persembahan lima puluh jiwa manusia di atas Altar Darah Abadi, atau kematian Sang Penguasa Berkulit Abadi, Agares, yang akan bangkit dari tidur darahnya dalam waktu sepuluh menit.
Membaca tulisan kuno yang terpampang di atas altar tersebut, kepanikan seketika menyebar di antara barisan ksatria kekaisaran. Bisik-bisik ketakutan berubah menjadi gumaman panik yang memenuhi aula.
"Persembahan lima puluh nyawa... atau membunuh Sang Penguasa Berkulit Abadi?" bisik seorang ksatria dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram gagang pedang dengan cemas. "Catatan ekspedisi kekaisaran lima tahun lalu mencatat bahwa Agares adalah monster tingkat bencana yang membinasakan dua resimen ksatria lapis baja dalam waktu singkat! Pasukan sebelumnya musnah tanpa mampu melukainya dalam pertempuran terbuka!"
"Zirah perunggunya kebal terhadap serangan sihir elemen dan tebasan fisik..." tambah ksatria lain dengan wajah pias. "Jika kita melawannya di ruang tertutup ini, kita semua hanya akan dibantai satu per satu!"
Julius membaca prasasti itu dengan mata menyipit tajam.
Sepuluh menit sebelum Agares bangkit dari tidur panjangnya di dalam kolam darah.
Pintu keluar alternatif yang ditawarkan menara untuk membuka gerbang tanpa menantang monster tingkat bencana tersebut adalah menumpahkan darah tepat lima puluh manusia di atas parit altar.
Di dalam benak Julius yang dingin dan dipenuhi kalkulasi kekuasaan, pilihan tersebut sama sekali tidak memerlukan keraguan moral. Baginya, hitungan matematisnya sangat sederhana dan mutlak: Batalion Ketujuh membawa sekitar tiga puluh prajurit jelata dan kuli logistik yang tersisa, ditambah empat orang prajurit pembangkang dari unit Ren, serta enam belas serdadu bayaran miskin dari kasta terbawah.
Tiga puluh orang jelata... ditambah empat orang pembangkang... ditambah enam belas serdadu bayaran.
Jumlahnya tepat lima puluh jiwa.
Seringai keji kembali merekah di bibir Julius. Di matanya, nyawa orang-orang jelata tidak memiliki nilai selain sebagai umpan untuk memuluskan jalannya menuju tangga kehormatan. Menumbalkan mereka berarti menyelamatkan para ksatria darah murni dari ancaman kematian melawan monster penjaga lantai.
Julius melangkah maju ke tengah arena, menghunus rapier kristalnya dari sarung pinggang. Bilah pedang tipis itu memancarkan desau petir biru tua yang mendesing berbahaya di udara lembap.
"Kapten Valerie," suara Julius terdengar dingin dan datar, memecah kepanikan prajurit. "Giring seluruh prajurit jelata, kuli logistik, dan unit pembangkang Ren ke atas panggung Altar Darah sekarang juga."
Kapten Valerie menelan ludah. Ada keraguan yang melintas sejenak di matanya saat menyadari kebiadaban perintah tersebut. Namun kepatuhan mutlak pada garis keturunan bangsawan Ravensburg mengikis rasa kemanusiaannya.
"Siap, Tuan Muda Julius!" seru Valerie dengan suara keras yang dipaksakan.
"Julius! Hentikan kegilaan ini!"
Lady Elise melangkah maju dengan cepat, tongkat perak sucinya terangkat menghadang langkah Julius. Wajah sang putri bangsawan memucat menahan rasa jijik yang mendalam saat mendengar rencana pembantaian tersebut. Di belakangnya, para ksatria pengawal Althea tampak saling bertukar pandang dengan gelisah, bimbang antara mengikuti doktrin aliansi bangsawan atau mematuhi nurani kemanusiaan.
"Kau berniat menyembelih prajurit kita sendiri di atas altar iblis itu?" seru Elise, suaranya menggema lantang di seluruh koloseum. "Mereka telah berjuang membawa logistik serta membuka jalan bagi ekspedisi ini! Bagaimana mungkin kau tega memperlakukan mereka seperti ternak potong?"
"Mereka bukan bagian dari ordo ksatria kita, Elise," jawab Julius datar tanpa menghentikan langkahnya, matanya menatap sang putri dengan keangkuhan aristokrat. "Mereka adalah aset murah yang ditebus dengan keping tembaga kekaisaran. Keberadaan mereka sejak awal memang diperuntukkan untuk menjamin keselamatan para pewaris darah bangsawan seperti kita. Menumbalkan lima puluh nyawa jelata demi menyelamatkan puluhan ksatria terhormat kekaisaran adalah keputusan rasional demi kemuliaan Wangsa Ravensburg dan Wangsa Althea."
"Itu tindakan pembunuhan massal yang menjijikkan!" seru Elise, sepasang mata peraknya berkilat penuh amarah, jemarinya mencengkeram tongkat sucinya kuat-kuat. "Jika kau melakukan kejahatan keji ini, kau telah menjadi monster terkutuk yang jauh lebih bejat daripada makhluk penghuni menara ini!"
"Sejarah hanya akan ditulis oleh mereka yang keluar dari menara ini hidup-hidup, Elise," seringai Julius melebar, memancarkan kepongahan yang tak terbendung. "Dan ketika kita kembali ke ibu kota sebagai pahlawan yang menaklukkan Lantai 15, dewan bangsawan kekaisaran hanya akan melihat kemenangan kita. Keberhasilan ekspedisi ini akan menghapus semua catatan darah."
Julius mengangkat pedang rapiernya ke udara, memberikan isyarat komando kepada seluruh divisi ksatria pengawal Ravensburg.
"Bentuk formasi pengepungan!" perintah Julius dengan suara menggelegar. "Giring seluruh serdadu jelata ke atas platform altar! Lumpuhkan siapa pun yang melawan dan seret tubuh mereka ke atas parit darah!"
Di sudut barat koloseum, jeritan dan kepanikan meledak dari puluhan kuli angkut serta prajurit jelata saat melihat ujung tombak ksatria bangsawan terarah lurus ke arah mereka. Beberapa tentara sewaan mencoba mencabut pedang untuk membela diri, namun jumlah ksatria Ravensburg yang berzirah lengkap jauh lebih banyak dan mengepung mereka dari segala penjuru dengan barikade perisai baja.
Vargas menancapkan tameng bajanya ke lantai andesit merah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang telah membara selama bertahun-tahun diperlakukan sebagai umpan murah.
"Bocah bangsawan itu benar-benar berniat membantai kita di sini..." desis sang veteran dengan mata menyala murka.
Shizuka mencengkeram gagang belatinya dengan tangan yang mantap, sementara Riku berdiri merapat di sisi Ren sambil menarik tali busurnya dengan waspada, anak panahnya membidik celah leher barisan ksatria yang mendekat.
Ren melangkah ke barisan terdepan regunya, menatap Julius dan puluhan ksatria berzirah lempeng yang mulai bergerak membentuk perimeter pengepungan.
Di dalam sepasang pupil hitam Ren, tidak ada kepanikan atau keraguan. Pengalamannya menghadapi puluhan kematian beruntun telah menajamkan instingnya melampaui rasa takut manusia biasa.
Yang ada hanyalah penghitungan taktis yang dingin dan terukur di dalam benaknya.
Sembilan menit sebelum Agares bangkit dari tidur darahnya.
Dan dalam waktu tiga puluh detik dari sekarang... Julius akan memberikan perintah tebasan pertama untuk membantai barisan depan.
Ren menyentuh gagang belati taring di pinggang kirinya. Ujung jarinya merasakan dinginnya logam, sementara matanya mengamati celah-celah formasi para ksatria bangsawan yang bergerak terlalu percaya diri dan mengabaikan getaran halus yang mulai merambat di dasar kolam darah.
"Paman Vargas, Kak Shizuka, Riku," bisik Ren dengan nada rendah yang tenang. "Tetap di posisiku dan jangan pernah melangkah maju ke altar."
Ketiga rekannya menoleh, menatap punggung Ren yang berdiri tegak menghadapi barisan senjata di hadapan mereka.
"Tiga puluh detik dari sekarang..." lanjut Ren sambil menatap lurus ke dalam mata Julius yang angkuh, "kita akan memastikan mereka membayar harga setimpal atas setiap tetes darah yang mereka tumpahkan."